
Haiii selamat pagi guys.
Aku kembali
Oke deh selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Malam semakin naik ke peraduan, membelenggu langit dengan kesunyian dan kegelapan nya. Malam kali ini tidak begitu hangat seperti malam kemarin. Karena malam kali ini sepertinya sedang ikut berduka menatap seorang wanita yang tengah dilanda kekacauan hati dan jiwa.
Terlihat Alika masih meringkuk dibawah selimut. Matanya sudah terpejam, sepertinya efek obat penenang yang disuntikan oleh Dr. Beny tadi sore masih terus bekerja. Binar dan Rendi sudah pamit pulang, mereka berjanji besok akan datang lagi melihat kondisi Alika.
Sedangkan Papa Luky memilih untuk menginap, ia khawatir dengan keadaan putri sulungnya.
"Bil, sepertinya mulai besok. Alika tidak papa izinkan untuk membantu Binar lagi. Papa khawatir dengannya..." Ucap Papa Luky masih setia duduk ditepi ranjang, mengusap-usap tubuh putrinya.
Bilmar mengangguk, ia masih berdiri menatap wajah istrinya yang masih terlihat sangat takut.
"Tinggal selangkah lagi, Diego pasti akan memberikan Gadis untuk Binar. Jadi biar Papa, Binar dan Rendi yang akan mengurusnya.."
Bilmar hanya bisa diam dan mengangguk lagi. Menatap sedih ke arah istrinya. Suami mana yang tega melihat istri dalam keadaan trauma. Ia ingin marah, namun ini semua sudah terjadi. Bukan Alika yang patut disalahkan, tapi karena ulah Papa Luky lah yang membuat kedua anaknya berada dalam malapetaka.
"Papa istirahat saja dulu. Biar Bilmar yang akan jaga Alika."
"Baiklah kalau ada apa-apa, tolong kabarin Papa ke kamar!"
"Iya Pah."
Papa Luky pun mencium kening Alika sebelum akhirnya ia berlalu dari sana. Sesuai dengan permintaan Dr. Beny bahwa malam ini Alika harus istirahat tanpa gangguan apapun, biar hati nya bisa rileks dan damai. Maka dari itu Ammar dan Maura dipindah tidur sementara dari kamar mereka.
Box bayi Ammar dipindahkan dulu ke kamar Maura. Dengan terpaksa ia membiarkan kedua anaknya tidur sendirian disana. Bilmar berniat terjaga malam ini untuk tidak tidur. Ia akan bolak-balik dari kamarnya untuk menjaga Alika lalu beralih ke kamar Maura, untuk mengawasi anak-anak mereka.
Krekk
Di buka nya pintu kamar Maura. Hatinya sejuk melihat anak perempuannya sudah tertidur pulas. Ia belai wajah sang anak dan menatap nya penuh sayang. Ia berhasil mengelabuhi Maura untuk malam ini tidak tidur dulu dengan sang Mama. Lalu ia bangkit untuk memposisikan tidur Maura yang lasak agar kembali rapih serta menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya dari udara dingin.
Ia pun beralih menghampiri Ammar yang sudah ada di dalam box nya. Menatap wajah anak lelaki yang mirip sekali dengan wajah istrinya. Mengelus pipi bayi montok itu yang sesekali tersenyum sambil tertidur.
"Jagoan Papa lagi mimpi ya?" Ujar Bilmar tersenyum.
Ia merapihkan selimut Ammar dengan baik. Hampir selama dua bulan usianya Ammar Bilmar jarang sekali memperhatikan anak-anaknya seperti ini. Tentu ia merasa begitu hebatnya sang istri bisa mengurus kedua buah hati nya sendiri tanpa mengeluh dan tanpa merengek untuk meminta bantuan baby sitter atau art tambahan.
Kadang di tengah malam Bilmar akan melihat istrinya duduk di tepi ranjang untuk menyusui Ammar, mengusap-usap tubuh Maura apabila anak itu rewel dan tetap siaga untuk selalu mau melayani keinginan suaminya jika ingin bercinta.
Sungguh Bilmar takjub dengan aktivitas istrinya, belum lagi beberapa hari ini ia sengaja bekerja di rumah Ny. Gweny untuk membantu Binar mendapatkan Gadis dan akhirnya terluka karena sikap Diego.
"Betul-betul kamu wanita mulia, Al...." Ucap Bilmar sambil terus mendekap tubuh istrinya.
Memposisikan dadanya sebagai bantal untuk kepala Alika. Terus menyesapkan semua jari jemari agar mereka saling menggenggam. Lalu Bilmar menoleh ke arah nakas yang ada disampingnya. Dengan tangan kanannya ia menarik laci dan menggapai sebuah kotak cincin.
