
Haii kesayangan, aku kembali.
Oiya aku pengen curcol nih hihihi
Kata kalian kalau rasa makasan datar-datarnya enak ga enak sih? Misalnya cumah gurih doang, akan bosan kan guys? Nggak ada rasa manis, pedas, asam dll.
Nah gitu juga tentang pernikahan, bohong banget lah kalau rumah tangga adem ayem aja, ya kalian juga pasti ngalamin roller cosster rumah tangga guys. Tapi tetap aja akan kembali lagi seperti semula..
Karena konflik panjang udah ada di season satu, di season dua hanya ada bumbu2 kecil guys, tenang kok Bilmar mah segimanapun juga nggak akan sanggup ngelepas Alika, yak gak sih???🤭🤭🤭
Yuk guyss, selamat baca yaa
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan Alika hanya diam dan hening. Ia hanya menatap lurus jalanan yang berada dihadapannya saat ini dan sesekali melihat ke wajah Ammar.
Alika menyandarkan kepalanya begitu saja dengan pasrah, ada aliran air mata yang tengah menggenang di pelupuk matanya.
"Kak, kamu kenapa?" tanya Binar sambil terus fokus memutar-mutar stir mobil mengikuti alur jalan yang akan mereka tuju.
"Nggak apa-apa, Bin--" Jawab Alika pelan.
Ia malas untuk berbicara tentang masalah ini, ia juga tidak mau membuka aib suaminya, takut jika Binar akan mengadu kepada sang Papa. Masalah ini pasti akan semakin runyam.
"Kita jadi mau ke Rumah Sakit dulu, Kak?"
"Iya, Bin. Antar dulu aku kesana!"
"Ya, baik Kak---"
Binar tetap menghormati segala apa yang akan diputuskan oleh sang Kakak. Binar tau Alika sedang bertengkar dengan Bilmar, namun sang Kakak memilih untuk menyimpannya sendiri.
20 menit kemudian, mereka telah sampai di Rumah Sakit. Binara mengambil alih untuk menggendong Ammar yang sedang tertidur.
"Maaf Bu, Poli Laktasi hari ini sedang libur. Ada lagi besok siang jam 14:00." Ucap petugas pendaftaran.
"Oh ya, baiklah. Terimakasih banyak Bu." Alika pun bangkit dan melangkah menghampiri Binara yang masih menunggunya di bangku antri.
"Gimana Kak?"
"Poli nya tutup Bin, ya udah kita pergi aja yuk ke rumah Ny. Gweni--"
Melihat keadaan Alika yang seperti ini, membuat Binara tidak tega jika harus memaksanya untuk tetap pergi.
"Besok aja ya Kak, tunggu kamu sehat dan rileks dulu. Masih sakit kan--??"
Raut wajah Alika tidak bisa dibohongi kalau saat ini, ia memang sedang tidak enak badan. Karena air susu yang tidak keluar membuat buah dadanya kencang dan keras, tubuh Alika menjadi sedikit demam.
"Nggak apa-apa, Bin? Padahal aku udah janji sama kamu hari ini mau kesana!"
"Nanti aja setelah air susu mu bisa keluar lagi Kak, sehatkan dulu tubuh kamu. Baru kita cari anakku lagi---"
"Makasi ya Binar, kamu memang kesayangan Kakak!" Alika mengelus wajah sang adik.
"Iya dong, aku kan sayang sama kamu, Kak!"
Alika terus mengelus-elus pipi Ammar.
"Kasian anakku, Bin. Pasti ingin minum asi ku!"
"Sabar Kak, Kakak harus tenang jangan stress! Karena semua itu akan berpengaruh kepada hormon...."
Alika kembali teringat dengan Bilmar, mungkin karena terlalu menahan kesal maka akibatnya seperti ini.
Tidak lama kemudian Alika teringat sesuatu. "Tunggu Bin, apa kamu mau antar Kakak ke EG?"
"Mau bertemu dengan Kak Bilmar?"
"Bukan Bin, aku baru ingat kalau Sofia sudah pernah ikut seminar laktasi. Kayaknya dia bisa membantu aku!"
Wajah Binara mengembang senyum. "Ayo Kak aku antar kamu kesana--"
Karena ia merasa jam segini pasti Bilmar sudah berangkat ke EG, ia bermaksud untuk menjemput Maura dulu ke rumah.
"Sebentar Bin, aku mau telepon ke rumah dulu."
Binara mengangguk dan masih setia menunggu sang kakak serta menggendong keponakannya.
Tuttt
"Hallo, kediaman keluarga Bilmar Artanegara?"
"Bik, ini saya--"
"Eh iya, Non. Kenapa Non?"
