
Hayy kesayangan❤️❤️❤️
aku balik lagi nih bawain cintanya Bilmar dan Alika..
selamat baca🤗🤗
***
Pagi kembali datang menemani mereka untuk beraktivitas. Alika akan selalu bangun lebih pagi, dari Bik Minah sekalipun. Ia memasak sarapan pagi dan makan siang untuk Maura. Kehandalannya dalam memasak, mengatur keuangan, dan membagi waktu sangat diacungkan jempol oleh seluruh orang rumah. Tak sayang jika Papa Bayu begitu mencintai menantunya.
Mereka semua sudah berkumpul di meja makan untuk memulai sarapan pagi bersama. Seperti biasa Maura akan merengek minta disuapi oleh Alika.
"Mamah? A..a...Mah?" ucap Maura ketika nasinya sudah habis dimulut, Alika tetap diam melamun entah sedang memikirkan apa.
"Sayang..?" Bilmar mengelus bahu sang istri seraya membangunkannya dari lamunan.
"Eh iya sayang, ayo buka mulut mu," Alika kembali memasukan sendok berisi nasi ke mulut anaknya.
"Kenapa Nak?" tanya Papa Bayu melihati Alika yang sedari tadi melamun saja.
Dengan sigap Alika mengembalikan tatanan wajahnya menjadi ceria dan segar kembali.
"N--ggak kok Pah, nggak ada apa-apa," Alika memberikan senyuman terbaiknya namun itu memang palsu.
Bilmar faham dengan sikap istrinya pagi ini, menurutnya mungkin Alika masih memikirkan kejadian tentang kless keuangan di klinik yang tidak sesuai. Namun ia tidak akan membahas nya disini, karena Papa Bayu akan tahu dan nama Alika akan jelek. Bilmar tidak mau Alika dalam masalah, ia akan sekuat tenaga mencari bukti tentang kebenaran untuk istrinya.
Namun lagi-lagi pemikiran Bilmar salah dalam menafsirkan suasana hati istrinya saat ini. Yang mana Alika merasa masalah kali ini adalah hal yang paling memberatkan hatinya dibandingkan dengan masalah kless keuangan di klinik.
Tanpa sengaja tadi pagi ketika ia ingin menaruh celana kerja Bilmar ke keranjang laundry, ia menemukan struk belanja untuk pembelian beberapa barang kebutuhan wanita. Ia merasa Bilmar tidak memberikan apa-apa untuknya, lalu kepunyaan siapakah struk itu? lalu siapa wanita itu?
Semuanya berkecamuk didalam kepalanya. Perasaan curiga terus mengikuti, batin seorang istri tidak akan salah. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.
Tapi kemudian, fikiran baiknya kembali bertahta. Menyemangatinya kembali.
"Bilmar sangat mencintaiku, ia tidak mungkin tega menghianatiku!"
Benar saja memang Bilmar sangat mencintai Alika, hanya wanita ini yang berhasil menembus relung hatinya. Tanpa Alika dihidup Bilmar, bagai tanah tanpa rerumputan akan gersang dan kering kerontang.
Ketika aktivitas sarapan pagi bersama sudah selesai, Alika pamit terlebih dahulu untuk berangkat kerja duluan kepada suaminya.
"Aku pakai motor ya, Bil!" ucap nya sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Nggak bareng sama aku aja sayang? kamu nanti capek naik motor." jawab Bilmar memelas.
Alika kembali menatap kedua mata Bilmar dengan nanar.
"Apakah benar kamu telah membohongi aku, Bil?"
Lagi-lagi ia melamun dan suaminya menghentak nya dengan kecupan dikening.
"Iya sudah, kamu hati-hati dijalan ya! kalau sudah sampai, tolong kabari aku."
Alika kembali tersadar dengan pelan. Ia hanya mengangguk memberi senyum samar tipis kepada sang suami. lalu berlalu ke garasi untuk menaiki motornya. Bilmar pun melambaikan tangan mengiringi kepergian sang istri tercinta.
"Mungkin kamu masih kecewa masalah kemarin, salahnya aku belum ada waktu untuk membicarakan masalah ini denganmu."
Kring...Kringg...
Dering Hp Bilmar berbunyi nyaring.
"Iya hallo? apa? Iya baik, saya kesana sekarang. Tolong kamu jaga dulu!"
Entah siapa yang menghubungi barusan, wajah Bilmar begitu panik dan pucat. Tanpa menunggu lama, ia pun melajukan mobilnya cepat untuk menuju tempat yang ingin ia sambangi.
***
Alika masih fokus mengendarai motor matic kesayangannya. Tatapan lurus kedepan terselubung dengan kaca helm yang saat ini ia gunakan untuk melindungi kepalanya. Kedua tangannya tetap bersipaku dengan gagang stir, ia terus mengendari dengan baik sesuai rambu-rambu jalan.
