
Malam guyssss, aku balik lagi. Baca nya pelan-pelan yahπ. Soalnya ini tuh Part yang nggak bangetππππ
yuk ah mari kita baca
***
Suasana saat ini terasa sedikit redup dan gelap. Langit terlihat menjadi mendung gegana. Tampak kabut-kabut putih menyertai perjalanan mereka menuju jurang terakhir.
Entah mengapa pengawasan digerbang EG hari ini begitu lemah, membuat yang masuk dan keluar begitu mudah berlalu lalang tanpa pengawasan. Mungkin saja setelah kejadian huru-hara nanti. Dapat dipastikan semua petugas keamanan yang ada, akan menjadi santapan seorang Bilmar Artanegara.
Alika tetap mengemudikan motornya dengan baik untuk masuk kedalam kawasan EG. Banyak juga orang yang ia senyumi sepanjang perjalanan. "Wah luas sekali ECO GROUP Kak." Binara takjub, ia terus melemparkan pandangan ke kanan dan kiri sisi jalan. "Gedung yang itu adalah kantor pusat EG, tempat kerjanya Bilmar dan Rendi." Alika menunjuk sebuah Gedung paling tinggi dan megah diantara yang lain.
"Wah, keren Kak! hebat sekali Kak Bilmar dan Papa Bayu, mereka telah berhasil mengelola EG menjadi luas sebesar ini."
Lalu
Lajuan motornya pun terhenti dan terparkir dengan baik didepan sebuah klinik. Alika dan Binar melepas helm dari kepalanya secara bersamaan.
Banyak juga karyawan wanita dari masing-masing cabang, tengah berlalu lalang, sedang berbisik-bisik membicarakan tentang Alika. Ada sebuah ucapan yang menyakitkan hati, keluar dari mulut mereka.
Seketika Binar ingin mengambil alih untuk membela Alika dengan sikapnya sendiri. "Kurang ajar mulutnya!" pekik Binar menatap tajam ke arah mereka, seketika langkahnya terhenti ketika lengan tangannya dengan cepat direngkuh oleh Alika. "Jangan, Binar. Udah biarin aja!"
"Kak? mereka jahat banget, gosipin kamu kaya gitu!" balas Binar merintih.
"Udah biarin aja, Bin! toh, dosa aku semua ditanggung sama mereka! ayo sekarang kita masuk. Aku mau kenalin kamu sama temen-temen kerjaku."
Mereka pun berlalu untuk masuk kedalam klinik. Terlihat klinik memang sedang dalam keadaan ramai, karena kunjungan pasien yang lumayan banyak. "Kakak, aku rindu sama kamu." ucap Bella berlari menghampiri Alika dan menghujaninya dengan pelukan. "Bagaimana kabar kamu, Bella? maafkan aku ya, berhari-hari tidak masuk kerja."
"Nggak apa-apa Kak, aku mengerti. Kan, lagi hamil muda, hehehe." balas Bella meledek.
Alika tertawa mendengarnya. "Bell, Sofia kemana?"
"Hari ini ijin Kak, mau antar ibu nya dulu ke rumah pamannya."
Alika mengangguk "Oh ya kenalkan Bell, ini Binara. Adiknya Kak Bilmar."
Bella memberikan uluran tangan dan Binara menyambutnya dengan hangat. Mereka saling menganggukan kepala dan memperkenalkan nama.
Alika terus berbicara dengan Bella mengenai keadaan klinik selama ia tinggal, bagaimana pemasukan, pengeluaran, administrasi obat dan masalah rekaman cctv yang mereka cermati tempo lalu. "Belum ada hasil Kak, kita bingung. Apa kita nyerah aja ya Kak? Kak Bilmar nggak akan mungkin kan, menghukum kita? secara kan Kak Alika istrinya."
"Nyerah? buat apa? kita kan nggak salah, Bell! udah kamu tenang aja, nanti kalau aku sudah masuk kerja, aku akan mulai menyelidikinya kembali. Bilmar pasti mau menunggu!"
Disela-sela pembicaraan Bella dan Alika, terlihat Binar terus menyisiri ruangan klinik dengan langkah per langkah. Ia sedikit merinding setiap kali melihat ruang periksa Dokter atau ruang tindakan.
"Baiklah, Bell. Maaf aku tidak bisa berlama-lama disini ya. Ini aku bawa cemilan buat kamu, berhubung Sofia nggak masuk. habiskan saja bersama Dokter Hana, setelah ia kembali nanti."
"Baik, Kak, terima kasih banyak ya." ucap Bella ketika mengantar mereka sampai diambang pintu keluar klinik.
"Hati-hati di klinik ya Bell, jangan lupa makan dan istriahat. Kamu harus selalu sehat buat aku, hehe." ucap Alika sebagai kata perpisahan. Ia memeluk Bella dengan erat. Binara hanya tersenyum melihati sejumput kebaikan serta perhatian dari sang Kakak.
