Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Ziarah


Selamat baca🤗🤗


***


Pagi yang cerah diiringi matahari yang berkilau seraya menyambut kedatangan mereka di negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Bilmar dan Alika telah sampai mendarat cantik setelah melewati 16 jam perjalanan diudara. Masih sangat kurang sepertinya dibenak Bilmar. Ia masih merindu berduaan saja dengan wanita ini, bayangkan mereka akan sama-sama sibuk bekerja setelah ini. Bilmar akan kembali dengan kesibukannya dan Alika pun sebaliknya.


"Bil?" panggil Alika masih memeluk dada suaminya di mobil.


Sesekali Mang Dana hanya bisa melirik lewat spion melihat keromantisan pengantin baru ini. Ia hanya terus fokus menyetir tanpa berani menoleh ke belakang atau berucap sepatah kata pun. Walau Bilmar dianggap baik dan ramah tetap saja ia punya perawakan yang membuat orang menjadi sungkan untuk ber akrab tanpa maksud yang jelas.


"Iya sayangku, kenapa?" Bilmar menurunkan sedikit wajahnya untuk melihat Alika yang masih bertengger didada nya. Bilmar masih mengelus-elus rambut sang istri penuh cinta, sesekali mengecupnya dan merengkuhnya erat.


"Aku mau---" Alika diam sebentar terus melihati jalan tol yang ada didepan pandangannya.


"Mau apa?" tanya Bilmar cepat.


"Aku mau...ke makam Mas Aziz, Bil. Apakah kamu mengizinkan aku?"


Bilmar terdiam, tangannya lansung berhenti mengelus rambut sang istri. Kedua matanya dialihkan keseliling jalan. Merasa pertanyaannya belum mendapatkan jawaban, akhirnya Alika bangkit melepas pelukan itu dan membelokkan wajah untuk melihat Bilmar yang sekarang juga sedang menatap dirinya.


"K-kalau nggak boleh. Nggak apa-apa Bil." ucap Alika dengan nada pelan sambil mengelus tangan Bilmar dan memberikan senyuman manis untuk menutupi kekecewaan dihatinya.


Saat ini ia sudah tau ada Bilmar suami nyata nya yang harus ia hargai dan ia turuti.


"Boleh--" balas Bilmar.


Alika mengerjipkan matanya seraya bertanya apakah itu benar.


"Ya, boleh. Sebelum sampai kerumah kita mampir saja dulu ke Makam."


"Nanti aja Bil, aku bisa sendiri kesana. Kasian kamu capek, butuh istirahat dulu---"


"...Sekarang aja, aku antar kamu. Kalau sudah dirumah, aku udah nggak akan izinkan kamu keluar lagi!" tukas Bilmar padat dan jelas. Memang tidak memperlihatkan rasa acuh, tapi Alika tahu dimata Bilmar tersimpan rasa keberatan yang sangat mengganggu.


"Mang Dana ke makam ya!" Bilmar memberikan perintah.


"Iya Den.." balas Mang Dana dibalik kemudinya.


Bilmar tetap menatap lurus ke jalan yang ada didepan pandangannya tanpa lagi berucap mesra kepada sang istri. Seakan pagi ini berubah menjadi malam yang gelap, hanya karena permintaan istrinya yang masih sulit ia terima.


Walau merasa Aziz sudah tidak ada, Bilmar tetap saja merasa cemburu. Ia masih berfikir kalau Alika masih menaruh Aziz dalam hatinya. Namun ia adalah lelaki bijaksana, mampu berfikir secara rasional memendamkan rasa cemburu tanpa harus terlihat, apalagi memakai kata emosi.


Beberapa jam kemudian, mobil yang dikemudikan Mang Dana telah menepi didepan pintu pemakaman kampung. Alika sempat berhenti mematung lama melihati tanah penguburan yang saat ini telah menggulung tubuh Aziz dengan tanah.


Masih jelas terbayang dibenaknya, bagaimana ia menangis meronta-ronta mengiringi jenazah suami yang sedang dipanggul oleh orang banyak lalu dimasukan kedalam tanah, berpisah untuk selamanya. Mau berbicara atau mengadu sudah tidak mungkin, karna mereka sudah berbeda alam.


