
Haii ada kah yang rindu mereka?
Selamat baca ya guyss
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu terus berputar, bumi yang bulat terus berputar pada porosnya. Kini usia kehamilan Alika sudah memasuki usia 5 bulan. Perut nya semakin membesar. Bilmar sempat menangis ketika pertama kali mendengar grasak-grusuk tendangan dari anak-anak mereka dari dalam perut istrinya. Dirinya tidak henti-henti untuk selalu bersyukur.
Terlihat Alika dan Bilmar masih menatap layar monitor tv yang terpasang di dinding tepat dihadapan mereka sekarang. Gambar hitam putih yang tidak jelas arti dan maksudnya itu memperlihatkan dua bayi yang tengah bergerak-gerak didalam perut Alika. Dokter Obgyn mereka masih memutar-mutar crusor usg di permukaan perut buncit ibu hamil tersebut.
"Nah kalau yang ini ada antenanya...yang satu laki-laki ya, Bu, Pak---Kalau yang satu lagi...." Ucapan Dokter terhenti ketika ia masih fokus memeriksa jenis kelamin anak kembar mereka yang satunya lagi.
"Wah kalau yang satu ini bukan antena ya...Tapi lempeng emas.." Ucap Dokter sambil diselingi tawa tipis.
"Hah? Maksud nya, Dok?" Tanya Alika dan Bilmar saling bersamaan.
"Bayi kembar ibu berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Mereka ini sering disebut dengan kembar zigotik. Karena berbeda jenis kelamin."
"Masya Allah Tabarakallah, sayang...anak kita kembar sepasang...!!" Seru Alika menatap suaminya yang masih melongo menatap Dokter Obgyn.
"Bil.." Alika menghentak bahu suaminya.
"Eh--ii--ya sayang....Alhamdulillah." Jawab Bilmar mengucap syukur panjang tiada henti. Wajahnya berbinar menyala-nyala, seperti ingin berlari ke atap gunung lalu terjun bebas menyelam dinginnya air dilautan. Betapa bahagianya dirinya dan betapa melegakan hatinya. Mendapatkan dua pasang bayi kembar sekaligus.
"Anak-anak saya semua sehat kan, Dok?" Tanya Bilmar masih fokus menatap pergerakan bayi mereka di layar monitor.
"Alhamdulillah sehat. Walau si bayi lelaki beratnya tidak naik tetapi disini pergerakannya aktif. Kalau yang bayi perempuan beratnya naik namun pergerakannya sedikit kurang. Dari air ketubannya juga sudah normal. Tapi tetap ya kontrol 2-3 minggu sekali--Makannya juga tetap diatur ya. Biar tensi darah ibu tetap stabil, tadi berapa tensinya, Sus?" Dokter beralih bertanya kepada suster yang berada disampingnya.
"Tinggi sedikit, Dok. 130/90..."
"Masih tinggi sedikit namun sudah lebih baik dari sebelumnya..Makannya lebih ekstra diatur ya!"
"Baik, Dok..." Jawab Bilmar dan Alika bersamaan. Mereka kembali bertatapan dalam kebahagiaan duniawi. Bilmar mengecup dahi istrinya sambil berucap.
"Makasi sayang sudah mau berkorban melakukan semua ini untuk mereka."
Alika mengangguk dan tersenyum. "Kamu juga ikut berkorban demi aku dan anak-anak. Makasi ya Papa..."
"Aku mau memberi mereka nama Bilka dan Abrar..bagus kan?"
Alika hanya bisa tersenyum lalu mengangguk dan kemudian dirinya kembali menyebut nama itu berulang-ulang.
"Bilka dan Abrar, semoga saja kalian selalu tumbuh dengan baik diperut Mama ya, Nak---" Ucap Alika menatap perut buncitnya lalu melihat kembali ke arah layar monitor.
****
Sepulang dari Rumah Sakit, Alika meminta kepada Bilmar untuk sekalian menjemput Maura ke sekolahnya. Alika ingin memberikan kejutan kepada anak itu tentang kedatangannya sekaligus ingin mengetahui bagaimana sikap anaknya disekolah.