"Maura sedang apa Bik? Sudah sarapan belum?"
"Sudah Non, sebelum ikut sama Aden ke kantor."
"Bilmar membawa Maura ke EG?"
"Iya, Non."
"Ya baiklah, Bik. Hati-hati ya Bik, dirumah!"
Tutt, sambungan terputus.
"Kak Bilmar, membawa Maura ke EG Kak?" Tanya Binar, tentu ia mendengar percakapan antara Kakaknya dengan Bik Minah.
"Iya Bin, ayo antar aku kesana!"
"Iya Kak, ayo---"
Binara dan Alika akhirnya melesat untuk pergi menuju EG.
****
Di Eco Group.
Bilmar masih terduduk di kursi kerjanya. Ia terpaksa membatalkan semua rapat hari ini, karena tidak sampai hati meninggalkan Maura sendirian di ruang kerja.
Ia terus melihati anaknya yang masih bermain dengan beberapa boneka yang ia bawa ke EG diatas sofa.
Tatapan Bilmar sendu, ia terus memijit-mijit celah dahinya. Kepalanya terasa pusing memikirkan sang istri yang tengah merajuk. Sudah 20x ia menelpon Alika, namun istrinya tidak mau menjawab.
"Pah, sini..." Maura melambaikan tangan kepada sang Papa.
Bilmar pun bangkit dan menghampiri sang anak.
"Ayo pegang Pah!" Maura menyodorkan salah satu boneka untuk dipegang oleh Bilmar.
Maura pun mulai bergumam sendiri dengan dunia kebonekaannya. Bilmar hanya tersenyum melihat putri cantiknya yang sudah tidak menangis lagi karena Alika pergi meninggalkannya. Sesekali Bilmar ikut bercakap-cakap memainkan boneka tersebut.
Lalu
Ketika ia sedang asik bermain dengan Maura, tidak sengaja Bilmar mendengar suara keributan kecil dari luar ruangannya.
"Sebentar ya Nak." Bilmar meletakan boneka yang tengah ia genggam. Ia pun bangkit dari sofa dan berjalan keluar.
"Maaf Nona, Nona sudah tidak bisa masuk kedalam lagi secara bebas! Saya harus menelpon Pak Bilmar terlebih dahulu!" Ucap Katherine.
"Kamu melarang saya untuk bertemu Bilmar? Punya hak apa kamu?"
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas. Ini permintaan Pak Bilmar sendiri, untuk tidak memperkenankan Nona masuk tanpa ijin kedalam ruangannya!"
"Terserah! Saya tetap akan masuk!" Wanita ini tetap melangkah untuk memaksa masuk ke dalam ruangan Bilmar.
"Nona tunggu---!"
Katherine meletakkan gagang telponnya lalu dengan cepat ia keluar dari mejanya untuk merengkuh tubuh wanita ini agar tidak masuk.
Katherine sudah di ultimatum sebelumnya oleh Bilmar bahwa tidak boleh memperkenankan Kaneysa masuk dengan seenaknya. Ia tidak mau dipecat hanya karena Kaneysa.
Krekk
Langkah Katherine dan wanita ini pun terhenti begitu saja ketika Bilmar sudah lebih dulu membuka pintu ruang kerjanya.
"Kaneysa??" Sapa nya.
"Pak maaf. Nona Kaneysa terus memaksa untuk masuk!"
"Bil, boleh kan aku masuk? Aku hanya ingin minta maaf soal tadi pagi dan aku mau mengantarkan undangan pernikahanku!" Kaneysa terlihat meronta agar Katherine melepaskan dirinya sekarang.
Karena mendengar penuturan ini, membuat Bilmar membolehkannya untuk masuk kedalam. Walaupun ia masih kesal karena Kaney telah lancang mendatangi rumah tadi pagi, dan pertengkarannya dengan Alika tidak terelakan lagi.
"Lepaskan Katherine, biarkan Kaneysa masuk kedalam, ayo Kaney masuk lah!" Seru Bilmar mempersilahkan Kaneysa untuk masuk.
Kaneysa langsung menepis tangan Katherine yang masih mengcengkram lengannya. Kaneysa hanya memberi tatapan sinis dan dingin kepada Katherine.
"Dasar menyebalkan!" Hanya ucapan itu yang keluar dari bibir Kaneysa kepada Katherine.
"Kat, tolong telepon pantry untuk buat kan minum!"
"Baik, Pak."
****
.
.
.
.
.
Bagi yang mau tahu bagaimana kisah Maura dan Gifali yang sudah dewasa, sudah bisa baca di karya ku yang ke tiga ya, boleh cek profil ku❤️
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Gifali Untuk Maura
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