
Haii selamat siang, aku kembali❤️❤️
Selamat baca ya guyss
🤗🤗🤗
***
Sinar matahari pagi kembali datang menerpa. Dengan siratan energinya membuat beberapa tumbuhan di halaman luas, bisa berfotosintesis dengan baik.
Terlihat Bilmar sedang berlari-lari kecil di sekitar area Paviliun Berliana.
"Anak-anak semalam gimana, Mas? Anteng kan?" tanya Galih yang ikut berlari di sampingnya.
"Anteng lah, aman kok tidur saya!" Bilmar berdalih.
"Ck! Tapi kok itu, kantung mata Mas Bilmar besar gitu?" Galih terus meledek.
Ia tidak percaya begitu saja, jika semalam mereka bisa tidur nyenyak. Karena semalaman ketika Galih berhasil menjalankan misinya. Ia sempat tertawa geli karena pavilun Bilmar masih terlihat terang benderang dan suara anak-anak bermain terus menggema dari dalam paviliun mereka sampai dini hari.
Betul sekali!
Lebih tepatnya Bilmar yang harus menahan kantuk sampai pagi, karena ia terus mengawasi semua anak-anak yang masih sibuk bermain, sebelum akhirnya lelap tertidur.
"Tapi kok belum ada suara-suara nya, ya?" tanya Galih ketika putaran langkah lari mereka melewati paviliun Bilmar.
"Masih tidur!"
"Beneran, Mas? Mas Bilmar nggak ngasih obat tidur ke minum anak- anak saya kan?"
"Ngaco!! Hanya baygon yang saya kasih--" Bilmar berdecis geli.
"Yang benar Mas!" Galih memegang pundak Bilmar agar berhenti berlari.
"Cerewet banget sih, Mas! Udah tenang aja, mereka masih tidur. Ayo sana, kalau mau berduaan lagi sama istri juga bisa---"
"Mas, serius jangan bercanda!"
Bilmar mencebik. "Gara-gara Mas, suruh anak-anak menginap di paviliun saya. Saya jadi nggak bisa tidur nyenyak! Mereka masih bermain sampai dini hari, belum lagi ada yang menangis karena bertengkar---"
Galih tertawa geli. "Ya nggak apa-apa Mas, latihan dulu jadi Bapak siaga!"
"Kalau siaga jagain anak sendiri sih nggak masalah, lah ini jagain anak orang, mana tiga lagi. Adeuhh---" Bilmar berdecak kesal.
"Ya jangan gitu, Mas! Siapa tahu suatu hari nanti kita besanan? Hahahaha...."
"Apa rasanya nanti anak saya, mempunyai mertua kaya, Mas!"
"Loh, kenapa? Saya kan ganteng dan baik lagi--"
"Mafia kambing, siapa yang mau!!"
"A--pa, Mas? Tadi bilang apa?"
Lalu dengan hembusan angin segar, terdengar suara berseru di belakang mereka.
"SAYANG....!!"
Seketika dua lelaki ini menoleh ke sumber suara yang memanggil salah satu dari mereka. Ada Alika yang tengah melambai-lambaikan tangan dan berteriak-teriak ke arah Bilmar dan Galih.
Bilmar dan Galih pun kembali berlari untuk menghampiri istrinya yang tengah panik di halaman depan paviliun.
"Maura sama Gifali kemana?" tanya Alika dengan wajah panik.
"Hah?" Sontak mendapatkan pertanyaan seperti Bilmar kepalang kaget. "Maksudnya gimana, Al?"
Galih masih melemparkan pandangannya bergantian ke arah Alika dan Bilmar.
"Anak saya?" desahnya melolong, lalu ia pun teringat kembali dengan ucapan Bilmar.
"Tadi, kata Mas Bilmar semua anak-anak saya masih tidur?"
"Ya tadi waktu saya tinggal lari, memang masih tid--"
"Pah, anak kita hilang! Mama udah cari ke kolam renang tapi Gifa nggak ada!"
Ada Nadifa yang muncul tengah berlari-lari kecil dari belakang paviliun sambil menangis. "Ayo Pah cari anak kita!"
Melihat Nadifa panik, Alika pun kembali tersulut. "Tuh kan, Bil. Gifa aja nggak ketemu! Lalu bagaimana dengan Maura?" Alika pun ikut menangis.
Dua ibu hamil ini akhirnya menangis bersamaan, mereka cemas dan khawatir.
"Udah Mama tenang dulu, Papa akan cari Gifali---"
"...Aku akan cari Maura! Kamu sabar dulu ya sayang!"
Begitulah rancauan Bilmar dan Galih ketika menenangkan hati istri-istrinya.
