
"Ada apa Bi?" Tanya Ella sambil masukin suapan demi suapan cemilan ke dalam mulutnya, "Kraus..., kraus..., kraus...," Suara keripik yang di kuyah ke dalam mulut, Ella menikmati setiap gigitan dan kunyahan yang langsung bikin sensasi menyenangkan. Perpaduan suara yang nyaring rasa gurih yang ada di dalam mulutnya bikin ketagihan dan gak bisa berhenti buat memamah biak walau beberapa kali Rega melihatnya dengan tatapan mata heran yang gak bakalan bisa menghentikan aksinya itu.
"Gak pa-pa, Yun cuma ngasih tau kalo besok kita hadir di konferensi pers buat memberitahukan kepada publik tentang pernikahan kita." Meletakkan hp nya saat pembicaraannya berakhir, "Lagian kan perut kamu makin lama makin besar Abi gak mau kalau sampek terdengar hal-hal yang miring."
Ella menganggukkan kepalanya pelan, mencari kripik sampek ke dasar bungkusnya tapi gak dapat dan akhirnya milih buat langsung liat ke dalam. Gimana mau dapat keripiknya aja udah habis ludes, tinggal remah-remahnya doang di dasar plastik. "Kalo miring tinggal lurusin aja Bi, kan gampang." Mengambil plastik snack lainnya, menggigit ujung plastiknya buat buka bungkusannya. "Abi gak mau?" Menyodorkan ke arah Rega yang lagi nyetir.
Rega melirik, cuma ngelirik doang tanpa ngambil. "Mana ada orang yang mau ngasih gitu ngomongnya?"
"Yang bener gimana?"
"Abi mau gak? Ini malah Abi gak mau?" Kata Rega yang menuruti kata-kata Ella. "Emang gak kenyang apa dari tadi makan terus?" Ngerasa aneh aja perutnya gak penuh-penuh dari tadi padahal di isi terus.
"Kenyang sih cuma anak Abi maunya makan terus." Mengusap perutnya sambil cengengesan.
Rega menggelengkan kepalanya liat kelakuan Ella yang udah kayak gak makan satu bulan, mungkin itu yang orang lain pikirkan klo gak tau yanh sebenarnya.
"Mampir beli buah dulu ya?" Sadar gak jauh lagi lewat kios buah langganannya.
Rega membelokkan mobilnya di kios buah langganan Ella, kios buah super lengkap dengan buah-buahan segar dan yang jelas harganya itu lo lebih murah di bandingkan kios lainnya. Jiwa hemat Ella tetap tertanam dan gak pernah berubah.
"Abi mau buah apa?" Mengambil dompet di dalam tas yang di taruh di jok belakang sebelum turun.
"Terserah aja, Abi tunggu di mobil aja ya sayang?" Katanya tanpa mematikan mesin mobil.
"Iya, lagian Ella bentar aja kok Bi." Mengulurkan tangan dan membuka pintu mobil, Ella mengedarkan pandangan matanya. Melihat buah-buahan segar yang melambai-lambai minta di adopsi dan di pilih buat di bawa pulang. Rasanya Ella pengen borong semua buah segar yang ada di kios tersebut, tapi buat apaan sebanyak itu beli buah. "Bu, Mangga yang mateng satu kilo, yang setengah matang satu kilo, pear satu kilo, alpukat dua kilo, jaruk manisnya tiga kilo, jeruk perasnya lima kilo, jambu air satu kilo, apa lagi ya??? Saya bingung... " Jawabnya jujur, liat buah yang seger-seger bikin matanya jadi ikutan seger.
"Ni Ibu punya simpenan, khusus buat pelanggan Ibu yang cantik." Mengambil melon dari bawah meja di kios, "Mateng di pohon ini neng, sengaja Ibu simpen biar gak di beli sama yang lain." Memberikan melon yang udah keciuman aroma harum khas melon mateng. "Baru di petik tadi pagi." Tambahnya ngasih keterangan keistimewaan melon pilihannya buat pelanggannya yang royal itu.
Ella menciumnya, emang harumnnya gak bisa bohong. "Ibu baik banget..., Iya saya mau Bu, sekalian yang ini ya?" Memberikan pada Ibu penjaga kios buah melon yang tangkainya masih segar dan masih ada getahnya.