Lalu kemudian tidak ada angin dan hujan. Motor yang ia tumpangi begitu saja terjungkal ke aspal. Ia pun jatuh bersimbah luka walau hanya luka lecet biasa. Turunlah seorang lelaki paruh bayah yang menghentikan mobilnya tepat dibelakang posisi jatuh Alika saat ini.
"Kamu nggak apa-apa? saya minta maaf sudah menyenggol kamu dari belakang. Saya benar-benar tidak sengaja!" ucap lelaki ini sambil setengah menundukan tubuhnya dan mengulurkan tangan untuk meraih Alika. Alika terus mengerang sakit melihati luka-luka perih yang ia rasai dan mencoba bangkit untuk menoleh kearah sumber suara itu.
Belum satu kata pun terucap dari Alika, ia kembali tercengang melihat keadaan lelaki ini mendadak meringkuk ke aspal sambil mengerang kesakitan memegangi dada nya.
Sepertinya lelaki paru baya ini mengalami serangan jantung.
Teriakan Alika dijalan industri yang begitu sepi ini, membuat ia harus terus berjuang mendapatkan bantuan. Syukurlah ada sebuah mobil yang mau berhenti untuk membantunya membawa lelaki itu pergi kerumah sakit.
Tak lama kemudian, di IGD lelaki itu sudah terbaring baik di ranjang pasien dengan selang oksigen bertahta di hidungnya untuk membantu nya bernafas.
Setelah berbicara dengan dokter, Alika kembali mendekati lelaki itu ditepi ranjang.
"Maaf Pak, saya bawa kesini ya. Tadi Bapak mengalami serangan jantung dijalan, saya takut jika kehabisan waktu dijalan." ucap Alika dengan sopan kepada lelaki ini.
Dengan amat payah, ia pun menjawab ucapan Alika. "M--aafkan saya Nak, harusnya saya yang bawa kamu kesini, untuk diobati."
Alika tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Jangan khawatirkan saya Pak, saya juga sudah diobati barusan. Bagaimana sekarang rasanya Pak? apakah sudah enakan?"
Lelaki itu menganggukan kepala, lalu ia melirik ke sebuah air botol kemasan yang berada disampingnya.
"Saya ambilkan ya Pak." Alika meraih botol minum itu dan membantu lelaki ini dengan memapahnya sedikit agar bisa menenggak air minumnya tanpa harus duduk.
"Terimakasih Nak, kamu baik dan cantik sekali. Siapa namamu?"
"Nama saya Alika, Pak,"
Lelaki itu mengangguk ia pun mengulurkan tangannya. "Saya Luky!"
***
Setelah sekian lama membelah jalan di ibu kota, akhirnya Bilmar mendaratkan langkah kakinya disebuah apartement yang terbilang cukup mewah. Ia terus berjalan terburu-buru untuk memasuki sebuah pintu.
"Gimana Ren?" tanya Bilmar diambang pintu ketika Rendi menyapanya disana.
"Ayo masuk, dia ada dikamar,"
Dengan langkah kembali cepat ia menuju kamar berdinding merah muda dengan banyak hiasan bunga.
"Binar?" panggil Bilmar duduk ditepi ranjang.
Binar membuka matanya perlahan lalu ia bangkit cepat untuk memeluk lelaki yang kini ada dihadapannya.
"Kakak!" teriam Binar lalu menangis terisak-isak dibahu Bilmar. Rendi yang berdiri dibelakang Bilmar turut menyaksikan bagaimana Binar menangis dipelukan Presdir nya.
"Sudah sabar, aku ada disini sekarang!" Bilmar mengelus punggung wanita ini dengan amat teratur.
"Sudah kah tadi panggil dokter Ren?"
"Sudah diperiksa dan ditambahkan obat penenang lagi, Binar harus istirahat dan harus ada yang menjaganya!"
Bilmar menolehkan wajahnya dengan tatapan dingin ke arah Rendi. Bilmar faham maksud apa yang ada dibalik ucapan Rendi.
"Aku bisa menjaganya, Bil. Kalau kamu mengizinkan aku. Tidak mungkin kan, kamu yang menginap disini. Bagaimana kalau Alika sampai tahu keberadaan Binar?"
Bilmar terus mendekap wanita yang masih bertengger didadanya. Lalu dengan air mata yang menggenang, Binar melepaskan tubuhnya mundur sedikit kebelakang dari dekapan Bilmar.
"Pertemukan aku dengan Kak Alika, Kak! aku ingin bertemu dengannya!" pinta Binar dengan wajah memelas.
Bilmar dan Rendi sama-sama tercengang, kedua mata mereka membulat. Lebih tepatnya Bilmar, terlihat kulit tenggorokannya naik turun sedikit mengeluarkan suara nafas yang sedang ia dorong kedalam.
***
Masih ada part lanjutannya ya...ayo komen sebanyak-banyaknya. Aku akan up cepat🤗
Aku terharuu banget sama komenan positif kalian dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗
Kaya biasa
Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.
thankyou❤️😘😘