Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Jangan buat Alika kecewa!


Haii selamat siang, aku kembali guyss


Selamat baca yaa


❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Terlihat Alika, Binara dan Papa Luky sudah duduk berderet di sofa ruang tamu panti asuhan. Mereka terus fokus melihati wajah Ibu Panti yang sedang mengarahkan jarinya dari atas tepi buku sampai ke bawah.


Untuk mencari-cari nama yang sudah Alika sebutkan barusan. Lembar demi lembar ia buka, terus bergumam nama Gadis.


"Apakah ada, Bu?" tanya Binara.


Ia sudah tidak sabar dalam menunggu, hatinya tidak karuan. Ibu Melina mendongakkan wajahnya sambil merekatkan gagang kaca matanya agar lebih pas di atas daun telinganya.


"Bin---" Alika mengedipkan mata dan menggelengkan kepala, sebagai kode agar Binar tetap tenang dan diam.


Kulit tenggorokan Papa Luky terlihat naik turun, ia terus menatap fokus ke arah Ibu Melina. Seingatnya di panti inilah ia menyerahkan Gadis yang masih bayi, namun ia lupa siapa penerimanya.


Lalu


Jari telunjuknya Ibu Melina terhenti di sebuah tulisan dengan warna tinta yang sudah menguning. Ia terus membaca dalam-dalam tulisan itu.


"Disini yang tertulis atas nama By. Gadis Binara bukan Gadis Artanegara--"


Binara dengan cepat menoleh ke arah Papanya. Ia hanya memberi tatapan sendu dan sedan.


"Bahkan Papa malu memberikan nama keluarga di belakang nama anakku!" Ucapnya pelan lalu meneteskan air bening dari kedua matanya.


Memang betul, Papa Luky sangat tidak menyukai Gadis. Ia hanya tahu anak itu akan hanya mencoreng nama keluarga karena perbuatan Binar yang sudah melanggar norma dan adab.


"Binar, maafkan Papa, Nak! Papa sudah khilaf!" Papa Luky merangkul tubuh Binara.


"...Sabar dulu, Bin. Kendalikan perasaanmu." Sambung Alika.


"Iya betul, Bu. Bisa kami tahu tentang biodata lengkapnya, biar bisa kami samakan dengan anak yang kami cari?"


Ibu Melina mengangguk dan melihat lagi ke dalam buku.


By. Gadis Binara, lahir 20 Juni 2014 di RS Mutiara Bunda. Diserahkan oleh Tn. Luky Artanegara.


Seketika wajah mereka senyum merekah, ada pancaran kerinduan yang sebentar lagi akan sirna dari hati Binara.


"Iya benar Bu, itu putri saya. Lalu dimana dia sekarang? Saya ingin menjemputnya pulang!"


"Hemm..tapi Maaf Bu, anak ibu sudah di adopsi oleh keluarga Ny. Gweni sejak tiga tahun yang lalu--" Ibu Melina masih membaca sebuah keterangan di buku daftar anak panti.


"A-pa??"


Alika begitu saja merinding ketika Binar menghentak semua orang dengan suara nyaringnya.


Ia pun menyandar lemas ke sandaran sofa. Lalu menangis karena penyesalan.


"Sabar, Nak! Papa akan cari anakmu--"


"Pah, bagaimana kalau Gadis tidak ketemu?" Gadis memeluk sang Papa.


"Di adopsi Bu?" Alika mengulang kembali pertanyaannya.


"Tapi disini kami juga mencatat alamat Ny. Gweni, Mba!" Jawab Bu Melina.


Binar pun menoleh kembali. "Boleh saya minta alamatnya Bu?"


"Baiklah, karena saya percaya kalian adalah orang-orang baik maka saya akan memberikannya, tunggu sebentar!"


Ibu Melina langsung menyalin alamat rumah orang tua asuh Gadis di secarik kertas.


"Makasi ya Bu." Alika mengambil kertas itu. "Oh iya sebentar..." Ia pun membuka tasnya untuk meraih sebuah amplop yang sudah berisi cek.