"Iya, Ibu bungkusin dulu ya? Melonnya Ibu kasih buat Neng."
"Jangn Bu..., nanti Ibu rugi kalo di kasihkan gratis." Katanya menolak dengan halus.
"Enggak kok Neng, mana mungkin Ibu rugi cuma gara-gara satu biji melon." Katanya tersenyum, "Duduk dulu biar Ibu pilihkan yang bagus-bagus dan Ibu bungkuskan pesenan Neng."
Ella duduk di bangku yang di sediakan sambil nunggu buah yang di pesan buat di bungkus.
"Bu, Anggurnya satu kilo sama apelnya satu kilo ya?"
Ella mendongakkan kepalanya, soalnya kayak pernah dengar suara orang yang barusan ngomong tersebut. "Sonya???" Ujarnya setengah yakin dan setengah gak yakin liat Sonya berdiri di depannya, Ella melihat perut Sonya yang telah membesar. Penampilannya sangat berbeda dengan Sonya yang dahulu, Sonya yang selalu tampil glamour dengan barang-barang branded dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tapi Sonya yang sekarang sangat berbeda, pakaian yang sangat sederhana dengan memakai daster di bawah lutut tanpa riasan wajah sama sekali dan wajahnya yang pucat tanpa riasan itu bikin hati Ella merasa miris. Apa yang terjadi dengan Sonya? Kenapa Sonya bisa berpenampilan seperti ini???
"Maaf, kamu salah orang." Katanya tanpa memalingkan wajah dan tanpa ekspresi.
Masak gue salah orang sih??? Lagi-lagi Ella melihat lebih teliti, walau mereka udah lama gak ketemu Ella masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah Sonya. "Enggak, gue gak salah."
#Flash back
Sonya yang melihat isi kulkasnya yang telah kosong itu memutuskan untuk berbelanja demi menyambung hidupnya, apa lagi saat ini ia tengah hamil dan memerlukan makanan cukup gizi demi anak di dalam perutnya. Kehamilan keduanya ini agak rewel di bandingkan kehamilan pertamanya, Sonya hanya bisa mengkonsumsi buah-buahan saja dan menolak makanan lainnya. Kalau dulu saat hamil Alex ia bisa makan apa pun tanpa pilih-pilih.
"Mommy, Alex mau makan ayam goleng...," Kata anak laki-laki berumur 3 tahun dengan menarik-narik baju Mommy-nya.
"Iya sayang, nanti Mommy belikan. Mana Daddy?" Tanya Sonya dengan mengusap kepala putra pertamanya itu penuh kasih sayang.
"Daddy kelja Mommy, kata Daddy nanti pulang bawa uang buat beli mainan Alex." Katanya senang karena dalam pikirannya Daddy pulang dan membawa mainan untuknya.
"Iya, makanya Alex jadi anak yang manis dan pintar. Kan mainan Alex udah banyak?"
"Alex pintar Mommy, Alex bisa pakai baju sendili. Tapi Daddy udah janji sama Alex..." Katanya bangga.
