
Hayy readerss...selamat pagi. Selamat beraktivitas kembali.❤️❤️ aku datang untuk menemani aktivitas kalian diawal pagi yang indah ini
yuk mari baca
🤗🤗
***
Luky Artanegara, Pov.
Kala itu, Januari 1990. Aku menikahi seorang wanita pilihan ku sendiri, Alisa Karina. Dia wanita yang begitu cantik dan ayu. Perkenalan ku dengannya terjadi ketika aku sedang mengalami kecelakaan mobil dan harus dirawat lama di Rumah Sakit.
Aku dapati dirinya yang menjadi perawat saat itu untuk mengurusi sakitku. Ia begitu telaten merawatku, karena memang sudah menjadi profesinya untuk setia merawat pasien sampai sembuh. Mungkin itu yang dikatakan cinta pada pandangan pertama. Aku terus mengejarnya untuk menjelaskan perasaan ku dan berkeinginan untuk menjadikannya seorang istri.
Dan tak lama semua itu pun bersambut dengan baik. Tepat di April 1990 aku resmi menikahi nya. Raut kebahagiaan terpancar dari kedua keluarga kami. Namun tidak dengan Mamaku. Ia sangat mengutuk pernikahan kami, ia tidak menyukai Alisa.
Karena Alisa adalah anak dari mantan kekasihnya terdahulu. Mama begitu membenci Alisa. Mama selalu menghasut Papa namun tidak pernah mempan, karena Alisa sangat telaten merawat Papa.
Kebahagiaan ku bertambah ketika Alisa hamil anak kami yang pertama. Papa ku begitu sangat menyambutnya, karena ia merasa akan lahir cucu pertama dari anak kandungnya. Tapi tidak dengan Mamaku, perhatiannya hanya tercurah untuk mengurusi kehamilan Mira, istri dari Bayu.
Bayu adalah anak dari hasil perselingkuhan Mama ku dengan laki-laki lain. Namun Papa dan aku menerima Bayu dengan tangan terbuka. Aku begitu mencintai adik lelaki semata wayangku itu. Papaku mencurahkan kasih sayang yang sama rata untuk ku dan Bayu.
Mira dan Alisa sama-sama mengandung dalam waktu bersamaan. Walau Bayu dan Mira sudah menikah tiga tahun lebih dulu dari ku, namun mereka baru diberi kepercayaan hamil setelah aku menikah dengan Alisa.
Bayu melangkahi ku saat itu, ia menurut saja ketika Mama menjodohkannya dengan anak temannya yang sederajat dengan keluarga kami. Namun aku merasa tidak masalah. Karena bagiku menikah itu hanya sekali, aku harus benar-benar menemukan wanita yang aku cintai dan pantas aku nikahi.
Karena sudah menikah dan Alisa langsung hamil. Aku menyuruhnya untuk berhenti bekerja sebagai Perawat di Rumah Sakit. Aku ingin ia fokus merawatku dan anak-anak nanti.
Kami pun semua tinggal dalam satu atap yang sama yaitu di rumah Papa dan Mama. Mereka melarang semua anaknya untuk pindah dari rumah setelah menikah. Awalnya Alisa mengiyakan karena menurutnya tidak masalah jika hidup serumah dengan Mama Papa dan Keluarga Bayu. Namun semua itu mulai menjadi petaka untuk perjalanan rumah tanggaku dengan Alisa.
Mama hanya condong mengurusi kehamilan Mira. Yang ia fikirkan hanya calon cucu dari Bayu. Saat itu pun aku merasa iri, karena bagaimanapun posisi Alisa itu sama.
Sama-sama sebagai menantu dan sedang hamil anak pertama. Ia selalu memberikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang berat-berat untuk Alisa, sedangkan Mira? dia tetap menjadi menantu kesayangan, tidak ada pekerjaan rumah yang bisa menyentuh kuku-kuku indahnya.
Perbedaan itu dirasakan kembali ketika Bilmar dan Berliana lahir yang berbeda bulan di tahun 1991. Mama ku lebih condong untuk mengurusi Bilmar dibanding anak kandungku Berliana. Sikap Mama membuat aku geram dan muak, tapi aku tidak bisa melawan hakikatku yang hanya sebagai anak. Mama selalu mengancamku jika aku berani keluar dari rumah, maka aku bukan lagi bagian dari Artanegara. Aku pun harus menurut, karena aku punya Alisa dan Berliana yang harus aku nafkahi kehidupannya.
Alisa sudah menggunakan berbagai cara untuk mengambil hati Mama, namun semua itu tidak mempan. Bahkan perlakuan Mama makin menjadi-jadi sampai putri kedua kami lahir, Binara Artanegara.
