
Alhamdulillah Jumat Berkah, aku lagi nggak terlalu sibuk hari ini. Bisa ngasih episode kedua di hari ini buat kalian🖤🖤.
Yuk guyss selamat baca🤗
***
Karena merasa Binara sudah membaik. Mereka semua membawa pulang gadis itu kembali kerumah Papa Luky.
Sesuai permintaan sang adik, Alika pun menginap disini untuk beberapa hari.
"Jangan lupa makan ya sayang, ingat susu dan vitaminnya untuk di minum tepat waktu. Kalau kamu ingin apapun, kabari aku ya. Aku akan datang kesini!" ucap Bilmar sambil merangkul tubuh istrinya untuk menuruni anak tangga.
Dari balik kamar, Rendi masih menunggui Binara sampai tertidur pulas. Ia merasa sendu, ketika melihat keadaan calon istrinya seperti ini. Empat hari lagi adalah hari pernikahan mereka, tentu saja dengan keadaan Binara saat ini sangat membuat dirinya cemas. Membuyarkan sedikit kebahagiaannya.
"Iya sayang..." Alika menjembil pipi sang suami. "Nanti malam jangan kangen yah..." Alika berdecis geli, ia mulai meledek suaminya.
"Tuh kan kamu ah, jadi buat aku galau! Aku kan nggak pernah, ditinggal tidur sendirian sama kamu. Mana sekarang juga udah nggak bisa ketemu sama sassy dalam jangka lama, Aku tambah galau nih!" Bilmar mencebik.
"Kamu tenang sayang jangan khawatir! Kamu tetap bisa kok nanti ketemu sassy...." Alika melebarkan senyumannya, mulai memberi secerca harapan untuk Bilmar.
"Bagaimana caranya?"
Alika menjinjit kan kedua kakinya untuk bisa berbisik tepat di telinga sang suami. Ia tidak mau ada yang mendengarnya.
"Pakai pengaman aja, sayang. Terus pelan-pelan."
Wajah Bilmar seketika merona. Ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Berisik ih! Kamu kok ketawa sih, Bil!"
"Aku lucu aja, sayang! Kok bisa kamu ke fikiran, sementara aku enggak. Hahaha!"
"Adeuh..tau diketawain, mending nggak usah di kasih solusi. Biarin aja tuh cairan kamu ngembang jadi gulali." Alika memicingkan sudut bibirnya.
"Emang kamu rela, kalo cairan suci ini jadi gulali?"
"Ya nggak lah, amit-amit. Udah sana kamu pulang dulu, nanti malam kesini lagi ya. Ajak Maura dan Papa Bayu biar mereka bisa jenguk Binara dan kita makan malam bersama di sini.
"Tapi aku akan kangen banget sama kamu sayang...."
"Lebay deh, dulu kamu ditinggal sama aku 12 tahun, kuat-kuat aja tuh? malah sempat nikah dan punya anak, hahahaha!"
"Nah ini cuman empat hari, masa kamu nggak bisa tahan? Nggak lama sayang, kamu juga kan bisa kesini kapanpun kamu mau. Kasiani adikku ya, Bil! Aku nggak tega kalau harus berkata tidak kepadanya. Dia butuh semangat juga butuh nasihat!"
"Iya deh iya, aku nurut aja apa kata kamu, Al! Nanti malam aku akan datang lagi ke sini sekalian membawakan keperluan kamu. Ada yang mau dibeli nggak?"
"Nggak ada sayang. Bawakan saja beberapa pakaian dirumah, pakaian tidur dan pakaian dalamku!"
"Baiklah cintaku, pujaan hatiku. Aku kembali dulu ke kantor ya, nanti malam aku akan datang lagi."
Langkah mereka terhenti diambang pintu utama. Bilmar menciumi wajah Alika tanpa henti, Alika pun bergantian melakukan hal yang sama terhadap Bilmar. Mengusap-usap perut datar istrinya.
"Aku pergi dulu ya---"
Bilmar pun berlalu dari pandangannya. Ia terus melambaikan tangan sampai bayangan mobil sedan mewah itu menghilang.
Dan
Blurrr
"Pah?"
Alika merasa kaget ketika melihat Papa Luky sudah berdiri dibelakang tubuhnya semenjak tadi.
