Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Halilintar untuk Bilmar dan Alika


Hayy kesayangan kecintaan ku para Readers❤️❤️ cuman buat kalian nih aku balik lagi..balik terus..balik nuliss hihihi🤭🤭


Part ini udah 1500 kata yah, lebih buanyakk dari biasanya..ceriusan


yuk ah mari baca🤗🤗


***


Alika terus berlari terseok-seok dari kejaran Rendi yang terus menahannya untuk tetap tinggal disana. Ia hanya ingin keluar dari Apartement dan meninggalkan rumah Bilmar sekarang juga.


Fikirannya masih kalut dan kacau, tak salah ketika sedang berjalan lurus ia sempat menabrak beberapa bahu orang lain yang lewat. Ia harus berpacu dalam mengejar waktu, Alika harus secepatnya pergi dari rumah tanpa harus bertemu dengan Bilmar terlebih dahulu. Hati wanita ini masih sangat linu dan pedih.


Ia seperti tertampar dengan tebasan angin badai dan topan.


Untunglah sebuah taxi membawanya cepat pulang kerumah Bilmar Artanegara, setelah sudah sampai diambang pintu. Hatinya begitu lirih ketika ia melihat maura yang sedang bermain dengan bonekanya. Ia merasa setelah ini mungkin tidak akan lagi mendekap anak itu dengan leluasa.


"Maura jangan nakal ya Nak, harus bisa makan dan main sendiri."


Batin Alika membuncang, ketika ia harus berjalan memindik-mindik agar langkah kakinya tidak diketahui oleh Maura yang sedang asik bermain.


Ia melepaskan kedua sepatunya, melangkah perlahan-lahan menaiki anak tangga, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apa-apa.


Lalu


"Mama? Mama udah pulang..?" Cicit Maura membuat langkah Alika terhenti dipertengahan anak tangga. Ia pun tersentak.


Alika menoleh cepat ke arah dimana Maura tengah berdiri melihatinya di awal anak tangga. Dirinya tidak boleh luluh melihat anak ini, bisa-bisa berantakan keinginannya untuk pergi meninggalkan rumah. Alika tidak mau menjawab pertanyaan Maura, dengan cepat ia berlalu untuk melangkah masuk ke dalam kamar.


Maura pun mengikuti langkah sang Mama dan menaiki anak tangga. Ia merasa sikap Mamanya aneh saat ini, ia pun masuk kedalam kamar dan mendekati sang Mama yang sedang grasak-grusuk membukai beberapa lemari pakaiannya.


"Mama? Mama mau kemana?" Tanya Maura sambil memegangi boneka di tangannya dan tepat berdiri dibelakang tubuhnya.


Alika terus menangis, menggapai koper miliknya dari dalam lemari untuk memasukan beberapa pakaian yang akan ia bawa.


"Mama?" Panggil Maura lagi, Alika tetap tidak mau menggubrisnya.


Anak itu tidak gentar, ia pun mulai menghampiri Alika dan menarik-narik baju nya. "Mah? Mama mau kemana? Kok pakaiannya dimasukin ke dalam koper?" suara Maura begitu polos.


Alika yang masih berdiri, sedang menjulurkan tangannya ke dalam lemari untuk mengambil beberapa baju disana, sontak menjadi terhenti.


Sudah cukup! ia tidak bisa menahan lagi hasratnya untuk mendiami Maura.


Kemudian ia berjongkok menatapi Maura, mengelus kedua pipinya dan menciumi anak itu dengan penuh isak tangisnya.


"Maura baik-baik dirumah ya Nak, Mama mau pergi dulu sebentar."


"Mama kenapa nangis? perginya sama Papa, Mah?" tanyanya menyelidik.


Alika menundukan kepalanya kebawah, ia bingung harus menjawab apa. Maura bukanlah anak bayi yang bisa di bohongi. Alasan awalnya untuk mau menikah dengan Bilmar adalah karena anak ini, ia tidak mau Maura menjadi anak asuh Kaneysa.


Tetapi setelah ia berhasil mencintai Papanya, mengapa rasa sakit seperti ini sulit untuk mengingatkan dirinya agar mengalah dan kembali memikirkan tujuan awalnya untuk menikahi Bilmar.


"Papa nggak ikut Nak, Papa tetap disini jagain Maura. Mama mau pulang dulu kerumah Mama sebentar, nanti kalau urusan mama sudah selesai, Mama akan kesini lagi jengukin Maura." air mata Alika terus menderai hebat.


"Maura mau ikut mama..." Suara tangis anak itu pecah lalu memeluk erat Alika tanpa mau dilepas. Sepertinya ia tahu bahwa Alika sedang tidak berkata jujur.


"Dirumah Mama tuh panas banget Nak dan banyak nyamuk. Nanti Maura susah tidur kalau malam."


Kedua bola mata Alika terus menatapi jam dinding, ia harus bergegas pergi dari sini. Sebelum Bilmar memergokinya membawa koper dan pergi dari rumah. Suaminya itu pasti akan menghadang dirinya bagaimanapun caranya.


Dengan sengaja Alika melepas pelukan Maura dan pergi menyeret koper yang sudah diisi beberapa pakaian. Lalu ia melangkah untuk keluar dari kamar. Terlihat dari belakang, maura terus mengikutinya dengan suara ledakan tangis yang makin menderu-deru.


"Mau ikut Mama, tungguin Maura mah,"


Alika terus menuruni anak tangga dan Maura tetap ada dibelakangnya memegangi bagian belakang bajunya.


Alika terus menyeret kopernya dan dengan rasa terpaksa untuk tidak mau menggubris Maura. Ia harus kuat untuk melawan rasa keibuannya untuk saat ini.


