Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Napak tilas masa lalu


Hayy aku balik lagi nih.


Selamat sahur dan menajalani ibadah puasa


❤️❤️


selamat baca!🤗


***


Alika masih terlihat membuka-buka sejumlah barang yang ia beli beberapa di toko perbelanjaan tadi. Tubuhnya duduk menyila diranjang dengan menggunakan pakaian tidur tipis hadiah seserahan Bilmar yang sempat ia buang kemarin. Mau tidak mau ia harus bisa menghargai apa yang dibelikan oleh sang suami.


Lalu Bilmar, dimanakah dia?


Dia terlihat sedang menggosok rambut Alika dengan handuk, duduk menyila pula dibelakang tubuh sang istri. Ia dapat melihat lekukan tubuh mungil Alika yang begitu mulus dan putih seperti susu kental manis.


Sepertinya lelaki ini masih dimabuk kepayang karena telah mendapatkan hak nya kembali pada saat mereka mandi bersama barusan.


Ini semua terjadi karna Alika berteriak dari bilik kamar mandi pada saat matanya tertutup sabun lalu tanpa sengaja ia memutar keran ke arah air panas. Bilmar pun refleks masuk kedalam dan membantu sang istri, namun sepertinya bantuan Bilmar harus ada bayarannya, ia langsung menyergap Alika tanpa perlawanan berarti.


"Sayang..?"


"Hmm?" jawab Alika masih melihat-lihat belanjaan yang ia beli.


"Aku ingin---"


"..Kamu mau lagi Bil? besok aja ya, aku capek banget!" jawab Alika memelas.


"Hah?" Bilmar menghentikan gerakan tangannya lalu berfikir. "Oh bukan sayang, aku ingin berbicara yang lain sama kamu. Kalau masalah yang itu---" Bilmar tertawa berbisik "Kamu capek juga nggak masalah, kamu tinggal diem aja. Aku yang beraksi!" Bilmar tertawa hebat.


"Iih, kamu..!" Alika menolehkan setengah kepalanya dengan mengangkat setengah kepalan tangannya ke udara.


"Eitt..! jangan dipukul lagi ah, yang ini aja masih linu." Bilmar merintih, pura-pura masih kesakitan. Sontak Alika terenyuh dengan ucapan sang suami, ia pun membalikkan tubuhnya ke arah suami. Meninggalkan dulu sejumlah barang-barang yang tengah ia periksa diatas ranjang.


Posisi mereka kini saling berhadapan, duduk saling menyila. Bilmar tidak berhenti meletakan kedua matanya di dada Alika yang begitu semu tanpa memakai bra di balik baju tidur yang tipis.


Jangan bilang, ia akan meminta kembali hak nya setelah ini.


"Aku tuh nggak akan kasar dan brutal kalau kamu nggak genit sama cewek!" Kedua tangan Alika memegang kedua pipi Bilmar dengan tatapan penuh penyesalan sudah menampar lelaki ini sebanyak dua kali selama disini.


Dahi Bilmar terlihat menciut beberapa lipatan kedalam.


"L--loh aku emang nggak genit kok sama cewek lain, aku tuh genit nya cuman sama kamu." ucap Bilmar dengan senyum menggoda. Kedua tangannya memegang tangan Alika yang masih bertengger dikedua pipinya.


Berbeda dengan Alika yang masih diam berdecak melihati wajah sang suami.


"Oke gini, aku akan cerita semuanya sama kamu tentang kejadian yang kemarin terjadi di lift!" Bilmar merubah suara nya menjadi lebih teratur dan tertata.


Alika menurunkan kedua tangannya dari pipi sang suami dengan melipat ke arah dada miliknya.


"Oke aku dengerin!" tatapan Alika mulai serius.


"Aku mulai dari Mamanya Maura ya?" ucapan Bilmar terhenti untuk melihat reaksi dari kedua mata Alika, dilihatnya wanita ini tegap lalu menganggukan kepalanya. Ia berujar lagi.


"Namanya Kannya Wiryawan. Umur Kannya lebih tua satu tahun diatas aku. Dia itu dulu senior yang ngospek aku waktu masuk kuliah pertama kali. Kebetulan jurusan kami sama dan Apartemen yang kita tinggali juga cuman beda lantai---"


"Terus kalian jadi cinlok?" selak Alika.


"...Tuh kan kamu, aku belum selesai udah dipotong!"


"Y-ya udah lanjut, ayo." Alika kembali memasang wajah serius.


"Kannya, Kaneysa, Frida dan Sandra itu adalah teman satu genk--"


"...Terus kamu pacarin semua nya?" tanya Alika menyelidik dengan mata melebar takjub, ia lupa lagi-lagi menyelak ucapan Bilmar.


Bilmar menghela nafasnya, memiringkan garis bibirnya.


"Oh ya maaf..maaf..ayo lanjut!"


Alika pun menoleh mengikuti arah tangan suaminya "Belum juga cerita, udah minta ini itu?" Lalu Alika turun berjalan kesana untuk membuatkan teh. Ia berdiri didekat meja yang berpapasan dengan kulkas.


Bilmar tidak berhenti melihati perawakan tubuh Alika yang sexy, padat dan mungil. Ia sedikit teringat dengan wajah Alika pada saat wanita ini sedang mengalami pelepasan satu jam yang lalu bersama nya di bath up. Sebagai lelaki ia sangat bahagia bisa memuaskan sang istri.