Alika terus menghela nafasnya yang terpogoh-pogoh.
"Kaget ya, Nak?"
"I--ya Pah. Sejak kapan Papa berdiri disini?"
"Sejak kamu ucap, pakai pengaman kepada Bilmar--"
"Ya allah, Papa dengar? Aduh!"
Alika memejamkan kedua matanya karena merasa malu. Bisa-bisanya obrolan mereka masih terdengar, padahal Alika sudah berbisik dengan amat pelan.
"Nggak apa-apa, Nak! Masalah seperti itu memang bagus dibicarakan dengan rasa keterbukaan. Suami istri harus saling memahami kemauan masing-masing. Jangan ada yang dipendam, atau kurang peka!"
Greg.
Pintu ruang kerja Papa Luky dibuka. Alika pun ikut masuk kedalam. Kedua matanya terus melolong, kedua bibirnya menganga hebat. Ia begitu takjub melihati ruang kerja sang Papa yang begitu luas dan besar. Lebih besar dari ruang kerja milik Bilmar tentunya.
Garis simpul Alika terlihat ketika ia mendapati foto dirinya bersama sang Papa terpajang dengan ukuran lebih besar dibanding foto yang lain.
"Ini kan foto yang diambil waktu aku bertemu sama Papa dirumah sakit ya?"
"Iya Nak, sebelum Papa tahu bahwa Alika adalah anak kandung Papa."
"Wah...."
Alika merubah tatapannya untuk melihat foto-foto yang lain. Ia tergegap ketika melihat foto keluarga besar Artanegara.
"Itu Bilmar.. yang sedang dipangku sama Papa Bayu dan disebelahnya itu ada Papa yang sedang memangku kamu, Nak. Saat foto ini diambil, Mamamu sedang mengandung Binar."
"Mama---" Alika mengusap-usap wajah sang Mama.
"Aku rindu dirimu, Mah! Lihat aku sekarang. Sudah menikah dan sekarang sudah mengandung cucu Mama. Sebentar lagi Binar juga akan menikah, apakah Mama senang disana?" suara Alika terdengar syahdu.
Papa Luky terus mengelus punggung sang anak mencoba menguatkan Alika yang tiba-tiba menjadi sendu.
"Lihat lah Mah, sekarang Alika sudah berkumpul kembali bersama Papa dan Binar. Mama jangan resah, aku tidak akan membenci mu, Mah!"
"Teruntuk segala ke bohonganmu selama ini kepadaku, mungkin ini adalah jalan nestapa yang harus Alika lalui terlebih dahulu. Untuk mendapatkan kebahagiaan secara hakiki! Mama tenang disana ya Ma, kami sekeluarga sudah bahagia sekarang."
Papa Luky terus menguatkan Alika. Sesekali dadanya sesak, jika bayangan tentang kebohongan yang saat ini tengah ia kubur dalam-dalam menyeruak masuk kedalam otaknya. Ia harus terus berusaha untuk mencari cara sekeras mungkin agar masalah ini tidak terbongkar.
Ia masih ingin terus bersama dengan Alika yang sudah mulai mencintainya. Menerimanya menjadi Papa, dan merawatnya sampai hari tua.
Dan terlebih lagi, ia tidak mau bersitegang dengan keponakan sekaligus menantunya, Bilmar Artanegara.
Jangan lupakan Bilmar. Ia adalah lelaki tangguh dan sedikit mempunyai sisi kejam apabila kepemilikannya diusik dan disakiti.
Papa Luky merasa Bilmar bisa saja membunuhnya tanpa ampun.
Waspada lah Luky, cari lah solusi untuk dirimu sendiri. Tapi yang harus kamu ingat, bahwa ada Allah yang maha melihat. Sepandai-pandainya tupai melompat ia akan jatuh juga. Begitu pun kamu, sepintar apapun dirimu bersembunyi walau dibalik kekuasan dan harta mu sekalipun. Tetap saja jeruji besi tidak akan bisa lari darimu.
"Papa sehat selalu ya, sebentar lagi Papa punya cucu dari Alika dan Binara..."
Alika memeluk tubuh sang Papa, menjatuhkan kepalanya diceruk leher lelaki paru bayah itu. Mereka terus menikmati
kebersamaan saat ini.
****
Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