
Haiii selamat pagi guys.
Aku kembali
Oke deh selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Kini mereka sudah berkumpul di ruang keluarga. Disebuah sofa panjang. Di sisi kanan sudah ada Diego, Gadis dan Ny. Gweny. Di hadapan mereka sudah ada Bilmar, Alika dan Binara.
Wajah Diego sudah babak belur, terlihat bengkak-bengkak dan membiru disekitar mata, tulang pipi dan bibir. Gadis duduk dipangkuan sang Daddy sambil meletakan kepalanya dengan santai.
Sejatinya anak ini belum tahu betul mengapa banyak mata yang memandangnya. Diego masih terjaga memperhatikan Binara lalu bergantian kepada Alika.
Begitupun Ny. Gweny,dia juga melakukan hal yang sama masih terus berfikir ada hubungan apa Alika dan Binara. Tentu wajahnya terlihat sangat murka dan geram karna laki-laki yang berada ditengah mereka telah menghajar habis putranya.
Diego sesekali merintih nyeri di wajahnya. "Daddy, apakah masih sakit?" Gadis mendongakkan wajahnya lalu mengayuhkan tanganya untuk mengusap pipinya.
"Tidak sayang.." Daddy mencium pucuk rambut putrinya. Tentu pemandangan itu membuat Binara tertekan dan sakit. Wanita ini cemburu, ingin ia rengkuh anak itu dengan segera mungkin.
Tapi ia teringat kembali ketika beberapa saat setelah itu tangannya di tepis secara mentah-mentah.
"Berliana katakan siapa kamu? Lalu apa hubungan mu dengan mereka? Mengapa ada wanita sampah ini lagi disini?" Ny. Gweny beralih pandang ke arah wajah Binar.
Membuat Binar mendelik tajam dan mengepalkan tangannya. Alika masih dirangkul Bilmar, tangannya yang masih sedikit bergetar terus digenggam oleh suaminya.
Sebagai lelaki diantara mereka, Bilmar pun menjawab. Namun sebelum ia mengeluarkan suara, dengan cepat ada suara yang menyelak secara tiba-tiba muncul dari arah lain.
"Mereka anak-anak saya, Gweny! Berliana dan Binara adalah anak kandung saya...!"
Ada Papa Luky dan Rendi yang sudah datang. Mereka semua menoleh ke arah dua lelaki ini yang sudah berdiri. Rendi pun langsung menghampiri Binar dan duduk disampingnya. Sedangkan Luky langsung duduk di single sofa tanpa mengucap permisi terlebih dahulu.
Diego menatap sinis ke arah Rendi ketika ia menggenggam tangan Binara.
"Tenang ya, aku disini.." Ucap Rendi, membuat Binara mengangguk dan tersenyum. Rendi kembali menatap Diego, dua lelaki ini saling bersitatap dengan rahang yang mengeras.
"Hem..." Deheman kencang terdengar dari Papa Luky.
Semua mata kembali beralih kepadanya.
"Luky?"
"...Om?"
Seru Ny. Gweny dan Diego secara bersamaan. Mereka percaya jika Binara memang putrinya, tetapi Berliana? Bagaimana mungkin? Sedari dulu mereka hanya tahu bahwa Luky Artanegara hanya mempunyai satu anak.
"Kak, gimana bisa kamu ada disini bersama Papa?" bisik Binara. Rendi tersenyum. "Aku dan Papa bekerja sama untuk memantau kalian dari jauh dan sebelum kamu pergi, aku memasang Gps di mobil mu dan mobil Bilmar---"
Bisikan itu sedikit terdengar ke daun telinga Alika dan Bilmar. Mereka berdua mendelikan matanya tidak percaya.
"Hem..." Papa Luky kembali berdehem, membuat semua orang kembali diam dan hening. Lelaki paru baya itu membuka suaranya kembali.
"Maaf Gweny, jika anak-anak saya kembali membuat luka dihati kamu dan juga...Diego." Papa Luky menatap dalam kedua mata lelaki itu. "Saya tahu hati kamu hancur dengan sikap Binara waktu itu---"
"Ma-maksudnya apa Pah? Kalian semua sudah mengenal Ny. Gweny dan Diego??" Alika mengedarkan tatapannya ke arah Binara, Bilmar dan Papanya.
Binara mengelus pundak sang Kakak dan Bilmar pun mengangguk.
"Hah? Kok bisa?" Alika mendesah frustasi, ia kembali melongo tidak percaya.
"Biar nanti adikmu yang jelaskan.." Sahut Papa Luky.
"Iya Kak, nanti ya.." Sambung Binara.
Papa Luky menghela nafas panjangnya, mengumpulkan beberapa energi nya untuk bisa mengeluarkan suara kembali.
