Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Cheer Up Triple "B"


Haiii aku kembali lagi


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Binara masih cemas memikirkan kedua kakaknya didalam. Ia terus melihati layar ponsel miliknya takut-takut Bilmar meminta bantuan. Ia tetap menunggu dan berdoa jika Daddy Gadis bukanlah Diego yang ia maksud.


Kedua tangannya begitu saja terlipat didada, kepalanya menyandar lemah di sandaran kursi. Hatinya tak karuan mengingat sebentar lagi akan melihat wajah sang anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri.


Tak berapa lama kemudian.


Dengan spontan ia menarik tubuhnya langsung untuk duduk tegak. Seketika kedua matanya membulat ketika melihat mobil mewah keluar dari rumah Ny. Gweny.


"Apakah mereka akan pergi ke Rumah Sakit sekarang?" Gumamnya.


Tak lama kemudian Binar kembali terkejut ketika melihat Bilmar sedang berlari menuju ke arahnya. Lelaki itu terus berlari sampai tidak tahu jika wig gondrong nya sudah terbang karena kibasan angin.


Brug.


Bilmar menjatuhkan diri di kursi penumpang dengan nafas brutal. Belum saja Bilmar mengatur ritme nafasnya dengan lega, Binara langsung menghujamkan nya dengan berbagai pertanyaan.


"Kak gimana? Lelaki itu Diego bukan?" Binara terlihat antusias.


Bilmar menggelengkan kepala nya, membuang nafasnya dengan kasar. "Aduh capek, haus Bin!"


Binara mengambil air mineral botol di kursi belakang. "Kak gimana?" Tanya Binar kembali dengan merengek. Bilmar langsung meraih air minum itu dan menenggaknya cepat agar kekeringan di kerongkongannya memudar.


"Ayo jalan dulu. Jangan sampai kita kehilangan jejak mereka!"


"Oh iya oke!" Binar mengemudikan kembali mobilnya dengan cepat agar lajuan mobilnya tidak tertinggal dari mobil Diego.


"Jaga jarak, Bin. Jangan buat mereka curiga..." Bilmar tetap memberikan komando untuk Binar.


"Iya Kak tenang..."


"Dimana baju ku?" Tanyanya. "Dibelakang!"


Dengan cepat Bilmar meraih baju itu dan menggantinya langsung dengan baju yang saat ini sedang ia pakai.


"Sumpah! Baju apaan sih ini, gatal banget!"


"Aduh Kak, masa ia ganti baju disini!" Binara berdecak. Ia kaget ketika melihat Bilmar hanya memakai kaus dalam saja.


"Ya mau gimana lagi, kamu mau aku mati karena gatal?"


Gelakan tawa seketika memuncar dari bibir Binara. "Buahahaa....Maaf ya, Kak. Makasi banget loh kamu udah bantuin aku kayak gini. Jadi terharu----" Binara memasang wajah sangat manja.


"Kamu tau nggak, karena ulah kamu yang membuat aku seperti ini. Alika dan Gadis langsung berteriak histeris. Aku seram kata mereka. Istriku dan anakmu takut melihat wajahku yang udah nggak beraturan kayak gini!" Bilmar berdecak sebal.


"Yang benar Kak, perasaan masih tetap oke kok!" Binara berdalih. Ia kembali tertawa.


"...Kakakmu memang cerdas, ia tidak bisa dikadali. Penyamaran ku akhirnya terbongkar, selamat nanti sore kamu akan habis dimarahi oleh istriku! Hahahaha." Kini Bilmar yang tertawa terbahak-bahak.


"Ih kok gitu, Kak??" Binara meringis, ia takut Alika marah besar kepadanya. "Tapi ini juga kan ide kamu, Kak!"


"Iya-iya, kita saling bela aja nanti didepan istriku----"


Bilmar dengan cepat melolongkan kedua tangannya untuk memakai kembali kemejanya. Meraih tissu dan membasahi nya dengan air untuk menghapus makeup yang sedari tadi membuat ia menjadi seram durjanah.


"Harusnya si Rendi----Yang kamu suruh dandan kayak gini! Dia lebih cocok. Nyamar jadi lutung juga boleh!"


"...Bakalan tambah jelek, Kak."


