
Selamat baca guyss
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Terlihat Alika sedang mondar-mandir memegangi ponsel nya diruang tamu. Ia terus menghubungi Nayla, namun wanita itu tidak pernah mau menjawab. Alika terus mengumpat dan memaki serta selalu melampiaskan kekesalannya kepada Bilmar karena tidak bisa berbuat apa-apa ketika Nayla mengingkari janjinya.
Perjanjian Maura akan dikembalikan dalam waktu satu bulan dari keluarga Kannya. Kemarin alasannya Maura belum bisa pulang karena sedang ada angin badai di Maldives, Nayla berucap akan telat beberapa hari membawa Maura pulang dari waktu yang sudah ia janjikan. Namun ternyata janji itu teringkari, sudah dua bulan Maura tidak kunjung dikembalikan.
Bilmar terus menghubungi Nayla, namun alasannya selalu klise dan tidak masuk akal. Alika adalah wanita yang cerdas, ia tidak akan mampu di bodohi begitu saja.
"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Papa Bayu yang sedang berjalan menghampiri menantunya di ruang tamu. Lelaki paru baya itu baru saja sampai di rumah dua hari yang lalu dari wisata keliling dunia beserta para temannya.
Alika menoleh dengan raut masam yang masih menggema wajahnya.
"Alika lagi khawatir sama Maura, Pah. Nayla ingkar janji untuk mengembalikan Maura kepadaku dan Bilmar." Jawabnya dengan nafas yang memburu. Seketika ia kesal dan ingin menarik rambut Nayla yang ikal dan bergelombang.
"Mereka mempermainkan kami, Pah!" Ucap Alika dengan tatapan mata yang berapi-api.
Papa Bayu merebahkan dirinya di sofa. Ia terus menatap dan mendengarkan apa yang menjadi unek-unek menantunya. Lelaki itu pun merasa janggal dengan Nayla dan keluarga Kannya. Mengapa Maura seakan susah untuk dikembalikan dan dihubungi.
"Selama itu di Maldives? Apakah mereka tidak ada kerjaan yang harus dikerjakan disini, Pah?" Alika kembali berucap, ia pun beringsut untuk duduk disebelah mertuanya.
"Apakah Papa gak curiga? Aneh kan?"
Papa Bayu melirik sekilas ke arah Alika lalu membawa arah matanya untuk menatap lurus kedepan, menganggukan kepalanya dengan samar.
"Iya, Nak. Kamu benar, mereka memang terlihat aneh. Seperti ada yang sedang ditutupi! Apa sebaiknya kita susul saja mereka ke Maldives?"
"Nah benar itu, Pah. Ayo Pah kita susul Maura kesana----Kita jemput dia!"
"Hemm..." Papa Bayu menoleh.
"Tapi kondisi hamil muda seperti ini, tidak memungkinkan untuk kamu naik pesawat, Nak! Tekanan pesawat tidak baik dan bagaimana juga dengan Ammar? Kamu harus memikirkan hal itu terlebih dulu!"
Alika mendesah frustasi. Kepalan tangannya begitu saja terhentak di pahanya. Ia menyandarkan tubuhnya begitu saja di sandaran sofa. Kedua matanya menatap sudut atap, seraya membenarkan bahwa saat ini mustahil untuk dirinya terbang ke Maldives.
*****
Di kantor, Bilmar masih memijit-mijit celah dahinya sambil menatap beberapa berkas di meja, banyak dokumen yang berjejer untuk segera ia periksa dan ditandatangani. Namun fokusnya terhancurkan ketika ia mendengar suara langkah sepatu berhak sudah berhasil membuka pintu ruangannya. Mungkin Katherine sedang tidur didepan, jadi tamu yang datang begitu saja bisa masuk dengan mudah ke ruang Presdir nya.
Bilmar mendongakkan wajahnya. Ia kaget karena melihat orang yang tengah berjalan menghampirinya dengan sebuah senyuman yang mempesona.