Apakah Maura bisa kooperatif dengan anak-anak yang lain dan kebetulan memang hari ini Binar tidak bisa menunggui Gadis dan Maura seperti biasa, karena ia ada keperluan kantor yang tidak bisa ditinggal.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di taman kanak-kanak sang anak. Terlihat dari kejauhan beberapa siswa ada yang tengah bermain di taman dan ada pula yang sedang membuat kelompok hanya untuk mengobrol. Terlihat juga beberapa orang tua yang menunggu disana pun sedang menyuapi anak-anak mereka.
"Kayaknya lagi istirahat ya sayang?" Ucap Alika kepada suaminya. Wanita mungil yang sudah tidak mungil itu terus melangkah sejajar dengan langkah suaminya. Perutnya yang buncit memang lebih mendominasi tubuhnya yang kecil.
"Iya Al, kayaknya kedatangan kita masih lama dari jam pulang sekolah.."
"Ya udah kita tungguin aja sampai Kakak pulang lalu antar Gadis juga kerumah Papa.."
"Tapi kan Maura pulangnya juga masih dua jam lagi, Al---Kamu akan capek!" Bilmar mengusap keringat yang terlihat disisipan pelipisnya istrinya. "Tuh kan belum lama jalan aja kamu udah berkeringat sayang---Apa aku antar kamu pulang dulu aja kerumah. Biar bisa istirahat dan tidur siang. Nanti aku balik lagi kesini untuk jemput mereka."
Dahi Alika berlekuk menjadi suatu lipatan ketika mendengarkan suaminya yang sedang berucap, Alika menyelak cepat.
"Aneh kamu tuh, gak efisien tenaga sama waktu...Aku gak apa-apa sayang, dirumah terus juga aku bosan---" Jawabnya dengan nada sedih.
Walau berat didalam hatinya namun Bilmar memaksakan kepalanya untuk mengangguk. Ia tidak ingin membuat Alika menjadi kesal atau sedih. Ia pun menuruti kemauan istrinya, namun ia kembali bersuara karena mendengar nafas Alika melaju cepat.
"Kok nafasnya gitu? Kamu lagi gak sesak kan?" Tanya Bilmar.
Suara nafas Alika terdengar memburu. Ia sedikit tersengal-sengal karena perjalanan dari parkiran menuju kelas Maura sedikit memakan jarak 500 meter.
Terasa bayi kembar itu sedang bergerak sangat aktif.
"Coba sayang pegang perut aku..." Alika terhenti dari langkahnya. Ia meraih tangan Bilmar untuk memegang perutnya. Raut wajah Bilmar terlihat bahagia, ia kembali senang. Menatap bola mata Alika dengan sebuah senyuman manis dari bibirnya.
"Mereka tuh senang kalau diajak main, jalan-jalan. Kamu bisa rasain kan, mereka lagi aktif-aktifnya?"
Bilmar mengangguk ia kembali merasakan kedua anaknya itu sedang jumpalitan didalam.
"Kok tiba-tiba diam, Al? Gak ada gerakannya lagi?" Tanya Bilmar menyelidik.
"Capek kayaknya, mungkin mereka mau tidur. Ya udah kita jalan lagi, nanti Maura keburu masuk lagi ke kelasnya!"
"Maura dimana ya, Al? Kok ditaman gak ada? Gadis juga, mereka berdua apa gak istirahat?"
Kedua bola mata mereka terus mencari-cari keberadaan anak-anak mereka. Saling berpendar untuk menatap wajah anak-anak TK satu persatu. TK ini mempunyai halaman yang cukup bersih, luas, segar dan elegan.
"Mungkin di kelasnya, Bil. Ayo kita kesana..."
Alika dan Bilmar menyisir setiap ruang kelas. Walau Alika belum pernah mengantar atau menemani sang anak sekolah tap, ia hafal nama kelas Maura.