Ku fikir Mama akan berubah nyatanya tidak, ia mulai mengatur siasat untuk tetap menjauhi ku dengan Alisa. Mulai menyewa wanita bayaran untuk menggodaku, mulai meneror Alisa dengan kejadian-kejadian aneh dirumah dan terlebih parahnya lagi ketika ia bilang bahwa Alisa hanyalah pembantu dirumah ini ketika teman-teman arisannya sedang berkumpul.
"Lisa, kamu harus sabar sayang, Mamaku pasti akan luluh." ucapku membesarkan hatinya.
"Aku udah nggak tahan, Mas. Mama kamu tetap membenci aku dan anak-anak kita! ayo Mas, kita pergi saja dari sini ya. Kita cari rumah sendiri, walau kecil aku juga nggak masalah. Mas bisa cari kerja yang lain, dan aku bisa kembali bekerja!" ucap Alisa menatapku dalam-dalam sambil diiringi air mata sesegukan.
Aku memang pengecut, berkali-kali ku patahkan keinginannya untuk menjauh dari keluarga ku. Karena aku takut, jika lepas dari Artanegara. Aku tidak bisa memberi nafkah untuk Alisa dan kedua anakku. Apalagi Papa sudah menyerahkan kedua perusahaan masing-masing kepadaku dan Bayu.
"Kalau Mas, nggak mau ikut aku pergi dari sini. Ya udah aku aja yang pergi sama anak-anak!"
Sejak ultimatum keluar dari mulutnya, dan kekecewaan terus bertahta dihatinya terhadap ku dan keluarga ku. Sikap Alisa berubah, jadi susah diatur. Selalu marah-marah, tidak lagi mau mengurus ku dan anak-anak. Ia selalu mencoba untuk kabur dari rumah, namun aksinya selalu aku gagalkan begitu saja.
Hatiku ingin menuruti apa kemauan Alisa, namun aku takut, aku akan membuat hidup mereka dalam kemiskinan. Aku tidak punya pilihan. Sampai pada akhirnya Alisa pergi dari rumah. Niatnya ia ingin membawa kedua putri kami, namun aksinya cepat diketahui oleh Mira. Mira bersusah payah untuk merebut kedua anak kami, nyatanya Mira hanya berhasil merebut Binara, sementara Berliana dibawa begitu saja pergi dengan Alisa.
Hidupku kacau setelah itu, aku terpuruk dan sempat depresi. Mencari-cari keberadaan Alisa tak kunjung aku temui. Dan aku harus bisa memutuskan untuk hidup menduda sampai saat ini, karena aku merasa. Aku akan kembali dengan Alisa. Nyatanya bertahun-tahun harapanku begitu saja sirna. Membuat ku trauma untuk menjalani kehidupan rumah tangga lagi. Masalah itu membuat aku merubah sikapku menjadi keras, dingin dan ambisius.
Dengan perubahan sikapku yang seperti ini, membuat Mamaku akhirnya sadar. Ia pun berucap akan menerima Alisa dengan baik, nyatanya itu semua sudah terlambat. Nasi sudah jadi bubur tidak akan tanak kembali. Alisa sudah lebih dulu pergi membawa Berliana memisahkan aku dengannya.
"Begitulah Nak, asal muasal pernikahan dan perpisahan Papa dengan Mama kalian." Papa Luky mengakhiri ceritanya kepada anak-anak nya semua. Ia pun mulai mengeluarkan foto yang sudah usang dari dompetnya. Terlihat Papa Luky dan Mama Alisa tengah duduk berdua sambil memangku Alika dan Binara yang masih bayi.
***
FYI yah, takut nanti ada yang belum faham terus main komen "kok bisa Bilmar nikah sama Alika dan binar? Kan dia saudara sepupuan?" Nah kalau dalam Agama Islam " Menikahi Sepupu itu boleh mau dari pihak ayah atau pun ibu. Ada dalam Al-Quran ( An-Nisa, 4: 22-23) dan ( Al- Ahzab :50) Karena saudara sepupu BUKANLAH MAHRAM.
Apalagi Bilmar adalah keponakan tiri Papa Luky ( Ayah Bilmar dengan Ayah Alika bukan saudara seayah, mereka saudara tiri dari sang ibu.)
Jadi boleh ya guys..MENIKAHKAN ANAK KITA dengan KEPONAKAN.
Yang nggak boleh itu kalau KITA MENIKAH dengan KEPONAKAN KITA.❤️❤️
Aku sungguh tergugah dengan semangat bertubi-tubi dari kalian semua❤️❤️. membuat kepalaku segar untuk terus meneruskan cerita ini..😘😘
Tolong Vote Aku ya para readers kesayangan🤗🤗.
Dan berikanlah terus semangat kalian padaku..Terimakasih untuk Like, Vote, Rate dan komennya.
Kalian berarti.
With love, Gaga❤️