
Sore guyss..aku balik lagi nih
keep reading yah💖🤗
***
Angin malam terus berhembus. Meninggalkan rasa linu yang membuat bulu kudu jadi merinding. Udara dingin saat ini seolah menjadi saksi kebisuan antara Alika dan Bilmar didalam kamar hotel.
Ada suara air shower menyalah di kamar mandi. Alika bilang kalau ia ingin mandi lagi malam ini, karena badannya merasa lengket sehabis lari-larian mengejar kereta bayi beberapa jam yang lalu.
Bilmar tetap setia menunggu sang istri sambil mengecek beberapa email yang masuk ke layar notebooknya.
Sehabis perkara tadi, Alika tidak mau mengucap satu kalimat pun kepada suaminya. Bilmar tau istrinya tengah cemburu, mungkin juga sedang jatuh cinta padanya.
Suami mana yang bisa mengalahkan sikap istri yang tengah di mabuk cemburu, tentu setiap wanita di dunia akan melakukan hal apapun untuk melindungi dan mempertahankan miliknya.
Walaupun Alika masih belum yakin dengan perasaannya, namun Bilmar saat ini adalah suaminya, lelaki yang akan menjadi ayah untuk anak-anak nya kelak dan mungkin sebentar lagi akan mengambil mahkota nya yang selama ini sudah ia jaga dengan hati-hati.
Kedua bola mata Bilmar saling bertabrakan, sesekali menatap layar notebook dan sesekali menatap pintu kamar mandi.
Ia bingung mau berbicara apa dengan sang istri setelah ini. Bagaimana membuat Alika kembali teduh dan bersikap normal kembali. Ia merasa belum maksimal memiliki Alika, jika ia belum berhasil menyentuh wanita itu seutuhnya.
Dia merasa malam ini pasti gagal kembali, tidak mungkin ia akan melakukannya disaat Alika masih seperti raja singa saat ini.
Itulah sikap yang sangat ia sukai dari dulu. Alika terkenal sebagai wanita jutek yang susah didekati oleh banyak pria. Ia tidak akan segan-segan memukul siapapun orang yang membuat kekurang ajaran dimana pun. Namun hatinya lembut bagai bokong bayi, ia akan mudah sekali menangis ketika melihat orang lain bersedih atau sedang dalam penderitaan.
Ia tidak akan segan-segan memberikan apa yang ia punya untuk kepentingan orang lain, beberapa kali pun ia ditipu, disakiti dan dicurangi oleh teman-teman sekolahnya. Karena kekurangan dari sifat nya adalah mudah terlalu percaya dengan kebaikan orang lain.
Krekkk
Bilmar menoleh cepat ke arah kanan, mendapati istri nya tengah keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk ditubuhnya. Tubuh yang begitu mungil, padat dan kencang di area dada. Bilmar memandangi tubuh itu tak jemu-jemu.
Alika membungkuk membuka koper miliknya untuk mencari pakaian tidur. Ia pun mulai grasak-grusuk membongkar-bongkar semua isi koper yang telah disusun rapih oleh Bella dan Sofia sebelum mereka berangkat ke Paris.
"Kok kaya ginian semua sih!" seru Alika, suaranya mulai terdengar ke telinga Bilmar yang sedari tadi memang tengah memperhatikan sang istri yang telah membelakangi matanya dengan punggung mulus yang masih basah karna cucuran air shower.
Alika kaget bukan main, ia hanya menemukan beberapa baju tidur tipis yang bukan miliknya didalam koper.
"Ih apa ini..?" Alika melolongkan piyama tipis itu ke lantai.
Kepanikan Alika mengundang tubuh Bilmar untuk mendekati dirinya.
Ia pun mulai membungkuk seperti Alika.
"Kamu kenapa Al?"
Entah demi apapun wajah Bilmar saat ini terlihat sangat gagah sekali. Alika masih menatapi nya dalam. Wajah ini yang selalu ia rindukan selama 12 tahun lamanya. Siapa pun wanita di dunia ini akan berebut mendapatkan Bilmar yang begitu hampir sempurna.
"Bella sama Sofia masukin baju orang ke dalam koper aku!" Alika menunjuk piyama tipis yang sudah ia buang ke lantai.
"Itu kan punya kamu Al, aku yang membeli nya untuk dijadikan barang buat seserahan pernikahan kita,"
"Hah?"