"Nih, ayo lanjutin lagi!" Alika menyodorkan secangkir teh kepada Bilmar, lalu ia tiup-tiup pelan agar tidak terlalu panas.


"Aku mulai lagi ya!" Alika mengangguk.


"Kaneysa sering dijodoh-jodohkan sama aku oleh teman satu genk mereka, setiap hari suka bawain bekal sarapan atau makan siang. Cuman ya aku nggak pernah menaggapinya, karena...?" Bilmar diam sebentar. "Aku masih kefikiran kamu banget, aku patah hati nggak habis fikir kamu pergi gitu aja nggak ada kabar, ya walau aku tau sekarang alasannya kaya gimana."


"Terus?"


"Hmm?"


"Udah kamu nggak usah nyeritain yang soal kita, tentang mereka aja!"


Bilmar tertawa sejenak.


"Pasti difikiran kamu tuh, udah aneh-aneh deh mikirnya! hahhaa, ayo ngaku!"


"Isshh.."


"Ya udah nih lanjut. Setelah aku lulus kuliah, akhirnya Mama dan Papa bermaksud untuk menjodohkan aku. Awalnya aku nggak tahu calon istri yang dimaksud itu adalah Kannya. Kebetulan dia itu adalah anak dari temannya Papa. Ya mungkin biar kejayaan perusahaan makin berkembang, akhirnya aku dijodohkan sama dia. Padahal aku sama dia tuh sama-sama nggak suka karna Kannya sudah punya pacar dan dia juga yang suka comblangin aku sama Kaneysa!"


"Ya ampun...jadinya perang dong antar teman?" selak Alika. Bilmar mengangguk mantap.


"Kayak nya kamu capek deh, tuh liat mata kamu udah merah, apa mau tidur dulu?" tanya Bilmar.


"...Ihh Bil, kamu jangan buat aku mati penasaran sama cerita yang belum kelar itu!"


"Oke..oke. Aku lanjutin."


Alika kembali menatapi wajah Bilmar dan memasang telinganya dengan baik.


"Ya akhirnya kita nikah karna nggak bisa lawan kekuasaan orang tua, mereka ngancem akan cabut semua fasilitas yang udah dikasih ke kita. Awalnya aku sepakat sama Kannya untuk ngejalanin nikah selama tiga bulan aja, tapi disaat kita abis nikah ternyata Kannya baru tahu kalau pacarnya itu selingkuh, dia frutasi hampir nggak waras. Ya sebagai suami, mau nggak mau aku harus perduli sama dia dan aku harus ngerawat dia. Karna orang tua kami selalu menuntut ingin cucu, ya udah jadi deh ada Maura."


"Terus Kaneysa..?"


"Kaneysa marah banget sama aku dan Kannya. Dia ngerasa kaya dimainin sama teman nya sendiri, dia juga sempat ngacauin pernikahan aku sama Kannya. Dan semenjak itu Kanyesa, Frida dan Sandra ngejauhin Kannya dan mutusin persahabatan mereka!"


"Kannya tambah frustasi, udah diselingkuhin sama pacar terus dijauhi teman-temannya karna aku, dan dia nggak bisa terima kalo udah hamil di umur segitu. Sampai aku tahu kalau dia coba minum obat penggugur kandungan, karna emang dia nggak mau Maura hidup. Setelah kematian Kannya sehabis melahirkan, teman-temannya kembali datang untuk merasa bersalah dan menyesal. Dan Kaneysa tetap deketin aku sampai sekarang!"


"Terus dengan Frida, kenapa dia bisa sampai cium kamu di depan lift? hmm..kayanya dia suka sama kamu?"


"Oh yaa lupa aku jelasin tentang Frida. Jadi Frida itu aku bantu saham mantan suaminya, karna katanya hampir mengalami kebangkrutan. Pada saat itu mereka masih menikah, entah ada hal apa lalu bercerai. Suaminya ninggalin dia, dan bawa uang saham yang aku pinjami. Akhirnya Frida merasa bersalah dan akhirnya...minta aku nikahin dia, dia bilang kalau mau jaga Maura."


"Terus?? kamu nikahin dia?"


"Y-ya nggak lah, kalo udah nikahin dia. Aku nggak mungkin sekarang nikahin kamu sayang.." tukas Bilmar sambil mengecup bibir Alika yang masih tercengang.


"...Hmm..bisa aja kan Bil, mereka datang lagi untuk rebut kamu? apa harga nya aku dibanding mereka? mereka jauh lebih terhormat!" ucap Alika dengan wajah sendu.


"Nggak usah difikirin, aku tuh mau nya cuman sama kamu, cinta aku itu buat kamu! aku sama Maura bersyukur udah dikasih sosok wanita kaya kamu dihidup kami."


Wajah sendu Alika kemudian berubah menjadi wajah bahagia berbinar-biar ia pun langsung memeluk Bilmar dengan cepat. Ia merasa beruntung tetap menjadi pilihan dibanding wanita-wanita itu.


Berbeda dengan Bilmar, wajah nya tetap menatap lurus sudut kamar dengan serius, ia terlihat masih menyembunyikan sesuatu dari sang istri. Entah apa yang masih didalam benaknya, yang jelas saat ini ia sangat bahagia karna sudah memiliki Alika dengan utuh.


***


Aku terharuu banget sama komenan positif kalian, dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗


Kaya biasa


Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.


thankyou❤️😘😘