Sonya memeluk putranya yang lucu itu dengan meneteskan air mata, ia tak bisa memberikan yang terbaik untuk putranya seperti teman-temannya karena keterbatasan keuangan yang keluarganya miliki. Setelah meninggalkan rumah bersama laki-laki pilihannya, Sonya hidup dengan berfoya-foya. Menghabiskan banyak waktu dengan berkeliling dunia dengan menikmati fasilitas mewah dan barang-barang kelas satu. Hingga suatu hari, laki-laki setengah abad yang memanjakannya dengan kemilau dunia itu tega membuat Sonya untuk melayani laki-laki hidung belang yang tak lain teman-temannya dan menjualnya. Sonya yang tak mempunyai pilihan dan berada di bawah ancaman itu hanya bisa pasrah dengan apa yang mereka lakukan terhadapnya, berpindah dari satu pelukan laki-laki ke pelukan laki-laki lainnya. Harga diri Sonya hancur berkeping-keping di jadikan piala bergilir, mereka menidurinya tanpa ada rasa kasihan. Melakukan apa yang membuat para lelaki hidung belang itu suka tanpa memperdulikan perasaan Sonya yang menjadi bulan-bulanan mereka. Hingga akhirnya Sonya hamil tanpa tau siapa ayah dari anak yang ia kandung. Hendra, laki-laki yang telah merenggut kesucian dan membuatnya tercebur ke dalam lubang hitam paling dalam itu membuangnya begitu saja saat mengetahui dalam keadaan hamil dan menuduhnya sebagai wanita j*lang penggoda laki-laki, naik dan turun dari satu ranjang ke ranjang lainnya demi uang. Membuat Sonya merasa terpuruk dan berada pada titik paling bawah dalam fase hidupnya, merasa bahwa dirinya tak berguna dan menjadi sampah yang berserakan kesana kemari setelah puas di perlakukan oleh para lelaki hidung belang. Berapa kali Sonya mencoba menggugurkan kandungannya dengan berbagai macam cara, namun satu pun tak ada yang berhasil hingga Sonya, memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat ke dalam sungai dari atas jembatan. Di saat itu lah seorang laki-laki mengulurkan tangannya, menolong saat harapannya telah hilang dan memberikan harapan baru setelah semuanya berakhir. Perlahan namun pasti Sonya bangkit, menjadi pribadi lain dari dirinya yang dulu dan membuat Sonya menjadi seseorang yang lebih baik. Laki-laki berhati malaikat itu menikahi dan memberikan perlindungan padanya, memberikan arti sebuah hidup yang layak dan merubah segalanya. Sikap angkuh Sonya telah hilang, menjadi sikap sederhana penuh kasih sayang. Menjadi seorang istri yang taat dan patuh kepada suaminya dan menerima segala kekurangan satu dengan lainnya.
"Sayang?"
Sonya berpaling dengan senyum manisnya, menyambut kepulangan suami hebatnya dengan hangat.
"Daddy...," Alex berlari dari belakang Mommy-nya, melebarkan tangannya untuk memeluk Daddy kesayangannya.
"Woah..., anak Daddy udah gede." Mengangkat badan Alex dan mengayunkannya terbang di. udara.
"Daddy, mana mainan Alex?" Mengulurkan tangannya setelah di turunkan.
"Maaf ya, Daddy belum beli. Nanti minta belikan Mommy ya?"
"Oke Daddy...," Berlari ke dalam rumah dengan senyum mengembang, "Hole..., mainan balu...," Teriaknya nyaring dari dalam kamar.
"Mas, jangan manjain Alex. Mainan Alex itu udah banyak."
"Gak pa-pa, aku kerja buat kalian. Benarkan sayang???" Mengelus perut istrinya yang telah membesar. "Betulkan sayang???" Mencium lembut dan memeluknya.
Sonya mengusap kepala suaminya itu dengan perasaan haru, baginya tak ada laki-laki yang lebih luar biasa di bandingkan suaminya tersebut. Meski alex bukan anak kandungnya namun ia memperlakukan Alex seperti darah dagingnya sendiri, memberikan kasih sayang yang berlimpah hingga Alex tidak merasa kekurangan sedikit pun dan membuat anak kecil itu memberikan kasih sayangnya kepada Daddy sambungnya yang telah mengurusnya masih dari dalam perut Mommy dan membesarkan dengan tangannya sendiri hingga yang Alex tau Andika adalah satu-satu Daddy nya walau mereka tak memiliki ikatan darah sedikit pun. Sungguh Sonya merasa bersyukur memiliki suami luar biasa seperti Andika yang menerimanya apa adanya dan membimbingnya menjadi orang yang lebih baik lagi.
"Maaf sayang, hari ini aku cuma dapat uang segini." Memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribu, "Semoga besok rejekiku lebih banyak lagi."
"Udah gak sabar mau makan masakan istri mas yang paling enak sedunia." Katanya dengan senyum menggoda, melihat wajah istrinya dengan senyuman menyambutnya menjadi obat tersendiri untuk rasa lelahnya. Di tambah dengan celotehan Alex setiap hari menjadi penyemangat yang tak ia dapatkan di mana pun.