"Kamu juga hati-hati ya Kak." ucap Bella dengan nada lirih, entah mengapa ia merasa ingin sekali memeluk Alika lebih lama.
Mereka pun kembali berlalu menuju kantor pusat EG. Untuk menemui para lelaki yang mereka cintai. Alika dan Binar kembali bersenda gurau, saling bergandeng tangan dan bercengkram dalam rangkulan hangat. Mungkin sang Mama yang ada di Surga tengah tersenyum melihati anak mereka yang kini sedang berakrab ria.
Namun seketika pemandangan suka cita itu berubah menjadi haluan gelap yang nestapa. Bagai ombak besar yang akan datang menggulung tepinya lautan. Seperti ada erangan burung gagak yang akan siap mencekik mereka. Terlihat dari kejauhan bayangan samar-samar mulai menghiasi dengan sebuah senapan peluru yang tengah mengadah lurus menatap kedua wanita ini.
"Yang mana yang mau dihabiskan?"
"...Yang pakai baju biru, habiskan!"
Dari arah lain, terlihat seorang lelaki bertubuh gegap tengah berlari-lari menembus udara siang yang panas, ia terus mengejar kedua putrinya yang sebentar lagi akan menjadi sasaran. Memanggil-manggil sudah, namun mereka tidak juga menoleh ke sumber suara. Papa Luky terus berlari menembus waktu untuk mencengkram tubuh putri-putrinya untuk menghilang segera dari santapan timah panas.
Jari jemari si pembunuh bayaran sudah memanas, platuk pistol mulai ditekan. Selancar timah panas mulai terbang lurus mendekati sasaran.
"Hay, sayang..?"
Suara dari sesosok lain yang mulai menghampiri mereka sambil melambaikan tangan dan mulai berlari mendekati kedua perempuan ini, yang sebentar lagi akan dihujam jantungnya oleh pelatuk peluru.
Dan
Drrrrrr
Suara tembakan pun mencuat diudara, bagai gemerciknya api yang tengah berkobar-kobar melahap semua barang tanpa tersisa begitu pun seperti peluru yang saat ini sudah mendarat tepat dengan cantik dibalik punggung lelaki ini.
Tubuh yang bukan sasaran pun menjadi tempat pelabuhan sapuan tembakan yang brutal. Seketika lelaki itu terkapar jatuh diaspal tanah kawasan EG begitu saja dengan bersimbah darah keluar mengalir dari dalam tubuhnya.
"Kakak..!"
"....Rendi!"
Kedua perempuan ini hanya bisa saling berteriak histeris merancau, memangil-mangil lalu berlari menggapai tubuh Rendi yang sudah terkapar seketika.
Langkah kaki Papa Luky pun mendadak terhenti dipertengahan jarak 10 meter diantara Alika dan Binara.
"Wah salah orang broh! terus gimana nih?"
"Ayo lanjut, habiskan yang pakai baju biru!" ucap mereka yang masih setia menjalankan perintah untuk tetap membunuh nyawa orang yang ditargetkan.
Senapan pistol pun kembali di fokuskan dengan mata memindik, ketika sudah tepat, platuk pistol pun kembali ditekan kencang.
Tanpa seringai aba-aba, membuat diantara Kakak beradik yang sedang menangisi lelaki yang sudah terkapar saat itu, kembali terkulai jatuh dengan luka tembakan didada.
Jdrrrrrr
Suara tembakan kedua kembali terdengar
Papa Luky terlihat histeris, ia terus berlari untuk menggapai salah satu tubuh putrinya yang akan terjun bebas jatuh keatas aspal. Dengan luka darah yang terus mengalir dalam tubuhnya.
"ALIKA...!" teriak Papa Luky dan Binar secara bersamaan.
Terlihat dua tubuh yang tak berdosa, begitu saja lumpuh total di atas aspal yang panas, tengah bersimbah darah mengalir dari luka tembakan yang mereka rasakan.
Kedua mata Alika terus melihati langkah kaki yang tengah berlari untuk mendekati dirinya. Lama kelamaan pandangan matanya menjadi bias dan samar-samar. Tangannya pun mulai tergeletak pasrah begitu saja mengampar di aspal. Kedua matanya pun mulai terpejam mengikuti Rendi yang sudah 5 menit lalu tidak sadarkan diri.
Teriakan dan erangan mulai bermunculan dari Binar dan Papa Luky. Mereka saling memeluk orang yang mereka kasihi dengan darah-darah yang sudah banyak mengalir.
Terlihat aparat keamanan mulai berlarian ke arah tempat kejadian perkara. Beberapa karyawan yang melihat, mulai menyudahi aktivitas mereka dengan paksa, kemudian berlari mendekati korban untuk memberikan pertolongan.
***
Aku nangis guys, nggak ngebayangin gimana Bilmar setelah iniπππ
Berikan semangat kalian untuk aku yaa..
Like, Vote, Rate and Komen..
Thankyou, with love Gaga.β€οΈβ€οΈ