Cincin mutiara yang pernah ia pesan khusus dari Lombok sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kemarin. Dan karena salah faham dengan Kaneysa, akhirnya Alika merajuk dan melepas cincin tersebut. Diambilnya cincin itu dan di pakaikan kembali di jari mungil istrinya.
"Jangan dilepas lagi ya sayang..." Ucapnya.
Tidak henti-hentinya ia mengecup punggung tangan Alika sambil memejamkan kedua mata.
"Ada aku disini, kamu jangan takut ya..."
"Selama ada aku, gak akan ada yang bisa nyakitin kamu!"
"Aku berjanji sama kamu, gak akan ada Danu, Diego dan yang lainnya...kalau pun ada, akan langsung ku bunuh mereka semua..."
Bilmar terus berucap-ucap. Mengeluarkan segala kekuatannya untuk menjaga istrinya. sebenarnya ia masih khawatir. Ia takut Alika mengalami psikis atau trauma yang berkepanjangan.
Tidak bisa dibayangkan jika wanita kuat itu menjadi rapuh dan lupa akan dirinya. Tidak mungkin kan ia mengalami penyakit mental hanya karena ingin membantu sang adik?
Tuhan pasti akan menjaga dan menyembuhkan trauma nya.
****
02:00 dini hari.
Sepertinya hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuk Bilmar. Keletihan itu akhirnya membuat Bilmar ikut memejamkan kedua matanya disebelah Alika. Namun dengan cepat ia membuka kedua matanya kembali karena ia sudah berniat untuk terjaga sepanjang malam ini.
"Sayang...?" Desahnya khawatir sambil mengucek-ngucek kedua matanya yang masih terasa samar-samar untuk terlepas dari rasa kantuk yang sudah melanda hebat.
Ia terkesiap ketika melihat bagian disebelahnya kosong melompong. Hanya terlihat gusaran seprai bekas sosok istrinya telah tertidur disana. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, lalu ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.
Krek
Plass.
Hanya kekosongan yang ia dapat ketika membuka pintu kamar mandi.
"Kok gak ada?"
Terlihat wajah Bilmar panik. Ia pun bergegas untuk pergi keluar untuk menuruni anak tangga dan mencari istrinya yang kemungkinan saja ada didapur atau diruang televisi.
Namun sebelum ia mengikuti instingnya, ia kembali memundurkan langkahnya untuk mendekat ke arah kamar Maura. Tidak sengaja ia mendengar suara Alika dari dalam.
Tak butuh waktu lama, ia pun mendapati sosok istrinya tepat di tepian ranjang.
"Kalau tidak bobo, di gigit semut...."
Terdengar Alika sedikit mendendangkan bait lagu tersebut sambil menggendong Ammar dan menyusuinya serta mengusap-usap tubuh Maura. Ada isakkan tangis yang sangat pelan dari wajahnya.
"Sayang...?" Seru Bilmar lalu duduk disebelah istrinya.
"Kok kamu nangis, Al?" Tanya suaminya penuh kelembutan.
Alika menoleh dan betul saja Bilmar mendapati wajah wanita itu sudah dengan leleran air mata yang deras.
Bilmar mengambil tubuh Ammar yang sudah tertidur karena sudah kenyang. Meletakan nya di dalam box dan kembali duduk disebelah istrinya.
Menyeka air mata Alika dan membawa tubuh istrinya masuk kedalam dekapan dadanya. Alika terus menangis dan menangis.
"Aku malu sama kamu, Bil!" Ucap Alika dengan suara terbata-bata.
"Harusnya aku nurut kamu! Harusnya aku gak seberani itu untuk datang menyamar kesana---"
Alika semakin menangis, ia terus melepaskan rasa bersalah dan penyesalannya kepada Bilmar. Suaminya tetap menggenggam tangan istrinya dan hanya diam untuk terus mendengarkan unek-unek yang sedang Alika keluarkan.
"Aku merasa seperti tidak mempunyai harga diri, Bil!"
Alika terus menangis dan Bilmar tetap membiarkannya. Karena orang yang tengah mengalami trauma mau ringan atau berat. Mereka harus selalu ditemani dan didengarkan segala keluh kesahnya. Agar mereka merasa aman dan terjaga.
"Aku malu sama kamu!"
"Bagaimana nasibku jika kamu tidak datang!"
"Ahh aku benci! Aku kesal...." Alika beralih untuk memukul-mukul kepalanya.
"Gak boleh kayak gini ya sayang..." Bilmar masih terus berucap lembut dan meraih tangan istrinya untuk berhenti memukuli dirinya sendiri.
"Aku tau kamu tidak sengaja...melakukan ini untuk mendapatkan Gadis. Aku faham untuk itu!" Jawab Bilmar, ia terus berusaha menenangkan hati Alika dan menepis rasa penyesalan itu.
