
Assalammualaikum readers setiaku❤️😘
aku sangat expert banget liat semangat dari kalian, makasi lohh udah menggetarkan hati ku yang ringkih ini hihihi🤭🤭. Walau aku sedikit sibuk hari ini, tapi demi kalian aku kembali.
yuk ah mari baca
🤗🤗
***
Kini dirumah sakit, Bilmar masih setia memapah tubuh Alika dalam dekapannya yang masih menangis tersedu-sedu. Alika masih merasa takut dan cemas. Jiwanya terasa membucang, ia tidak bisa berfikir sejuk saat ini.
"Sudah nggak apa-apa sayang, ini normal terjadi dalam tahap awal. Kamu harus banyak istirahat, nanti kita cek sebulan lagi."
"Kalau sebulan lagi belum ada juga gimana, Bil?aku takut!"
"Jangan takut, ada Allah, sayang." Bilmar terus menguatkan Alika akan hasil pemeriksaan usg yang barusan ia jalani.
Kring..kringg...
Rendi incamming call
"Ya Hallo? Gimana..gimana..Ren, sinyal nya jelek sekali Ren..gimana..gimana?"
Bilmar sedang berdalih untuk mengalihkan perhatian istrinya, agar ia bisa pergi dahulu menjauh dari samping Alika. Rendi pasti sudah mempunyai jawaban tentang rekaman cctv itu.
"Sebentar ya sayang, aku pergi dulu keluar mencari sinyal. Kamu tunggu dulu disini ya, jangan kemana-mana, aku akan segera kembali!"
"Iya, Bil!"
Bilmar pun berlalu, meninggalkan Alika seorang diri di bangku tunggu pasien. Mencari suasana hening untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Rendi.
Sudah 10 menit ia menunggu, namun Bilmar belum juga kembali. Alika yang merasa ingin buang air kecil terpaksa meninggalkan tempat itu untuk pergi ke kamar mandi. Ia terus menyusuri Rumah Sakit untuk mencari toilet.
Lalu
Langkah kakinya terhenti begitu saja ketika bertemu dengan langkah kaki yang lain. Kedua tubuh saling menyatu dalam tatapan mata yang lurus, diiringi senyuman riang dan menawan dari sang Anak kepada seorang Bapak. Mereka kembali dipertemukan oleh ijin Sang Semesta.
"Apa kabar Pak? Lama sudah tidak bertemu, ya?" Alika meraih tangan Papa Luky untuk mencium punggung tangannya.
Dalam tundukannya, Alika sedikit menggerak-gerakan bola matanya ke bawah lantai rumah sakit, karena Papa Luky hanya terdiam tidak menjawab sapaannya. Alika kembali mendongakkan wajahnya ke atas untuk menatap lelaki paru baya ini. Pantas saja, ia sedang melamun terus melihati sosok Alika.
"Pak? Nggak apa-apa?" Alika menghentak pundak nya dengan lembut.
Papa Luky langsung sadar tergegap, ia seperti tengah bermimpi disiang bolong.
"Nggak apa-apa, Nak." Jawab Papa Luky dengan senyum hangat. "Kamu kenapa kesini? kamu sakit?"
Alika menunduk sebentar, ada kilasan air mata menggenang namun belum turun.
"Ayo, mari duduk dulu, Nak. Ayo ceritakan, ada apa?" Papa Luky merangkul Alika yang masih gegana untuk membawanya duduk dibangku yang sudah tersedia disana.
Entah mengapa, Papa Luky merasa ia sangat mengkhawatirkan keadaan gadis ini. Seperti ada suatu panggilan bahwa dirinya harus membantu dan menemani kesusahannya.
"Kenapa, ketika berdekatan dengan mu. Saya merasa hidup saya terasa lengkap, tidak pincang lagi?"
"Kamu kenapa, Nak?"
"Ada senang dan ada sedih Pak. Senangnya ketika Alika dikatakan positif hamil---"
"Alhamdulillah syukur kalau begitu, Nak." selak Papa Luky
"Tetapi yang menyedihkannya adalah menurut Dokter dari hasil pemeriksaan usg nya, kalau saat ini dirahim Alika masih berbentuk kantong. Dapat dipastikan sekitar dua minggu lagi apakah sudah ada janin atau belum." Jawab Alika dengan wajah yang sendu.
Papa Luky tetap mengusap-ngusap bahu Alika dengan halus, entah mengapa Alika juga mau diperlakukan seperti ini dengan orang yang belum ia kenal dengan pasti. Alika merasa lelaki ini begitu hangat seperti Orang tua kandungnya.
"Jangan khawatir, memang proses kehamilan awalnya seperti ini. Dulu istri saya ketika mengandung anak pertama kami juga seperti ini."
Papa Luky terus menyemangati Alika dan memberi kekuatan kepadanya.
"Belum diperiksa sama Dokter, katanya Dokternya belum datang. Maka saya buang air kecil dulu tadi dan akhirnya bertemu dengan kamu, Nak."
Lalu tiba-tiba wajah senyum bahagia dari Luky begitu saja memudar. Kedua matanya melebar dengan dasyat, ia tidak bisa berkata-kata. Mulutnya tercekat, ia terus melihati sebuah tanda yang terparkir cantik di bagian pergelangan dalam tangan kiri Alika.
