Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Papa mencintaimu, Mah!


Hayy kesayangan, aku kembali❤️❤️


Ada kah yang rindu? Maaf aku baru datang, jangan cemas. Aku baik-baik saja, doakan sehat selalu ya dan kalian pun sehat2 dimanapun kalian berada, semoga aku juga selalu bisa untuk menghibur kalian❤️❤️


Selamat baca ya guyss


❤️❤️💛


.


.


.


.


.


.


"Kak..." Seru Binar ketika langkahnya sudah sampai sejajar dengan tubuh Alika. Sengal-sengal nafas menyelimuti wajahnya.


"Kamu kenapa Binar?" Alika terlihat panik.


Blass.


Langkah Bilmar pun terhenti. Ia juga terlihat letih berlari karena cukup jauh untuk mengejar Binara.


Alika menyeret kedua matanya dan masih bersikap dingin kepada suaminya.


"Kamu kenapa?"


Belum saja Bimar menjawab, Binar lebih dulu menyelak.


"Suami Kakak keterlaluan---!!" Delikan mata tajam Binar mengarah lurus ke wajah Kakak Iparnya.


"Maksud kamu apa, Bin?" Alika menoleh ke sang Adik.


"Binar! Kamu bantu Kakak, dong! Jangan buat masalah semakin rumit!" Ujar Bilmar.


Lelaki ini mulai geram, sudah penat hati dan kepalanya karena memikirkan masalah yang tidak kunjung usai dengan Alika.


"BANTU??" Binar meninggikan suaranya. "Gila kamu Kak??? Kamu abis pelukan sama cewek lain, aku harus bantu agar Kakakku tidak memarahi kamu?"


Cuarrrr.


Mendengar ucapan Binar yang lantang dan lugas sontak membuat tubuh Alika terasa lemas. Alika terlihat memeras kain baju di bagian dadanya. Dada nya begitu sesak dan berat, tubuhnya seperti mau terjatuh, untung saja Bilmar dengan cepat mentegapkan tubuh istrinya agar tidak terayun ke bawah.


"Sayang...."


"....Mama!"


"Kak?"


Bilmar, Maura dan Binara saling beriringan memanggil Alika. Mereka panik karena Alika terlihat shock.


"Apa benar yang diucapkan Binar, Bil?" Alika bertanya dengan nada pelan dan sedikit dipaksakan. Bibirnya sedikit bergetar.


"Nggak sayang, sumpah demi anak-anak kita! Aku nggak kayak gitu, ini hanya salah faham!"


Bilmar terus meyakini istrinya.


"Kakak nggak apa-apa?" Tanya Binara kepada Alika. Ia merasa menyesal karena mengadukan semuanya tanpa melihat kondisi dan situasi.


"Sayang..." Seru Bilmar menguatkan.


Alika menoleh ke arah Sofia dan Bella yang berjarak lima meter dari mereka. Ia malu jika kedua temannya itu mendengar apa yang baru saja terjadi. Sesekali juga ada karyawan yang terlihat berlalu lalang.


"Lepasin aku! Aku mau ambil Ammar dulu ke dalam, jelaskan saja semua ini dirumah! Ambil mobilmu, susul kami kerumah!" Perintah Alika mencuat dengan tegas sambil menatap kedua bola mata Bilmar agar suaminya ini mau melepaskan cengkraman tangannya.


"Iya sayang, aku ambil mobil dulu---"


"Kak?"


"Kamu juga Binar, duluan aja ke mobil! Aku akan menyusul!" Alika melihat ke wajah putrinya. "Maura ikut dulu sama Tante ya Nak, Mama mau ambil adik dulu ke dalam--"


"Iya Mama." Maura mengangguk tanda faham.


Alika pun berlalu kembali untuk masuk kedalam klinik untuk mengambil Ammar yang sedang tertidur. Begitupun Binar kembali melangkah menuju mobil yang masih terparkir dengan baik di depan Klinik EG.


Semoga saja dirumah Bilmar bisa meyakini Alika dengan baik.


****


Setelah mereka sampai di rumah. Bilmar lebih dulu membawa Alika ke kamar. Lelaki ini ingin menjelaskan bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya terjadi kepada istrinya.


Bilmar masih menggandeng tangan Alika untuk menaiki anak tangga bersamanya menuju kamar. Terlihat Binara masih di ruang tv dengan Ammar dan Maura. Binar masih terlihat murka kepada Bilmar. Menurut Bilmar yang terpenting saat ini, hanya Alika dulu yang ditenangkan. Sisanya baru Binara, ia tidak mau karena kesalah fahaman ini membuat ia kembali mendapat hantaman panas dari seorang Luky Artanegara.


Bilmar mendudukkan Alika di sofa. Wajah Alika masih seperti orang bingung, sedih dan sendu. Jantungnya masih bergemuruh, sepanjang perjalanan ia terus meminta Binar untuk menutup mulutnya. Ia ingin mendengarkan langsung semua ini dari Bilmar.


"Sayang..." Panggil Bilmar menatap langsung ke dua bola mata istrinya. Tangan Alika terus digenggam.


