
Hanya dengan bersujud yang dapat Bilmar lakukan untuk memohonan belas kasih dari Alika. Agar wanita itu mau melahirkan Bilka dan Abrar malam ini. Beribu nasihat telah dilontarkan dari bibir Bilmar, Papa Bayu dan Papa Luky dari dua jam yang lalu. Dan akhirnya Alika mau mengikuti kemauan mereka.
Wanita hamil itu hanya diam dan pasrah ketika dirinya sudah dibaringkan di meja operasi. Bilmar pun turut menemaninya didalam. Alika terus menatap ke sudut kamar operasi dengan air mata yang terus menetes pelan dari ekor matanya.
Lirih jiwanya, hancur sudah hatinya. Mengapa harus ada Bilka dan Abrar, jika kedua anak itu hanya menumpang saja selama delapan bulan didalam perutnya, sederetan kalimat yang terus bercaku padu didalam jiwanya.
Suara dan sentuhan Bilmar masih saja menemaninya disini. Bilmar sudah berpakaian hijau-hijau persis seperti dirinya sekarang. Alika hanya terdiam, ia kembali mengingat-ngingat ketika ditinggal pergi oleh orang-orang yang ia cintai. Mamanya, Papa Samsul, Aziz dan sekarang kedua buah hatinya.
"Ayo Bu, miring dulu ke kanan ya..." titah Dokter Anestesi. Bilmar membantu memposisikan Alika untuk miring menghadap dirinya.
"Boleh hembuskan nafas jika rasa sakitnya datang ya..." Dokter kembali menginstruksi.
Dan tak lama kemudian suara ringisan sakit mencuat dari bibir Alika. Tangan Alika mencengkram kuat kepalan tangan suaminya.
"Ya Allah, sakit...." Desah Alika sambil menggigit bibir bawahnya. Ia baru merasakan hal terdasyat seperti ini, ketika merasakan jarum suntik yang sedang menancap lurus kedalam kulit di bagian belakang tubuhnya.
"Bil..." Desahnya lagi sambil memejam kelopak matanya.
"Mama...Papa.." Ia terus merancau nama orang tuanya. "Sakit..." Lirihnya lagi.
Bilmar mencium pipi istrinya dan terus membisikkan lantunan asma Allah tepat ditelinga Alika. "Kuat sayang, demi Bilka dan Abrar.." imbuhnya lagi.
Tak berapa lama operasi pun dimulai. Alika yang sedari tadi berbaring terlentang dengan mata menyala menatap lampu. Kini perlahan-lahan mata sendunya mulai menutup. Bilmar terus berada disampingnya dan menggenggam tangan Alika dengan erat. Ia mencium dahi Alika terus menerus. Air matanya pun menetes turun membasahi wajah Alika.
Suami manakah di dunia ini, yang begitu kuat menemani istri di kala tengah menjalani operasi untuk mengeluarkan bayi mereka yang sudah wafat?
Suara gunting dan pisau beriringan terdengar. Membuka, menyayat dan merobek bagian kulit yang berlapis-lapis. Dokter Kandungan beserta perawat terus berusaha untuk melakukan operasi ini sebaik mungkin.
Dan tak lama
Brrr.
Air ketuban begitu saja mengalir deras dari dalam perut Alika bersamaan ketika tangan Dokter mulai meraih bayi mereka satu persatu yang sudah tidak bernyawa. Biasanya para tim medis akan diberisikan dengan suara bayi yang akan menjerit nyaring, ketika baru saja dikeluarkan dari perut si Ibu.
Namun hari ini berbeda. Ada keheningan diantar Dokter dan beberapa Perawat yang masih memakai baju dan topi hijau tersebut. Terlihat sekilas kedua mata Dokter Obgyn Alika berkaca-kaca ketika mengetahui kondisi Bilka dan Abrar yang sudah sangat buruk. Kulitnya sudah abu-abu, kulit dibagian kepalanya sudah mengelupas dan wajah mereka sudah mengembung karena terlalu lama didalam air ketuban.
"Ya Allah..." terdengar rintihan perawat yang bertugas untuk membawa dua bayi itu ke ruangan lain untuk dibersihkan.
Bilmar dengan mata telanjang menangkap langsung pemandangan itu. Ia menangis histeris, tangisan yang sedari ia tahan begitu saja tumpah ruah. Ia mencium kembali kening Alika, sungguh trauma yang ia rasakan semakin berat. Tetapi Bilmar sadar, ia adalah seorang lelaki. Seorang suami dan ayah, Ia harus tetap kuat dari istrinya.
****
Telah lahir kedua bayi mereka tanpa nyawa, tepat di hari ulang tahun Bilmar hari ini. Hal yang tidak pernah ia bayangkan didalam hidupnya sama sekali. Mengapa harus dihari ini?
Mengapa harus di hari ini? Di hari membahagiakannya, bukan mendengar kata selamat ulang tahun tapi terganti dengan ucapan berkabung.