"Isinya memang tidak seberapa, tapi semoga bermanfaat untuk kelangsungan panti. Anggap saja sebagai tanda terima masih karena keponakan saya pernah diurus disini." Alika menyerahkan amplop itu kepada Ibu Melina.


Binara dan Papa Luky seketika terkejut dengan perbuatan Alika barusan.


"Kak?"


"...Nak?"


Ucap Papa dan Adiknya bersamaan. Alika hanya memberikan senyum hangat. Binara dan Papa Luky begitu terharu.


"Pah, Kakak sangat sayang kepada anakku!"


"Iya Nak, itulah Kakakmu..."


"Terima kasih banyak Mba, saya sebagai perwakilan dari anak-anak panti mengucapkan banyak-banyak terima kasih." ucap Ibu Melina dengan rendah hati dan wajah amat bahagia.


"Ya sudah kalau begitu Bu, kami mohon pamit."


"Baik, Mba, Pak. Kalau ada yang ingin ditanyakan, kami siap untuk membantu!"


Alika serta Papa dan Adiknya pun berlalu dari panti. Ibu Melina mengantarnya sampai gerbang lalu kembali masuk kedalam. Ia membuka amplop dan mengambil secarik cek disana.


Alika Artanegara, 300 Juta


"Masya Allah, Tabarakallah!!"


Sorai gembira dan ucapan syukur tercuat dari bibir Ibu Melina. Seperti ada air mata yang begitu saja menetes dari kedua ekor matanya.


"Alhamdulillah Ya Allah, saya doakan kalian secepatnya menemukan anak yang kalian inginkan, Aamiin!"


Mereka bertiga sudah masuk kedalam mobil, masih seraya berfikir langkah apa yang selanjutnya akan diambil.


"Jauh juga ya alamatnya." Binara melihat alamat dikertas yang tengah ia pegang.


Alika masih melihati bajunya yang sudah basah di area dadanya.


"Aduh aku lupa bawa pumping nih, jadi air asi nya merembes--"


"Wah iya Kak, basah banget!"


"Kita pulang aja dulu ya, Bin. Kasian Kakakmu, sudah harus menyusui Ammar, besok kita akan pergi ke alamat orang tua asuh Gadis!"


"Udah Pah, nggak apa-apa. Aku sudah punya stok asi dirumah untuk Ammar. Kira tetap cari Gadis sekarang!" Sahut Alika.


"Jangan Kak, nanti buah dada kamu sakit karena asi tidak dikeluarkan. Aku dulu merasakannya ketika Gadis---"


Binara menghentikan ucapannya, ia hanya bisa mendesah panjang dan menangkupkan wajahnya di stir mobil.


Ia ingat bagaimana ketika Gadis lahir, ia sama sekali tidak di ijinkan memberi asi untuk bayi itu. Air asi yang terus keluar, membuat buah dada Binar menjadi bengkak dan sakit.


Papa Luki hanya bisa menatap nanar sang anak. Kesalahannya yang begitu fatal kini terus membawa luka untuk putri dan cucunya yaitu Binara dan Gadis.


Begitu pilu!


Gadis yang masih bayi harus dipisahkan dari ibu kandungnya menetap dalam panti dan sekarang diadopsi oleh orang yang tidak tahu bagaimana perangainya.


Alika memberi pelukan kepada adiknya. Terus menguatkan dan membesarkan hati Binara.


"Makasi ya, Nak. Papa sayang sekali sama Alika dan Adikmu---"


Batin Papa Luky begitu lirih, ketika melihat kedua putrinya saling membantu dalam kesusahan. Semoga saja usaha kalian dalam menemukan Gadis, tidak akan mengalami hambatan.


****


"Sayangnya Mama, Ammar haus ya Nak?"


Alika masih menggendong Ammar untuk menyusuinya, bayi itu terlihat haus sekali. Bunyi decitan mengecup begitu saja terdengar dari mulut Ammar.