"Demi anak-anak kita, demi rumah tangga kita, demi nama orang tuaku! Aku bersumpah, tidak pernah melakukan hal apapun yang melanggar kodrat ku sebagai suami!"


Bilmar berbicara sungguh lantang.


"Beri aku waktu untuk menjelaskan semua ini, agar aku dan kamu tidak berlama-lama dalam kesalah fahaman yang mungkin akan membuat hubungan kita menjadi tidak baik--"


Alika masih diam, ia terus mendengarkan apa yang ingin dibicarakan oleh suaminya. Rasanya kedua bibirnya sudah tidak ada kekuatan untuk banyak berucap.


"Jelaskan lah! Jangan ada yang dikurang-kurangi atau dilebih-lebihkan! Aku ingin kamu jujur! Aku siap mendengarnya sekarang!


Walau suara Alika masih terlihat dingin, tetapi Bilmar sudah bisa bernafas lega karena Alika mau mendengarkan dulu pembelaan dari nya.


Bilmar dengan wajah yang lapang serta hati yang tenang ia mulai menceritakan dua masalah yang sedang hinggap. Pertama tentang kejadian membantu Kaney pada saat malam itu, kedua tentang kejadian yang dilihat oleh Binara beberapa jam yang lalu di kantor.


Alika terus fokus mendengarkan apa yang dibicarakan oleh suaminya. Keningnya terlihat berkerut-kerut dan kulit tenggorokannya juga naik turun.


Lalu setelah dipenghujung cerita


Brrrrr


"A--pa??" Suara Alika terdengar nyaring, bukan suara karena kesal atau emosi. Tetapi karena kaget dan tidak percaya.


"Kok bisa??" Ia kembali meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia dengar bukanlah sebuah rekayasa.


"Benar sayang, ini...." Bilmar menyibak jas kerjanya lalu menyodorkan sebuah undangan pernikahan Kaneysa dan Indra.


Alika meraihnya dengan cepat dan membaca lagi dengan jelas.


KANEYSA DEBORA & INDRA GUMILAR


"Iya betul, kok bisa ya---?" Cicitnya sendu. "Kenapa harus sama Kaney??" Ucapnya pelan, namun masih bisa didengar oleh Bilmar.


"Memang kenapa sayang, kalau mereka menikah? Bukan harusnya kamu senang? Karena Kaney tidak akan mengganggu suamimu lagi?" Tanya Bilmar sambil memajukan bibirnya untuk mengecup bibir Alika.


"Ets! Enggak yah, jangan sekarang. Aku lagi nggak mau!"


Bilmar menarik kembali wajahnya dan menyandarkan dirinya ke sofa dengan wajah bahagia karena Alika secara langsung sudah menerima segala penjelasannya.


Alika masih termenung melihati undangan pernikahan ini.


"Huh---" Alika menghela nafasnya. "Indra itu kan baik, kenapa juga dia lebih memilih Kaney? Masih banyak kan wanita lain??" Alika mengangkat satu alisnya.


Wajah Bilmar terlihat mencebik.


"Kaneysa juga baik, kenapa juga dia lebih memilih Indra? Masih banyak kan lelaki lain??" Bilmar mengulangi apa yang istrinya ucapakan.


"Ya tapi kan Indra bisa mendapatkan wanita yang lebih baik-----??"


".....Kaney juga, masih bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik, kenapa juga harus si Indra!"


Stimulus otak Alika pun berjalan, ia tersadar jika sedari tadi suaminya meledeknya dengan pemutaran pertanyaan yang sama.


Alika mencubit perut Bilmar.


"Aw..aw aduh sakit sayang---" Bilmar mengerang.


"Apa tuh maksud kamu mengulangi ucapan aku?? Kamu nggak suka Kaneysa menikah dengan Indra?"


"Jujur, aku nggak perduli Kaneysa mau menikah dengan siapapun! Yang aku perdulikan saat ini, aku nggak suka lihat istriku memikirkan lelaki lain!! Hanya ada nama Bilmar, yang harus ada disini---" Bilmar menekan dahi Alika dan mengecupnya hangat.


Wajah mereka saling berdekatan, aroma nafas kebersamaan saling merekah. Bilmar menekan dahi Alika dengan dahinya. Kedua mata mereka saling bertatap dan Hidung Bilmar lebih mendominasi untuk menekan pucuk hidung Alika yang minimalis.


"Hanya ada nama Alika Sarasafi di hatiku. Kamu adalah seorang wanita yang sudah memberikan nyawa untuk ku dan anak-anak!"


"Percayalah sayang, karena percaya terhadap suami adalah cinta yang sesungguhnya untuk mendapatkan ridho dari Allah!"


Bilmar mulai memiringkan kepalanya untuk mengecup kedua bibir istrinya.


"Papa mencintai Mama..."


"....Mama juga mencintai Papa!"


****


.


.


.


Untuk kalian yang belum bergabung ke grup chat ku bisa gabung ya, biar tau apa aja info update dari ku...atau sekitar info lainnya.


Bagi yang mau tau kisah Maura dan Gifali yang sudah dewasa, sudah bisa baca di karya ku yang ke tiga ya, boleh cek profil ku❤️


Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Gifali Untuk Maura


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