
Selamat malam guys
Aku kembali, adakah yang rindu? hehehe
Oke deh selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah beberapa hari bermediasi dengan diri sendiri. Mencoba menerima kekalahan dan kenyataan. Akhirnya Diego dengan segala kelapangan dadanya bersedia untuk mengembalikan Gadis kepada Binara.
Keluarga Diego mengundang kembali keluarga Artanegara untuk bertandang kerumah menjemput Gadis. Namun syarat yang diajukan oleh Diego, bahwa Alika harus hadir dalam pertemuan itu. Diego ingin mengembalikan Gadis kepada Alika, bukan kepada Binara.
Lelaki itu merasa Alika lah yang menjadi tumpuannya, Alika bisa diandalkan untuk memegang janji untuk merawat Gadis. Karena Gadis sudah lebih dulu dekat dengan Alika, tentu jika Binara yang mengambilnya. Gadis akan merasa sangat dibuang kepada orang yang belum ia kenal.
Walau sejatinya Binara ibu kandungnya. Diego masih membenci sekaligus mencintai Binara, namun ia sadar bahwa Binara tidak bisa diraih kembali. Terutama permintaan maaf yang ingin ia sampaikan langsung kepada Alika tentang perbuatannya yang bisa membuat Alika frustasi dan trauma.
Tok tok tok
"Alika, Bilmar!" Suara Papa Luky terdengar dari luar.
Lelaki itu terus mengetuk-ngetuk pintu agar kedua anaknya bangun. Ia merasa khawatir karena sudah pukul 09:00 pagi, mereka berdua belum muncul di meja makan.
Beberapa kali ketukan terdengar di daun pintu kamar Bilmar dan Alika. Karena olahraga cinta yang mereka mainkan semalam sangat menguras energi dan membuat lelah berkepanjangan. Bagaimana tidak, Bilmar terlalu mempora-poranda kan tenaga Alika untuk terus mengimbangi permainannya sampai dini hari.
Maka dari itu pagi ini mereka terlihat telat bangun. Sungguh tenaga Bilmar memang sangat perkasa dan luar biasa. Hanya Alika lah wanita yang sanggup menandingi kehebatannya di ranjang.
Pelan-pelan kelopak mata Bilmar terbuka. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan keadaan matanya dengan cahaya lampu yang masih terang menyinarinya. Ia menggeliat kan tubuhnya untuk melepas rasa pegal dan lelah. Bilmar menoleh dan tersenyum ketika melihat Alika masih tertidur pulas disampingnya.
Ia tatapi wajah Alika yang sudah memucat. Wanita itu sangat kelelahan namun raut wajahnya terlihat bahagia. Ia menaikan selimut sampai menutupi leher sang istri. Mengecup dahinya lalu memakai bajunya kembali dan bangkit turun dari ranjang.
Krek
Kunci diputar dan pintu dibuka.
Melihat pintu dibuka, Papa Luky begitu saja menerobos untuk masuk kedalam kamar.
"Masih tidur rupanya? Alika gimana semalam, Bil?"
"Semalam tidur nyenyak, Pah.." Jawabnya singkat dan penuh percaya diri. Ingin ia tertawa sedikit karena sudah membohongi mertuanya.
"Oh syukurlah, Bil.." Papa Luky menghela nafasnya sebelum ia berujar kembali.
"Begini, Bil. Papa barusan saja mendapatkan kabar dari Diego, kalau ia mau menyerahkan Gadis."
Bilmar mengangguk perduli. "Alhamdulillah kalau begitu Pah--"
"Tapi.."
Ada jeda suara dari Papa Luky. Ucapannya membuat Bilmar mengerutkan keningnya.
"Tapi..kenapa Pah?"
"Diego bilang, kalau semua keluarga besar harus datang untuk menjemput Gadis dan ia ingin Alika juga hadir disana. Ia masih belum bisa menerima Binar..."
Mendengar nama istrinya yang dimaksud oleh lelaki yang ingin sekali ia hajar dan ingin ia kubur hidup-hidup. Hatinya pun kembali memanas. Terlihat tangannya mengepal kuar dan rahang yang mengeras menonjol di sudut pipinya. Ada nafas kasar yang ia tahan untuk tidak keluar. Ingin ia berkata tidak, namun lagi-lagi ini menyangkut tentang Gadis.