Namun sepertinya alam memang mengutuk kepergiannya, sang suami sudah terlebih dahulu sampai diambang pintu sambil membawa buket bunga.


Bilmar mengerutkan keningnya ketika ia melihati sang istri hendak mau pergi dengan gerekan sebuah koper. Terlihat Maura menangis memegangi tangannya dari belakang.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya bilmar berjalan menghampiri istrinya dengan dahi berkerut-kerut.


"Stop Bil! Jangan mendekat...!" Keberanian Alika begitu memancar.


Langkah kaki Bilmar terhenti sekejap berjarak tiga meter dari istrinya. Ia bingung dengan sikap Alika, apakah istrinya masih marah soal kejadian Kaneysa kemarin.


"Aku haramkan tubuh aku untuk diraih lagi sama kamu..!" Alika menggoyangkan jari telunjuknya lurus terhadap Bilmar, sebuah kode kalau Bilmar tidak boleh memajukan langkahnya untuk mendekat.


"Mama?maura mau ikut mama.." rengekan Maura masih terdengar. Bilmar masih belum mengerti, ia masih bingung. Ada apa dengan istri dan anaknya kala ini.


"Kamu kenapa sayang..?" Bilmar kembali bertanya dengan memelas dan merintih. Sepertinya ia sudah lelah menghadapi rajukan istri semenjak kemarin.


Bagaimana Alika tidak akan merajuk, setelah beberapa hari kemarin, dirinya diamuk rasa curiga oleh pesan masuk dari Binar, tentang struk belanja kebutuhan wanita yang ia temukan dibalik celana suaminya dan kedatangan Kaneysa yang berani menciumnya Bilmar didepan matanya, kemudian ditambah lagi dengan kenyataan pahit yang baru saja terbuka lebar hari ini tentang siapa sosok Binar sebenarnya.


"Aku mau pulang kerumah aku, Bil! kamu nggak usah halang-halangi aku!" Alika berjalan menghadang tubuh Bilmar, namun itu semua hanya sia-sia.


"Mau pulang kemana? ini juga rumah kamu sayang, nih lihat aku bawain kamu bunga mawar sama cokelat, kesukaan kamu." ucap Bilmar tanpa rasa bersalah, dan merengkuh lengan istrinya.


Kedua mata mereka saat ini saling bertemu, Bilmar menemukan cahaya api tengah berkobar-kobar dikedua mata istrinya.


"Kamu kenapa?tadi siang aku tadi telepon kamu ke klinik, katanya kamu sudah pulang, makanya aku langsung kesini. Tadi sempat mampir dulu ke toko bunga, biar kamu nggak ngambek lagi sama aku." Bilmar kembali melangkah untuk mendekap dan ingin mencium bibir istrinya.


"Stop Bil! jangan dekat-dekat! aku nggak mau disentuh sama kamu!" teriakan Alika sontak membuat geger semua yang mendengar. Terlihat ia begitu frustasi dan kembali menangis terisak. Ia mendorong tubuh Bilmar untuk menjauh dari tubuhnya.


"Kamu kan istri aku, wajar kan kalau aku sentuh, ini juga rumah kamu, untuk apa kamu pergi? kamu nggak kasian sama Maura? sama anak kita?"


"BINARA juga istri kamu, Bil! dia yang seharusnya tinggal disini, bukan aku..!"


Demi apapun saat ini, setelah mendengar nama yang selalu disembunyikan olehnya, kini dapat terucap jelas dimulut Alika. Seketika membuat Bilmar terus menatapi kedua mata istrinya dengan genangan air mata.


Mentalnya terguncang, suatu ucapan yang harusnya keluar dari mulutnya kini telah gagal. Saat ini ia terlihat seperti seorang tahanan yang akan dipenjarakan seumur hidup.


Ia terus melihati wajah istrinya dengan peluh, stress dan shock. Dirinya tercengang bukan main, tanpa sadar, ia meloloskan tubuhnya untuk jatuh bersimpuh dihadapan Alika. Ia tidak punya cadangan kata-kata untuk dipakai sebagai kalimat sanggahan.


Saat ini jabatannya sebagai Presiden Direktur seperti telah sirna hanya untuk sebongkah wanita biasa seperti Alika.


"Kamu penipu Bil! kamu tega bohongin aku..kami bodohi aku!"


"Nggak sayang..aku nggak ada maksud--."


Bilmar tidak mampu meneruskan kata-katanya, dirinya meringkih lalu mencoba meraih tangan Alika, namun seketika Alika menepisnya ke udara membuat Bilmar menjadi jatuh terkapar diatas lantai.


"Bangun Bil!"


Bilmar tetap bersimpuh dibawah kaki Alika, seraya memohon ampunan. Tangisan Maura pun terus mengiringi perdebatan mereka. Anak itu melangkah untuk memeluk Papanya.


Pemandangan yang begitu memilukan di hati Alika saat ini.


"Sayang..." panggil Bilmar dengan suara amat serak, ia merasa pita suaranya sudah terikat sekarang.


"Aku bilang bangun, Bil!" lagi-lagi suara Alika begitu menggema, dari jauh Bik Minah dan Mang Dana terus melihati mereka tanpa bisa melerai dan berbuat apa-apa. Terkuak semuanya, siapakah yang tengah menjadi duri didalam rumah ini.


"Ceraikan aku, Bil!"


***


Keren sumpah aku mah greget bacain komenan kalian buat aku tambah semangat😁🤭😘😘😘😘


Aku terharuu banget sama komenan positif kalian dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗


Oh iya aku pengen promoin NOVEL TERBARU aku "Jangan berhenti Mencintaiku". Boleh cek di profil aku ya, jangan lupa jadikan Favorite di rak buku kalian.🖤🖤


Kaya biasa👇👇


Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.


Thankyou, with love Gaga❤️😘😘