"Buahahahhaha!!" Suara tawa Bilmar dan Binar saling beriringan menggema di dalam mobil.


"Bin atur jarak. Jangan terlalu dekat!" Bilmar kembali mengingatkan Binar.


"Iya-iya. Terus gimana Kak? Benar bukan kalau Daddy nya Gadis saat ini adalah Diego?"


Bilmar mengangguk. "Iya Bin. Daddy nya Gadis memang benar, Diego yang kita maksud! Dia buka lah artis telenovela yang kamu maksud!"


Cit.


Grug.


Blup.


Brag.


Seketika itu pula terdengar ban mobil berdecit karena Binar menginjak rem secara mendadak. Membuat tubuh Bilmar begitu saja terdorong sampai kedepan. Lelaki ini seketika merasa lemas seperti tiba-tiba terkena sapuan angin tornado menerpa tubuhnya.


"Binar! Apa-apaan sih kamu!" Bilmar tersentak.


"Maaf Kak, aku kaget banget!"


"Ya Allah untung didepan sama dibelakang lagi sepi nggak ada mobil!"


"Maaf Kak..." Keluhnya. Binara kembali mengemudikan mobilnya. Wanita itu terlihat panik, seketika ia merasa awan gelap telah datang.


"Kak, bagaimana ini? Diego sangat membenciku!"


"Kamu harus tenang, Bin!"


Kini yang bernafas tidak lega adalah Binara. Jantungnya berdegup begitu kencang, ada rasa takut, was-was dan gelisah. Ia takut jika Diego tidak mau memberikan Gadis kepadanya.


"Aku takut, Kak. Bagaimana kalau Diego tetap menahan Gadis?"


"Tenanglah, Bin! Ada kami yang akan membantu kamu----Tenanglah!"


Didalam mobil Diego. Terlihat Alika sedang fokus menatap ke arah mobil yang ada di belakang mobil Diego dari spion. Ia sepertinya hafal mobil itu.


"Siapa ya? Kayaknya nggak asing?" Fikirnya.


"Kamu kenapa Berlian? Kok diam?" Tanya Diego. Lelaki ini juga masih fokus mengemudikan mobilnya. Terlihat Gadis ada di kursi belakang sedang bermain dengan bonekanya.


"Tidak kenapa-napa Tuan...Saya hanya menikmati indahnya pemandangan jalan saja.."


Diego tersenyum dan mengangguk.


"Sampai kapan kamu mau panggil calon suamimu ini dengan panggilan Tuan?"


Alika menoleh, melebarkan kedua matanya bahwa apa yang diucap Diego bukan hanya sekedar banyolan.


"Hahahahha, Tuan ini. Selalu melucu..." Alika mencoba memalingkan ucapan itu.


"Saya serius Berlian, saya tidak melucu! Saya ingin menikahi kamu dengan segera---Cintai saya pelan-pelan. Kamu pasti bisa!"


Tangan Diego terangkat untuk mengusap pipi Alika, namun dengan cepat Alika menjauhkan wajahnya.


"Maaf Tuan, tapi saya sudah bertunangan!" Alika terpaksa mengeluarkan senjata ini.


"Putuskan tunanganmu! Atau aku akan menghabisinya---" Ucap Diego yang masih memberikan senyum manisnya.


Kedua mata Alika kembali menajam, ia kaget dan histeris. Kening Alika begitu saja mengerut, ia tidak habis fikir dengan perangai Diego yang baik namun tersimpan sikap kejam dan mengerikan.


"M--maksudnya?" Alika terbata-bata.


"...Aku akan membunuhnya!" Jawab Diego datar, ia terus memutar-mutar stir kemudi mengikuti alur jalan yang ada dihadapannya.


"Mati aku! Sudah bermain-main dengan lelaki kejam!!" Alika meringis. "Sayang...tolong aku, Bil!" Alika memanggil-manggil Bilmar dalam hatinya.


"Kamu kenapa, takut ya?" Diego tertawa. "Aku hanya bercanda kok..."


"Apa? Bercanda katanya?" Alika kembali bergumam.


"Antar aku kerumah orang tuamu, secepatnya aku dan Mami akan melamar kamu, Berlian..." Diego menurunkan tangannya untuk menggenggam tangan Alika.