Alika tercengang, betul saja ia belum sempat mengecek-ngecek apa saja yang dibelikan Bilar untuk nya dari semua seserahan yang masih ada dirumah. Mungkin Bella dan Sofia berinsiatif memasukan beberapa lingrie tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Alika.
Bilmar membereskan beberapa baju yang tengah berserakan dilantai untuk kembali dimasukan kedalam koper. "Besok kita beli yang sesuai keinginan kamu ya, aku temani." Bilmar kemudian meraih tubuh sang istri yang masih terlilit handuk untuk dibawahnya melangkah bersama duduk disebuah sofa.
"Dengkul kamu luka sayang?" Bilmar melihat ada luka lecet memerah bersarang tepat dikedua dengkul sang istri.
"Iya, mungkin karna tadi aku jatuh ke aspal pada saat sedang memberhentikan kereta bayi anak tadi,"
"Tadi itu ak----"
"Sebentar, aku ambil air hangat dulu untuk mengompres luka mu!" Bilmar memotong ucapan Alika yang sedang mencoba menjelaskan perihal kepergiannya tadi.
Bilmar bangkit lalu berjalan ke arah dispenser untuk mengambil air panas di wadah besar dan beberapa wash lap.
Tanpa banyak bicara, ia memegang dengkul tersebut dan melihati luka disana. Apakah luka itu ringan atau berat.
"Luka lecet aja nih," ucap Bilmar lalu meraih wash lap untuk direndam kan ke air hangat lalu digerakkan untuk mengompres luka.
Alika terus melihati perhatian Bilmar yang begitu tulus padanya.
"Inikah suami yang belum aku berikan ijin untuk masuk kedalam hati ku? atau sudah masuk namun aku masih membiarkannya?"
Alika hanya diam, terus melihati tangan itu mengompres cantik diatas luka nya.
Dari ekor matanya, Bilmar merasa sedang diperhatikan. Ia pun mendongakkan wajahnya untuk menatap Alika. Sang istri yang memang sedang melihati nya teramat lekat langsung merubah pandangan itu ketika dirinya diketahui. Bilmar hanya memberikan senyum tanda suka.
Ia senang karna sudah mulai merasakan ada rasa cinta dari mata Alika untuk dirinya.
"Perihal tadi tentang wanita yang kita temui di Lift itu---"
"Jangan dilepas!" Alika menyambar ucapan Bilmar ketika dirinya melihat tangan sang suami sudah mulai menyudahi kompresan itu.
"Besok aja ngejelasinnya, jangan sekarang!" Tangan Alika meraih tangan Bilmar untuk kembali diletakan diatas luka lecet yang tadi.
Bilmar hanya bisa tersenyum mengompres kembali luka tersebut.
Entah mengapa suasana saat ini seperti mendukung mereka untuk melakukannya malam ini. Melihat reaksi Alika yang sebegini hangatnya tentu tidak akan dilewatkan oleh Bilmar begitu saja.
Alika pun memajukan tubuhnya ke arah Bilmar, mata mereka saling berhadapan dalam asa. Alika terus mendekatkan wajahnya hal ini refleks membuat Bilmar menutup matanya menunggu jika Alika akan mencium bibirnya.
Beberapa detik kemudian, terasa hangat disekitar pipi dengan olesan kain menari-nari disana. Ia pun membuka mata dengan cepat, tengah mendapati Alika sedang mengompres luka memar kecil disekitar tulang pipi Bilmar berkat aksi kebrutalannya.
Tangan Alika pun dihentikan oleh Bilmar, ia merasa degupan jantungnya makin merajalela ketika bisa merasakan aroma nafas Alika yang begitu wangi mengundang hasrat.
Mendekat, mengecup, membuka dan melebarkan.
Membuat mereka saling mengerjapkan mata, mencuitkan pergulatan antara perkokohan bagian bibir kenyal mereka. Tidak ada kelembutan disana, hanya ada kekasaran yang menerpa. Kedua insan ini sangat merindu, sangat ingin dan saling terpaut.
****
**Sensor ah..lagii pada puasaađź¤đź’”
nanti malem apa nggak besok deh aku lanjutin...hehe. .
Like dan Komen yang banyak, kalo komennya lucu-lucu aku mau kasih bonus UP 1 episode lagi nanti malam
thankyouu🖤🖤❤️**