"Kelas Mina...ini, Bil!" Alika menunjuk sebuah nama kelas yang tercetak jelas di daun pintu.
Alika dan Bilmar yang bersamaan melolongkan kepala mereka agar tersembul sedikit dari balik daun pintu kelas yang tertutup setengah.
Lalu
Kedua mata mereka begitu saja membelalak takjub tidak percaya. Mulut mereka menganga melihat perangai sang anak sekarang.
"Ayo siapa lagi yang mau---Aku punya banyak nih..."
Seorang anak perempuan cantik tengah duduk di atas meja sambil merobek satu persatu kertas dari buku gambarnya. Ia mengalung-alung kan kertas itu kepada para temannya yang mau.
Beberapa temannya ada yang menghampirinya untuk meraih kertas gambar itu dengan gratis. Maura memberinya dengan sukarela.
"Hey Siska, nih kamu mau gak?" Ucap Maura membuat anak itu yang sedang berdiri menatapnya lalu mengangguk.
"Ini ayo ambil---" Maura menyodorkan kertas gambar itu kepada temannya.
"Pantas aja, baru beberapa hari buku gambarnya udah habis, oh dibagi-bagi kan?" Alika menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak percaya.
"Wah anakku jadi bos ternyata..." Bilmar berdecak tawa. "Keren ya sayang, siapa dulu Papanya..."
Alika mendelik tajam ketika melihat suaminya masih saja tertawa.
"Gak lucu kamu tuh!" Wanita hamil itu kemudian beranjak untuk masuk kedalam dan di susul oleh Bilmar.
"Kakak!" Suara Alika begitu saja membuat Maura menoleh dengan cepat. Ia sangat kaget kalau sang Mama dan Papanya sudah berjalan ke arahnya.
"Hah? Mama? Papa?" Desah si lugu. Maura dengan cepat turun dari meja dan menghampiri orang tuanya.
"Kakak udah makan bekalnya?" Tanya Alika.
"Udah kok, Mah---"
"Pah, gendong!" Maura mengalihkan arah matanya ke arah Bilmar yang langkahnya sudah sampai dihadapannya. Jika saja perut Alika belum terlihat besar, ia pasti sudah berhambur ke pelukan Mamanya untuk meminta digendong. Bilmar menggelengkan kepalanya lalu ia berjongkok agar tubuhnya bersejajar dengan sang anak.
"Kakak gak boleh minta gendong disini, nanti malu terus diketawain sama sama teman-temannya, masa sih bos merengek digendong---" Bilmar terkekeh, demi apapun Maura si anak baik itu lalu menoleh ke wajah sang Mama seraya meminta penjelasan tentang hal apa yang sedang dibicarakan oleh Papanya diujung kalimat terakhir.
"Iya Nak, benar apa kata Papa. Kakak sudah besar, masa mau digendong. Nanti mau diledekin sama teman-teman?"
Maura mengangguk datar walau hatinya terlihat sedih dan mulutnya ingin berucap kata bodo amat. Namun itulah Maura, ia adalah anak baik dan penurut.
"Lalu Gadis dimana, Nak? Kenapa disini gak ada?" Tanya Alika sambil menatap semua wajah teman-teman Maura yang sedang asik menggambar.
"Itu Mah, ditaman sana---Ayo Maura antar kesana!"
Maura pun menggandeng tangan Mama dan Papanya sambil berjalan lebih dulu didepan mereka. Raut keanehan memancar dari Bilmar dan Alika.
"Gadis disana sama siapa, Kak?" Papa Bimar ikut bertanya.
Langkah Maura terhenti dengan jarak 350 meter dari langkahnya saat ini sampai ke pohon taman yang sedang Maura tunjuk.
"Itu mah Gadis---"
Dua bola mata Bilmar dan Alika mengikuti arah telunjuk jari Maura ke arah Gadis saat ini berada.
Terlihat Gadis sedang asik tertidur dalam pangkuan seorang lekaki, dan tentu sangat mereka kenali.
"Itu, Diego, Bil!"
****