
Haiii selamat pagii❤️
Aku kembali membawa Alika dan Bilmar kepada kalian
Selamat baca yaa
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Cit.
Decitan ban mobil dan aspal jalan begitu saja terdengar ketika Bilmar menginjak pedal rem untuk menepi dipinggiran pepohonan yang bersebrangan dengan rumah mewah Ny. Gweny.
Sebelum berangkat kerja Bilmar terlebih dahulu mengantar Alika kesana. Ia ingin memastikan bahwa istrinya dalam keadaan aman.
Alika masih merapihkan tatanan rambut yang hanya ia gulung dan dimasukan kedalam hairnet. Baju dinas keperawatan yang berwarna putih polos kepunyaannya dulu, kini kembali ia gunakan.
"Kamu mau nyamar jadi apa nanti? Mumun? Mimin? Momon...?" Bilmar meledek.
Alika hanya memajukan bibir bawahnya seperti bebek, sambil mengoleskan kembali bedak diwajahnya.
"BERLIANA...aku akan menyamar dengan nama terdahuluku! Bagaimana? Bagus kan?"
Bilmar mengangguk. "Udah deh, dari tadi bedakan terus. Hanya mau merawat nenek-nenek, untuk apa kamu dandan cantik-cantik!"
"Mau Nenek-nenek, Kakek-kakek atau sekalipun Om-om. Kita harus bisa membuat mereka segar kembali dengan melihat penampilan kita, Bil! Mereka udah sakit masa liat kita kumel dan dekil, nanti mereka tambah sakit!"
Mendengar ucapan Alika sontak membuat Bilmar menatap wajah istrinya dalam-dalam.
"Ingat ya, Al! Aku ijinkan kamu karena hanya untuk membantu Binar, bukan untuk yang lain--"
"Maksudnya apa, Bil?" Jawab Alika dengan lembut. Ia segera memasukan tempat make up ke dalam tasnya. Bilmar adalah lelaki yang sulit untuk di bantah.
"Jika ada lelaki dirumah itu bagaimana?"
"...Satpam? Tukang kebun? Tukang masak?
"Bukan itu! Maksudku---"
"Ssst! Udah ah!" Alika mengecup bibir suaminya. Dan mengusap-usap kain kemeja yang ada dibagian pundak Bilmar.
"Percaya sama aku, Bil! Aku nggak akan macam-macam..."
"Janji ya?" Ucap Bilmar seperti Maura yang tengah cemburu dengan Ammar. Entah mengapa perasaan Bilmar menjadi tidak enak sejak tadi malam sampai pagi ini. Ia takut Alika akan menghadapi masalah besar.
"Pasti sayang! Aku janji---"
"Hmm...tapi kok aku ngerasanya gelisah ya, Al? Aku nggak kerja deh, disini aja nungguin kamu sampai sore!"
Kedua mata Alika terbelalak.
"Bil percaya ya, aku bisa jaga diri! Nyamar kaya gini kan nggak cukup sehari dua hari sayang. Masa iya kamu tiap hari nungguin aku disini?"
"Kamu kerja aja ya, aku janji akan selalu infoin kamu, gimana? Kamu nggak inget sama janji kamu tadi malam? Nggak mau ketemu lagi sama Sassy nanti malam??" Alika mengedipkan satu matanya untuk menggoda Bilmar.
"Hh...." Bilmar berdecak malas. "Ya udah, sana turun!"
Bilmar hanya menyodorkan tangannya untuk segera dicium Alika. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, sepertinya ia masih tidak rela.
"Bibirnya mana nih? Yakin nggak mau dicium?" Alika kembali menggoda, ia sudah hafal jika Bilmar pasti terayu akan hal seperti ini.
Ia pun menoleh dan Alika menyambutnya dengan kecupan hangat.
"I love you sayang, doakan aku ya---"
Alika pun bergegas turun dari dalam mobil. Ia melangkah cepat menuju pintu gerbang Ny. Gweny.
Bilmar terus memperhatikan istrinya yang tengah berbicara dengan para penjaga.
"Selamat pagi Pak, saya----"
Suara Alika membuat para penjaga terkesiap karena melihati penampilannya seperti perawat yang sedari kemarin mereka tunggu.
Sepertinya rencana Alika berjalan dengan mulus. Tidak usah memperkenalkan diri untuk berbohong agar bisa masuk ke dalam, nyatanya memang kedatangannya sudah ditungu-tunggu oleh mereka semua.
"Ayo Sus, saya antar ke dalam!"
