Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Intrauterine Fetal Death ( IUFD )


"Sakit, Ammar..." Seru Maura ketika rambutnya dijenggut begitu saja oleh adiknya dari belakang. Bayi yang sudah berusia 10 bulan itu sudah bisa merangkak dan berdiri, suaranya begitu berisik dan nyaring. Sesekali Alika cemburu karena yang bisa diucap Ammar hanya ejaan kata Papa saja.


"Ayo Kak, warnai ulang!" Titah Alika ketika ia sudah berhasil menggambar seorang wanita sedang memetik buah di kebun.


Maura melongo sambil meringis karena Ammar masih tetap menjambak rambutnya sambil berceloteh.


"Kok warnai lagi, Mah?" Ucap Maura polos. Ia terus memperhatikan tangan Mama nya yang sedang menggambar ulang di buku gambarnya.


"Kami warnai nya salah, Nak. Masa wajah orang warnanya merah..."


Bilmar yang baru saja keluar dari kamar mandi, tidak sengaja mendengar percakapan anak dan istrinya yang sedang berkumpul di ranjang. Setiap malam Alika pasti akan membantu mengerjakan PR Maura, terutama jika ada tugas prakarya dari sekolahnya.


"Mungkin Kakak lagi ngebayangi orang yang lagi marah, sayang..." Bilmar berdecis geli. Alika menoleh menatap suaminya yang sedang berjalan menghampiri mereka, ia hanya memiringkan sudut bibirnya dan kembali memperhatikan Maura mewarnai.


"Pa..pa..pa.." Ammar yang masih menganggu Maura terus saja berceloteh, sesekali telapak tangannya menghentak-hentak buku gambar yang sedang diwarnai oleh sang Kakak.


"Jangan, adek.." Alika meraih Ammar dan memangku nya. "Sini, Al. Biar sama aku." Bilmar merangkak naik ke kasur dan meraih tubuh anak lelakinya yang sangat montok itu.


"Duh berat banget kamu, Dek.." Ucapan Bilmar membuat bayi gendut itu terkekeh. Entah mengapa ia selalu tertawa jika Bilmar membencandai nya.


"Pa..pa..pa.." Ammar berceloteh lagi sambil memegangi rambut Bilmar, bayi itu terasa geli ketika kepala Papa nya digusarkan ke perut dan dadanya. Bayi itu terus tertawa.


"Sayang, jangan terlalu diajak tertawa. Nanti dia muntah, barusan selesai menyusu---" Ujar Alika tanpa menoleh, ia masih serius memperhatikan Maura mewarnai.


"Iya sayang.." Jawab Bilmar. Lalu ia membawa tubuh Ammar kedalam dekapannya. Mengusap-usap bayi laki-laki kesayangan itu sampai tertidur pulas.


Maura tetap mewarnai walau kedua matanya beberapa kali terpejam. Alika tetap sabar menunggui sang anak untuk menyelesaikan PR nya. Alika mendidik Maura sedini mungkin untuk bertanggung jawab.


"Ngantuk kan kalau ngerjain PR nya malam? Makanya Mama selalu suruh Kakak untuk ngerjain PR sore, biar malamnya gak keburu ngantuk--" Alika terus menasihati sang Anak.


Maura yang sedang menguap lalu mengangguk. "Kakak ngerti kan maksud Mama?"


"Iya, Mah---"


"Pintar." Alika mencium pipi Maura. Anak perempuan itu makin tumbuh dengan cantik dan menggemaskan.


"Kayaknya kamar kita akan ramai terus ya, Al. Kalau Bilka dan Abrar sudah lahir." Ucap Bilmar sambil tersenyum.


Alika menoleh dan menatap suaminya. "Iya sayang, aku juga suka ngebayangin hal itu."


"Aku nggak nyangka, bisa punya anak banyak dari kamu, Al---" Bilmar menjulurkan tangannya lalu diraih oleh Alika dan digenggam.


"Aku juga sama sayang, aku bahagia bisa kasih kamu anak banyak." Alika tersenyum puas.


"Kamu udah siap, Al. Tentang operasi Caesar nya?"


