Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Alika terus menangis


Haii sore guyss, aku datangg


Selamat membaca yaa


❤️❤️


Kesalahan Alika terus membekas sampai ke ubun-ubun Bilmar. Lelaki itu memutuskan untuk tetap bekerja tanpa mengecup dahi sang istri. Ia hanya diam setiap Alika menawarkan sesuatu.


Kini, Alika masih terjaga di ruang tamu, ia masih setia menunggu kepulangan Bilmar dari kantor. Ia sedikit cemas, karena sudah pukul delapan malam, suaminya belum juga sampai rumah.


Memang saat ini EG sedang tumbuh dan berkembang pesat bahkan keuntungannya sudah menandingi ACORP, perusahaan milik Papa Luky. Bilmar lebih sering pergi keluar kantor untuk mendatangi beberapa perusahan yang akan ia tanamkan saham miliknya.


Pak Adit tetap menjadi tangan kanan setelah kepergian Rendi dari EG. Alika memutuskan untuk vakum dulu selama 3 bulan dari Klinik EG, ia masih merasa belum stabil dalam mengurusi rumah dan anak-anak.


"Kok udah jam segini kamu belum sampai juga, Bil?" gumam Alika.


Ia terus menunggu kepulangan suaminya. Berjalan mondar-mandir di area ruang tamu, beberapa kali menyeka kain hordeng untuk melihat apakah mobil jaguar hitam sudah mendarat di depan sana dan karena waktu terus bergulir, Alika pun tidak mampu menahan rasa kantuk. Akhirnya ia tertidur di sofa.


Satu jam kemudian, terdengar bell pintu berbunyi. Karena Alika sudah pulas, ia pun tak kunjung membukai suaminya pintu untuk masuk kedalam rumah.


Beruntunglah Bik Minah segera keluar dari kamar nya dan berjalan menuju pintu utama. Di lewatinya Alika yang sedang tertidur begitu saja.


"Maaf, Den lama." ucap Bik Minah ketika Bilmar sudah masuk ke ambang pintu.


"Iya nggak apa-apa---"


Suara Bilmar terhenti begitu saja ketika pandangannya beralih ke sosok yang sedang tertidur di sofa.


"Non Alika dari sehabis isya nungguin Aden disini, sampai ketiduran. Bibik nggak tega ngebanguninnya, soalnya dari siang Ammar nya rewel Den, Non nggak bisa istirahat."


Bilmar hanya diam, ia terus melihati wajah Alika yang memang terlihat sangat letih.


"Iya udah Den, Bibik balik lagi ke kamar ya."


"Makasi ya Bik."


Bik Minah pun berlalu dari pandangan majikannya. Walau hatinya masih kesal, tapi rasa cinta untuk Alika akan selalu merekah. Ia pun mulai menggendong istrinya untuk dibawa ke kamar. Alika terlihat sangat pulas, sampai suara dengkurannya tercetak jelas di daun telinga Bilmar.


Brug.


Dengan penuh kelembutan, Bilmar meletakkan tubuh istrinya diatas ranjang. Terlihat Maura dan Ammar sudah tidur terlelap disana.


Cup.


Bilmar mengecup bibir Alika sebelum akhirnya ia berlalu untuk membersihkan diri.


****


Empat jam kemudian, waktu sudah menunjukan pukul 01:00 dini hari. Gumaman Maura sepertinya telah membangunkan Alika yang sedang tertidur. Dalam keadaan setengah mengantuk, ia pun mulai bangkit untuk duduk berselonjor. Mengucek ke dua matanya. Ia tatapi jam dinding di hadapannya saat ini.


Lalu


Jag.


Ia baru tersadar dan turun dari ranjang dengan langkah seribu. Ia terus menuruni anak tangga dengan cepat.


"Ya Allah udah jam segini, Bilmar belum pulang juga?" Alika panik dan was-was. Ia masih belum sadar jika yang membawanya ke kamar adalah suaminya sendiri.


Ia pun mulai mengerutkan kening ketika melihat Bik Minah sedang menyiapkan mie instan di meja makan.


"Buat siapa, Bik?" ucap Alika mengagetkan


Bik Minah mendongakkan wajahnya.


"Ya Allah Non! Sampai kaget Bibik. Ini buat Den Bilmar Non, tadi ngetuk pintu kamar bibik minta dibuatin mie instan katanya---"


"Memang Bilmar sudah pulang Bik?"


"Udah lama Non, dari Non ketiduran di sofa. Kayaknya habis bawa Non ke kamar, Aden balik lagi ke ruang kerja sampai sekarang."


