
Assalammualaikum, selamat malam aku balik nih.
Yuk ah mari baca
🤗🤗🤗
***
"Khalid!"
"I--ya Pak?"
Asisten setianya langsung menoleh ke arah Papa Luky yang tengah menyandarkan tubuh dan kepalanya di jok belakang.
"Tolong cari tau tentang gadis tadi, namanya Alika. Saya lupa untuk menanyakan tentang dirinya lebih jauh. Tolong cari latar belakang hidupnya sedetail mungkin."
"Baik Pak." Pak Khalid langsung menyanggupi, walau didalam kepalanya belum bisa berfikir, mencerna dengan baik.
"Kamu tau kan Khalid, saya tidak suka dengan kata menunggu?"
Dengan dahi berkerut-kerut dan tatapan mata lurus menatapi jalan didepannya. Ia pun kembali membuka suara dengan cepat. "Baik Pak, secepatnya saya akan memberitahukan informasi mengenai gadis itu."
Papa Luky hanya menganggukan kepalanya dengan wajah datar. Ia terus melihati sisi jalan kanan dan kiri yang di rindangi pohon-pohon besar dari dalam mobil. Jauh didalam hatinya ia menginginkan Alika benar-benar menjadi anak kandungnya yang telah lama hilang.
Entah bagaimana ketika alam semesta akan mengutuk dirinya, jika ia berhasil melenyapkan nyawa orang yang ingin ia habisi, dibalik orang yang ingin ia temukan sedari dulu. Semoga Luky Artanegara tidak akan menyesal seumur hidup.
***
"Biar aku saja yang menyiapkan sarapan pagi untuk kita. Kak Alika duduk aja ya, disana." Binara menggandeng tangan Alika untuk duduk disofa ruang tamu. "Ibu hamil muda itu harus banyak istirahat, tidak boleh capek-capek!" Binar membantu Alika untuk duduk disofa. "Kita jadikan kerumah Papa kamu, Bin?"
Alika mengingatkan janji Binar untuk membawanya kerumah Papa Luky dan mulai mempersiapakan kebutuhan pernikahan untuk Binar dan Rendi.
"Bukannya aku nggak mau Kak, tapi melihat keadaan kamu lagi kaya gini, aku nggak yakin. Kamu harus tetap banyak istirahat!"
"..Tapi aku udah cukup kuat, Bin. Vitamin yang dikasih oleh Dokter juga, langsung membuat aku lebih kuat sekarang." ucap Alika memelas terus memohon.
Binara terdiam agak lama, menatapi terus wajah Alika dalam-dalam. Disatu sisi hatinya ingin sekali membawa Alika berkenalan dengan Papa Luky, tetapi disatu sisi lagi, apakah betul bahwa Papa Luky akan menerima ia dengan senang hati?
"Baiklah, Kak. Kita pergi ya ke rumah Papaku."
Garis senyum di kedua pipi Alika seketika melebar. Mendapatkan secerca kebahagiaan ketika mendengarnya. "Baiklah, aku ke atas dulu ganti baju ya, Bin."
Alika pun melangkah menaiki tangga menuju kamar tidur mereka. "Kenapa kamu jalan dengan langkah cepat seperti itu sayang? kamu kan sedang hamil!" pekik Bilmar yang sedang mengancingi kemeja kerjanya di depan cermin. Ia memutuskan untuk pergi ke kantor hari ini, karena beberapa laporan dan kontrak kerja harus ia tanda tangani dengan segera. "Aku bekerja hanya setengah hari. Nanti aku akan langsung pulang untuk menjaga kamu!"
"Kalau mau pulang sore juga nggak apa-apa sayang, ada Binar dan Maura yang jaga aku dirumah."
Wajah Bilmar seketika terperangah ketika melihati Alika dicermin, tengah mengeluarkan beberapa baju dari dalam lemari dan memilihnya secara acak. Ia pun menoleh. "Kamu mau kemana? mau pergi?" tanyanya.
"Oh iya sayang.." Alika menghempaskan pakaian itu diatas ranjang lalu melangkah mendekati suaminya untuk mencium pipinya. "Maaf yah aku lupa bilang.." ucapnya merayu.
"..Hmm?" Bilmar menaikan satu alisnya yang tebal.
"Aku akan menemani Binar untuk menyiapkan kebutuhan pernikahannya dan Binar juga sudah berjanji untuk membawa aku kerumah Papanya, biar kami saling mengenal katanya."
"Kenapa sayang? ada yang salah?" tanya Alika menggeliat di lengan sang suami. "Aku ingin kamu tetap dirumah. Sampai nanti aku pulang, yang pertama kali ingin aku lihat hanya kamu!" nada Bilmar sudah mulai meninggi.
"Tapi, Bil? aku mau jalan-jalan!"
"..Nanti aja, sama aku!" Bilmar kembali menatap cermin, untuk mengelibatkan jas kerja ditubuhnya.