"Kalau menurut Dokter itu yang terbaik, aku harus siap, Bil. Bagaimanapun ini semua kan untuk anak-anak kita---"


Bilmar mengangguk dan mengikis rasa takut yang semakin merajalela di hatinya. Ingatan rintihan Alika dalam melahirkan Ammar saja masih terngiang-ngiang dalam benaknya.


"Lindungi istri dan calon anak kembar ku, Ya Allah.." Doanya dalam hati.


"Oh iya, lusa kan ulang tahun kamu sayang, mau kado apa dari aku?" tanya Alika dengan wajah berseri-seri.


Wajah Bilmar merona malu. "Aku udah tua kayak gini, masih perlu diberi kado? Untuk kadonya aku sudah langsung minta ke Allah, untuk lindungi dan dilancarkan persalinan kamu sayang..."


Alika tersenyum bahagia, ia pun bergerak sedikit untuk mendekati Bilmar. Mengecup bibirnya dan berkata "I Love you, honey.."


"I Love you too, sayang.."


"Aku ke dapur dulu ya, mau buat kan kalian susu---Tolong, Bil. Awasi Kakak..Kak, jangan tidur dulu ya sampai PR nya selesai!"


"Iya, Mah." Jawab Maura sambil menguap kembali.


Alika pun bangkit menuruni ranjang lalu melangkah pelan menuju dapur. Ia membuatkan tiga gelas susu dan tiga gelas air putih untuk suami, anak dan dirinya. Berbelas menit berlalu ia pun kembali membawa nampan ditangannya untuk masuk kedalam kamar.


Memang benar tafsirannya. Bilmar tidak akan bisa mengawasi Maura. Lelaki itu pun sudah terbang ke alam mimpi bersama Maura dan Ammar. Maura tertidur tepat di buku gambarnya, kedua kakinya menjulang diatas perut Papanya. Sedangkan Ammar sudah terbaring terlentang.


Alika terus tersenyum melihat kebahagiaan rumah tangganya saat ini. Hanya kesehatan serta keselamatan yang ia inginkan saat ini untuk keluarga kecilnya.


Pemandangan yang sangat membahagiakan.


****


Jika malam tadi begitu membuat Alika berbunga-bunga namun siang ini membuat ia gelagapan. Alika sudah berkali-kali mengompres tubuh Ammar yang tiba-tiba mendadak panas. Anak itu rewel dan terus saja menangis. Tidak mau menyusu, suhunya sangat tinggi sampai 39,8 derajat celcius.


Sebagai Perawat Alika sudah tahu jika anak demam sampai setinggi itu hal yang paling ia takuti adalah Ammar bisa mengalami kejang. Tentu kejang demam pada anak bayi tidak baik, hal itu akan menggangu sensorik otaknya dalam waktu yang berkepanjangan.


Ia membuka laci obat namun persediaan obat demam sudah habis. Alika semakin panik. Ia pun meraih ponselnya untuk menelpon Bilmar, namun berkali-kali ditelepon suaminya tetap tidak menjawab. Lelaki itu sibuk dengan berbagai rapat dengan para klien seperti biasa.


"Ya Allah, Bilmar..." Desahnya. Tanpa fikir panjang lagi ia langsung bergegas membawa Ammar ke Rumah Sakit dengan meminta bantuan Papa Bayu untuk mengantarkan mereka.


****


Satu jam berlalu, Ammar sudah ada dalam gendongan Papa Bayu. Bayi itu terlelap setelah diperiksa Dokter Anak, bersyukurlah demam tingginya berangsur turun.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Papa Bayu dengan tatapan serius menatap Alika yang seperti orang panik terus saja meraba-raba perutnya.


Ia mendongak menatap wajah Papa Bayu. "Pah, kok si kembar nggak ada gerak sama sekali ya dari pagi?" Alika kembali membawa arah matanya untuk menatap perut buncitnya yang sedari tadi tidak henti-henti ia usap-usap.


Wajah Papa Bayu seketika menegang, ia terperangah. Lalu duduk disebelah Alika, ikut memegang perut menantunya.


"Iya, ya, Nak. Kok nggak ada gerakannya---"


Alika semakin dilanda kecemasan. "Perut aku juga nggak terlalu kencang lagi seperti kemarin, Pah."


