Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Binara,bangun Nak!


Hayy kesayangan, aku balik lagi nih🖤🖤


yuk guys mari bacaa


🤗🤗


***


Sehabis makan siang. Bilmar membawa Alika untuk kontrol luka pasca operasi serta ingin mengecek kembali mengenai kandungan istrinya saat ini.


"Selamat ya, Bu, Pak. Janinnya sudah terlihat, usianya sudah mau masuk 6 minggu. Detak jantungnya sudah ada." ucap Dokter masih menggerakan krusor diperut polos Alika.


"Alhamdulillah Ya Allah." Bilmar dan Alika mengucap syukur bersamaan.


"Ya sudah, tolong sus. Ibu nya dibantu!" Dokter meminta Perawat untuk membantu Alika turun dari ranjang periksa.


Dokter mengakhiri pemeriksaan daan kembali ke mejanya dengan membawa hasil prinant usg.


"Karena kandungannya masih muda, saya sarankan untuk tidak melakukan hubungan intim dulu sampai kandungannya benar-benar kuat."


Kening Bilmar mengerut-ngerut, kedua bola matanya terus menatap Dokter dalam-dalam.


"Sama sekali nggak boleh Dok?"


Sebelum Dokter menjawab, dengan cepat ia pun bertanya kembali. "Sampai kapan ya Dok?" tanya nya menyelidik.


"Biasanya tiga sampai enam bulan dianjurkan untuk tidak berhubungan intim dulu, supaya janinnya tidak mengalami resiko atau seperti mengalami pendarahan atau semacamnya."


Alika hanya bisa mengelus punggung Bilmar. Ia tahu ini akan berat untuk sang suami. Tapi ini juga hal yang terbaik untuk anak mereka. Alika sudah berkali-kali mengutarakan hal ini kepada Bilmar, namun suaminya susah untuk menahan gejolak hasratnya.


Karena ketika Kannya hamil, Bilmar tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Jadi ia tidak mendapat ilmu seperti ini dulu. Baginya tidak masalah jika sedang hamil berhubungan badan.


Bilmar menghela nafasnya. "Baik Dok, demi keselamatan Istri dan Anak saya, kami akan mematuhinya!"


Alika menggenggam tangan Bilmar dengan penuh semangat. Ia pun tersenyum penuh kelegaan. Bilmar dapat memahami kondisi Alika saat ini.


"Banyak istirahat, kosumsi makanan yang bergizi seperti susu, vitamin, buah dan jangan banyak fikiran. Karena stress dapat merusak hormon ketika sedang mengandung."


"Baik, Dok. Terima Kasih banyak."


Mereka pun berlalu dari pandangan Dokter untuk menebus obat yang sudah di resep kan di Farmasi Rumah Sakit


"Aku senang sekarang, keadaan luka post operasi mu sudah baik dan keadaan anak kita didalam kandungan juga tidak mengkhawatirkan. Walau aku akan berusaha payah untuk menahan tidak bertemu saasy nanti."


Bilmar terus menggenggam tangan Alika dengan erat.


"Aku akan terus bekerja dengan giat, untuk memperbesar EG untuk kamu dan anak-anak kita!" Bilmar mencium punggung tangan istrinya. "Makasi ya sayang, kamu udah mengandung anakku, anak kita! aku bahagia sekali!"


Bilmar menempelkan dahinya ke dahi sang istri. Tentu jika mencium Alika disini, ia akan malu dilihat oleh pasien banyak.


"Kamu nggak sendiri, Bil! ada aku juga yang akan bantuin kamu,"


Bilmar mengangguk terus merangkul sang istri dibangku tunggu. "Aku mau ke toilet, kamu tunggu dulu disini, ya!"


"Iya sayang..."


Tak berapa lama kemudian, ada seorang anak laki-laki datang menghampiri menuburuk dirinya.


Alika mengingat-ngingat wajah anak ini.


"Hey, Nak. Papa kamu, man--?" pertanyaan Alika terhenti ketika dilihatnya Indra tengah berjalan menuju dirinya.