Bilmar seketika bangkit dan berdiri.
"Nayla?" Serunya ketika langkah Nayla sudah terhenti di depan meja kerjanya.
"Kamu sudah pulang dari Maldives?" Tanya Bilmar dengan wajah bahagia. "Maura nya mana?"
Nayla tertawa samar. Lalu ia memutar langkahnya untuk menghampiri Bilmar dengan tatapan menggoda. Bilmar mengernyit bahunya ketika Nayla terus saja melangkah dan berhasil memainkan dasi Bilmar.
"Selama ini aku tetap di Jakarta Kak, aku tidak pernah pergi ke Maldives!" Jawabnya sambil mengelus-elus jas kantor Bilmar. "Maura ada bersama kami, dia sehat, Kakak jangan khawatir ya---"
Seketika Bilmar menepis tangan Nayla. Ia menatap tajam wanita itu. "Apa maksud kamu?"
"Mama Papa ku hanya rindu dengan cucunya, apakah salah jika aku ingin Maura tetap tinggal bersama kami?"
Kening Bilmar mengerut, ia pun memundurkan tubuhnya ketika Nayla kembali mendekat. "Nay, ada apa ini? Kenapa sikap kamu aneh?"
Nayla dengan cepat ingin mencium pipi Bilmar, namun lelaki itu kembali menolak dan mendorong Nayla hingga ia ingin terjungkal ke lantai.
"Nay! Tolong kamu jangan kurang ajar, saya sudah beristri! Kamu tau itu kan?" Nada Bilmar meninggi, ia tidak suka dilecehkan.
Nayla tertawa skeptis. "Ya, maaf Kak. Hanya untuk kecupan rindu---Oh ya Kak, Mama dan Papa ingin seterusnya Maura untuk tinggal selamanya bersama kami. Toh, Kakak juga sudah mempunyai keluarga baru kan?"
"APA??" Bilmar menghentak telapak tangannya di meja. "Kamu bilang apa?"
Bilmar terlihat emosi.
"KAMU GILA NAYLA!"
Bilmar menggelengkan kepalanya sambil tertawa sarkas.
"Maura sangat mencintai Alika. Istriku lah yang selalu merawat Maura selama ini!
Nayla tidak punya pilihan selain melakukan hal ini, ia hanya ingin mendapatkan Maura. Ingin membesarkan anak itu sampai tumbuh dewasa, itu lah permintaan sang Mama yang sedang mengalami stroke. Karena untuk mengharapkan cucu darinya tidak akan mungkin, ada trauma di masa lalu yang membuat Nayla tidak mau menikah dengan lelaki.
"Dimana Maura? Kembalikan anakku! Istriku setiap hari cemas memikirkannya!"
Nayla merubah tatapan menggoda menjadi tatapan penuh kebencian.
"Aku gak akan kasih Maura ke kamu, Kak! Karena keluargaku punya hak untuk memilikinya juga! Lagi pula wanita itu hanya jadi ibu sambung Maura, tidak pernah ada kan sejarahnya kalau ibu tiri bisa berlaku adil dan baik? Kamu belum tahu mungkin dua atau lima tahun kedepan, istri kamu bisa saja memukuli Maura, gak ada yang tau kan?" Nayla kembali tersenyum dengan licik.
"Alika adalah ibu sambung yang terbaik untuk Maura. Kalau disuruh memilih, mungkin ia akan lebih memilih Maura dibandingkan saya! Alika selalu tulus kepada Maura! Ia tidak bisa hidup tanpa anak saya!"
Bilmar kembali emosi dalam menahan ketegangan hatinya. Di benaknya suara Alika sudah terbayang-bayang akan terus menangis jika sampai Maura tidak akan kembali lagi kepadanya.
"Mamaku sedang sakit, selama ada Maura. Mama jadi mau makan dan minum obat. Maura adalah penyembuh untuk orang tua ku!"
