
Hayy sesuaii janjikuu yang sudah aku ucapkan di grup. Aku akan update episode terkahir dihari ini❤️❤️🤗
yuk sayang sayangku, mari baca
***
Sudah enam jam berlalu, waktu kini menunjukan pukul delapan malam. Waktu berakhirnya monitoring khusus untuk Alika selama di ruang ICU.
Saat ini Alika sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Tadinya Binara meminta agar Alika dan Rendi disatukan saja dalam kamar perawatan yang sama. Namun Bilmar dengan cepat menolak, karena ia hanya ingin merawat Alika dengan leluasa. Tidak mau diganggu walau itu dengan adiknya sendiri.
Karena Bilmar yang punya kuasa, Binar pun hanya menurut paksa. Awalnya ia kecewa, karena harus bolak-balik ke kamar berbeda kalau ingin melihat Alika.
Papa Luky sejak tadi sore meminta izin dulu untuk kembali kerumah sebentar, ia ingin berganti pakaian dan ada beberapa yang ingin ia beli untuk keperluan Alika dan Rendi. Bilmar masih sibuk mengurus Alika dan Binar pun masih setia mendampingi Rendi dikamarnya.
Karena luka tembakan yang dialami Rendi tidak begitu dalam dan parah, Rendi pun sudah bisa bergerak lagi seperti biasa. Walau ia harus tetap bedrest dengan maksimal.
Rendi meminta Binar, untuk membawa dirinya melihat kondisi Alika yang sekarang sudah berangsur pulih. Ia begitu kaget ketika yang menjadi korban penembakan bukan hanya dirinya seorang.
"Kakak!" seru Binar ketika masuk kedalam kamar perawatan Alika sambil mendorong kursi roda, Rendi terlihat masih terduduk dengan lemas. Suara Binar sontak membuat kaget Bilmar yang tengah mengancingi baju Alika.
"Kakak ngapain, hah?" Binara menggerutu. Ia mulai berfikir yang tidak baik kepada sang Kakak.
"Tahan dulu Bil, Alika masih lemas kaya gitu. Kamu tega memangnya?" sambung Rendi.
Alika hanya bisa tersenyum melihati kedua adiknya yang begitu kesal karena mencurigai Bilmar yang akan melakukan keintiman kepadanya.
"Hey dasar! fikiran kalian aja yang mesum ter--!"
Alika langsung memotong cepat. "Kakak kalian tadi habis membasuh tubuhku dengan handuk basah, lalu membantu aku untuk berganti piyama. Kalian nggak usah khawatir, jika Bilmar menginginkannya. Aku pun akan berusaha untuk selalu siap." lalu mengelus wajah sang suami yang begitu telaten dalam mengurusnya.
"Tuh, dengarkan? makanya jangan asal menuduh. Malah aku yang khawatirin Kamu, Bin. Takut kalau malam-malam Rendi merangkak untuk tidur disebelah kamu!" Bilmar berdecis geli, gelak tawanya begitu terkekeh.
Hanya diiringi kerutan wajah merengut dari kedua adiknya itu. Mungkin saja itu menjadi ide Rendi malam ini, ia sadar betul karena dirinya sudah sangat merindu untuk memeluk Binara. Jika tidak mengingat persiapan apapun, ia ingin menikahi Binara saat ini juga.
"Bagaimana keadaan kamu Ren?" tanya Alika penuh cemas. "Aku sudah enakan Al. Lihatkan aku sudah bisa menjenguk kamu."
"Syukur kalau begitu, aku senang. Akhirnya sebentar lagi kalian akan menikah."
"Makanya kamu juga harus cepat pulih ya sayang, biar kita bisa jadi saksi dalam pernikahan mereka. Karena aku juga nggak mau melewatkan acara pernikahan mantan istri aku yang cantik itu!" Goda Bilmar menatap ke arah Binara. Binara hanya mendengus kesal karena selalu diledek, ia pun melemparkan buah jeruk ke arah Bilmar namun seketika ditangkap oleh tangan yang lain.
Seketika kedua mata mereka menoleh dengan cepat. "Papa? kenapa kesini lagi, nggak istirahat dirumah?" tanya Binara melihati Papa Luky yang baru saja sampai disini. Ia sudah mandi dan berganti pakaian. "Iya Papa datang lagi untuk memastikan keadaan Alika dan Rendi. Papa juga membawakan kalian beberapa makanan dan cemilan untuk menambah energi menunggu yang sakit disini!"
Terlihat sopir Papa Luky membawakan banyak belanjaan diplastik.
"Yang ini untuk Alika..tolong letakan disana!" Papa Luky mengambil tiga plastik yang entah isinya apa, untuk menyuruh sopirnya meletakan diatas meja. "Dan yang ini untuk Rendi. Tolong Binar antar Pak Dudung ke kamar inap Rendi, agar ia bisa meletakan semua ini disana!" Pak Dudung meraih semua belanjaan dan mengikuti jejak Binar untuk mengantarnya sebentar.
Alika terus tersenyum melihati perangai Papa Luky yang begitu perhatian dan baik kepadanya. Namun semua itu berbanding tebalik dengan sikap Bilmar yang sedikit acuh tidak bersahabat.
Papa Luky pun menghampiri Alika ke tepi tempat tidur, menarik kursi untuk duduk. Membuat Bilmar mendadak menggeser tubuhnya untuk duduk di sudut lain. "Kamu mau buah Nak? biar Papa suapi ya." ucapnya lembut sambil mengupasi kulit jeruk yang ia tangkap barusan dari lemparan Binara.