Pedihnya hati Bilmar.
Papa Bayu sudah memesan tanah pemakaman untuk kedua cucunya. Menyiapkan segala keperluan untuk melepas jasad Bilka dan Abrar. Bilmar, Papa Bayu, Rendi dan Papa Luky sudah berada dirumah sekarang. Sedangkan Binara masih menemani Alika dirumah sakit, karena wanita itu masih belum sadarkan diri pasca operasi. Tidak mungkin menunggu Alika sadar untuk memakamkan kedua anak mereka.
"Pemakaman sudah siap, Nak.." ucap Papa Bayu mengelus bahu putra semata wayangnya.
Tatapan Bilmar terlihat kosong melompong. Dua bola matanya tak kunjung usai untuk terus menatap wajah Bilka dan Abrar yang sudah terbunur kaku terbungkus rapih dengan kain kafan. Maura pun terlihat memangis, ia mengusap-usap wajah adik-adiknya.
"Adik, Pah.." ucapnya lalu mendekap dada Papanya. Suara Ammar yang berceloteh pun begitu nyaring terdengar. Membuat siapa pun yang sedang memandang Bilmar, ikut bertambah lirih.
"Pa..pa..pa.." Begitu yang ia celoteh kan ketika dirinya masih terduduk di bouncher nya.
Bilka dan Abrar sudah selesai di shalat kan. Kini mereka siap untuk dimakam kan dan dikembalikan ke tempat asalnya.
Bilmar menggendong kedua anaknya menuju mobil. Hatinya makin terasa linu ketika melihat bendera kuning tengah berkibar-kibar digerbang rumahnya.
"Turut berduka cita ya, Pak.." Beberapa ucapan kedukaan mendengungkan telinganya. Terus saja membuat dadanya terhimpit, ingin ia teriakan dan mengeluarkan amarahnya seperti biasa. Harusnya saat ini ia menggendong Bilka dan Abrar dengan penuh suka cita bukan dengan rasa sakit karena akan melepaskan mereka untuk selama-lamanya.
****
Sebuah tenda dipertengahan makam sudah berdiri kokoh. Deretan bangku sudah berjejer walau tidak banyak. Terlihat dari perwakilan dari kepala-kepala Cabang, Manager, Leader dan staf-staf khusus sudah berdiri di area makam. Mereka menoleh ketika melihat kedatangan Bilmar beserta keluarga sedang melangkah untuk menghampiri tanah penguburan.
Sorotan sinar matahari pagi sangat menerangi jalannya pemakaman. Hembusan angin segar saling berseliweran di udara. Menemani langkah kaki Bilmar yang sudah turun kedalam makam. Maura dah Gadis saling menangis dalam pelukan kakeknya masing-masing. Maura terlihat iba menatap sang Papa yang sedang membantu menurunkan jenazah Bilka terlebih dulu ke dalam galian tanah makam. Lalu setelah itu bergantian untuk menurunkan jenazah Abrar di galian tanah makam yang sudah siap disebelahnya.
Satu jam kemudian, kerumunan orang pun memudar dan berlalu meninggalkan keluarga Artanegara yang masih setia dipemakaman.
Tangisan Bilmar semakin pecah. Ketika tanah makam sudah tertutup sempurna. Menutup dunia antara Bilmar dan kedua buah hatinya. Tanah merah itu terus dipadatkan sampai membentuk suatu gundukan meninggi. Dipan makam masih terbentuk dari kayu sementara. Masing-masing disana bertuliskan nama anak mereka dengan akhiran bin/binti atas nama Bilmar Artanegara.
Bilmar masih berjongkok di antara makam kedua anaknya. Menatap tanah yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk anak-anaknya. Terlihat Papa Bayu sedang menyirami bunga-bunga khas penguburan dan tetesan air mawar di makam Bilka sementara Papa Luky melakukan hal yang sama di makan Abrar. Sedangkan Rendi masih menggendong Maura dan Gadis. Maura meronta untuk turun dan menghampiri Papanya.
Bilmar hanya bisa memeluk Maura sebagai pengganti tubuh Alika saat ini. Tuntas sudah perannya sebagi ayah untuk Bilka dan Abrar, ia tetap menemani sang anak sampai masuk kedalam liang lahat. Bilka dan Abrar memilih kembali untuk bermain-main di surga-nya Allah.
"Dan kini ananda Bilka dan Abrar pun sedang bermain dengan Nabi Ibrahim. In Syaa Allah, setiap orang tua yang diambil anaknya lalu bersabar maka Allah akan membangunkan kalian sebuah rumah di syurga yang diberikan nama dengan sebutan Baitul Hamdi yaitu rumah pujian. Bersabar selalu ya, Pak. In Syaa Allah, Bilka dan Abrar menjadi ladang pahala untuk bapak dan istri.." Pak Ustad mengelus bahu Bilmar, menguatkan hati lelaki itu yang sedang hancur dan ringkih.
****
💔💔💔ðŸ˜