"Pelan-pelan sayang--" Alika terus mengajak Ammar bicara.


Maura masih duduk di sofa dengan sekumpulan bonekanya, ia hanya melihati Mamanya tanpa banyak bicara. Lalu Alika memanggil.


"Sayang, sini Nak!"


"Iya, Mah."


Maura turun dari sofa dan menghampiri Mamanya yang masih duduk di tepian ranjang.


"Mama sayang ya sama Ammar?" Maura membawa arah mata Alika untuk melihat anak laki-laki yang sedang ia susui.


Alika berfikir sebentar, ia tahu apa arti dalam pertanyaan Maura. Ia pun teringat ketika Maura cemburu karena mendengar Alika memanggil anak lain dengan sebutan sayang.


"Iya, Mama juga sayang sama Maura."


"Kalau Mama sayang sama Maura, berarti Mama nggak boleh panggil sayang ke Ammar--" cicitnya sendu. Ia terus menempelkan wajahnya dilengan sang Mama.


"Iya Nak, Mama hanya akan manggil sayang ke Maura. Sini, cium Mama!" Alika tahu anaknya sedang cemburu.


Maura pun berjinjit untuk mencium pipi Alika. "Muach..."


Walaupun Maura sebentar lagi akan masuk sekolah, tapi ia adalah anak rumahan yang sangat lugu. Yang ia tahu, Alika adalah Mama sekaligus temannya. Tidak boleh mengucap sayang selain kepadanya dan Bilmar. Walaupun Ammar juga adiknya, namun untuk mencintai Ammar, mungkin Maura butuh waktu.


Kring


Dering ponsel Alika berbunyi.


"Tolong Nak, ambilkan ponsel Mama--" Alika menunjuk ponselnya yang tergeletak di meja kepada Maura.


"Iya Mah!"


Setelah mendapatkan ponsel sang Mama, Maura pun kembali untuk memberikannya.


Myhusband Incamming Call


"Siapa, Mah?" tanya Maura ingin tahu.


"Papa, Nak. Mama angkat dulu ya."


"Hallo sayang..."


"Iya, Bil. Ada apa?"


"Kamu sudah pulang, Al?"


"Iya Bil, aku sudah dirumah. Kenapa memangnya?"


"Aku ingin mengajakmu makan malam keluar, bisa ya?"


Alika terdiam sebentar, bola mata nya digerakkan bergantian untuk memandangi wajah Maura dan Ammar.


"Sama anak-anak?"


"Berdua aja sayang, anak ditinggal dulu dirumah. Bentar aja, Al. Aku kangen sama kamu, kita udah lama nggak pergi keluar."


Karena tidak mendengar jawaban balik, Bilmar bersua kembali.


"Bagaimana sayang? Nanti aku jemput jam 7 dirumah ya, kamu sudah harus rapih. Biar kita pulang nggak terlalu malam!"


Alika merasa, ia juga butuh refreshing, makan malam berdua dengan suami tentu bukanlah hal yang dapat dilakukan setiap hari.


"Iya sayang, mau dimana? Biar aku aja yang langsung kesana, jadi kamu nggak usah bolak-balik."


"Di Gaga Cafe ya, restoran kesukaan kamu!"


"Iya sayang, baiklah."


Tutt...sambungan telepon terputus.


Maura terus menatapi wajah sang Mama dan Alika hanya bisa mengigit bibir bawahnya seraya berfikir, kalimat apa yang bisa ia berikan kepada putrinya yang cerdas ini, agar di ijinkan pergi.


Semoga saja Maura bisa mengerti dan semoga saja Bilmar dapat datang tepat waktu sesuai kesepakatannya dengan sang istri.


Jangan lagi buat Alika kecewa, Bilmar!


****


.


.


.


.


.


Bagi yang mau tahu bagaimana kisah Maura dan Gifali, sudah bisa baca di karya ku yang ke tiga ya, boleh cek profil ku❤️


Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Gifali Untuk Maura


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