"Hemmm..udah Bik sini, biar saya aja yang bawa ke Bilmar. Bibik tidur lagi aja!"


Alika mengambil nampan berisi mie instan dan air putih untuk dibawanya ke ruang kerja suaminya.


Krek.


Alika membuka pintu, terlihat Bilmar menoleh sebentar lalu menatap ke layar komputer kembali.


"Bik Minahnya kemana? Kok kamu yang antar?" tanya Bilmar, ia terus menatap layar terang itu.


"Kenapa kamu nggak bangunin aku, kalau kamu lapar, Bil?"


Alika meletakkan nampan berisi pesanan Bilmar dimeja. Ia pun menarik bangku untuk duduk lebih dekat disamping suaminya.


"Bik Minah kan dibayar untuk ini!"


Alika hanya bisa menghela nafasnya ketika ia tahu suaminya masih merajuk.


"Kamu nggak capek, pulang kerja udah malam. Sekarang lanjut lagi sampai pagi? Nanti kamu sakit sayang---" Alika mengelus tangan suaminya.


"Nggak masalah!" jawabnya dingin.


Mendengar istrinya berucap lembut seperti ini, ingin rasanya langsung memeluk dan menciumnya. Namun karena masih ada rasa kecewa, ia hanya diam tidak mau menjawab.


"Kamu masih marah ya sama aku? Aku minta maaf ya, Bil. Aku khilaf---"


"Hemm..." Bilmar tetap fokus menatap komputernya.


"Ayo habiskan makanan kamu, habis itu kamu naik ke kamar. Kamu harus tidur!"


Alika akhirnya bangkit dari kursinya. Ia merasa tidak akan baik jika sudah malam seperti ini terus mengajak Bilmar untuk berbicara. Ia sudah tahu akhirnya pasti berujung dengan keributan.


Dengan tarikan cepat, Bilmar meraih tangan istrinya yang akan melangkah lalu Alika berbalik jatuh dan menubruk tubuh suaminya. Bilmar mengunci tubuh Alika tepat diatas dirinya.


"Aku mau kamu malam ini sayang--" desah Bilmar tepat membisik di telinga Alika.


Kedua mata Alika pun mendelik tajam, ia tau apa artinya itu.


"Iya boleh sayang, tapi nanti ya jangan sekarang!" Alika mencoba menarik tubuhnya yang sudah dikunci oleh Bilmar.


Lelaki ini semakin tidak tahan ketika merasakan dua buah gunung pekat tidak di lindungi kain didalamnya.


"Aku nggak bisa nunggu lagi, Al. Kepalaku sakit, aku udah nggak tahan kalau harus nunggu besok!" Bilmar mulai memberikan gigitan-gigitan kecil di daun telinga istrinya.


"Bil, lepas. Jangan sekarang ya. Aku masih takut!" Alika memelas. Ia terus berusaha untuk menarik wajah dan tubuhnya, ketika Kepala Bilmar sudah mulai turun di ceruk leher istrinya. Terus mengecup sampai ke tulang selangka dada.


"Aku rindu banget sama kamu Alika--"


Bilmar mulai memasukan kedua tangannya kedalam piyama istrinya. Ia begitu tergugah, ketika merasakan dua gunung itu terlihat lebih besar dan kencang.


"Sayang, besok aja ya. Aku janji besok!"


Alika dengan paksa menarik tubuhnya dan bangkit dari atas tubuh suaminya. Ia pun berusaha lari untuk meninggalkan Bilmar. Tapi Karena Bilmar sudah kepalang tanggung, mau tidak mau ia harus tetap melalukan pelepasan saat ini.


Bilmar dengan langkah seribu lebih dulu sampai didepan pintu dan menguncinya. Membuat Alika terhenti untuk memajukan langkahnya.


"Tolong jangan buat aku marah, Al!"


Bilmar meraih kembali tubuh Alika untuk dibaringkan ke sofa. Ia pun mulai beraksi. Alika hanya bisa pasrah tanpa bisa melakukan perlawanan sama sekali.


Suasana berbeda pun terasa ketika beberapa hentakan telah didaratkan oleh Bilmar kepada inti istrinya. Jika Bilmar mengerang karena nikmat, berbeda dengan Alika ia terus merintih karena sakit.


Hanya ada tetesan air bening dari kedua ekor matanya. Ia terus mengeluh sakit. Namun rintihan itu tidak di gubris karena sepertinya Bilmar sudah pergi jauh ke puncak kenikmatan.


Alika terus menangis tiada henti.


****


.


.


.


.


.


.


Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