Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Usaha Papa Bayu dan Rendi


Selamat baca🤗


***


Mang Dana sudah menepikan mobil nya dengan baik di basement perusahaan Artanegara Group. Hari ini ia mendapatkan tugas untuk mengantarkan Tuan nya ke tempat ini.


"Tunggu dulu disini, Dan. Saya nggak lama kok..!" ucap Papa Bayu.


"Baik Pak." balas Mang Dana menoleh ke belakang, terus duduk sigap dikemudi.


Papa Bayu bersiap turun dan berlalu dari basement, ia terus berjalan menaiki lift untuk menuju ruangan yang ingin ia tuju. Terlihat perusahaan ini begitu besar, megah dan mewah. Kokoh dengan dua puluh lantai menjulang tinggi mencakar langit.


Semua karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengan Papa Bayu, langsung menebar senyum setengah menundukan kepala sebagai tanda hormat yang dalam.


"Silahkan masuk Pak, Pak Luky sudah menunggu didalam," seorang sekretaris cantik tengah berdiri diambang pintu untuk mempersilahkan Papa Bayu masuk kedalam bertemu laki-laki yang sedari tadi sudah menunggunya.


"Kak?" panggil Papa Bayu kepada laki-laki paruh bayah yang hanya berjarak beberapa tahun dari nya. Tengah duduk dikursi kerajaannya, memunggungi Papa bayu serta sedang menatap jendela menembus langit yang bermandikan panas akan matahari siang.


Ia belum mau menjawab panggilan itu dan belum juga menoleh. Lelaki ini sepertinya sangat misterius dengan perawakan yang belum terlihat jelas.


Siapakah dia? mengapa Papa Bayu memanggilnya dengan sebutan Kakak.


Papa Bayu menghela nafasnya kembali, terlihat kulit tenggorokan turun naik sedari tadi. Namun ketika ia ingin memanggil kembali lelaki itu, dengan cepat lelaki itu menoleh dan berbalik tepat di hadapan Papa Bayu.


"Duduk lah!" suara lelaki itu begitu lantang dan berat. Di meja nya tersembul sebuah nama


Ir. Luky Satya Artanegara.


Nama yang sama dengan nama belakang yang dipakai Papa Bayu dan Bilmar. Mereka sama-sama keluarga dari Artanegara.


Pak Luky terus menatapi acuh adiknya, sesekali memainkan bolpoint agar menciptakan suara nyaring di meja kerjanya.


"Kak? maaf Bayu mengganggu Kakak!"


"...Hmm...kamu tau kan Dek, kalau waktu bagiku sangatlah bernilai?"


Papa Bayu sedikit menundukan kepalanya dan mengangguk. Seperti nya lelaki ini amatlah sangat menyeramkan, Papa Bayu siap diterjang oleh dakian pisau hanya untuk membebaskan kehidupan anak semata wayangnya yaitu Bilmar Artanegara.


"Maaf Kak, ini tidak lah lama. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang sudah saya ingin putuskan sejak dulu."


Papa Bayu memberanikan diri untuk menatap wajah kakaknya langsung. Ini semua lagi-lagi hanya untuk putranya.


"Saya ingin mengembalikan Binar ke Kakak." tukas Papa Bayu dengan suara amat pelan namun tegas.


Pak Luky hanya diam tidak bergeming, ia terus melihati raut wajah Papa Bayu yang sedikit menegang.


"Saya rasa sudah cukup pengorbanan Bilmar selama ini, putra saya juga berhak untuk bahagia dengan keluarganya sendiri." ucap Papa Bayu masih dengan nada sopan


"Apakah bagimu..pengorbanan ku kepadamu sudah cukup terbayar? dan juga tentang pengorbanan Ayahku?"


Mendengar beberapa kalimat yang terucap dari bibir lelaki itu sontak membuat hati Papa Bayu kembali menciut hebat. Tulang-tulang yang ada ditubuhnya seperti ingin berdentum keras minta untuk diselamatkan kali ini.


Papa Bayu belum bisa menjawab, wajahnya di tundukan lagi kebawah.