"Ha ha ha ha...," Sonya memukul pelan tangan Andika mendengar pujian yang di telinga berasa sindiran. "Istri mas ini gak bisa masak, buktinya mas sampek sakit perut makan masakanku." Ingat kejadian awal mereka hidup sebagai suami istri, Sonya yang terbiasa hidup mewah sama sekali awam sama yang namany kompor, penggorengan, panci dan lain-lainnya. Masakan yang ia masak beraneka ragam jenis gagalnya, yang gosong, gak mateng, jadi bubur lah, rasanya aneh dan yang paling jadi idola itu sering keasinan. Malah rumah kontrakan mereka hampir kebakaran karena kecerobohannya dari semua hal yang ia lakukan tak satu pun yang membuat suaminya marah.
"Apa pun yang kamu masak bakal aku makan, mana ada orang di luar sana yang jual makanan persis sama yang kamu bikin."
"Emang gak ada, kalo pun ada gak bakal laku dan langsung masuk rumah sakit. Udah mandi sana, aku keluar sebentar buat beli buah habis nyiapin makanan buat mas." Mendorong badan Andika buat mandi, kalo kelamaan ngoceh masalah makanan bisa jadi kepiting rebus wajahnya.
"Iya..., jangan lupa mainan Alex ya, kan aku udah janji sama Alex. Kalo ngambek nanti susah bujuknya, persis banget sama Mommy-nya yang tukang ngambek."
"Iya."
#Flash on
Bukan cuma Ella tapi Sonya merasa terkejut karena bertemu saudara tirinya di kios buah. Kenangan demi kenangan dahulu teringat lagi, bagaimana ia memperlakukan saudara tirinya itu dengan sangat kejam dan tidak adil dan sering kali memfitnahnya demi kepuasan, Sonya merasa sangat bersalah dan ingin memeluk serta meminta maaf. Namun semua itu ia pendam karena tak ingin mendapatkan belas kasihan dari orang lain, tak ingin di katakan sebagai seseorang yang tak tau diri setelah apa yang ia lakukan dan Sonya merasa dosanya terlalu banyak yang tak layak mendapatkan maaf dari Ella. Saat seperti ini ia datang kepada orang lain, walau hidup sederhana Sonya tak ingin kehilangan harga dirinya yang masih tersisa untuk itu ia mengabaikan Ella dan berpura-pura tidak mengenalnya sama sekali.
"Maaf, kamu salah orang." Katanya datar tanpa ekspresi, Sonya segera membayar pesanannya dan pergi.
"Sonya? Gue gak mungkin salah orang." Kata Ella menarik tangan Sonya, mencegahnya untuk pergi. "Mama pasti kangen banget sama kamu, ayo kita pulang sama-sama?" Kata Ella lembut membujuk dengan mengatakan Mama. "Sekarang Mama sudah punya anak laki-laki lucu dan tampan, masak lo gak pengen liat adik lo?"
Sonya menarik nafas panjang, memejamkan matanya erat untuk menahan air matanya. Bagaimana mungkin ia lupa sosok Ibu yang selalu memanjakannya, memberikan apa pun yang ia inginkan itu. Sonya ingin sekali memeluk dan bersimpuh di kakinya, meminta maaf atas apa yang ia lalukan dulu karena menyakiti hatinya. Beberapa kali secara diam-diam Sonya datang ke rumah untuk melihat keadaan Mommy, melihat Mommy dalam keadaan sehat dan bahagia udah lebih dari cukup baginya walau dari kejauhan dan ia berusaha membendung semua rasa kangen yang udah menumpuk tinggi itu. Setiap kali ia kangen maka Sonya datang ke rumah dengan bersembunyi dari kejauhan, ia akan pergi setelah melihat Mommy-nya. Dengan cara ini ia bisa menahan dan mengobati rasa kengen.
Ella yang melihat Sonya hanya diam mematung itu yakin bahwa saudara tirinya itu merindukan Mama, "Pulanglah..., Mommy akan sangat bahagia."
"Maaf kamu salah orang," Melepaskan tangan Ella dan berjalan cepat untuk menghindarinya.
Ella mengikuti Sonya dengan setengah berlari menyebrang jalan tanpa melihat sekelilingnya.
Tit....
Seseorang menarik tangannya hingga jatuh ketepi jalan, Ella mengerjapkan matanya. Hampir dan sedikit lagi ia tertabrak sebuah mobil yang melaju di depannya. Kakinya terasa lemas, dan detak jantungnya tak beraturan.
