Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS : Semua Hanya Karena Cinta.


Selamat pagi. Hai semua, semoga kalian selalu sehat ya.


Selamat baca


❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Satu bulan berlalu, kini usia kandungan Alika sudah memasuki usia enam belas minggu atau sekitar empat bulan. Bilmar dan Alika lebih serius menjaga si kembar yang masih ada dalam kandungan.


Dengan sengaja Bilmar mengganti lantai kamar mandi dengan keramik khusus yang anti licin. Sehingga ia merasa aman kalau istrinya dalam keadaan baik-baik saja jika sedang berada didalam toilet.


Perut Alika terlihat semakin besar begitupun pertumbuhan Ammar dan Maura. Ammar saat ini memasuki usia enam bulan, sudah saat nya ia mulai makan. Anak lelaki tampan itu sangat gesit, gendut dan memiliki suara yang nyaring.


Begitupun Maura, pasca kejadian dengan Nayla bulan lalu membuat ia semakin lengket dengan sang Mama. Tidak mau jauh-jauh atau pergi tanpa Alika. Nayla beserta keluarga pun sudah diberi ultimatum oleh Bilmar, ia akan membawa masalah Maura ke meja hijau jika Nayla kembali berulah.


Namun walau begitu mereka sadar bahwa keluarga Kannya juga mempunyai hak atas Maura, maka Bilmar dan Alika memutuskan akan membawa Maura setiap weekend untuk bertemu Kakek dan Neneknya.


Sudah satu minggu Maura masuk TK, mungkin ia merasa dirinya akan seperti anak-anak lain yang selalu ditunggui oleh para ibu mereka. Namun Maura harus kembali menelan pil pahit, ia harus terbiasa tanpa Alika menemaninya disana. Tidak seperti ibu-ibu yang lain.


Bilmar tidak mengizinkan Alika berlama-lama menunggu Maura dari pagi sampai siang, ia masih cemas dengan kehamilan istrinya.


Beruntunglah ada Binar yang bisa membantu. Maura dan Gadis dimasukkan kedalam TK yang sama, sehingga Maura tetap ada yang mengawasi. Tetapi, tetap saja Maura selalu bersedih jika ingin berangkat ke sekolah ia akan selalu menanyakan hal-hal yang sudah ia tahu jawabannya kepada sang Papa.


"Kakak, ayo sarapan dulu, Nak.." Alika memanggil Maura dari meja makan.


"Iya Mama..." Jawabnya.


Maura terlihat masih saja mengajak adiknya bermain yang sedang asik berceloteh di bouncher di ruang televisi. Maura terlihat sudah siap dengan seragam sekolah TK nya. Rambut nya yang cokelat dikuncir seperti ekor kuda.


Alika masih terlihat bolak-balik ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suami dan Maura serta bekal makan siang untuk mereka.


"Kak, ayo sarapan dulu!" Ucap Bilmar yang baru saja sampai di meja makan sambil mengancingkan jas kantornya.


Maura menoleh dan melihat sang Papa sudah berada disana.


"Dada Ammar.." Maura mencium bayi gendut itu yang sedikit memangis ketika Maura meninggalkannya.


"Pah, Adek nangis ..." Ujar Maura ketika langkah kakinya sudah sampai di meja makan dan menarik kursi untuk duduk.


"Kakak godain ya?" Jawab Bilmar. Lalu ia bangkit dari kursi untuk berjalan menghampiri Ammar, digendong anak itu dan dibawanya menuju meja makan.


Alika yang baru keluar dari dapur sambil membawa dua gelas susu pun mengerutkan dahinya.


"Kenapa Pah? Kok Adek nangis?" Tanya Alika kepada suaminya yang masih mencoba untuk menenangkan sang anak.


"Digodain sama Kakaknya, jadi nangis kayak gini. Padahal tadi tuh, Adek anteng-anteng aja ... cup-cup sayang, jangan nangis, Nak ganteng." Bilmar pun bangkit berdiri dan menimang-nimang Ammar. Membelai-belai tubuh Ammar yang sangat montok.


"Ayo Kakak makan dulu ya--Oh iya buku gambarnya udah Mama belikan lagi ya. Baru seminggu kok sudah cepat habis Kak? Memang setiap hari menggambar terus?" Tanya Alika sambil menuangkan nasi goreng di piring Maura.


Wajah anak kecil itu mendadak aneh, seperti ada hal yang ia sembunyikan. Ia hanya mengangguk tanpa menjawab dan langsung melahap nasi gorengnya karena sebentar lagi Binara dan Gadis pasti akan datang menjemput Maura.


"Sini Pah sama Mama, kamu sarapan dulu sana.." Alika menghampiri Bilmar dan meraih tubuh Ammar. Anak lelaki gendut yang sangat mirip dengan Alika.


"Ayo kamu juga makan, Mah. Ammar nya udah anteng tuh, letakkan lagi di bounchernya!" Titah Bilmar membuat Alika mengangguk dan membawa bayi itu kembali ke tempatnya di ruang televisi. Alika kembali ke meja makan untuk menemani suami dan Maura untuk sarapan.


