
Selamat baca ya guyss. Maaf yaa dialog teksnya sedikit, karena di epsiode ini. Aku ingin Bilmar yang bercerita tentang hatinya.
🤗🤗🤗
****
BILMAR ARTANEGARA POV 🖤
Rasanya saat ini darah dan jantungku seakan terhenti begitu saja, dikala ku lihat dan tatapi wajah istriku yang sedang berpeluh karena menahan rasa sakit.
Ia terlihat begitu menderita, Istriku selalu menggeleng ketika aku berucap, bagaimana kalau di operasi saja? Seketika itu pula ia akan mengubah wajah nya dengan bersikap tenang untuk menahan rasa sakit. Aku tahu ia berbohong, karena lima menit setelah itu, istriku kembali mengerang dan merintih.
"Bagaimana Dok?" tanyaku kepada Dokter yang tengah memeriksa bagian dalam istriku.
"Masih lambat Pak, baru pembukaan tiga sabar dulu ya, Pak, Bu."
Kembali aku arahkan kedua mataku untuk melihat Alika. Aku tidak tega melihatnya seperti ini, sudah 2 jam kami menunggu disini, nyatanya pembukaan itu tidak berjalan cepat.
"Sayang, operasi saja ya? Aku nggak tega lihat kamu kesakitan seperti ini?" Aku terus membujuknya.
Lagi-lagi ia menggelengkan kepalanya.
"Aku kuat sayang! Percayalah--" Ada senyuman getir yang ia keluarkan kepadaku. Aku tahu ia sedang mengelabuhi ku.
Ini bukan lah pengalaman pertamaku dalam menemani istri melahirkan. Karena sebelumnya aku pernah menemani Kannya ketika sedang melahirkan Maura.
Namun kejadian seperti Alika sekarang, baru pertama kali nya aku rasakan. Karena dari awal mengandung, Kannya meminta tidak ingin merasakan sakit ketika melahirkan. Ia lebih memilih jalan operasi untuk melahirkan anak kami ke dunia, dan betul saja keinginannya untuk tidak sakit dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Kannya dipanggil selamanya ke pangkuan Allah di meja operasi. Membuatnya tidak merasakan sakit pasca melahirkan. Dan untuk kamu, Kannya! Aku ucapkan terima kasih, bagaimanapun kamu sangat berjasa bagiku, karena sudah melahirkan Maura untuk kami. Aku selalu mengirimkanmu doa disepanjang sujud ku.
"Eughhh---" Suara rintihan sakit kembali mencuat dari bibir indahnya. Ada air mata yang menetes pelan dari kedua ekor mata istriku.
Aku pun ikut merana, aku tidak bisa berkata apa-apa selain mengucap kata sabar, memeluk dan mendoakannya.
Papaku dan Papa Mertuaku terus bergantian masuk kedalam ruangan untuk memberinya semangat. Sementara Binara dan Rendi membawa Maura kemana saja agar tangisannya tidak membuat Alika cemas dan semakin merasakan sakit.
Kadang ia duduk membungkuk, kedua matanya ditundukkan kebawah. Terus mendesah dan meringis sampai ku temukan ia sedang memejamkan kedua matanya, untuk menahan rasa sakit yang semakin membuncah.
Aku selalu disampingnya, menenangkannya, serta mengubah posisinya yang tidak beraturan.
"Tidur dulu ya sayang--" Aku kembali membaringkan tubuhnya, namun tetap saja 10 menit kemudian ia akan bangkit untuk duduk kembali.
Hatiku semakin patah, ketika ia menyebutkan nama Mamanya dalam lirihan tangisannya.
"Mamah, tolong Mah---" Ia pun menangis terisak, aku pun tak kuasa untuk mengunci tubuhnya dari belakang.
"Sabar sayang, aku disini!" Aku terus menciumi wajahnya yang sudah basah karena cucuran keringat.
Aku terus memberikan pijitan-pijitan kecil di belakang tubuhnya, Ia terus berpegangan di handle besi ujung tempat tidur. Ia terus bergerak kesana kemari ubntuk mencari posisi-posisi yang enak bagi dirinya.
Dan kemudian
Kepalanya begitu saja sandarkan di pundak ku, kedua matanya terus menatap lurus ke sudut kamar. Aku dapati hembusan nafas kasar begitu saja keluar dari mulutnya.