"Saya disini ingin meminta maaf atas penyamaran yang anak saya lakukan---"
"Hah??" Jika sejak tadi hanya Alika yang kaget namun saat ini Bilmar dan Binara pun ikut tersentak.
"Kok Papa tau kalau Kakak menyamar?" Seru Binar.
Alika dan Bilmar pun ingin ikut bersua, tetapi ia hanya menurut mendengarkan dulu penjelasan dari sang Papa.
"Ren, tenangkan istrimu..." Seru Papa Luky. "Tenang dulu sayang.." Rendi menenangkan Binara.
"Aku dan Papa sudah lebih dulu tahu kalau Gadis berada didalam rumah ini. Papa mencari informan untuk menyelediki keluarga angkat Gadis. Namun ketika kami ingin melangkah. Kalian sudah lebih dulu maju. Maka aku dan Papa hanya bisa melihat dulu sampai dimana aksi kalian!" Ucap Rendi menjelaskan masih dengan suara berbisik.
Diego menoleh ke arah Binara.
"Dia Suamimu, Bin?" Selak Diego menatap Binara. Ia merasa kaget dan terperangah.
"Iya saya suaminya Binara!" Rendi menatap dingin ke arah Diego.
"Diego.." Panggil Papa Luky. Diego pun beralih untuk menatap lelaki ini.
Alika terlihat semakin membulatkan kedua matanya. "Apa maksudnya, Bil? Apa hubungan mereka dulu?" Bisik Alika. Bilmar hanya mengelus tangan sang istri untuk tenang sebentar. "Nanti akan aku jelaskan, sayang.." Balas Bilmar berbisik.
Diego kembali menatap Alika tidak suka, ia kecewa karena sudah dibohongi.
"Hem..." Papa Luky kembali berdehem, membuat semua orang kembali hening.
"Saya tahu Binara sudah menghancurkan hati kamu, walau ini semua bukan kemauannya. Dan karena sikapnya lah yang membuat saya kecewa. Akhirnya saya bersikap tidak logika kepada kenyataan yang sebenarnya..."
"Tega membuang cucu sendiri ke panti asuhan. Dikala itu saya masih diliputi rasa kecewa dan malu jika aib Binara di dengar oleh media dan khalayat ramai. Saya masih belum siap jika nama Artanegara menjadi pembicaraan banyak orang.."
"Maka sejak Binara melahirkan putrinya, saya masukan Gadis ke panti asuhan. Sejatinya saya tidak begitu saja membuangnya, saya tetap pantau cucu saya. Saya tetap memberikan uang ke panti untuk menjaga Gadis!"
"Namun entah mengapa diluar sepegehtahuan dan kesibukan saya. Gadis terlepas begitu saja dari pandangan saya. Karena melihat kondisi Binara yang semakin depresi berat kala itu, saya memutuskan untuk membiarkan Gadis di panti asuhan sampai waktunya akan saya bawa kembali. Namun saya kalah cepat karena sudah ada orang yang mengambilnya dari panti."
"Saya memang salah, tidak menyelediki siapa orang tua asuhnya. Semenjak saat itu saya membiarkan Gadis pergi begitu saja---"
"Maksud Om? Marsela----?" Helaan nafas Diego semakin berat, ia terus mendekap erat putrinya. "Daddy?" Seru Gadis polos.
"Iya Diego, Marsela adalah Gadis! Dia adalah ANAKKU!" Binara menyelak cepat, mulutnya sudah tidak tahan untuk mengungkap semua ini.
"Ini mungkin terdengar terlalu egois untukmu, Diego. Tapi ini juga bukan kemauanku, aku ingin mengambil kembali putriku. Anak yang aku lahirkan sendiri dari rahimku!" Sambung Binara sambil menangis terus meminta belas kasih Diego.
"Tidak, Binar! Marsela tetap anakku, aku yang membesarkannya!"
Diego tetap memeluk erat Gadis, sampai anak itu terlihat meringis. Gadis terus menatap Binara dan Diego secara bergantian, anak ini masih belum mengerti.
"Daddy?" Seru nya lagi.
"Sini sayang sama suster..." Alika beringsut ingin menggendong Gadis.
"Jangan sentuh anakku! Kamu penipu Berlian!!" Diego menghentak Alika, tentu hal ini membuat Bilmar panas.
"Kurang ajar kamu!" Bilmar mengerang, seketika ingin bangkit namun Papa Luky dan Rendi melerai.
"Tenang, Bil! Cukup.." Papa Luky berucap lembut kepada menantunya. Alika kembali membawa Bilmar untuk duduk kembali.
"Sudah jangan pukuli anak saya lagi, kamu bisa saya laporkan kepada polisi karena sudah memukul anak saya!" Ny. Gweny menatap benci kepada Bilmar lalu ia beralih kepada Alika. "Dan kamu pun akan saya laporkan karena sudah menipu keluarga kami!"
