
Hai selamat malam
Aku kembali guyss
Selamat baca ya
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
Pagi yang indah kembali datang membawa secerca sinar cahaya untuk memberi semangat kepada semua manusia yang akan beraktivitas.
Namun berbeda dengan Alika dan Bilmar, mereka berdua masih saja ingin terus berpeluk diatas ranjang. Semalam mereka memilih tidur di kamar tamu. Semua ini karena Bilmar yang meminta, alasan apa lagi jika bukan untuk leluasa menjenguk Sassy.
Terlihat Alika masih bertengger di lengan Bilmar. Mereka masih dalam satu selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Alika masih menyusuri setiap lekuk wajah suaminya dengan jari-jarinya.
Ia terus mengecup semua bagian itu. Bilmar masih terlihat pulas dalam dengkurannya. Mengingat semalaman mereka bergulat dalam relung cinta menggiring hasrat agar bermuara dalam pelepasan.
Wajah Alika terlihat bahagia, dikala ia masih terbayang bagaimana semalam Bilmar memperlakukannya seperti bidadari di kayangan dalam acara makan malam dan bermain sangat lembut ketika menyusupi Sassy.
Jari-jari Alika yang sudah puas menari-nari diwajah Bilmar, kini turun ke ceruk suaminya lalu lurus turun ke arah dada. Memainkan sedikit bulu-bulu halus di pertengahan dada bidang kepemilikan suaminya.
Merasa geli, kedua mata Bilmar pun perlahan mulai terbuka.
"Sayang..." Seru Bilmar dengan suara serak karena baru bangun.
"Iya sayang?"
"Bagaimana keadaan Sassy? Sakit kah?"
"Nggak sayang, sekarang udah lebih--"
Selak Bilmar cepat "Enak??"
"Ih kamu!!" Alika mencebik, karena ia merasa malu. Bilmar tertawa, terus mendekap erat tubuh istrinya.
"Ayo kamu mandi, Bil. Kamu kan harus berangkat kerja!"
"Iya sih aku memang lagi banyak rapat hari ini."
"Ya udah ayo bangun, mandi dulu!"
"...Kita mandi bareng yuk sayang."
"Bil?" Alika berdecak, ia sudah tahu aktivitas apa yang akan terjadi jika mereka harus mandi bersama.
"Lagi yuk!" Bisik Bilmar.
"Nggak ah, Bil! Sassy udah capek katanya. Dia udah nggak mau di jenguk--"
"Bentar aja, Al!"
"Semalam tuh udah tiga kali, masih kurang??"
"Selalu kurang, Al!"
Bilmar sambil tertawa ia pun dengan cepat menggendong tubuh istrinya yang masih meronta-ronta minta dilepaskan.
Lalu
"Sassy, Papa datang sayang---"
".....Bilmar!!"
Suara Alika dan Bilmar terus saling bersaut dalam iringan air shower. Dan mereka pun mengulanginya kembali.
****
"Maaf ya Bik, dapurnya berantakan ya?" ucap Alika tiba-tiba sudah muncul di dapur, membuat Bik Minah sedikit kaget.
"Eh iya Non, enggak apa-apa! Emang semalam ada apaan sih, Non?"
Alika tertawa. "Ada gajah masuk ke dalam rumah, Bik."
"Hah? Gajah, Non?"
Alika masih tertawa, betul saja pemikirannya bahwa Bik Minah akan shock terapi melihat dapur dan meja makan yang berantakan seperti tersapu angin puyuh.
Didalam kamar Bilmar terlihat sudah rapih dengan kemeja yang sudah dipilihkan oleh Alika sebelum ia turun ke dapur. Bilmar masih menimang-nimang Ammar dan melihati Maura yang masih tertidur dengan gaya sesukanya.
Bilmar merasa sangat rindu dengan dua buah hatinya. Jika mau berangkat kerja Maura dan Ammar pasti belum bangun begitu pun ketika Bilmar pulang kerja Maura dan Ammar pasti sudah tertidur.
Kadang ia sengaja membangunkan Maura untuk menyapanya dipagi hari. Alika akan marah jika Bilmar sengaja membangunkan anak-anaknya yang masih tertidur pulas. Mau bagaimana lagi, Bilmar rindu mereka.
Alika masih mengaduk-aduk masakan dengan spatulanya di wajan. Walaupun tubuhnya letih karena semalaman di porsir oleh Bilmar, ia tetap harus turun ke dapur untuk membuatkan sarapan suami dan Maura.
Ting Nong!
Suara bell rumah terdengar sampai ke telinga Alika, karena mendengar bell terus berbunyi menandakan belum ada yang membukakan pintu.
