
Haiii selamat pagi guys.
Aku kembali
Oke deh selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Keadaan diantara mereka masih menegang. Diego tetap bersikeras dengan pendiriannya untuk tetap mempertahankan Gadis. Ego yang dimiliki Diego memang bisa dianggap benar saat ini.
Kenyataannya memang ia lah yang telah merawat, mengasuh dan memberi rasa aman untuk Gadis. Tentu selama empat tahun mengadopsi, jiwa antara Ayah dan Anak sudah terjalin dengan kuat.
"Menurut penjelasan dari panti asuhan, kalian hanya diberikan hak asuh saja. Tidak ada penguatan hukum didalamnya. Jadi Gadis tetap bisa diambil kembali oleh orang tua kandungnya.."
Rendi menyodorkan bukti tentang pernyataan hak asuh atas Gadis dari panti asuhan.
"Baca saja dulu, anda pasti akan faham!" Rendi meletakan berkas dokumen di atas meja.
Diego pun mengambilnya dan membacanya cepat. Kesalahannya adalah tidak langsung membuat penguatan dihadapan hukum sebagai ayah angkat.
Namun Diego akan tetap kalah karena salah satu syarat mengadopsi anak dihadapan hukum adalah orang yang sudah menikah atau sepasang suami istri.
"Apa lagi dengan keadaan Gadis yang seperti itu. Kamu akan dianggap lalai dalam menjaga anak. Sudah pasti kamu tidak akan bisa mendapatkan hak angkat untuk Gadis."
Begitu pintar dan cerdasnya Rendi ketika menjelaskan posisi Diego saat ini. Lelaki itu kalah telak, mau bagaimanapun ia meronta. Tetaplah Gadis akan terlepas dari tangannya.
Diego melempar berkas itu ke lantai, ia kembali mendekap Gadis dan menciumnya kembali. Semua yang menatap merasa begitu perih dan tersiksa. Karena akan memisahkan kasih sayang diantara mereka berdua.
"Daddy?"
Gadis mengusap-usap pipi Diego. Ia tetap bermanja dalam pangkuan Daddy nya.
"Kenapa Binar? Kenapa harus aku yang kamu sakiti?" Desah Diego parau menatap Binara. "Dulu aku sangat menginginkan kamu menjadi istriku dan aku kehilangan kamu! Lalu sekarang kamu ingin kembali membuat aku kehilangan dengannya?" Diego membawa arah mata Binar untuk menatap Gadis.
Anak itu hanya menatap polos orang yang terus melihat nya dengan tatapan sedih.
"Diego sungguh, demi Tuhan. Ini semua diluar kendaliku..." Sergah Binar.
"Sudah Nak, walaupun kamu mencintai Marsela. Tetap saja ia bukan anakmu. Ada ibu nya yang lebih berhak. Mami yakin kamu pasti akan mendapatkan keluarga yang lebih baik. Sayangi dirimu, Nak. Lepaskan lah Marsela..." Ucap Ny. Gweny.
"Selama ini sebenarnya Mami sangat sayang dengan Sela. Tapi karena kecelakaan Papamu dan keadaan kamu yang belum juga menikah, membuat Mami kecewa dan hanya bisa melampiaskan kekecewaan ini kepada Sela!"
"Mami mohon sama kamu, tata hidupmu kembali, Nak. Lepaskan Binar dari ikatan hati dan jiwamu. Masih banyak wanita yang tulus akan menerima kamu menjadi bagian dari hidup mereka----"
Kelembutan Ny. Gweny begitu saja terpancar ketika terus membujuk dan meyakini putranya. Semua yang mendengar menjadi merasa iba.
Terlebih lagi Binar, ia merasa sesak melihat hidup Diego yang berantakan karena ulahnya. Lebih baik seperti ini, dari pada dulu jika ia tetap menikah dengan Diego. Membelenggu lelaki itu dengan aib yang ia buat sendiri.
Sesungguhnya ia bersyukur karena kedatangan orang tua kandung Gadis telah datang, tentu ia merasa Diego akan bisa memulai hidupnya kembali dari awal dengan keadaan pria single.
Diego hanya diam, ia belum bisa menjawab apapun. Tubuhnya terasa lemas, tatapannya terasa kosong. Kepalanya sakit dan wajahnya masih terasa perih dan linu karena berbagai olesan luka yang sudah di tuai oleh Bilmar.
"Kalian pergi saja dulu, Diego masih butuh waktu. Saya akan membujuknya dulu dan memberi segala pengertian. Tentu ini semua butuh proses!"
"...Anak saya perlu merenungkan dulu masalah ini. Kalian juga jangan risau dan takut, kami tidak akan mangkir atau kabur menyembunyikan Marsela. Karena kami tau kalian lah yang lebih berhak untuk Marsela!"
Dengan sangat berat hati karena belum mendapatkan jawaban dari inti permasalahan, keluarga Artanegara akhirnya menyetujui untuk memberikan waktu kepada Diego.