"Kamu gak pa-pa sayang?" Kata Rega melihat wajah Ella yang memucat, beruntung ia dapat melihat dan menyelamatkan istrinya tersebut. Terlambat sedikit saja akan menjadi penyesalan terbesar yang tak bisa ia bayangkan sedikitpun, "Sayang?" Mengguncang tubuh Ella untuk mendapatkan perhatian dan kesadarannya.
"Iya Bi, Ella gak pa-pa."
Rega memeluk erat dan menciumi wajah Ella, saat ia menunggu di dalam mobil ia melihat istrinya tersebut berjalan cepat di depan mobilnya. Perasaan Rega berubah menjadi tak enak dan memutuskan mengikuti kemana istrinya pergi. Benar saja, baru berapa langkah ia keluar dari mobil Rega melihat Ella menyebrang secara sembrono tanpa melihat keadaan jalan yanh sedang ramai. Sebuah mobil melaju dengan kencang dari arah berlawanan dan seketika Rega menarik tangan Ella tanpa pikir panjang membuatnya jatuh menimpa tubuhnya. Ingatan tentang mimpi buruk itu bagaikan adegan film yang di putar di depan matanya dan itu membuat semua otot-ototnya lemas, kakinya terasa lemah dan tak mampu menopang badannya. Rega memeluk badan mungil Ella dengan rasa syukur tiada kira, Rega tak akan bisa hidup tanpa Ella di sisinya.
"Kalo mau nyebrang itu liat-liat." Katanya setelah menguasai emosinya.
"Iya Bi, maaf...," Menangkupkan tangannya di wajah Rega yang memucat, "Ella minta maaf Bi."
"Neng? Gak pa-pa kan?" Kata Ibu pemilik kios datang dengan terburu-buru.
"Gak pa-pa kok Bu." Ella tersenyum untuk memberi tahukan bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.
"Syukurlah kalau Neng baik-bail saja, Ibu sampek jantungan tadi." Mengulurkan sebotol air mineral yang ia bawa dari kios, "Minum dulu Neng biar baikan."
"Makasih Bu," Membuka tutup botol, menyodorkan ke arah Rega. "Abi minum dulu."
"Kamu aja yang minum." Tolaknya dengan mengarahkan ke mulut Ella.
Ella menuruti apa yang Rega lakukan, meminumnya hingga separo dan menyodorkannya ke arah Rega. "Abi lagi."
"Neng, istirahat dulu di kios Ibu."
"Makasih Bu...," jawab Rega, berusaha berdiri dengan menggendong Ella. "Kita istirahat dulu di kios, Abi takut ada apa-apa sama kandungan kamu." Ujarnya dengan wajah khawatir.
Ella melingkarkan tangannya di leher Rega agar badannya tak jatuh, "Maaf Bi...," Katanya lagi karena tau suaminya tersebut sangat mengkhawatirkannya.
"iya, lain kali hati-hati. Abi gak bisa hidup tanpa kalian." Jawabnya.
*******
Hi readers...
Yang di betah-betahin di rumah sambil ngabisin sisa kue lebaran kemarin.. ☺☺☺
Kalo bisa jangan keluar rumah dulu ya soalnya masih dalam keadaan belum stabil di luar sana, mending kita di rumah dan ngelakuin hal-hal. yang bersifat positif dan mengusir rasa jenuh yang kita rasa-in, banyak kok yang bisa lakuin di rumah asalkan kita bisa memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Beberapa hari author sedikit sibuk dengan beberapa kegiatam yang berimbas up nya gak menentu dan pasti, tapi author tetap usahain semaksimal mungkin buat bisa up setiap hari atau setiap ada waktu luang.
Mohon pengertian dari kalian semua.
Jangan lupa "like" dan "Vote" nya serta "komentarnya" buat kalian yang suka sama novel yang author tulis. Terimakasih atas dukungan dan partisipasi dari kalian semua yang selama ini udah setia dan jadi penyemangat tersendiri buat author.
Terimakasih banyak...
😘😘😘😘😘😘
Jangan lupa buat hidup sehat, cuci tangan sesering mungkin, hindari keramaian, pertemuan yang gak penting dan cuma