"Bik?" Panggil Alika, namun Bik Minah tidak menjawab karena ia sedang pergi ke kamar mandi.
Alika dengan cepat mematikan kompor dengan celemek yang masih terpakai di tubuhnya, ia berjalan menuju pintu utama untuk membukakan pintu dan mempersilahkan tamu yang pagi-pagi sudah datang mengunjungi mereka.
"Siapa ya, yang datang pagi-pagi seperti ini?" Gumam nya sambil terus melangkah untuk membuka pintu.
Kunci diputar, pintu pun terbuka lebar. Ada angin yang ikut masuk dengan sosok wanita yang kini tengah menatap Alika dengan senyuman.
"Hay, Alika---" Sapa wanita ini dengan senyum dan wajah bersahabat.
Kedua mata Alika melebar dan membulat dalam satu tatapan utuh. Ia melihati wanita ini dari ujung rambut sampai ujung kaki. Keseksiannya masih belum berubah dan wangi tubuhnya sangat menusuk hidung Alika.
"Kaneysa? Mau apa kamu?"
Alika langsung mengubah tatapan kagetnya menjadi tatapan dingin, ia kembali teringat dengan kelakuan Kaneysa yang selalu mencoba merebut Bilmar.
Melihat sambutan Alika yang kurang berkenan membuat Kaneysa menjadi tegang.
"Ma--af, Al. Aku kesini hanya ingin mengembalikan ini--"
Kaneysa menyodorkan sebuah sapu tangan yang sangat ia kenal siapa pemiliknya. Karena setiap pagi Alika akan memilihkan kemeja, celana, dasi dan sapu tangan yang akan dipakai oleh Bilmar ketika akan berangkat kerja.
Alika mengambil sapu tangan itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Hati dan jiwanya terasa diaduk-aduk dengan sejumlah pertanyaan dan kecurigaan.
"Kalian bertemu?" Tanya Alika tanpa basa-basi. Kini tatapan dingin itu sudah berubah menjadi tatapan sendu dan sedih.
"Iya Al, tadi malam. Kita bertemu di jalan, Bilmar membantu aku dalam membetulkan mobilku yang mogok, karena ada cipratan air mengenai wajahku maka Bilmar memberikan sapu tangannya agar aku bisa membersihkan wajah dan bajuku."
Tak lama kemudian ada langkah terhenti begitu saja diantara mereka.
"Hah? Kaney??" Ujar Bilmar.
Sepertinya jantung Bilmar akan jatuh luluh lantah karena melihat Kaneysa yang sudah datang dan berbicara dengan Alika.
"Hey, Bil?" Sapa Kaneysa yang melihat Bilmar yang masih kaget melihat kedatangannya. Seketika itu pula Alika menoleh cepat melihat wajah suaminya.
Degupan jantung Bilmar begitu saja bekerja cepat, ia terus melihati bola mata Alika yang tengah berkaca-kaca. Kedua rahang Alika terlihat mengeras dan wajahnya memerah karena menahan kesal.
Habislah Bilmar pagi ini.
Alika pun kembali membawa wajahnya untuk menatap Kaneysa.
"Terima kasih karena sudah mengembalikan sapu tangan milik suami saya! Kamu bisa pulang sekarang."
Alika bergerak cepat untuk menutup pintu membuat Kaneysa mundur sedikit keluar.
Bragg.
Persatuan dua pintu terdengar begitu nyaring.
"Duh, padahal aku belum puas untuk bicara. Aku ingin mengantarkan undangan ku dan indra kepada mereka! Mungkin Alika marah, ya sudah lah aku akan menunggu Bilmar saja di EG!" Kaneysa memutuskan untuk kembali pulang dari rumah Bilmar dan Alika.
Alika masih menatap pintu yang baru saja ia tutup. Dadanya terasa sesak, seketika nafasnya menjadi berat. Mencoba berfikir positif namun rasa kecewa karena dibohongi tetap saja dalam posisi paling tinggi.
Ia memejamkan kedua matanya, lalu genangan air mata itu pun menetes pelan turun membasahi kedua pipinya.
"Sayang..?" Desah Bilmar yang masih berdiri dibelakang tubuh Alika. Lelaki ini terus melihati punggung istrinya yang masih terdiam belum mau menoleh.
Tiba-tiba saja keringat bercucuran dari wajah Bilmar. Ia menunggu bagaimana kemurkaan Alika setelah ini.
"Kamu bohongi aku, Bil?"
****
.
.
.
.
.
Bagi yang mau tahu bagaimana kisah Maura dan Gifali yang sudah dewasa, sudah bisa baca di karya ku yang ke tiga ya, boleh cek profil ku❤️
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Gifali Untuk Maura
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