
Selamat pagi guys
Selamat hari senin
Selamat baca yaa
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Makan malam antara keluarga Federic dan keluarga Artanegara pun berlangsung. Terlihat Tatiana beserta suami pun hadir disana. Maura yang tepat berada disamping Alika terus beradu pandang dengan Gadis.
Dua sepupu yang terpisah namun kali ini kembali bersama. Mereka hanya saling menatap tanpa bersuara. Sedangkan Ammar, bayi gendut itu terasa tenang di stroller nya. Sungguh perih untuk Diego, karena mendapati Alika yang sudah menikah dengan Bilmar dan mempunyai dua anak. Mungkin sebentar lagi akan mempunyai empat orang anak.
Makan malam kali ini terasa hening. Hanya ada suara hentakan sendok dan garpu berada di atas piring. Sesekali Bilmar dan Binar menangkap pandangan Diego yang terus tertuju kepada Alika. Namun Alika hanya bisa menundukkan kepalanya dan menelan paksa makanan yang sudah bersarang di mulutnya.
Jantungnya terus berpacu dalam hentakan hebat. Wanita ini gugup dan rasa ketakutan itu selalu muncul kembali. Walau ada Bilmar disampingnya, tetap saja ia merasa masih cemas dan khawatir.
"Hem..." Bilmar berdehem.
Membuat semua mata yang menunduk ke atas piring langsung mendongak dengan cepat. Tapi sepertinya tidak dengan Diego. Lelaki itu terus saja memandang Alika dengan tatapan menyesal dan masih suka. Kesialan terjadi ketika Diego menyukai dua wanita kakak beradik itu.
Bilmar geram, kedua matanya mendelik tajam memperhatikan Diego. Ia benci tatapan itu, tatapan penuh damba kepada istrinya.
Lagi dan lagi, Alika merasa dirinya mual dan ingin muntah.
"Kamu kenapa Berliana?"
"Alika namanya..!" Selak Bilmar cepat dengan suara tegas. "Saya ijin pinjam toilet." Ucap Bilmar sambil merengkuh tubuh istrinya untuk bangkit dari duduknya.
"Kak, kamu sakit?" Tanya Binar, begitu pun Papa Luky.
"Mau Papa antar sayang?"
"Masuk angin kayaknya, Bin---Gak usah Pah, Bilmar aj---"
Ia menghentikan ucapannya ketika rasa muntahan itu sudah terasa diujung tenggorokan. Bilmar pun merangkul tubuh Alika untuk dibawanya ke dalam toilet.
Howe Howe
Alika memuntahkan dengan cepat apa saja yang ada didalam perutnya. Bilmar menyeka rambut Alika agar tidak terurai kebawah sambil memijit-mijit tengkuk leher istrinya.
"Kecapean ya? Apa karena semalam ya?" Cicitnya sendu.
Ia merasa karena ulahnya, Alika menjadi sakit seperti ini. Alika menggeleng cepat walau ia masih berjibaku untuk konsentrasi mengeluarkan sisa-sisa muntahan yang masih belum membuat perutnya lega.
Dan
Alika kembali muntah. Air di wastafel terus mengalir. Bilmar terus mengiring Alika agar bisa memuntahkan semua isi makanan yang ada diperutnya.
"Mama...mah..Mama!!" Tepakan tangan Maura tercetak di daun pintu kamar mandi. Ia terus memanggil sang Mama dari luar.
Alika hanya memberi kode kepada Bilmar dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke arah pintu, seraya kode kepada Bilmar untuk menyuruh Maura masuk.
Bilmar pun melakukannya. Ia membuka pintu kamar mandi dan membiarkan anak kecil berbando mickey mouse masuk kedalam. Kini mereka sudah bertiga didalam kamar mandi.
"Mah? Mama kenapa, Mah?" Tanya Maura sambil menarik-narik baju sang Mama. "Mama sakit Nak." Sahut Bilmar.
"Mah? Sini Maura cium Mah, biar sembuh--" Cicit Maura dengan polosnya. Sungguh ucapan nya membuat Alika dan Bilmar tertawa karena keluguan nya.
Bilmar meraih tissu dan mengelap wajah Alika yang sudah basah. "Kita ke Dokter ya?"
Alika menggeleng. "Gak, Bil. Hanya masuk angin!"
"Mah, gendong--" Pinta Maura.
"Jangan Nak, Mama sedang lemas!"
"Gak apa-apa, Bil. Ayo sini Nak, Mama gendong."
Alika meraih tubuh Maura untuk ia gendong. Kedua tangan anak itu mengalung erat di leher sang Mama dan kaki yang melekuk di daerah perut Mamanya.
Terkadang Rendi mengelus bahu Binar agar bisa bersabar dengan keadaan untuk merebut perhatian dari Gadis.
"Kamu udah mendingan Berlian?" Tanya Diego ketika Alika sudah duduk kembali. Alika hanya mengangguk dan memberikan senyuman setipis benang.
Bilmar tetap menatap tidak suka.
"Boleh saya mulai pembicaraan kita malam ini?" Suara Ny. Gweny mengalihkan perhatian semua orang.
"Silahkan Gweny.." Sahut Papa Luky.
"Sesuai keputusan keluarga kami dan juga Diego, yang merupakan Daddy Marsela selama ini. Kami sepakat akan memberikan Marsela kepada kalian--" Lalu ada bisik pelan dari Diego kepada Maminya. "Oh ralat, maksud anak saya. Marsela akan diberikan kepada Alika."