Alika memberi senyum lebar, namun seketika senyum itu ditarik kembali dari peredaran wajahnya. Ia takut Bilmar akan cemburu lagi, bagaimana kebrutalannya waktu itu ketika mengetahui ia bertemu dengan Indra hanya karena ketidaksengajaan.


"Kamu sedang apa, Al?" tanya Indra sambil memberikan uluran jabat tangan. Alika pun dengan cepat ingin menyambutnya.


Dan


Blass..


Belum sampai untuk saling menggenggam terlihat tangan Alika tertarik begitu saja. Ada Bilmar yang datang tepat waktu untuk merusak suasana pertemuan mereka.


"Bilmar--?" sapa Indra dalam kekagetannya.


Tangan mereka berdua pun terayun begitu saja ke bawah. Bilmar masih menatap Indra dengan tatapan dingin dan pias. Indra adalah sumber masalah sehingga terjadi keributan antara ia, Alika dan Papa Luky. Karena kecemburuannya terhadap Indra, membuat Bilmar hampir saja kehilangan istrinya.


"Iya, Ndra. Ini gue, Bilmar. Dan ini Alika, Is---"


Indra memotong cepat. "Nggak usah lo kenalin lagi, gue juga udah tau ini Alika. Kalian nih---?" Indra melemparkan pandangan secara bergantian ke arah Alika lalu ke arah Bilmar.


"Iya Ndra, aku sama Bilmar---"


"Kita udah nikah sekarang, gue kesini lagi nganterin Alika untuk kontrol kehamilannya!" Bilmar menyelak dan suara penuh ketegasan.


"Loh tapi?? bukannya waktu itu lo udah nikah sama wanita lain, Bil? jangan bilang, kalau Alika ini jadi simpanan lo sekarang?"


Kedua mata Bilmar menatap tajam, dengan cepat Alika menghadang tangan Bilmar yang sekejap ingin menarik kerah kemeja yang dipakai Indra.


"Maaf bro! santai, maaf kalau gue ada salah ucap!"


"Aku istri sah nya Bilmar, Ndra! kita menikah, ketika istri pertama Bilmar sudah tiada. Lalu anak yang kamu lihat tempo lalu bersama ku ditaman, adalah anak Bilmar dan Almarhum istri pertamanya. Jadi jelas, aku bukan simpanan Bilmar!"


"Aku kalah cepat berarti ya. Kalau aku tau kamu belum menikah, aku yakin pasti sekarang kamu sedang hamil anak aku, bukan anak Bilmar." Indra kembali meledek.


"Indra---!"


"Ya, maaf Al, aku cuman bercanda."


Bilmar semakin menatap lelaku itu dengan rasa tidak suka.


"Bil?" delikan mata mengarah dari Alika.


"Oh tenang, Bil! gue kesini abis nengok temen gue. Dia dirawat, kebetulan gue mampir ke Farmasi mau beli vitamin untuk anak gue! Lo nggak usah khawatir, gue nggak akan ambil Alika. Walaupun gue mampu!" Indra berdecis geli, ia terus menggoda Bilmar yang masih terbakar api karena cemburu.


Alika tetap menggenggam erat tangan Bilmar yang masih dingin mengepal. Sebisa mungkin ia menjaga, agar Bilmar tidak kebabalasan dalam bertindak yang aneh-aneh.


***


Papa Luky menghampiri Binara dengan langkah tertatih dan lemas namun dipaksakan untuk tetap kuat menjamah putrinya yang kini tengah merajuk histeris. Ia harus bisa meluruskan apa yang ia ucap ditelepon tadi.


"Kenapa, Nak?"


"Jelaskan pada Binar, Pah!"


"Jelaskan mengenai hal apa?" jawabnya masih kuat untuk berdalih.


"Kenapa Papa melalukan ini? kenapa Papa ingin menyingkirkan Kak Alika dan Rendi?" suara kencang dan gemetar mengalir begitu saja dari mulut Binara.


Membuat jantung Papa Luky terus berdegup. Makin lama makin bergemuruh kencang.