Alika menoleh ke arah mobil Bilmar yang masih terparkir di sebrang jalan, ia pun memberikan anggukan kepala seraya mengatakan kepada Bilmar kalau dirinya berhasil dalam tahap awal. Seketika itu pula mobil jaguar hitam milik Bilmar berlalu dari pandangannya.
"Baik Pak, terima kasih banyak."
*****
"Duduk dulu disini ya Sus, saya mau panggilkan Tuan dulu sebentar---" Ucap art kepada Alika. Ia pun duduk disofa ruang tamu. Kedua matanya terus menyisir sudut rumah yang cukup mewah ini. Terlihat sepi sekali ya.
"Dimana keponakanku?" Ia terus bergumam dan berdoa agar betul Gadis berada disini sekarang.
Lalu
Ada sebuah pemandangan yang sangat menarik hatinya. Ia menatap suatu foto keluarga yang ada dalam figura terpasang di dinding rumah.
Ia pun bangkit untuk menghampiri figura foto itu agar lebih jelas dan dekat. Jari jemarinya terlihat menyoroti satu persatu wajah yang ada disana.
"Ini Ny. Tatiana." Jarinya terhenti ketika melihat wanita cantik tengah duduk diantara mereka.
"Lalu, ini? Pasti Ny. Gweny--" ia menatap wajah seorang nenek yang tersenyum sedang memangku seorang anak balita.
"Ya Allah, apa ini Gadis? Keponakanku??" Bola mata Alika berbinar-binar, tegak jiwanya karena merasa usahanya kali ini tidak sia-sia lagi.
"Tante akan membawamu pulang bertemu Mamamu ya, Nak--"
Lalu arah matanya menyisir kembali ke wajah yang lain.
"Siapa lelaki tua ini? Apakah ini suami Ny. Gweny?"
Dan terakhir ia memandangi wajah lelaki muda yang paling menggelitik ingatannya.
"Sepertinya aku kenal dengan lelaki ini, dimana ya??? Oh, iya aku----"
Belum saja ia menyelesaikan gumamamnya, Alika langsung tersentak dengan suara deheman yang terdengar nyaring dari arah belakang tubuhnya.
Alika menoleh dengan cepat dan memutar tubuhnya 180 derajat, ketika dua bola matanya tepat menatap lurus lelaki tegap bertubuh tinggi yang ada dihadapannya saat ini.
"KAMU??"
Suara tidak percaya terdengar dari lekaki ini.
"Masih ingat sama aku---?" Tanyanya untuk mengingatkan Alika.
"Ehmm..yang mana ya? Apakah Tuan pernah bertemu dengan saya sebelumnya?" Alika berdalih. Padahal ia ingat bahwa lelaki ini lah yang pernah menabraknya di toilet Kafe beberapa hari yang lalu.
Alika terus melemparkan senyum dan bersikap senatural mungkin. Ia tidak mau memberikan kesan pertama yang mencurigakan. Walau memang ia tengah dicurigai.
"Kita pernah bertemu sebelumnya, kamu terjatuh pada saat aku menabrakmu di toilet Kafe, ingatkan??"
Alika menggigit bibir bawahnya, ia terlihat meringis. Kedua matanya bergerak kesana kemari seraya terus berfikir ingin beralasan apalagi untuk meyakinkan lelaki ini, bahwa mereka tidak pernah bertemu.
"Tidak Tuan, saya baru pertama kali bertemu dengan Tuan..." Alika menjawab dengan wajah sedikit menunduk.
Lelaki yang dipanggil Tuan ini terus saja menatap Alika dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang penampilan Alika saat ini telah berbeda. Jika kemarin Alika berpenampilan menawan dan mempesona, sekarang ia terlihat berpenampilan sederhana layaknya Perawat sungguhan.
Walaupun kenyataannya ia memanglah Perawat. Seorang Perawat di hati Bilmar Artanegara.
"Mungkin anda salah orang Tuan. Mungkin saja wanita yang Tuan temui hanya mirip dengan saya---"
Lelaki itu menghela nafasnya dan mengangguk.
"Siapa namamu? Benar kamu Perawat yang dikirim oleh Paman saya?"
Tanpa berfikir panjang Alika tetap memainkan dramanya.
"Benar Tuan," Alika mengangguk
"Perkenalkan saya Diego Federic, anaknya Ny. Gweny---"
"Saya Berliana, Tuan---"
Mereka pun saling berjabat tangan. Saling memperkenalkan diri dan saling menatap. Lebih tepatnya Diego yang tidak urung-urung untuk melepas genggaman tangan itu.
Berhati-hatilah Alika. Karena Bilmar mempunyai sinyal dimana-mana untuk memantau kamu!
****