"Sabar, Nak. Alika harus relaks. Mungkin kamu masih terbawa panik karena kondisi Ammar yang demam barusan.."


Alika menggeleng. "Tapi ini aneh.." Alika masih terus meraba-raba perutnya, memancing anak kembarnya untuk bergerak. Memang ia sedikit melupakan kandungannya karena fokus mengurus Ammar yang mendadak sakit.


"Bilka..Abrar, sayangnya Mama..Ayo, Nak. Bangun dulu---" Alika tetap mengajak calon anak mereka berbicara. Alika panik, ia hanya ingin dilegakan dengan pergerakan dari Bilka dan Abrar. Ia merasa anak kembarnya itu masih tertidur.


"Kita periksa aja ke Dokter ya, mumpung masih di Rumah Sakit, Nak.."


Alika mengangguk dan bangkit berdiri untuk mendaftarkan dirinya ke Dokter Kandungan di Rumah Sakit ini. Papa Bayu tetap menemani dan menenangkan Alika yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemas dan ketakutannya.


****


Tangisan Alika begitu saja pecah. Beberapa kali tubuhnya pingsan karena tidak siap menerima kenyataan yang baru saja ia terima. Mengapa takdir hidup seolah mempermainkan dirinya. Apa salahnya? Itu yang masih berputar-putar di dalam kepalanya.


Terlihat dari kejauhan Binara, Rendi, Papa Luky berlari-lari menghampiri Alika dan Papa Bayu yang masih terduduk lemah di bangku tunggu pasien. Setengah jam lalu Papa Bayu menelepon Bilmar namun lelaki itu sulit untuk dihubungi, menurut Katherine, Bilmar sedang melakukan kunjungan ke perusahaan rekanan bersama Pak Adit, namun Katherine berjanji akan mengabari Bilmar agar segera bertandang ke Rumah Sakit.


"Nak..." Suara Papa Luky begitu saja terdengar parau, air bening di kedua mata lelaki paru bayah itu terlihat terus menetes sejak ia dikabarkan tentang berita ini dari sang adik.


"Papa!!" Alika melepas pelukan Papa Bayu lalu berpindah untuk mengalungkan kedua tangannya dileher Papa kandungnya. Ia terus menangis dan menjerit. Wajah Alika memerah, urat-urat disekitar pelipisnya semakin menonjol.


Papa Luky pun menangis, ia tidak mampu berucap dan berkata-kata. Hatinya pun hancur, ia hanya bisa memeluk dan mengunci tubuh Alika yang masih histeris dan shock. Saking terpukulnya, Alika menangis tanpa mengeluarkan suara. Lidahnya seperti tercekat. Dadanya amat sakit, kalau bisa ia ingin mati saja sekarang.


Binara dan Rendi ikut menangis. Ia tidak menyangka kedukaan kembali menerpa keluarga mereka. Awan gelap kembali menerpa keluarga Artanegara.


Maaf Bu, bayi kembar ibu sudah tidak bernyawa. Plasenta terlepas, membuat mereka tidak mendapatkan aliran darah. Saya rasa bayi kembar ibu sudah tidak ada sejak tadi pagi. Saat ini juga harus dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan mereka!


Ucapan itu terus saja berputar-putar di kepalanya. Ia masih berusaha untuk mengajak anak-anaknya bicara agar kembali bangun. Namun sepertinya hal itu sangat mustahil, perut Alika terasa semakin kopong. Anak yang ia pertahankan selama 8 bulan 1 minggu ini harus berhenti bernafas.


Ibu mengalami IUFD pada kehamilan. Kematian bayi bisa saja terjadi dalam kandungan walau tanpa gejala apapun. Apalagi saat ini protein dalam urine ibu sudah positif dua. Tensi darah ibu juga sangat tinggi, untuk saat ini Ibu mengalami preeklamsi berat.


Seketika dunia Alika menggelap, entah apa yang akan terjadi dengan Bilmar setelah ini, ketika ia tahu Bilka dan Abrar lebih memilih pergi untuk meninggalkan mereka berdua dari dunia ini, selama-lamanya.


****


Nangis ah, aku ga tegađź’”