Bilmar tertawa puas. "Laporkan saja, saya tidak takut. Anda harus tau, bahwa saya juga bisa menuntut anak anda balik!"
"Apa maksud kamu?" Ny. Gweny semakin garang.
"Saya akan menuntut Diego ke jalur hukum atas tindakan percobaan pemerkosaan kepada Berliana! Dan penganiayaan yang telah anda lakukan kepada keponakan saya!"
"APA?" Suara Papa Luky begitu nyaring terdengar mana kala tahu apa yang diperbuat oleh Diego.
Beda hal dengan Ny. Gweny yang kelihatan berubah takut ketika kelakuannya selama ini diketahui.
Papa Luky dengan cepat bangkit untuk menghajar Diego.
"Kurang ajar kamu! Berani-beraninya ingin menyakiti putri saya!" Langkah Papa Luky dihalangi cepat oleh Rendi.
"Pah sabar dulu. Papa yang tenang, jangan seperti ini!" Rendi tetap menenangkan Papa Luky. Lalu sang menantu pun berbisik. "Jangan melakukan pukulan lagi Pah, nanti tuntutan hukum kepada kita akan semakin banyak--"
Papa Luky seketika tenang, ia pun kembali duduk untuk mengatur ritme nafasnya. Rendi tetap berdiri disamping Papa mertuanya untuk menjaga agar lelaki ini tidak lepas kendali. Papa Luky begitu kaget ketika anak yang ia sayang ingin dirusak oleh orang lain. Ia tidak terima.
"...Dan kamu Diego! Kamu harus tahu, bahwa Berliana adalah ISTRI saya!" Suara Bilmar kembali membuat geger hati Diego. Ia tidak percaya kalau Berliana sungguh-sungguh menipunya amat dalam.
"Maafkan aku Diego, bukan maksud ku untuk menipu kamu. Tapi demi Allah, aku melakukan semua ini hanya karena aku ingin mengenal dekat dengan Marsela. Aku ingin tau bagaimana kondisinya dan tentang keluarga yang mengadopsinya." Alika menjelaskan dengan lembut.
"Satu hari sebelum aku menyamar. Aku, Binar dan suamiku telah mendatangi rumah kalian yang berada di Sukabumi. Kami bertemu dengan Kak Tatiana dan ia memberikan alamat kalian kepada kami."
"Kami pun langsung bergegas untuk datang kemari. Namun para penjaga menolak, karena Ny. Gweny sedang sakit tidak bisa diganggu. Karena kami fikir yang mengadopsi Gadis adalah Ny. Gweny bukan kamu!"
"Maka dengan segala pertimbangan panjang, aku menyamar menjadi Perawat agar bisa melakukan pendekatan kepada Ny. Gweny."
"...Namun aku kembali tidak tidak menyangka kalau kamu lah yang selama ini mengasuh dan merawat Marsela. Menjadikan diri kamu sebagai Daddy untuk Marsela. Dan soal pertemuan kita di kafe itu memang benar, aku lah yang kamu lihat waktu itu!"
Kedua mata Diego membulat maksimal, ia terus menatap Alika dalam keheningan. Entah mengapa kelembutan dari penjelasan Alika tiba-tiba membuat kekuatannya semakin melemah. Ia tidak bisa menyanggah.
"Aku juga seorang Ibu, Diego. Aku mengerti sekali bagaimana perasaan adikku yang selalu teringat dengan anak yang ia lahirkan. Maka dari itu, aku melakukan penyamaran ini hanya demi dia, demi adikku bahagia kembali!"
"Tolong Diego, kembalikan Gadis kepada kami. Ia mempunyai hak untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungnya...Apalagi Ny. Gweny tidak menginginkan keberadaan Gadis!" Alika menatap benci kepada Ny. Gweny.
"Dan Kamu lihat keadaan Gadis sekarang! Dia harus sembuh Diego! Dia anak perempuan, apa kamu tidak tega jika melihat dia menjadi cacat permanen?"
"Tapi aku bisa menjaganya dan merawatnya. Aku akan membuat Sela sembuh dengan tanganku sendiri!" Diego tetap bersikeras, ia tidak mau melepas Gadis begitu saja.
"Tapi Ibu nya masih hidup! Binara lah yang berhak atas Gadis!"
"Sela tidak butuh Ibu. Selama ini ia tetap bahagia walau hanya hidup denganku. Aku lah Daddy nya, aku lah orang tuanya!"
"Kata Dokter Gadis perlu sosok Ibu! Anak itu butuh IBU KANDUNGNYA!!"
Alika menghentak nyaring. Membuat siapa saja yang mendengar menjadi merinding. Kedua matanya menyala-nyala. Binara tetap menangisi nasib anaknya yang seperti ini.
****
B : Besok-besok jangan main nyamar-nyamaran lagi yaa?
A : Iya, Bil❤️