"Awalnya Papa menolak. Papa masih benci dengan sikapnya yang membuat anak Papa jadi trauma seperti itu--" Dua netra gelap milik Papa Luky melihat begitu frustasi kearah Alika.
"Papa sangat mengutuk perbuatan Diego! Walau Alika sudah bersalah menyamar dan membohonginya, tetap saja perbuatan lelaku itu tidak pantas!"
Bilmar masih mendengarkan ucapan mertuanya dengan kedua mata yang masih menatap serius ke arah istrinya yang masih pulas tertidur.
"Dia mau minta maaf kepada Alika. Ia mengaku khilaf dan sangat bersalah. Ia juga ingin menitipkan Gadis langsung ke tangan Alika. Karena menurutnya, Gadis sudah dekat dengan istrimu, Nak. Apakah boleh, Bil?" Papa Luky kembali bertanya, ia memegang bahu sang menantu.
Menjatuhkan sebuah harapan dan ingin mendengar kata iya, yang keluar dari mulut menantunya.
"Tentu pengorbanan Alika akan sia-sia, jika diakhir batas seperti ini. Kita tidak menuruti kemauan Diego---" Imbuh nya dengan amat lirih. Namun kembali berubah menjadi bahagia. "Gadis akan bersama kita lagi, Nak.."
Papa Luky kembali meminta kebaikan hati dari Bilmar.
"Sekali ini saja, tolong Nak. Papa juga akan mengobati Alika sampai sembuh. Papa tau Alika adalah anak yang baik dan kuat. Hatinya selembut kapas, dia adalah anak kesayangan Papa."
Melihat Papa Luky amat merendah, meminta, memohon dan merintih kepadanya. Sungguh membuat nyalinya menciut untuk menolak. Mungkin saja dengan melihat Gadis, Alika akan cepat pulih karena hatinya bahagia bahwa pengorbanannya membuahkan hasil.
Namun saat ini ia tidak melakukan itu untuk Binar agar bisa mendapatkan Gadis. Ia hanya ingin mengembalikan rasa bahagia untuk istrinya saja. Ia yakin jika Gadis berhasil direngkuh, maka rasa traumanya pun akan menghilang.
****
"Hay cantik, selamat siang..." Sapa Bilmar dengan membawa sebuah nampan berisi makanan dikedua tangannya. Ia terlihat baru saja masuk kedalam kamar dan menemukan Alika yang akan beringsut bangkit dari ranjang. Sambil memegang selimut yang masih menutupi tubuh polosnya, Ia pun tersenyum balik.
"Siang sayang..Aku kesiangan nih, Bil!" Desahnya penuh perjuangan, ia terlihat meringis ketika menggerakkan sedikit tubuhnya.
Bilmar meletakan nampan berisi sarapan dan air putih di atas kasur. "Makan dulu ya, habis itu minum obat.."
Alika mengangguk. Ia pun lebih mendekat ke arah Bilmar.
"Anak-anak sudah bangun, Bil?" Tanyanya ketika Bilmar bersiap untuk menyuapinya. Ia memutar bola matanya ketika melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 11:00 siang.
"Sudah sayang...mereka sedang bersama Papa di bawah. Kamu makan dulu ya lalu mandi, biar segar..." Bilmar mulai memasukan sendok berisi nasi goreng ke dalam mulut Alika.
Sang istri meraih sendok yang ada ditangan Bilmar, kemudian ia meraih sesendok nasi di piring lalu mengarahkan nasi tersebut kedalam mulut Bilmar.
"Kamu juga makan ya.." Dengan wajah penuh bahagia, ia pun tegap untuk membuka kedua mulutnya.
"Aku kangen disuapin kamu, Al.."
"Ya udah aku akan suapin kamu terus. Biar kangen kamu terobati." Sudut bibir Alika begitu saja terangkat naik. Ia tersipu malu.
"Aku senang lihat kamu tadi malam, kamu sexy banget sayang..."
Wajah Alika makin merona dan memerah. Ia merasa malu. Sungguh Bilmar tidak mempercayai perbedaan Alika yang sekarang. Selama ia sedang trauma, efek sampingnya sangat terasa. Ia melihat Alika bertambah lembut, tidak pernah mau jauh dari nya dan terlebih lagi, ia bisa menandingi kekuatan Bilmar. Berpacu dalam hasrat berjam-jam di atas ranjang hanya untuk memuaskan suaminya.
