Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Istriku dalam Bahaya!


Haii selamat pagi menjelang subuh


Dalam keheningan aku kembali. Hari ini hari Jumat guyss. Jangan lupa Al-Kahfi nya ya❤️


Selamat baca


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Kini Diego dan Alika sudah berada didalam Rumah Sakit. Alika terlihat menggendong Gadis yang terus meronta-ronta meminta pulang dari sana. Sepertinya bayangan kecelakaan masih terpatri dalam ingatannya.


"Daddy, ayo pulang.." Pintanya.


Namun Alika dengan sekuat tenaga tetap mengunci tubuh anak itu yang masih menegang keras. Gadis terus menangis, membuat gaduh ruang tunggu poli Syaraf.


"Ayo pulang, suster!" Isakkan tangis membuat Gadis seketika muntah. Diego dan Alika pun terkejut.


"Sela, kenapa begitu Nak! Berlian, bersihkan baju mu.." Diego meraih Gadis kepangkuan nya, Alika membuka tasnya untuk mencari tissue.


"Pulang Dad..pulang!" Gadis tetap meronta di dekapan Diego. Lelaki itu tetap mengikuti saran Alika untuk membawa Gadis terapi.


"Nggak apa-apa Nak, ada Daddy disini.." Diego mengusap poni rambut Gadis yang sudah basah karena keringat ke bagian belakang. Mengelap keringat anak itu yang sudah menetes bercucuran. Menciumi wajah anaknya dengan lembut.


Alika masih sibuk membersihkan baju nya dari sedikit muntahan Gadis.


"Sudah bersih?" Tanya Diego kembali. Alika pun mengangguk. "Jangan nangis lagi ya, Nak---" Alika mengusap rambut Gadis. Sehingga mereka terlihat sangar dekat.


Sepasang mata dari arah berbeda terus menatap mereka. Binara dan Bilmar duduk bersamaan di bangku tunggu pasien yang berada beberapa jarak dibelakang mereka. Keduanya menggunakan topi dan kaca mata hitam.


"Masya Allah, Gadis. Anak Mama..." Rintih Binar ketika ia melihat Gadis secara leluasa.


"Diego---Tolong maafkan aku!" Binar kembali merintih.


Jika Binara merintih sedih, beda hal dengan Bilmar. Ia terlihat menajamkan tatapannya mana kala Diego menatap Alika dengan senyum-senyum cinta.


"Nggak sopan nih cowok! Kalau bukan karena Gadis, udah bonyok nih Diego---" Bilmar mengepalkan tangannya.


"Kak?"


"Ehm??"


"Kasian anakku, Kak. Dia cacat!"


Bilmar mengusap bahu sang adik. "Sabar Bin, mereka sedang mengobatinya. Berdoalah!"


"Kak, Diego amat mencintai Gadis. Apakah bisa kalau nanti aku merebutnya kembali?"


"Aku yakin bisa, Bin. Karena kamu lah yang berhak, kamu ibu kandungnya!"


Bilmar tetap menenangkan keresahan hati Binara. Ia terus mendampingi adiknya dan tentunya mengawasi istrinya. Tak lama kemudian perawat poli memanggil Gadis untuk masuk kedalam.


"Ananda Marsela." Panggil perawat.


Diego pun bangkit dengan Gadis yang masih menangis di gendongannya serta ia juga menggandeng Alika untuk mengikutinya.


Bagai mata burung Elang yang masih terbang di udara untuk mengintai mangsa yang masih berkeliaran di atas tanah. Sontak pemandangan itu membuat dua bola mata Bilmar mendelik tajam. Dengan refleks lelaki ini bangkit ingin mengejar mereka.


"Kak..kak!" Binara pun dengan cepat mencekal lengan Kakak iparnya yang sudah bangkit.


"Jangan Kak, tahan emosimu!" Ucap Binara.


"Tapi aku nggak terima dia genggam tangan istriku, Bin!" Bilmar mendengus. Tatapannya garang. "Tapi kan. Kakak segera melepasnya--"


Terlihat Alika memang melepas genggaman tangan itu dengan cepat.