"Ayo dong, cepat cari pah, kenapa masih disini!"
"....Iya sana sayang, kamu cari anak kita ya!"
"Ehh---- iyaa Mah!" Galih pun berlalu bersama Bilmar untuk menyisir daerah ini.
***
Sudah satu jam berlalu. Kini Bilmar dan Galih sudah berada di bibir pantai bagian utara. Bilmar sudah mengerahkan semua karyawan Resort dan Pak Farhan untuk mencari Gifali dan Maura.
"Kalau sampai anak saya nggak ketemu, saya salahkan Mas Galih!"
"Loh, kok saya? Anak saya juga jadi korban di sini--"
"Pasti anak Mas Galih yang ajak anak saya pergi bermain dari sini! Dia kan anak laki-laki, kayaknya juga dia lebih berani dari Bapaknya--"
Bilmar dan Galih jadi saling beradu mulut. Wajarlah mereka sedang panik memikirkan anak kandung mereka.
"Nadifa bisa gila nih, kalau kenapa-napa sama Gifali--"
"...Alika bisa mati kayaknya, kalau Maura sampai nggak ketemu!!"
Batin Galih dan Bilmar terus saja merintih.
Lalu tak lama kemudian.
"TUAN---!!" Ada suara kembali yang membuat mereka seketika menoleh. Pak Farhan tengah menggendong Gifali yang sudah tidak sadarkan diri dalam keadaan basah. Lalu Maura ikut berjalan bersama Pak Farhan dalam kondisi menangis.
"Ya Allah, itu anak saya!!" Galih dengan langkah kencang beribu-ribu langsung melesat untuk meraih tubuh Gifali. Galih dan Bilmar terlihat berlari-lari untuk menghampiri mereka.
"Kenapa bisa begini, Pak?" tanya Galih lalu meraih tubuh anaknya untuk di ambil alih.
"Sayang, kalian kenapa?" tanya Bilmar kepada Maura, ia pun meraih putrinya yang masih menangis dengan bibir yang masih bergetar.
Kedua tubuh mereka basah sampai ke ujung rambut. Namun keadaan Gifali yang mengenaskan. Ia begitu pucat.
"Itu, Mba--" Alika menunjuk ke arah mereka yang muncul dari gerbang masuk area paviliun Berliana.
"Hah??" desahan ketakutan keluar dari Nadifa. Kedua wanita hamil ini pun berlari menuju suami mereka.
"Kenapa ini Pah?"
"Papa juga nggak tau, Mah!"
"Mama---" Maura masih menangis terisak dan beringsut untuk pindah ke pelukan sang Mama.
"Kenapa bisa basah begini sayang?Kalian abis dari mana, kenapa nggak ijin kalau mau main??" Alika terus menciumi putrinya, ia bersyukur karena Maura tidak luka sedikit pun.
Galih terus membawa Gifa ke paviliun mereka. Meletakan tubuh Gifa di sofa dengan tubuh basah, dingin dan tidak sadarkan diri.
"Bagaimana ini Pah?" Nadifa terus merana. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Bangun, Kak. Ini Mama, Nak!!" Nadifa menggoyang-goyangkan tubuh anak itu.
"Minggir dulu Mba, saya akan coba memberikan pertolongan pertama untuk Gifa---"
Nadifa dan Galih pun minggir sebentar untuk mengakses Alika agar leluasa untuk memberi bantuan hidup dasar untuk Gifali yang sudah tidak memberikan respon apa-apa.
Alika pun mulai melakukan kompresi dada dan bantuan nafas melalui mulut. Tak lama kemudian, Gifali membuka kedua matanya dan mengeluarkan banyak air dari mulutnya, i pun terbatuk-batuk seperti orang yang sedang tersedak.
Seketika pandangan mereka yang begitu panik, kini berubah menjadi wajah penuh haru.
"Ya Allah Kakak! Sayangnya Mama---" Nadifa langsung memeluk anaknya.
"Jangan kayak gini lagi, Kak. Jantung Mama bisa copot!" desahnya terus menciumi sang anak sulung.
"Sudah jangan menangis lagi, Nak. Gifa nya sudah sadar---" Alika meraih tubuh Maura kembli untuk digendongnya.
Anak itu merebahkan kepalanya diceruk leher sang Mama. Maura terlihat shock, anak kecil itu kaget dengan apa yang terjadi dengan Gifali.
Sungguh hari ini Maura dan Gifali membuat kedua orang tua mereka menjadi pusing tujuh keliling.
Entah bagaimana lagi setelah ini.
***
.
.
.
.
Beberapa episode lagi cerita ini akan berakhir ya guyss, nikmatin terus yaa...❤️❤️
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