
Hayy akuu balik lagii nih
yukk mari bacaa🤗🤗
***
Pasca perdebatan satu jam yang lalu, membuat Alika masih termenung di ruang tamu. Tubuh dan kepalanya disandarkan begitu saja di pijakan sofa, kedua matanya menatap ke atas sudut semua sisi rumah ini. Hanya ada air mata pelan mengalir dari ekor mata menuju pipi lalu turun ke leher.
Kedua matanya sembab, bengkak dan memerah. Perawakannya saat ini terlihat sama ketika ia mengetahui bahwa Aziz telah meninggal dunia. Sungguh terpukul. Tidak terbayangkan lagi mungkin setelah ini ia akan depresi. Bagaimana kata Paman dan Bibik nya nanti? Bagaimana tatapan Bella, Sofia dan Dokter Hana?
Ia pun teringat perkataan almarhumah sang ibunda dulu, beliau pernah berucap untuk segera meninggalkan Bilmar sebelum akhirnya menderita, namun karna mengikuti kata hati. Ia terus saja menjalani hubungan dengan Bilmar selama di SMA, betul bahwasanya ia merasakan penderitaan berkepanjangan sampai detik ini.
"Dosa apa yang telah aku lakukan selama aku hidup, ya Allah?berkali-kali aku bahagia dan berjuta-juta akhirnya aku menderita!" Alika kembali menangis terisak sambil mengepalkan tangan yang diletakan didadanya.
"Ibu.." rintihan Alika memanggil ibunya. Seraya meminta kembali hadir untuk memeluknya dan meminta kekuatan atas kecewaan dirinya kala ini.
Percayalah, Ibu mu disana pun tengah menangis melihatimu, Alika !
Berkali-kali Bik Minah, dan Mang Dana menghampiri untuk menawarkan air minum, makanan atau apapun agar majikannya mau berhenti dari posisi seperti ini.
"Den?" suara Bik Minah menyambut Bilmar yang sedang turun menuruni anak tangga. Bilmar hanya mengangkat kepalanya dan membawa arah mata Bik Minah untuk kembali ke dapur. Bik Minah pun berlalu meninggalkan Alika yang masih selonjoroan di sofa.
Bilmar terlihat habis mandi, rambut nya masih basah dan tubuhnya memberi aroma sabun yang begitu menggema di hidung kaum hawa.
Ia terus melangkah mendekati sofa yang kini sedang ditiduri oleh istrinya. Ia masih berdiri dalam jengkalan langkahnya, masih membisu tidak tahu harus berucap apa, hatinya teramat sakit melihat sikap Alika yang saat ini masih terlihat berantakan karna ulahnya.
Kemudian Alika pun bangkit dari sofa bersamaan dengan langkah Bilmar yang ingin menyentuhnya, sontak membuat mereka kembali saling bertatap. Tangan dingin Alika kemudian diraih oleh suaminya.
"Makan ya sayang? Aku suapi kamu, atau mau mandi? Nanti aku bantu menggosok punggungmu." Bilmar menciumi pipi Alika yang basah karena leleran air mata.
Alika memberikan senyuman yang samar tapi tipis. "Sungguh perhatianmu luar biasa, Bil, untuk menutupi sebuah drama yang tengah kamu mainkan selama ini. Aku bodoh. Bisa begitu saja menikmati perhatianmu untuk mendukung semua kebohonganmu. Harusnya aku sadar, rakyat biasa tidak akan pernah bisa sejajar dengan kaum priyayi. Sejatinya aku hanya akan terbuang seperti sampah dijalanan, terinjak dan terludahkan!"
Kata-kata yang tajam menembus deruman jantung lelaki yang ada dihadapannya itu. Membuat Bilmar hanya bisa memejamkan matanya.
"Kenapa, Bil? Kenapa?kenapa harus aku?" Alika tak tahan, kedua tangannya dikepal memukuli dada suaminya dengan tekanan yang amat pelan. Bilmar hanya bisa diam, memegangi pergelangan tangan istrinya dan menatapnya lirih.
Tenaga Alika sudah habis saat ini, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya setelah ini jika Bilmar tidak bisa memilih antara ia dengan Binar dan tidak bisa membayangkan jika dirinya akan terguncang lagi seperti 12 tahun ini.
Satu jam kemudian Alika terlihat sudah terbaring diranjang dengan sebuah selimut yang menutupi tubuhnya, matanya sudah terbuka setelah ia pingsan tak sadarkan diri didekapan Bilmar.
"Kondisi istri anda saat ini sangatlah lemah, tekanan darah menurun secara tiba-tiba dan menyebabkan aliran darah berkurang ke otak. Ini bisa disebakan dengan stress, ketakutan dan masalah yang lain. Saran saya lebih banyak untuk istirahat dirumah dan makan yang cukup."
Penjelasan dr. Benni kepada Bilmar, ketika melangkah keluar dari pintu utama. "Apakah istri saya sedang hamil dok?" Tanya Bilmar kembali.