Aku tetap mengunci tubuh Alika serta mengelus-elus perutnya. Aku rasakan bayiku di dalam sana tengah menendang-nendang dengan keras.
"Sayang---" desahnya sambil terus menggenggam tanganku, mungkin lebih dari itu. Alika tidak sadar jika ia sudah mencakar-cakar tanganku sejak tadi untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Rasa perih akibat cakarannya dipermukaan kulitku tentu tidak ada artinya, dengan rasa sakit yang sedang di rasakan oleh istriku. Ia berkali-kali merasakan kontraksi hebat.
Kamu sangat berjasa, untukku. Sayang!
"Kakak---" Aku lihat Binara masuk menghampiri kami tanpa Maura. Ia berdiri disamping ranjang.
"Anakku mana, Bin?" tanya Alika kepada Binara. Hatiku terus tersayat, dalam keadaan seperti ini ia terus memikirkan putriku.
"Kamu tenang aja, Kak. Maura lagi makan sama Papa!"
"Bin, sini!" seru Alika meminta adiknya untuk lebih dekat dengannya.
Binara pun duduk ditepi ranjang. Aku lihat Alika mengalungkan kedua tangannya dileher Binara, menjatuhkan kepalanya diceruk leher adiknya.
"Kakak ingat Mama, bin! Aku ingin memelukmu, agar aku merasa Mama ada disini!"
Mendengar ucapan itu membuat air mata ku dan Binara menetes deras di kedua pipi kami. Binara terus memeluk Kakaknya dengan erat. Dan aku terus mengusap-usap punggungnya untuk menambah ketenangan.
Tiap 20 menit rasa sakit itu kembali mendera, istriku akan kembali merintih dan mengerang.
Terlihat Bidan dan Dokter mengecek berulang kali bagian dalam istriku. Nyatanya pembukaan yang terjadi tidak begitu berjalan cepat, sudah 6 jam aku menunggu nyatanya sekarang baru pembukaan 4, tahap demi tahap pembukaan terasa begitu lama sekali.
Aku ingin memaksa dirinya untuk kembali memilih jalan operasi. Dari pada harus terus menahan sakit dan membuang banyak waktu.
Sungguh Aku tidak sampai hati ketika melihatnya jungkir balik, berteriak dan merintih sampai ingin pingsan. Karena prioritasku saat ini keselamatan istri dan anak adalah nomor satu.
Tetapi aku tidak bisa memaksa, aku harus tetap menghormati keputusan istriku untuk bisa melahirkan anak kami secara normal.
10 Jam kemudian
Aku lihat dia sudah mulai tenang, rasa sakit sepertinya sedikit mereda. Tangannya masih terpasang selang dari botol infusan.
Alika memposisikan tubuhnya dengan posisi miring menghandap dinding. Ada untaian tasbih yang menjuntai kebawah dari pertengahan jarinya.
"Sayang, mau minum?" tanyaku kepadanya. Ia pun menoleh ke arah ku. Dengan cepat aku merengkuh tubuhnya yang seketika ingin duduk berselonjor.
"Sayang, sini--" Alika meraih lenganku untuk duduk lebih dekat. Ia pun mulai menundukkan wajahnya.
"Maafkan aku, sayang! Ampuni dosaku ya, jika selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, tanpa sengaja menyakti hatimu dengan sikap, perkataan dan perbuatanku! Doakan aku agar bisa selamat ketika melahirkan anak kita--"
Ia pun meraih tanganku untuk diciumnya berulang-ulang kali.
"Iya sayang, aku sudah memaafkan segala kesalahanmu sebelum kamu meminta maaf lebih dulu!"
Aku terus mengusap-usap dan mencium pertengahan rambutnya. Ada tetesan air yang jatuh ke permukaan kulit tanganku, kembali aku dengar sayup-sayup isakkan tangis mendera lagi dibawah wajahnya yang masih mendunduk.
Lalu aku pun terbayang dengan perilaku ku yang pernah menyakiti hatinya. Seketika itu dadaku sesak, aku tidak dapat menahan kedua mataku untuk tidak menangis.
Kami pun menangis bersamaan. Saling meminta maaf sebelum akhirnya anak kami lahir ke dunia sebentar lagi. Dengan perjuangannya yang seperti ini, membuat aku tambah mencintai dan menggilai istriku.
Terimakasih sayang untuk segala cintamu❤️🖤
***
.
.
.
.
.
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Gifali dan Maura
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