"Ini tanda---" Papa Luky menggenggam pergelangan tangan itu untuk dilihati secara pasti dan seksama.
"Oh tanda cokelat ini Pak, ini tanda lahir Alika."
Batin Papa Luky bergeming mantap, dadanya terasa sesak dan sedikit berat karena tertekan ke dalam. Ia terus melihati tanda lahir itu sambil menerawang jauh ke suatu bayangan masa lalu yang mengingatkannya dengan Alisa dan Berlian.
"Tanda lahir ini persis seperti tanda lahir Mama saya, Pak. Kami mempunyai tanda lahir yang sama."
"A---pa??" seketika tangannya begitu bergetar ketika menggenggam tangan Alika yang belum ia lepas, ia terus melihati wajah Alika amat dalam. "Siapa nama ibumu?"
"ALISA, namanya. Kenapa Pak?" tanya Alika dengan raut wajah polosnya. Bergantian melihati wajah Papa Luky yang mulai tegang dan memanas.
"Mirip seperti nama istri saya, Alisa juga namanya!"
"Wah apa jangan-jangan Alika anaknya Bapak?" Alika memasang wajah takjub.
Mereka menatap begitu hening, dingin dan terbelalak. Suasana cukup terasa tegang.
Lalu
Lagi-lagi Alika membuyarkan suasana dengan gelak tawanya. "Hahaha, maaf Pak jadi nyeleneh gini ngmongnya. Ya nggak mungkin lah Alika anaknya bapak, secara Alika juga punya Papa walau sekarang udah ngga ada." Alika terus tertawa, dia merasa rasa stres nya begitu saja menghilang.
Papa Luky tetap membawa masalah ini menjadi serius, tidak ada bercanda dalam benaknya. "Kalau kaya gitu banyak sekali ya, yang namanya mirip sama almarhumah Mama."
"Almarhumah?maksudnya sudah tiada?"
"Iya Pak, Mama sudah pergi tiga tahun yang lalu untuk selamanya."
"Apakah kamu memang benar anakku? Tapi kenapa nama mu Alika? aku memberi nama anak pertamaku dengan nama Berlian, tanda lahir yang kamu punya sangat mirip dengan Alisa dan anakku, Berlian! Alisa, jika kamu dengar aku. Aku begitu mengutuk kamu, karena telah menjauhkan ku dari putri kita!"
Lalu tiba-tiba ia meremas kembali dada bagian kirinya yang mendadak begitu nyeri tidak tertahan.
"Pak? bapak nggak apa-apa?" Alika merengkuh lengan Pak Luky yang sedang meradang. "Nggak apa-apa Nak. Sudah-sudah tenang!" Papa Luky memberikan halauan kepada Alika untuk tenang dan tidak panik.
"Pak Luky kenapa?" Ada sumber suara lain ditengah mereka, membuat mereka menoleh dengan cepat. "Ayo Pak saya bantu, Dokter jantungnya sudah datang di Poli." Pak Khalid membantu merangkul Papa Luky untuk bangkit berdiri.
"Khalid, tolong ambilkan foto saya dengan Alika berdua!" Papa Luky meraih HP nya dari saku celana lalu diberikan kepada Pak Khalid "Boleh kan saya foto bersamamu, untuk kenangan-kenangan jika saya tengah rindu dengan anak saya?" Tanya Papa Luky kepada Alika.
"Boleh Pak, dengan senang hati. Asal jangan sampai tersebar ke media luar, bisa bahaya Pak. Nanti suami saya cemburu." Alika tertawa lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ups, Bilmar memang orang yang sangat cemburu melebihi apapun.
Beberapa gaya dan foto mereka berdua diambil secara banyak oleh Pak Khalid sesuai perintah Papa Luky. Saling senyum, saling merangkul dan saling tertawa. Mereka merasa begitu erat dalam pertemuan kali ini.
"Kamu hati-hati ya, dijaga kandungannya. Saya doakan agar janin kamu sehat tanpa masalah. Saya ingin selalu bisa bertemu kamu kembali." ucap Papa Luky sebelum ia melangkah untuk berlalu.
"Doa terbaik untuk Bapak juga."
Papa Luky pun berlalu sambil dirangkul oleh Pak Khalid. Meninggalkan Alika yang masih berdiri mematung melihati sosok Papa Luky dari belakang.
Belum jauh langkahnya untuk berjalan, seketika terhenti begitu saja dengan teriakan Alika dari belakang yang membuat mereka kini menoleh cepat.
Plasssss....
Ada buliran angin mengelilingi, ketika Alika memeluk erat tubuh Papa Luky, memeluknya lama dan menjatuhkan kepalanya didada lelaki paru baya ini.
Papa Luky dengan refleks nya mengelus rambut dan punggung Alika. Ini menjadi terapi yang sangat baik dibandingkan obat, lama kelamaan sakit didadanya menghilang. Mereka terus saling berpeluk dalam romansa perhelatan batin antara Anak dan Ayah.
"Aku akan menyelidiki jati dirimu setelah ini, Alika!"
***
Berikan terus semangat kalian pada ku yaa...Like, vote, rate and komen yah..
Thankyouu with love gaga❤️