"Mengenai hal itu, harus dicek menggunakan tespack atau cek usg ke dokter kandungan disertai dengan telat haid juga tentunya."
"Baiklah Dok, saya faham. Terimakasih sudah mau direpotkan."
Bilmar ingin segera Alika hamil, agar ia mempunya alasan kuat untuk secepatnya menceraikan Binara.
Dokter pun berlalu dan Bilmar kembali berlari menuju kamarnya. Ia membuka pintu dan melihati Maura yang tengah dipeluk oleh sang Mama. Alika hanya bisa merintih mendekap anak itu sebagai sandaran hati nya saat ini.
Maura terus memainkan rambut Alika seperti dirinya memainkan rambut para barbie-barbienya.
"Sayang, kembali dulu ke kamar ya. Mamanya kasian mau istirahat dulu, ini sudah malam, Maura harus tidur."
Alika faham jika suaminya saat ini hanya ingin berduaan dengannya. Ia pun menarik tangan kiri Maura yang seraya ingin bangkit melepas pelukannya "Disini aja ya sayang, tidur sama Mama!"
Kini Maura ada ditengah-tengah keegoisan mereka, dan lagi-lagi anak yang akan dikorbankan dalam masalah ini.
Alika mengalah, ia tidak mau Maura kesakitan karena tidak menuruti apa kata Papanya.
Tak lama kemudian, Maura berlalu pergi diantar Bilmar ke kamar. Anak itu sudah tidak menangis lagi, karena ia tahu Alika sedang sakit tidak akan mungkin pergi dari rumah.
Lalu.
"Sayang..?" terdengar suara menyambut ke arahnya. Alika masih memejamkan kedua mata, ia tak ingin melihat suaminya dulu kali ini.
"Sayang, bagaimana? sudah enakan belum?kamu mau apa? biar aku ambilkan ke dapur," ucap Bilmar yang sudah duduk ditepi ranjang menduduki sebagian selimut yang tengah mengulung istrinya di kasur. Ia terus menciumi tangan istrinya. Berharap Alika akan secepatnya luluh dan memaafkan dirinya.
Alika hanya diam tidak mau menjawab apapun penawaran dari Bilmar.
"Maafkan aku Al, rasa cinta aku terhadap kamu membuatku buta dan menutupi masalah ini. Aku tahu kamu tidak akan menerima keadaan ku yang seperti ini saat kita belum menikah, aku pun tidak membayangkan kalau akhirnya bisa bertemu lagi dengan kamu. 12 tahun aku terpenjara dalam kesepian, harus mengemban suatu beban yang mau tidak mau harus aku pikul sendirian! jika bukan karena tanda bakti kepada orang tua, aku tidak akan mau menikahi Binar bagaimanapun caranya. Wanita yang aku sayang hanya kalian bertiga, Mamaku, Maura dan Kamu! kalian semua tidak akan terganti sampai kapanpun!"
"Cukup Bil, udah---"
"Kenapa?"
"Cukup aku nggak mau dengar lagi!" Alika menutup telinganya.
"Aku akan menemui Papa Binar untuk mengembalikan Binar padanya, aku akan menceraikannya namun untuk itu aku meminta kamu untuk bersabar!"
"Kenapa harus aku yang bersabar?"
"Tolong mengerti posisi ku Al---"
"Aku ingin kamu pergi!"
"Jangan tinggalin aku lagi. Aku bisa gila tanpa kamu, Al!" wajah Bilmar amat getir dan peluh.
Alika melemparkan guling dan bantal ke lantai, meminta Bilmar untuk enyah dari hadapannya saat ini untuk membawa barang itu ke kamar yang lain.
"Al? aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu?" Bilmar memberikan tatapan menyedihkan.
"Aku masih butuh waktu untuk mencerna masalah ini! Aku hanya ingin kamu pergi dulu, Bil!"
Tidak ada jalan lain selain mengiyakan kemauan sang istri yang masih dirundung lara dan derita.
Entah bagaimana setelah ini, mereka akan saling merindu dalam keheningan ranjang yang tak akan lagi berdua, penuh saling rangkul dan melalukan aktivitas cinta seperti malam-malam kemarin. Mungkin mereka akan grasak- grusuk mencari kelelapan sebelum tidur terlebih dahulu. Mungkin Alika tak akan lagi membetulkan posisi Bilmar ketika sedang mendengkur hebat atau tak ada lagi kecupan selamat pagi mendarat di dahi Alika.
****
Hayy readers kesayangankuu
Minal Aidin Walfaidzin ya, Mohon Maaf Lahir dan Batin❤️❤️, semoga kita kembali terlahir dalam fitra yang suci. Aamiin🤗🤗
Makasi aku ucapkan bagi kalian yang sudah berbaik hati memberikan ku VOTE..ku terharuu😘😘..
kayak biasaa...
Like and komennya yaa...
thankyou..with love Gaga🤗😘