"Apa karena efek obat ya?" Ucap Bilmar lagi namun gelak tawanya muncul menghiasi.
"Jadi kamu senang ya kalau aku sakit?"
Bilmar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak dong, amit-amit deh. Aku ingin kamu seperti dulu. Tolong Al, jika kamu merasa sedang takut, perasaan kamu sedang gak enak atau mengingat-ngingat kejadian menyakitkan yang pernah terjadi, tolong sayang...bicara sama aku ya."
Bilmar membuat Alika untuk terus menatapnya lurus dan dalam.
"Ada aku yang selalu jaga kamu. Kalau kamu merasa aku menyebalkan, membuat kamu lelah, buat kamu capek, buat kesal, buat marah, tolong say----"
Alika dengan cepat meletakan dua jarinya didepan katupan bibir Bilmar. "Udah Bil jangan kayak gini..aku makin merasa bersalah sama kamu---"
"Yang aku rasain sekarang, hanya memendam rasa penyesalan aja. Aku masih gak terima aja dengan perlakuan Diego dan kamu mengetahuinya. Aku merasa sangat salah sama kamu, Bil. Aku takut kamu gak percaya lagi sama aku!"
Bilmar berhasil mengikuti saran dari Dokter spesialis jiwa untuk bisa melakukan hipnoterapi ringan kepada Alika. Tentu ia harus mengembalikan rasa percaya diri, rasa senang dan rasa bahagia yang ada dalam diri istrinya.
Karena semua itu lambat laun akan membuat Alika sembuh dari traumanya. Ia sangat membutuhkan dukungan moril, semangat dan maaf tulus dari orang yang membuatnya merasa bersalah lah, dan itu adalah suaminya sendiri.
"Demi Allah, aku udah maafin kamu. Aku terima semua ini dengan lapang dada, aku bersyukur kamu baik-baik aja. Gak cacat sama sekali, bagi aku. Kamu tetap seperti bunga yang sedang mekar, dan aku akan selalu jaga kamu dari sengatan kupu-kupu atau serangan tangan manusia yang ingin memotek nya!"
Bilmar menyingkirkan nampan yang ada diantara mereka, lalu memeluk istrinya yang masih berpolos ria didalam selimut.
"Ada aku sayang, suami kamu. TEMAN HIDUP KAMU..."
Ucapan Bilmar sangat menenangkan batin Alika. Wanita itu terlihat memejamkan kedua mata ketika dirinya dipeluk erat. "Makasi ya, Bil. Makasi banyak karena kamu udah mau pilih aku jadi teman hidup kamu!" Alika mendesah bahagia. "Udah mau nerima aku yang sakit kayak gini."
"Udah kewajiban aku, untuk buat kamu pulih. Ayo sembuh ya, lawan rasa trauma kamu!"
Alika mengangguk senang, ia tersenyum puas. Hatinya kembali gempita, jiwanya seketika tenang. Tubuhnya seketika memanas karena semangat telah muncul.
"Sama-sama, Al. Kita setia ya, sampai tua..sampai mati--"
Bilmar melepaskan pelukan itu, kembali menatap wajah istrinya yang masih dihujani rasa gembira.
"Apa kamu mau bertemu dengan Diego sekali lagi sayang??"
Senyum yang sedari tadi sedang mengembang pesat langsung berubah menjadi sendu dalam sekejap. Hatinya kembali linu ketika mendengar nama itu yang kembali diucap.
"Tenang ada aku yang jaga kamu...!"
Alika tetap bergeming. Ia masih menatap bola mata Bilmar secara bergantian. Lidahnya terasa kaku.
"Demi Gadis, sayang..."
"Kalau kamu meridhoi aku, aku mau Bil."
Bilmar tersenyum walau sesungguhnya ia merasa berat.
"Kamu kenapa sayang?" Bilmar kembali merasa cemas ketika melihat Alika yang sedang menahan mual.
"Bil tolong antar aku ke toilet, aku mual ingin muntah!"
Seketika Alika merasa badannya gemetar dan dingin. Ada sesuatu yang mengocok-ngocok isi perutnya.
****