Lagi dan lagi, Alika melepaskan genggaman tangan itu.


"Maaf Tuan..."


"Nggak apa-apa, Bin---"


"Apa? Tuan panggil saya apa?"


Alika kembali terkejut. Ketika mendengar lelaki gagah ini memanggil dengan sebutan yang bukan namanya.


"Tidak-tidak. Lupakan saja!" Jawab Diego dengan gusar. Walau di mulut nya mengucap kata Berliana tetap saja dihatinya masih mengenang nama Binara.


Sungguh dramatis! Mencintai wanita yang tidak pernah mencitainya. Mungkin dengan menikahi Berliana, Diego bisa melupakan Binara dengan baik.


"Tuan..."


"Diego. Panggil saja Diego..."


"Ya, baiklah Diego. Aku boleh bertanya?"


"Ya, katakanlah!"


Alika membuang nafasnya perlahan. Mencari kata awalan untuk mendukung pertanyaan yang sebentar lagi akan keluar dari bibirnya.


"Apa sebelumnya kamu pernah menikah?" Tanya Alika. Membuat Diego menoleh dan menggelengkan kepalanya.


"Hampir menikah, namun gagal!" Jawabnya jujur.


"Lalu Gadis??" Alika berpura-pura histeris.


"Gadis?" Diego mengedik. Alika tanpa sadar menyebut nama Gadis begitu saja.


"Maksudku Marsela, Gadis cantik yang sedang bermain-----" Alika membawa arah mata Diego melihat kearah Gadis. "Yah, udah tidur ya?"


Gadis sudah terlelap dengan boneka ditangannya.


"Oh, aku fikir siapa.." Jawab Diego.


"Marsela bukan lah anak kandungku. Aku mengadopsinya tiga tahun yang lalu disaat aku sedang datang menemani Papi untuk mendonasikan harta kami ke Panti Asuhan."


Alika terus mendengarkan tutur kata Diego dengan baik.


"Apa alasan kamu untuk mengadopsinya?"


"Entah lah, saat itu aku hanya ingin saja. Aku begitu tertarik ketika anak itu menghampiri ku dengan tiba-tiba. Ia tersenyum begitu cantik, membuat ku teringat seseorang. Karena aku tau dia dibuang begitu saja, maka aku meminta kepada Papi dan Mami untuk mengadopsinya."


"Seseorang??"


"Ya, seseorang di masa lalu. Lupakanlah aku tidak mau membahas orang itu!"


"O--oke, baik, Diego."


Alika memilih untuk berhenti bertanya-tanya kembali, karena menurutnya itu tidak terlalu penting.


"Baiklah lanjutkan..."


Diego mengangguk dan memulai kembali ceritanya.


"Kala itu, keluarga ku senang dengan kehadiran Marsela. Karena memang kedua orang tuaku sudah lama menginginkan seorang cucu. Namun aku dan Kakakku belum bisa memberikan itu kepada mereka..."


"Namun...setahun yang lalu. Semua berubah, Mami membenci Marsela, ia mengutuk anakku menjadi biang keladi atas meninggalnya Papi."


"Saat itu Marsela sakit dan tidak ada Dokter yang bisa datang kerumah, karena keadaan saat itu sedang hujan lebat. Posisinya aku masih diluar kota. Papi tetap membawa Sela kerumah sakit, walau Mami khawatir takut terjadi apa-apa dengan mereka dijalan."


"Naasnya, sopir kami mengantuk. Dan kecelakaan itu pun terjadi. Papi meninggal ditempat dan Marsela akhirnya lumpuh. Semenjak saat itu Mami selalu mengurung diri, ia tidak bisa menerima kepergian Papi. Ia selalu menyalahkan Sela dan memukulinya."


Betapa terkejutnya Alika mendengar semua penuturan ini dari Diego. Ia salah jika menuduh Ny. Gweny adalah dalang dari. kelumpuhan Gadis. Alika tetap harus membuat taktik agar Diego mau menyerahkan Gadis kepadanya.


Berjuanglah Binara, Berliana dan Bilmar, rebut kembali Gadis Artanegara.


****


Like dan Komen ya guyss