"Tapi aku hampir diperkosa oleh Diego!" Wajah Alika mendongak menatap linea mata yang gelap milik suaminya. Mencari-cari titik kemarahan suaminya, namun sayang, hal itu tidak ditemuinya.
"Bukan aku Bil. Bukan aku yang ingin menyerahkan diriku padanya, kamu percaya kan?"
Bilmar tersenyum sambil merapihkan anak rambut Alika yang berantakan. "Iya sayang...aku percaya."
Harusnya Alika senang jika Bilmar bersikap seperti ini. Namun sepertinya Alika memandang sikap Bilmar dengan pandangan lain. Ia semakin bersalah ketika Bilmar hanya tersenyum, tidak kecewa dan tidak marah. Padahal semua orang tahu bagaimana perangai Bilmar. Ia terlalu cemburu dan posesif kepada istrinya. Tapi kenapa sikapnya malam ini menjadi lebih hangat dan berbeda?
"Bil kenapa kamu gak marah? Aku siap kalau kamu marah! Aku memang bersalah, aku pantas untuk dihukum!!"
Melihat istrinya sudah seperti ini, sudut bibir Bilmar semakin naik ke atas. Ia tersenyum lebar dan memeluk Alika. Sesekali menarik wajahnya lalu mencium pipi istrinya.
"Kamu udah sembuh berarti----Kamu udah sadar! Dengan kamu gak bersikap kayak tadi sore aja aku udah seneng banget! Siapa yang mau marahin kamu? Aku nggak marah sayang! Sungguh!" Bilmar terus meyakinkan istrinya.
Bilmar memang mengutuk kejadian tadi siang antara Diego dengan Alika. Untung saja Allah masih berbaik hati untuk menyelamatkan Alika. Entah bagaimana jika kebiadaban itu terjadi, namun sekali lagi.
Walau Bilmar ingin marah, ia pun bingung harus menyalahkan siapa. Karena apa yang dilakukan Alika hanya untuk membantu sang adik dan membahagiakannya.
"Cukup kejadian seperti ini hanya terjadi kemarin. Aku ingin kamu belajar dari segala sikap kamu yang terlalu berani dalam melangkah! Jika saja aku tidak mengikuti ucapan Binar untuk ikut menyamar dan membuntuti kalian, entah apa yang terjadi!"
Ada helaan nafas panjang dari Bilmar lalu ia kembali bertutur menatap sendu wajah istrinya.
"Mungkin aku hanya bisa menerima keadaanmu saja yang sudah ternodai olehnya---"
Alika semakin menangis dalam rasa bersalahnya. Dadanya semakin sesak, seketika hati dan jiwanya merana begitu dahsyat. Ia menghambur ke pelukan suaminya. Memeluk lelaki itu dengan erat. Apa jadinya nanti, bagaimana hidupnya setelah itu jika Diego benar-benar menodainya. Tentu wanita itu tidak akan ada harga diri lagi di mata suaminya.
"Udah jangan nangis lagi, semua udah terjadi. Aku hanya mau kamu janji satu hal sama aku, untuk gak terlalu jadi wanita yang terlalu mandiri dan penuh kekuatan!" Ucap Bilmar tegas namun lembut. Ia terus menangkan batin istrinya.
Alika melepaskan pelukan itu dan tertunduk serta terus menggenggam tangan suaminya rapat-rapat.
"Jika hal ini terulang---Mungkin aku tidak akan memberikan kamu kesempatan kedua untuk memaafkan kamu. Mama mengerti kan maksud Papa?"
Bilmar memegang pangkal dagu istrinya untuk kembali mendongak menatap wajahnya.
Dengan bibir bergetar ia pun menjawab.
"Iya Pah, Mama ngerti...."
"Mengerti untuk?"
"Untuk tidak akan mengulanginya lagi---"
"Jika aku tidak membolehkan kamu untuk melakukan hal yang tidak aku sukai, berarti kamu harus??"
"Aku harus diam, patuh dan menurut..." Jawab Alika pasrah.
"Cerdas!" Bilmar lalu mencium pipi istrinya. "Belajar lah untuk selalu menjadi istri yang baik---Aku akan selalu bimbing kamu---"
"Iya, Bil. Aku janji." Jawab Alika meyakinkan suaminya.
Bilmar tersenyum dan mengangguk. "Ayo kita kembali ke kamar, kamu harus istirahat!"
Alika tidak menyangka dibalik sifat keras Bilmar, lelaki itu masih mempunyai hati yang lembutnya, selembut kapas. Ia sangat beruntung mendapatkan Bilmar, ia berjanji tidak akan pernah menggantikan posisi lelaki ini dengan lelaki manapun.
Terimakasih suamiku, atas kelembutan mu
Belajarlah dari penyesalan mu, istriku