Suara tangisan Gadis pun terdengar sampai keluar. Membuat Binar dan Bilmar pun ingin mengetahui lebih jelas. Mereka pun bangkit untuk pindah duduk di tempat Alika dan Diego yang tadi, untuk bisa mendengar lebih jelas. Namun sayang mereka tetap tidak mendengar apapun. Hanyalah suara tangisan Gadis yang pecah ruah yang mereka dengar saat ini.


***


"Anak Marsela, masih bisa disembuhkan Pak, Bu. Tapi memang harus menjalani berbagai terapi untuk kembali merangsang syaraf motoriknya. Bisa lewat terapi okupasi, fisioterapi dan pemeriksaan penunjang lainnya.


"Tentu keadaan anak harus dalam posisi yang pro aktif. Sehingga rangkaian pengobatan dapat berjalan dengan baik. Ibu nya boleh terus memberikan pendekatan dan bimbingan mengenai semua proses pengobatan ini. Sosok ibu memang sangat penting disini."


Sudah dua jam berlalu. Mereka sudah selesai konsultasi dengan Dokter Spesialis Syaraf. Diego dan Alika masih terbayang-bayang dengan ucapan Dokter Spesialis Syaraf barusan.


Kini mereka tengah duduk di kantin Rumah Sakit. Gadis sudah lebih tenang sekarang. Ia tetap memeluk Alika tanpa mau melepasnya. Bilmar dan Binara pun mengikuti mereka ke kantin.


Jarak mereka dekat hanya beda satu meja, tapi dalam posisi saling memunggungi. Binara dan Bilmar ingin mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Sesekali ia menoleh ke arah mereka.


Dibalik kaca matanya hitamnya, Bilmar dan Binara tetap fokus melihat gerak-gerik mereka.


"Gadis butuh sosok ibu, Diego..." Alika membuka suara untuk membuyarkan lamunan lelaki yang ada dihadapannya ini.


"Ya, kan ada kamu calon Ibu untuk Marsela." Diego memberikan senyum manis kepada Alika. Membuat Bilmar jengkel setengah mati mendengarnya.


"Benar-benar si rambut kuning. Ingin mencari masalah denganku!" Bisik Bilmar pelan kepada Binara.


Mereka berdua pun mendengarkan kembali obrolan Alika dan Diego.


"Bukan begitu maksudku Diego---"


Diego memotong ucapan Alika, lalu mencoba merapihkan anak rambut Alika yang terlihat berantakan karena sapuan angin.


"Lalu apa?" Alika pun dengan cepat menghalau tangan itu. "Kenapa? Kamu nggak suka kalau aku kayak gini?" Diego merasa aneh dengan sikap Alika.


"Malu Diego, ini didepan umum---"


"Bukan hanya didepan umum sayang! Bahkan kamu sedang ada didepan suami mu!!" Bilmar mulai geram.


"Kak, berisik ih!" Binara berbisik sambil melototkan kedua matanya kepada Bilmar.


Untung saja Alika menghalaunya, coba kalau tidak. Sudah dapat dipastikan Bilmar akan mendaratkan pukulan langsung dari tangannya ke wajah Diego saat ini juga.


"Mungkin Marsela butuh sosok Ibu kandungnya. Kasih sayang Ibu akan lebih merasuk ke jiwa anak. Dengan keadaan Marsela yang seperti ini, akan susah melewati rangkaian terapi seperti tadi."


"..Aku tidak tau dimana keluarga Marsela yang sebenarnya. Walau aku tau, aku tidak akan menyerahkan Sela kepada mereka. Karena mereka sudah membuang Sela selama bertahun-tahun lamanya!"


Kali ini Binara yang terperangah. Hatinya begitu linu dan sakit mendengar ucapan Diego. Binara sudah tahu pasti bahwa lelaku itu tidak akan melepaskan Gadis, putri kandungnya.


"Kak?" Binara mendesah sedih kepada Bilmar.


"Sabar..." Bilmar mengusap punggung Binara.