"Mama masih gak boleh temenin aku disekolah ya, Pah?" Tanya Maura dengan kepolosannya. Kornea matanya yang gelap terus saja menatap lurus kedalam bola mata sang Papa.


"Gak boleh, Nak. Nanti kalau Papa lagi libur, Papa aja yang temenin Kakak di sekolah!" Bilmar mengusap tubuh sang anak dengan tangan kirinya.


"Kapan dong? Kan kalau Papa libur kerja, aku juga libur sekolahnya---" Jawab Maura sendu.


"Nanti Papa akan tungguin Maura disekolah, Papa janji kok!" Bilmar terus saja berjanji walau ia tidak tahu apakah ucapan itu bisa ia buktikan atau tidak. Baginya yang penting Maura tidak merajuk ketika ingin berangkat sekolah.


Alika hanya diam dan memberikan tatapan sedih dan menyesal kepada sang Anak. Jika keadaannya normal, tanpa diminta Alika pasti akan selalu mengantar, menjemput dan menemani Maura di sekolah. Ia ingin tahu perkembangan sang Anak.


"Sabar ya Nak, Maura adalah anak baik. Selalu mengerti kondisi Mama--" Ucap Alika sambil meletakkan lagi nuget ayam dipiring Maura.


Maura anak yang baik hati itu hanya mengangguk pasrah tanpa merajuk. Ia selalu diberi pengertian oleh Bilmar kalau ada dua adik bayi yang sekarang ada diperut sang Mama. Tentu Mamanya tidak boleh melakukan hal-hal yang melelahkan.


"Sayang.."


Suara Alika membuat Bilmar menoleh ke arahnya. "Kalau kamu mau sarapan yang lain, aku gak apa-apa, kamu gak perlu ikut makan makanan yang aku konsumsi setiap hari! Aku kasian sama kamu, sayang---"


"Loh kenapa memangnya? Makanan ini enak kok! Aku suka--Kamu jangan khawatir ya! Aku akan selalu nemenin kamu untuk berjuang sama-sama untuk anak-anak kita..." Bilmar tetap mengunyah labu rebus tanpa garam.


Memang inilah yang dinamakan sebuah perjuangan. Dokter selalu menyarankan agar Alika tidak lagi memakai makanan yang mengandung mengandung garam dan penyedap rasa. Tidak boleh makan pedas, asam dan gurih.


Semua makanan harus direbus dan ditumis tidak boleh digoreng atau di bakar. Benar-benar makanan sehat untuknya, agar tensi darah Alika tetap dalam batas normal. Dokter sempat takut karena Alika menunjukan tanda-tanda preeklamsi dibulan lalu. Karena jika tensi darah Alika terus naik di takut kan plasenta akan tega dan terlepas dan tidak bisa lagi mengalirkan darah kepada bayi kembarnya.


Selama satu bulan Bilmar setia menjaga pola makannya seperti Alika. Ia hanya ingin istrinya semangat karena ada yang menemaninya. Walau ada rasa mual yang melanda Bilmar disela-sela kunyahannya ketika menyantap labu rebus, telur rebus, ikan tim, benar-benar bukan seleranya sama sekali.


Memang hanya dirumah ia mau memakan makanan sehat tersebut, namun ketika sudah dikantor ia akan menyuruh Katherine untuk membelikan makanan dengan bumbu yang melimpah ruah.


"Kamu jadi agak kurus, Bil. Karena makan kamu sedikit! Apa mau aku buatkan nasi goreng seperti Kakak?"


Duh nasi goreng! Membuat perut Bilmar bergetar dan setan-setan yang mengapitnya menyorak gembira untuk menyuruhnya mengatakan kata iya. Siapa yang bisa menolak nasi goreng buatan Alika? Makanan yang selalu di puji-puji oleh semua orang yang sudah pernah merasakannya.


"Iya ya, udah sebulan gak makan nasi goreng buatan kamu---" Ucap Bilmar sambil terus mengunyah labu dan wortel rebus kedalam mulutnya. Terlihat kedua matanya berair karena menahan muntah yang begitu saja ingin keluar ketika ia berhasil menelan makanan tersebut. Sejujurnya ia tidak suka dengan makanan seperti itu.


"Ya udah, aku buatin ya! Udah jangan diterusin makannya, aku tau kamu ingin muntah!" Alika meraih tissu untuk menyeka air mata dan keringat di wajah suaminya. Lalu ia meraih piring Bilmar untuk dibawanya ke dapur.


Bilmar menggeleng dan meraihh piring itu kembali. Tentu saja perjuangannya selama sebulan ini akan sia-sia begitu saja jika ua kalah dengan sebuah nasi goreng. Ia sudah bekerja keras untuk menemani Alika mengkonsumsi makanan sehat seperti itu. Ia tidak mau istrinya goyah karena melihat dirinya yang tergoda menikmati makanan penuh bumbu seperti dulu.


"Aku suka kok makanan ini, ayo kamu juga makan----" Bilmar tetap bertahan dalam niatnya.


Tentu semua ini ia lakukan hanya karena cinta istri serta calon bayi mereka.


****


Hot Dady---Hot Husband❤️