"Aku tidak perduli jika Bilmar sudah menikah lagi atau tidak! jelas Binar masih dalam tanggung jawabnya!"


"Tapi Kak? ini tidak lah adil baginya. Bilmar mempunyai istri dan anak yang harus dijaga perasaannya,"


Papa Bayu lagi-lagi hanya bisa tercekat. Sepertinya kekuatan dalam mengakhiri peperangan ini belum berhasil. Ia belum bisa meluluhkan hati kakaknya.


"Maafkan Papa, Nak!"


Papa Bayu hanya bisa merintih dalam hati dan jiwanya. Terus meraung memangil-mangil nama putranya.


***


Satu jam sebelum pulang bekerja, Rendi mencuri waktu untuk pulang lebih cepat menuju salah satu Apartement yang bisa ditempuh dalam waktu 40 menit. Terlihat langkah nya begitu cepat untuk menemui seseorang yang cukup lama belum ia temui kembali.


"Kak Rendi kenapa kemari? Kak Bilmar bagaimana?" tanya wanita ini sembari meletakan dua kotak teh kemasan yang baru ia keluarkan dari kulkas.


"Karna aku rindu sama kamu. Tenang aja Pak Bilmar tahu kok, dia yang menyuruh aku kesini untuk mengantarkan semua kebutuhan kamu!"


Dilantai terlihat beberapa bungkusan plastik yang berisikan berbagai kebutuhan untuk wanita ini.


"Masa? bukannya kemarin Pa---"


Ucapan wanita yang penuh akan kecurigaan itu, seketika terhenti ketika Rendi memeluknya erat. Ia pun membalas pelukan itu dengan amat cinta. Wanita ini tahu bagaimana perasaan Rendi kepada nya.


"Menikahlah sama aku Bin! aku akan bahagiakan kamu, aku janji!" Rendi melepas pelukan itu dan memegang erar kedua tangan wanita ini dan mengecupinha berulang-ulang.


"Aku takut sama Kak Bilmar, Papa Bayu dan juga Papa----" wanita ini berhenti berucap lalu ia menangkup wajahnya sembari menangis terisak.


Rendi perlahan melepas tangkupan tangan dari wajah wanita itu. Lalu ia mulai mendekatinya untuk mengecup bibir wanita sang pujaan hati nya.


Rendi menggigit bibir bawah Binar, agar ia bisa membuka rongga mulut itu dengan leluasa, menciptakan permainan yang membuat mereka akan mendidih dalam hasrat saat ini. Terdengar cuatan saliva menyatu dikeduanya, mereka terus bergenggam tangan sambil menutup mata mengikuti arah gerak kepala dan mampu membuat Binar menyandar kan tubuhnya di sandaran sofa.


Rendi terus mengecupinya sampai ke tulang selangka dan bahu kepemilikan wanita ini. Ia begitu merindu Binar.


Tak lama kemudian, Rendi yang masih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Binar harus terdorong seketika ke pijakan sofa. Binar berlari dan masuk kedalam kamar, menguncinya dan berteriak.


"Pergi Kak! jangan pernah kesini lagi!"


Rendi hanya bisa meremas wajahnya karna lagi-lagi gagal untuk meyakinkan cintanya kepada Binar.


Ia pun turun dari sofa dan melangkah ke arah pintu kamar Binar.


"Aku cinta kamu Binar! aku akan nerima kamu apapun keadaan kamu sekarang, kamu jangan selalu ngerasa diri kamu tidak ada harganya..aku yang selalu mendamba kamu pagi siang malam..difikiran aku cuman hanya kamu sayang..!"


"PERGI KAK!"


"BINAR--!"


Tidak ada jawaban lagi dari balik pintu kamar, yang ada hanya suara teriakan dan erangan dari wanita ini.


Keheningan pun seketika mencuat didalam apartemen. Entah bagaimana perasaan Rendi saat ini, mereka saling mencintai namun terhalang oleh suatu keadaan yang luar biasa menyakitkan.


***


Dah kebayang belom sama kalian? si Binar tu siapa? hehehe❤️


Like Vote Rate dan komen nya ya..


thankyou🤗😘