"Mama sakit?" Bilmar tercengang.
"Ya Mama mertuamu sakit! Lalu kemana saja kamu selama ini? Tidak pernah main kerumah, untuk menjenguk mertuamu dan mempertemukan mereka dengan cucunya!" Nayla terlihat geram penuh emosi. Luapan kekesalannya terus mengalir.
"Kamu selalu sibuk dengan keluargamu sendiri---Dengan wanita itu!"
Kulit kerongkongan Bilmar turun naik. Lidahnya tercekat. Semua ucapan Nayla memang benar. Ia tidak pernah memikirkan keluarga Kannya, bagaimana keadaan mertuanya. Walau Kannya sudah meninggal, tetap saja Maura tetap bagian dari keluarga Wibowo.
"Tolong jangan buat saya Marah, Nay! Saya selalu menghormati kamu dan keluarga kamu karena Kannya! Lagi pula kenapa baru sekarang ingin mengasuh Maura?"
"Karena keluarga kami baru tahu kalau Kak Bilmar sudah menikah lagi---Mama dan Papa cemas dan selalu mengkhawatirkan keadaan Maura dengan Ibu tirinya."
"Jangan langsung menilai orang dengan tatapan tidak baik! Kamu belum kenal siapa istri saya!" Bilmar tetap membela Alika mati-mati-an.
"Datanglah malam ini kerumah, tanpa mengajak istrimu! Maura rindu kamu, katanya! Badannya agak panas dari kemarin---" Nayla ingin mendekat lagi, namun Bilmar menggoyangkan telunjuknya agar Nayla berhenti. Ia tidak ingin didekati oleh wanita munafik itu.
"Maura sakit?"
"Hanya demam, nanti juga turun." Jawab Nayla datar.
"Maura lebih rindu Alika dibandingkan saya! Beberapa hari ini istri saya juga demam---Kontak batik diantara mereka kuat!"
"Lucu ah, Kak! Masa sih, Maura dengan Ibu sambungnya seperti itu?" Nayla terkekeh.
Dibalik tertawanya, Nayla harus menelan pil pahit karena kehobongan nya sendiri. Benar saja, Maura selama ini selalu menyebut-nyebut dan memanggil nama Mamanya. Anak itu ingin pulang, tidak mau makan dan tubuhnya terlihat kurus. Namun Nayla selalu membuang hal itu. Ia merasa Maura masih belum terbiasa saja untuk tinggal bersama mereka.
"Berikan hal asuh Maura kepada kami, Kak...!"
Bilmar tertawa nyeleneh.
"Mimpi kamu! Jangan harap, Nay! Saya Papa nya, saya yang punya hak atas Maura!"
"Jangan lupakan, keluarga kami mempunyai hak yang sama! Kami juga mempunyai banyak pengacara handal! Kamu pasti akan Kalah, kak, hahahaha----"
"Keterlaluan kamu, Nay! Bisa-bisa nya kamu bersikap curang!
Nayla kembali tertawa.
"Baiklah kalau begitu, Nayla pamit Kak...Jangan lupa nanti malam...!" Nayla memberikan smoke eyes nya dan kiss bye sebagai penutup. Nayla melambai manja lalu berlalu meninggalkan ruangan Bilmar.
"Kurang ajar dia, berani-beraninya mempermainkan aku!" Bilmar mengepal keras tangannya di meja.
Bilmar kembali menggelosor kan dirinya di kursi kerja. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia terus berfikir, cara apa yang pas untuk merebut Maura.
"Apa yang harus ku katakan kepada Alika, setelah ini?"
Bilmar pun bangkit lalu berjalan keluar untuk kembali pulang kerumah. Ia ingin mengajak istrinya untuk berdiskusi masalah ini. Mungkin setelah itu Alika akan mengumpat wanita itu dengan sumpah serapah nya.
Ayo Alika, rebut kembali Maura-mu!
****
Tenang, Bil! Aku akan bantuin kamu❤️