"Mungkin saja kan keluarga Sela sedang mencari-cari keberadaan Sela dan ingin mengambilnya kembali? Mungkin saja ibu kandungnya? Tentu kamu tidak ada hak Diego..."


"Tidak! Demi apapun, aku tidak akan menyerahkan anakku kepada siapapun! Marsela anakku, selama ini aku yang besarkan. Kalau memang wanita itu sayang pada Sela, ia tidak akan membuangnya!"


Lagi dan lagi, ucapan Diego membuat hati Binara sesak dan sakit.


"Jangan nangis, Bin!" Bisik Bilmar.


Entah mengapa suara bisik-bisik Bilmar seperti terdengar sayup-sayup di telinga Alika. Seketika itu pun ia menoleh kebelakang dan mendapati Bilmar tengah menurunkan kaca matanya sambil memberi smile eyes.


"Sayang.." Ucapnya tanpa mengeluarkan suara. Ia pun menyentak bahu Binar agar menoleh.


"Kakak.." Binara sudah kembali tersenyum ke arah Alika tanpa suara pula. Mereka berdua berbisik-bisik untuk menggoda Alika.


Kedua mata Alika melotot tajam ke arah mereka berdua, seraya mengusir untuk cepat pergi dari sini.


"Berlian, ayo makan makananmu. Apa mau aku suapi?"


Alika kembali membawa wajahnya kedepan dan mengangguk senyum kepada Diego.


"Apa-apan tuh mau suapi segala? Lo fikir istri gue BAYI??" Bisik Bilmar.


"Sstt, Kak! Nanti ketahuan---" Binara menutup mulut Bilmar dengan telapak tangannya.


Jika tadi Alika yang sudah menoleh, kini giliran Diego yang ingin menoleh ke arah belakang. Ia pun seperti dejavu dengan bisik-bisik suara yang cukup familiar di telinganya.


Sebelum Diego menoleh dengan cepat Alika mengalihkan pandangannya.


"Kita pulang aja ya, sepertinya aku nggak enak badan Diego."


"Kamu sakit?" Diego meletakan telapak tangannya di dahi Alika. "Tapi nggak panas."


"BANGSATT!" Bilmar sedikit memberi getaran dimeja, ia sudah tidak tahan. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Menahan emosi karena api kecemburuan yang mulai membakar dirinya.


"Kak, ih!!" Binara menajamkan kedua matanya ke arah Bilmar.


Alika sepertinya tahu, tanpa menunggu lama ia pun memaksa Diego untuk cepat bangkit dari sana. Alika dan Diego pun pergi melangkah melewati mereka yang langsung menunduk ke arah bawah agar tidak dikenali Diego.


Binara menatap kepergian mereka dan Gadis ada dalam gendongan Alika. Binara sedih, melihat Gadis bisa begitu lengket dengan Kakaknya. Anak itu terlihat tertidur di bahu sang Kakak.


Entah bagaimana setelah ini, apakah Diego mau melepaskan Gadis? Atau malah Gadis yang menolak kehadiran Binara.


****


Hari semakin siang, waktu sudah menunjukan pukul 14:00. Bilmar dan Binar tetap terjaga didalam mobil mereka. Menunggu Alika sampai jam dinasnya selesai satu jam lagi.


"Kak, kak. Lihat deh!" Binara membawa arah mata Bilmar untuk melihat sosok wanita yang baru saja sampai tengah berbicara dengan para penjaga.


"Kalau dilihat dari pakaiannya, seperti Perawat ya, Bin?"


"Iya Kak betul, mau apa dia?"


Perawat itu pun akhirnya diijinkan masuk kedalam rumah. Terlihat para penjaga seperti melemparkan pandangan bingung.


Lalu keheningan terjadi diantara kakak beradik ini. Stimulus otak Bilmar bekerja dengan cepat.


"...Bin?"


"Iya Kak?"


"Bin..?" Wajah Bilmar terlihat pucat.


"Iya Kak, kamu kenapa---?"


Bilmar menatap kornea mata Binar dalam-dalam.


"OH MY GOD, Binar! Istriku dalam BAHAYA!!"


****


Like dan Komen ya guyss, hatur nuhun❤️❤️