Mendengar ucapan itu membuat wajah Binar memerah karena menahan kesal. Tapi semua ini sudah dibicarakan sangat matang oleh mereka semua sebelum bertandang kerumah Diego. Tentu Binara harus bisa bersabar karena pada intinya Gadis tetap kembali kepada mereka.
Alika mengangguk bahagia melihat ke arah Gadis yang sedang menatapnya balik dengan senyuman.
Diego meraih tubuh Gadis untuk duduk di pangkuannya. Ia mendekap, memeluk dan menciumnya lagi. "Kesayangan Daddy." Lirihnya.
Yang Gadis tahu ia akan dibawa oleh Alika karena Daddy nya akan pergi beberapa lama ke luar negeri. Anak itu pun seketika merasa takut jika harus berdua dengan Ny. Gweny dirumah. Maka ia mau ketika Daddy nya menyuruh ia menginap dulu dirumah Alika. Diego berhasil membohongi anak itu.
Diego memotong ucapan Maminya.
"Berlian, saya titip Marsela. Walau dia bukan anak kandung saya, tapi dia sangat berharga. Dia mampu mengisi hari-hari saya yang kosong..." Ucap Diego kepada Alika. Membuat mereka saling bersitatap.
"Mungkin saya akan menengoknya tiga hari sekali atau membawanya menginap dirumah untuk beberapa hari. Karena jujur, saya belum bisa melepasnya dengan cara secepat ini.."
Binara benar-benar tidak dianggap oleh Diego. Lelaki itu sepertinya berusaha untuk melupakan wanita itu dan berbalik membuat benci.
Alika masih diam, ia terus berfikir. Sejatinya ia tahu bahwa sang adik yang harusnya menjawab. Ia pun menoleh ke arah Binar dan Papa Luky.
Diego pun tahu akan hal itu dan ia hanya menoleh ke arah Papa Luky.
"Bagaimana Om? Apakah permintaan saya diterima? Saya juga ingin melihat dulu perkembangan Gadis di keluarga kalian, jika ia merasa tidak nyaman. Saya akan mengambilnya lagi bagaimanapun caranya!"
Papa Luky mengangguk.
"Iya saya setuju Diego!" Bagi orang tua itu, tidak ada pilihan lagi selain hanya menurut. Karena bagaimanapun mereka harus menghormati orang yang selama ini sudah mau mengurus dan merawat Gadis secara suka rela.
Diego memberikan senyumnya kepada Papa Luky. Lalu beralih menatap Alika kembali.
"Kepada kamu Berlian, tolong maafkan atas segala kesalahan dan kekhilafan saya..."
Alika pun mengangguk, samar-samar garis senyum dipaksa terangkat namun melihat Diego dengan segala kemurniannya, garis senyum itu akhirnya melebar dengan jelas.
"Iya Diego...saya maafkan kamu."
Dan malam ini pun, Diego merelakan Gadis untuk selama-lamanya.
*****
Akhirnya makan malam dua keluarga itu pun selesai. Saat ini Alika telah berhasil membawa Gadis keluar dari rumah Diego. Dan sesuai keinginan Diego, Gadis harus menetap dulu untuk dirawat oleh Alika. Ia ingin anaknya perlahan bisa belajar mengenal Binar yang masih belum ia kenal sama sekali. Diego tidak mau Gadis merasa takut karena diberikan langsung kepada Binar.
Bilmar masih fokus mengemudi, disampingnya ada sang istri yang menemani sambil menggendong Ammar. Di bangku belakang terlihat Maura dan Gadis sudah duduk berdua. Kedua anak itu sesekali curi-curi pandang untuk menatap wajah satu sama lain.
Di mobil satunya lagi yang sudah melesat duluan ada Binar, Rendi dan Papa Luky. Binara menangis disepanjang jalan, ia membenci sikap Diego yang sudah dingin kepadanya, tidak mau memberikan celah sedikit untuk bisa mendekap Gadis malam ini.
"Bil, aku ingin muntah..." Alika memegang bahu suaminya. Bilmar dengan cepat menepikan mobilnya di pinggir pepohonan rindang yang begitu sepi dan dingin.
Maura dan Gadis hanya bisa menatap aneh kepada mereka.
"Mah..."
"...Suster.."
Panggil mereka berdua bersamaan.
Alika pun turun dan masih menggendong Ammar. Ia berjongkok dan kembali muntah. Bilmar memutar langkahnya untuk menghampiri Alika. Ia meraih Ammar untuk digendongnya. Kembali memijit-mijit tengkuk leher istrinya. Alika kembali muntah dan muntah.
"Mah..." Desah Maura lalu ia ingin beringsut turun namun dengan cepat Gadis mencekal bahu Maura.
"Jangan turun ya, soalnya aku gak bisa jalan---" Cicitnya sendu. Ia memohon kepada Maura agar tetap berada di mobil.
Maura pun mengangguk walau ia kaget karena Gadis tidak bisa berjalan.
"Namaku Maura, siapa nama kamu?"
"Namaku Marsela.."
Mereka berdua akhirnya bisa memandang dengan senyum. Tidak kaku seperti berbelas menit yang lalu.
****
Jangan sakit, ya ❤️