"Jawab Pah! salah mereka apa sama Papa?"


Papa Luky tersentak. Selama ia hidup baru kali ini, melihat Binara semarah ini.


"Nak?" Papa Luky meraih tangan sang anak.


"Lepas, Pah! jangan sentuh aku!"


Tatapan beringas terus menari-nari dengan kuat di wajah putri bungsu nya ini. Aroma nafas kuat terus menderu-deru dari Binara.


"Jawab Pah! Binar udah dengar semuanya! siapa yang Papa tembak? Kak Alika dan Kak Rendi kan? Kakak kandung dan calon suami aku?" tanya Binara penuh frutasi.


Ia terus memegangi dadanya, karena merasa terlalu sesak dan nyeri.


"Papa tega ya sama kita? Papa mau bunuh Kak Alika, Pah?" Binara terus menerus menyudutkan sang Papa sampai ia tidak bisa berkutik lagi untuk berdalih.


"Maafkan Papa, Nak! Papa tidak sengaja, Papa tidak ada rencana sedikit pun untuk membunuh Rendi atau Alika. Yang saat itu Papa lakukan, hanya ingin membunuh istri dari Bilmar. Karena Papa kecewa, ia ingin menceraikan kamu demi istrinya. Namun Papa baru tahu, kalau istrinya Bilmar itu adalah Alika, anak kandung Papa. Tolong maafkan Papa, Nak!"


Papa Luky mengakui segala perbuatannya, wajahnya memelas. Air bening sudah turun dipelupuk matanya. Terlihat tangannya sudah bergetar lemas, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya saat ini.


"Papa tau nggak sih! Papa itu hampir aja ngebuat aku sama Kak bilmar, kehilangan orang yang kita cintai, Pah! Kak Alika hampir meninggal! Papa masih ingat kan? gimana terguncangnya mental Kak Bilmar waktu itu?"


Papa Luky sedikit meremas dada nya karena menahan hentakan nyaring yang terus keluar dari mulut Binara.


"Aku nggak bisa maafkan Papa!"


"Nak, Papa mohon. Maafkan Papa, tolong sembunyikan ini semua dari Alika, Bilmar dan Rendi! Papa takut mereka akan----"


"Tentu saja Kak Bilmar akan menjebloskan Papa ke penjara! lalu Kak Alika akan membenci Papa seumur hidup dan Rendi akan pergi meninggalkan aku! itu kan mau, Papa?"


"Nggak Nak, Demi Tuhan! Papa memang salah, tapi bukan itu keinginan Papa. Papa sangat mencintai kamu dan Kakakmu, Papa khilaf Nak, Papa salah!"


Binara terus menatap kedua bola mata Papa Luky dengan mata memerah berair-air. Ia tidak sanggup memikul beban seperti ini. Ia akan menjadi pembohong kedua seperti sang Papa.


Lalu bagaimana lagi, ia tidak punya pilihan selain membantu sang Papa untuk menutup masalah ini rapat-rapat. Ia tidak mau kehilangan Rendi, Alika dan Bilmar.


"Aku nggak nyangka, Papa akan setega ini! Papa nggak punya hati! Papa jahat! Papa tega bohongin Binar!"


Binara terus meronta-ronta dan menangis terisak-isak. Kebahagiaan dipelupuk mata kini ada diujung kehancuran. Mengapa harus ada masalah seperti ini disaat ia akan menikah dan tengah berbahagia karena sudah mendapatkan Kakak Kandung yang selama ini telah hilang dari hidupnya.


Binara sangat shock sekarang. Tubuhnya begitu saja lemas, sepertinya darah yang mengalir begitu saja terhenti untuk membawa sekumpulan oksigen ke otak. Ia pun jatuh terkulai ke lantai, tidak sadarkan diri.


Semoga saja, saat terbangun nanti. Depresi Binara tidak kembali kambuh. Ini akan memberatkan dan menimbulkan kecurigaan di mata keluarga.


"Binar! bangun, Nak! sayang..."


***


Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:


Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


Jangan Berhenti Mencintaiku


Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