Bagaimanapun ada Gadis yang harus bisa diberikan pengertian bahwa Binara lah ibu kandungnya, tempatnya untuk kembali dan berteduh. Sedangkan Diego hanyalah orang tua asuh yang hak nya sangat rendah dibanding Binara.
****
Binara takut kalau Gadis tidak bisa kembali kepadanya.
"Sabar, Bin. Gadis pasti akan kembali ke kamu. Betul memang apa kata Gweny, Diego butuh waktu. Kami harus faham itu!" Ucap Papa Luky sambil menimang dan menciumi Ammar, cucu lelakinya.
"Iya Bin, tenanglah. Kamu harus bersikap positif, doakan terus Diego agar hatinya bisa cepat berubah, mau melepas Gadis dengan mudah..." Sambung Bilmar.
Jika semua menenangkan Binara namun berbeda dengan tatapan Alika yang sekarang terlihat kosong. Rendi mengangkat dagunya kepada Bilmar seraya membawa arah mata Bilmar untuk berbalik menatap wajah istrinya.
Ada apa dengan Alika?
Wanita itu terlihat pucat, tubuhnya terasa gemetar dan dingin. Kedua tangannya mengepal kuat, ia memang melamun sejak diperjalanan pulang.
"Kamu kenapa sayang?" Ucapan dan sentuhan Bilmar begitu saja membuat Alika seketika histeris.
Ia menepis tangan suaminya dan menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya. Kedua kakinya dinaikan ke atas sofa.
"Jangan---Jangan! Jangan sentuh aku! Aku mohon!!" Ucapan Alika terlihat seperti orang ngawur.
Ia terlihat sangat ketakutan. Sepertinya bayang-bayang yang telah Diego lakukan kembali bertahta dan merusak akal sehatnya.
"Kamu kenapa, Al? Ini aku...!" Bilmar mencoba kembali meraih tubuh istrinya. Namun seketika Alika menolak dan menghindar.
"Jangan Danu...Jangan Diego...!! Jangan lakukan itu!"
Alika terus merancau orang-orang yang pernah membuatnya hampir masuk kedalam keterpurukan. Hampir merenggut kehormatannya. Ia terus bersikap takut, kedua matanya hanya bisa menatap ke lantai. Ia tidak bisa diajak bicara.
"...Sayang?"
"Kak?"
"Alika..?"
Bilmar, Binara, Papa Luky dan Rendi terus memanggil namanya, agar wanita ini cepat sadar dari bayangan-bayangan gelap itu. Papa Luky meletakan Ammar dulu di box. Lalu ia berjalan untuk mendekati putrinya.
"Alika kenapa Nak? Kamu takut apa?" Tanya sang Papa. Ia masih mengelus-ngelus punggung anaknya.
"Takut Pah, aku takut!"
Alika terus mengepalkan kedua tangannya dan menggigit bibir bawahnya. Kedua matanya hanya bisa menatap lurus ke satu arah. Bahkan ia tetap bergeming ketika mendengar tangisan Ammar di telinganya.
"Kamu kenapa sih?" Bilmar mendesah frustasi. "Sadar sayang, hey!!" Bilmar menghentak paksa bahu Alika agar mau menoleh kepadanya.
"Bil, jangan! Alika sedang trauma!" Ucap Rendi.
Binar pun bangkit dan beringsut mendekati sang Kakak yang masih terlihat histeris di dekapan sang Papa.
"Kak, maafin aku ya. Karena aku kamu jadi kayak gini..." Binara menangis kembali. Ia merasa seperti wanita pembawa masalah. Bisa membuat Kakaknya seperti ini.
"Ya allah Alika...." Desah Bilmar. Lelaki ini mengusap kasar wajahnya, menghembuskan nafasnya secara kasar ke udara. Memejamkan kedua matanya lalu membukanya lagi dengan cepat. Bilmar bangkit dan mendekati Alika, meraih paksa tubuh istrinya.
"Sayang, kita ke kamar ya, kamu butuh istirahat! Tenang ada aku disini..."
Alika yang masih melamun sambil terus gelisah hanya bisa pasrah ketika tubuhnya digendong begitu saja oleh Bilmar. Papa Luky juga tidak bisa mencegah apa yang dilakukan oleh Bilmar kepada putrinya itu.
"Tolong telepon Dr. Beny, Bin! Suruh cepat datang!"
"I-ya Kak, baik!"
Bilmar melangkah membawa Alika ke kamar meninggalkan semua orang begitu saja disana. Ia sangat cemas melihat sikap Alika. Kedua mata Bilmar terlihat berkaca-kaca menatap keadaan istrinya yang seperti sekarang.
"Keparatt Danu! Keparatt Diego!" Bilmar terus memaki dua lelaki yang membuat istrinya terguncang hebat seperti ini.
*****
Tenang ya sayang, ada aku..