"Apakah Papa dan Alika saling mengenal?" tanya Bilmar dengan nada dingin. Ia menatap lain Papa Luky saat ini. "Ini loh Bil, seorang Bapak yang pernah aku ceritakan ke kamu. Beliau nggak sengaja nabrak motorku dari belakang beberapa waktu yang lalu, seketika itu juga beliau mengalami serangan jantung mendadak dan akhirnya aku membawa Pak Luky ke Rumah Sakit----"
"Loh, kenapa Papa nggak telepon Binar waktu itu, kalau Papa sakit?" Binar memotong ucapan Alika dengan cepat ketika kakinya sudah mendarat lagi dikamar ini dan tanpa sengaja mendengar potongan ucapan Alika.
"Papa tidak mau membuat repot kalian, Nak. Papa baik-baik saja!"
"Sungguh kecil dunia ini. Ternyata selama ini Bapak adalah Papanya Binar dan Bilmar. Alika nggak menyangka sama sekali Pak. Hidup Alika jadi lengkap sekarang."
Raut wajah keceriaan yang menghias mantap terus bermunculan diwajah Alika. Ia teramat bahagia. Namun semua itu lagi-lagi berbanding terbalik dengan raut wajah Bilmar.
"Lalu apa maksud Papa, dengan memanggil Alika dengan sebutan Berliana? putri kandung? Papa kandung? maafkan Papa? memang apa yang telah Papa Lakukan kepada Alika?" suara Bilmar agak sedikit naik kepermukaan, memberitahukan kepada semua kalau sipenguasa sedang mengigihkan taringnya. Bilmar masih teringat jelas apa yang diucapkan ketika Alika tengah bersahabat dengan kematian.
Pertanyaan yang keluar dari mulut Bilmar tak bisa dibendung lagi oleh Papa Luky, Bilmar sudah merasa memuncak untuk menanyakan pertanyaan itu yang sudah bertahta lama dibenaknya.
"Iya Pah, apa maksudnya Papa mengucapkan kalimat tolong selamatkan Putriku? seperti yang Papa ucapakan kepada Dokter Bedah ketika memberitahukan kondisi Kak Alika sedang memburuk?" susul Binara seraya membenarkan ucapan Bilmar yang sedari tadi menyudutinya.
Alika dan Rendi hanya diam termangu, melihat ke arah Bilmar dan Binara secara bergantian. Papa Luky masih sibuk membersihkan jeruk dari helaian-helain halusnya lalu menyuapi kembali ke mulut Alika.
Karena merasa tidak ada respon, Bilmar pun kembali bersuara dengan hentakan nyaring. "Jawab Pah? dan bagaimana bisa, Papa ada ditempat kejadian?apakah Papa adalah dalang dari semua kejadian ini?"
Ucapan Bilmar itu membuat suasana semakin memanas. Papa Luky tercekat, ia mulai berhenti menyuapi Alika, wajahnya menunduk sedikit.
"Kamu bisa nggak sopan sedikit sama orang tua, Bil! ini tuh Papa kamu juga, Papa nya Binar! kamu nggak boleh berkata kasar kaya gitu! kamu nggak boleh nuduh orang tua sembarangan! aku nggak suka dengarnya!" balas Alika menatap tajam ke arah Bilmar sedikit diriingi rasa meringis dari dadanya yang masih begitu nyeri. "Kalau Bapak, mau anggap Alika seperti anak kandung sendiri, Alika nggak keberatan sama sekali Pak, malah senang." Alika mengelus bahu Papa Luky dengan amat hangat.
Luky sudah tidak bisa menahan lagi, ia tidam akan bisa berpaling lagi berpura-pura menjadi orang lain bagi Alika. Ia rasa Alika akan menerima dan memaafkannya.
"Kamu..memang Putriku, Nak! Berliana Artanegara, putriku yang telah lama hilang..." Papa Luky memberanikan diri untuk berbicara apa yang sebenarnya terjadi.
"Hah?" suara yang mencuat tinggi bersamaan keluar dari mulut Alika, Bilmar, Binara dan Rendi.
Seketika suasana menjadi tegang, kedua mata alika terbelalak hebat, ia terus menatap kedua mata Papa Luky dalam-dalam, berharap ucapan itu hanya bercandaan belaka. Binara pun tak kalah kaget, wajahnya tercengang dan bibirnya terbuka sedikit, ia masih belum bisa mencerna ucapan sang Papa dengan baik.
Lalu
Suara gelak tawa dan tepuk tangan Bilmar membangunkan mereka semua dari lamunan. "Hebat sekali sandiwara Papa! apakah begini cara Papa untuk menutupi kesalahan yang telah Papa perbuat karena mencoba melenyapkan nyawa Rendi dan Alika. Mengaku-ngaku menjadi Papa kandung nya Alika agar terbebas dari jeratan hukum, jika terbukti bersalah!"
"Bilmar! jaga mulut kamu!" Rendi mendelikan matanya dengan tajam ke arah Bilmar. Ia menaikan satu alisnya dan membuatan lipatan-lipatan dalam di dahinya, jika saja ia tidak sedang dalam keadaan lemah, mungkin seketika ia sudah menghajar Bilmar dengan brutal.
"Diam, Bil! aku nggak suka kamu berkata kasar! kamu menuduh tanpa alasan! Pak, tolong jangan seperti ini ya. Ini sama sekali tidak lucu." Alika beralih menatap Papa Luky dengan wajah memelas dan merintih.
Entah bagaimana Papa Luky akan menyadarkan mereka semua setelah ini..
****
Aku sungguh tergugah dengan semangat bertubi-tubi dari kalian semua❤️❤️. membuat kepalaku segar untuk terus meneruskan cerita ini..😘😘
Tolong Vote Aku ya para readers kesayangan🤗🤗.
Dan berikanlah terus semangat kalian padaku..Terimakasih untuk Like, Vote, Rate dan komennya.
Kalian berarti.
With love, Gaga❤️