Alika pun memejamkan matanya sebentar, seraya ingin mengganti bayangan kesedihan itu dengan kekuatan. Namun nyatanya ia tidak mampu, Alika tidak sekuat itu. Hatinya hancur kembali dengan sekejap ia melepaskan gandengan tangannya dari Bilmar lalu berlari cepat dengan isak tangis mendera menuju tempat tinggal terkahir Aziz.


Bilmar masih setia berdiri ditempat semula melihati Alika yang sudah berlalu pergi meninggalkannya. Ia terus melihati istrinya yang sedang menangis histeris berjarak kurang lebih 10 meter dari jengkal kakinya.


"Assalammualaika Mas...aku datang.." ucap Alika bergetar dengan isak tangis yang membuat ia menjadi sulit untuk bernafas.


Mengusap-ngusap nama suaminya di nisan yang masih berbentuk kayu.


"Kenapa sudah beberapa malam, Mas Aziz nggak datang ke mimpi aku Mas?" ucapnya sambil menekan dada yang terasa berat.


"Apa kamu disana rindu sama aku Mas? meski saat ini kita ada didunia berbeda? tapi aku harap kamu jangan marah ya Mas, karena sekarang aku udah nikah---" Alika tidak sanggup melanjutkan perkataannya, Karena isak tangis ini semakin membelenggu dadanya.


"Aku nggak tahu kehidupan kita akan seperti ini Mas, aku nyesel dulu selalu bersikap galak sama kamu, aku nolak kamu terus, benci sama kamu, selalu berkata kasar untuk usir kamu pergi dari depan rumah. Kamu tetap mempertahankan niat kamu untuk nikahin aku, terus kenapa si Mas disaat aku udah mulai cinta, kamu malah ninggalin aku selamanya?"


"Dan saat ini aku harus berjuang mengganti nama kamu untuk suami aku yang sekarang, rasanya tuh sakit banget Mas!"


Alika mulai meremas-remas tanah liar berwarna merah yang sudah sebagian ditumbuhi dengan ilalang rerumputan.


"Aku harap kamu jangan marah ya Mas? karena sekarang hati aku udah mulai mencoba menerima dia." Alika menoleh dengan derasan air mata menatap Bilmar yang masih melihati dirinya disebrang sana sambil melipat kedua tangannya didada dengan tatapan lurus tanpa senyum.


"Selamanya kamu ada dalam memori aku, tersimpan rapih menjadi suami pertama untuk aku. Walau aku belum ngerasain gimana hidup sama kamu dalam waktu satu jam aja."


"Jangan lupa mampir malam ini ke mimpi aku ya Mas, aku rindu kamu. Maafkan aku, aku akan selalu mengirimi untaian doa untuk kamu,"


Alika kembali menangis terisak-isak, kedua matanya bengkak, hidungnya memerah terus mengalir cairan bening dari hidungnya. Ia seakan lemas tidak berdaya. Lalu ia pun mengadahkan kedua tangannya untuk mendoakan alamarhum Aziz agar selalu tenang disana.


Kemudian terasa ada suatu telapak tangan yang kini menggenggam bahunya. Ia pun menoleh mendongakkan wajahnya yang sudah memerah basah dan berair.


"Ayo kita pulang sekarang!" ucap Bilmar dengan amat lembut. Lalu meraih tubuh sang istri yang masih bergelepokan ditanah, dibantu nya untuk bangkit berdiri secara tegap, Bilmar mengusap-ngusap sisa tanah merah yang masih melekat di bagian tubuh istrinya, membersihkannya sampai bersih.


Merangkul dan mencium pipi istrinya lalu membawa nya melangkah pergi dari sana.


"Alika pulang ya Mas Aziz..kamu tetap abadi selamanya di memory aku. Nggak akan pernah habis air mata aku untuk mengenang kamu." untaian kata terakhir menjadi penutup ziarah hari ini.


Sesekali ia menoleh kebelakang, melihati tanah makam itu yang tidak akan bisa membangkitkan Aziz dengan alasan apapun.


Aziz..beristirahatlah dengan tenang..💔


***


Aku lagi nggak bersemangat nih💔💔, segini dulu yaa😭..bbye😘


Kaya biasa


Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.


thankyou❤️😘😘