"Sayang..?" ucap Alika tanpa mengeraskan suaranya. Ia pun mulai memeluk Bilmar dari belakang. "Sekali ini aja ya, aku mau pergi jalan-jalan sama Binar. Kita janji tidak akan lama, sore sudah ada dirumah."
Alika merasa Bilmar pasti akan luluh dan akan selalu mengiyakan apa kemauannya. Ternyata tidak, Bilmar tidak akan luluh dengan keadaan yang sekarang.
"Kamu tau kan, aku adalah orang yang tidak suka dibantah!" balasnya dengan wajah dingin. Untuk saat ini Bilmar akan menentang apapun kemauan Alika yang bisa membuatnya dekat dengan Papa Luky, ia tidak mau lelaki paru baya itu menyakiti dan melukai istrinya.
Alika seketika diam, melepas pelukannya dan mundur sedikit kebelakang. Lalu duduk ditepi ranjang melihati Bilmar yang masih bersiap-siap.
"Jangan buat aku marah ya, kamu harus tetap menjadi istri penurut. Ini semua untuk kebaikan kamu sama bayi kita."
Bilmar memutar langkahnya untuk menghampiri istrinya yang sedikit menunduk kebawah sedang melihati atas lantai. Ia tidak bisa bergeming apapun lagi. Mau tidak mau, ia harus menurut untuk berbakti kepada suami tercinta.
"Ingat ya, jangan kemana-mana! dirumah aja. Biar aku yang kerja buat kamu sama anak kita!" Bilmar mencium kening, pipi dan bibir sang istri yang tidak pernah absen ia lakukan setiap hari ketika akan berangkat ke kantor.
Lalu
"Kak?" suara memanggil dari ambang pintu. "Katanya mau ganti baju, Kak?" tanya Binar yang sudah mendaratkan kakinya didalam kamar.
"Kak Alika nggak akan kemana-mana hari ini, Bin! kan kamu tau bagaimana keadaannya sekarang!" ucap Bilmar sedikit tidak santai.
Kedua mata Binar terbelalak, ia sedikit menggaruk-garukan kepalanya. Mencari cara untuk membela diri, tapi baginya dimarahi Bilmar tidak akan membuat ia menangis terisak-isak. "Bil, Binar nggak salah. Dia udah larang aku sebenarnya, tapi---"
"Bagus kalau gitu, kalian berdua jadi sudah faham tanpa harus membuat aku emosi, marah dan kesal pagi-pagi." Bilmar menyelak ucapan istrinya secara cepat. "Ayo, kita kebawah duhai istri-istriku!" gelak tawanya seketika mengubah raut wajah dingin yang sudah muncul dari kedua wanita ini. "Ih Apa sih Kak, aku tuh bukan istri kamu lagi!" jawab Binar mencubit lengan Bilmar sehingga membuat ia meraung nyeri.
"Iya dong, istriku aku kan cuman kamu seorang." Bilmar meraih tangan Alika untuk dicium mesra sambil menatap kedua mata istrinya.
"Adeuh ah..Romi sama Juli juga, kayanya minder liat kalian kalau kaya gini terus, Ckk!" jawab Binar terkekeh. "Aku duluan ya ke meja makan."
Ia pun berlalu, meninggalkan Bilmar Alika yang sekarang sedang merangkul satu sama lain. "Kalau masih hamil muda kaya gini, belum boleh ya buat kita..cemiwiw." Bilmar meledek. "Ih, apaan tuh cemiwiw? bahasa manusia bukan?"
"Ish...cemiwiw itu..waktu kamu lagi ngerintih-rintih cantik dibawah aku." Bilmar tertawa terbahak-bahak. "Ih kamu ah, aku jadi malu!" wajah Alika memerah seketika, ia terus menundukan kepalanya lalu berjalan keluar kamar untuk mengikuti langkah Binar ke meja makan. Bilmar terus tersenyum melihati Alika yang masih salah tingkah saat ini.
Sepertinya kali ini pertemuan mereka kembali gagal, tapi ingatlah Semesta punya waktu nya sendiri untuk mempertemukan mereka dalam keadaan yang tepat.
***
Hayy kesayanganku, jangan hujat aku yah karena telat UP lagi. Karena sejatinya aku kan udah update pagi ini, ini hanya bonus dari aku hehehe. Aku juga lagi sibuk didunia nyata dan didunia kehaluan ini. Di kenyataan aku masih sibuk untuk melayani pasien-pasien di RS dan di dunia novel aku membantu meghilangkan stress yang ada difikiran kalian dengan membaca karya aku ini. Aku hanya ingin mencari ladang pahala..hihihi❤️❤️❤️. Memang berimajinasi dengan alur rata itu bukanlah suatu hal mudah dan kalian pasti tahu itu.
Sebentar lagi, bisul kalian pecah ketika mereka saling menatap dan menyapa antara Papa dan Anak. Semoga kalian nggak nangis yah hihihi.
Berikan semangat kalian untuk aku yaa..
Like, Vote, Rate and Komen..
Thankyou, with love Gaga.