
Hayy pagii kesayangan❤️
masih di part yang nggak banget yah😭
yuk mari baca
🥺🥺
***
Bilmar terus berlari bersama iringan roda brangkar yang membawa tubuh Alika untuk masuk kedalam ruang operasi beserta beberapa Perawat dibelakangnya. Menggenggam jari-jemari sang istri yang sebentar lagi akan dilepas diambang pintu. Dari arah belakang terlihat ada Binar yang menyusul dengan langkah cepat, beriringan dengan brangkar yang membawa tubuh Rendi untuk masuk juga ke ruang operasi bersama Alika.
Alika dan Rendi harus tetap berjuang dan bertarung untuk menggenapnya nyawa mereka yang saat ini sedang kritis. Harus menjalani operasi untuk pengambilan proyektil peluru yang hampir menembus Paru dan Jantung mereka. Kedua nya masih dikatakan aman, namun tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi dibalik meja operasi.
Hanya ada dua jawaban saat ini, kegagalan atau kesuksesan.
"Sampai sini saja ya Pak, Bu!" ucapan Perawat membuat kedua kaki Bilmar dan Binara terhenti seketika.
Plass..
Pintu kamar operasi ditutup rapat.
Wajah mereka peluh dan basah. Aungan dan teriakan secara membabi buta sudah dikeluarkan Bilmar semenjak tadi.
Semua jari-jari tangan kiri Bilmar sudah dibalut perban secara utuh untuk menutupi luka. Karena perbuatannya telah meninju cermin di ruang UGD untuk meluapkan emosinya disana, ketika melihat Alika sedang diberi pertolongan pertama di UGD Rumah Sakit. Dokter memutuskan akan melalukan tindakan operasi. Ia sangat tersiksa melihat Alika yang tengah mengandung benihnya, tidak sadarkan diri. Hatinya hancur, ia merasa ingin ikut mati saja jika sang istri tidak bisa diselamatkan.
Bagaimana dengan Binar? wanita ini tak kalah hancur, ia terlihat sudah berkali-kali pingsan dan sedikit kejang, karena depresinya mulai kambuh. Dirinya tidak akan sanggup jika harus membayangkan calon suaminya pergi meninggalkannya bersama janji-janji pernikahan dan sengenggam pengorbanan yang selama ini sudah mereka lalui.
Dan Papa Luky Artanegara, ia menjadi orang yang paling menderita saat ini. Harus tetap bersikap tegar walau hatinya begitu terhimpit dan susah bernafas. Ia tidak bisa berbuat apapun. Ia sudah berhasil menggantungkan nyawa anak kandungnya dengan Allah. Anak yang selama ini ia cari-cari sampai ke belahan negeri sekalipun, yang saat ini sedang tidak berdaya karena perbuatan tangannya sendiri. Anak yang pernah menolongnya dari maut. Anak yang memang benar-benar sudah ia temukan namun dalam suasana yang mencekam dan tidak pantas untuk dipeluk.
Bilmar sedang menundukan wajah ke arah lutut dan mengunci kedua kaki dengan tangannya, duduk mengampar begitu saja dilantai. Posisi saat ini, sangat merendahkan dirinya dari jabatan yang sedang ia jalani. Lagi-lagi hanya karena sosok Alika alias Berliana. Apakah ia sanggup menjalani kehidupan kedua tanpa Alika dan
Di sisi lain, terlihat Binara masih duduk dibangku tunggu pasien. Wanita itu terus menangis dalam dekapan Papa Luky.
"Apakah aku akan kehilangan mereka Pah?" tanya Binar ke Papa Luky dengan setengah kesadarannya.
Meremas-remas lengan baju sang Papa. Ia menanti jawaban pasti yang menggambarkan kejadian didalam. "Sabar Nak, kita harus terus mendoakan mereka." Papa Luky tetap memeluk erat tubuh Binar, lalu kedua matanya dibawa untuk melirik Bilmar yang masih duduk dengan frutasi.
Air mata Papa Luky masih menetes turun. Ia hanya bisa menatap ke atas seraya untuk meminta ampunan dan pertolongan. "Selamatkanlah anakku dan calon menantuku, ambil saja nyawaku untuk penebus dosa ini." gumamnya begitu lirih.
Papa Luky melepas Binar sebentar dan meraih tubuh Bilmar untuk didekapnya. "Sabar, Nak. Sabar.." ucap Papa Luky dengan amat lirih sampai suaranya hampir tidak terdengar. Ia rangkul Bilmar untuk dibawanya duduk bersama Binar.
Dua anak manusia tersebut kembali menangis terisak. Papa Luky merangkul keduanya, meletakan kepala mereka dibahunya untuk memberikan kekuatan.
"Pah...?"
"Pah...?"
Bilmar dan Binara bersamaan memanggil Papa Luky dan mendongakkan wajah mereka untuk melihat lelaki ini dengan jelas.
"Kenapa Nak?" jawab Papa Luky melihati anak-anak mereka secara bergantian.
"Bukan Papa kan yang melakukan semua ini?" tanya Bilmar dengan tatapan penuh kesenduan.
Jika ia mengaku mungkin hidupnya akan berakhir saat ini juga ditangan Bilmar dan hujaman kutukan mengalir dari Binara.
Ia yakin Alika dan Rendi akan selamat. Ia harus tetap menjaga hidupnya agar bisa memeluk kembali Alika dan mengatakan jika ia adalah ayah kandungnya serta menjaga kebahagiaan Binar yang sebentar lagi akan menikahi Rendi.
"Bukan Nak, Papa tidak ada kaitan apapun dengan masalah ini." jawabnya terus merangkul tubuh Bilmar untuk mengusir rasa kecurigaan dari hati anaknya.
Bilmar masih belum bisa mencerna dengan baik, yang ia fikirkan saat ini hanya keadaan istrinya. Mungkin setelah Alika sadar, seluruh kekuatan tubuhnya akan ia kerahkan untuk mencari pelaku nya sampai ke ujung manapun.
Lampu depan pintu kamar operasi masih terus menyalah, memberikan kode bahwa operasi masih berjalan didalam. Alika dan Rendi harus terus berjuang untuk membawa mereka kembali kedalam pelukan Bilmar dan Binara.
Papa Luky tetap terus berdoa dengan kusyu didalam hatinya. "Alisa, tolong temani anak dan calon menantu kita didalam..maafkan aku..!"
***
Doakan mereka ya guyss😭
Berikan semangat kalian untuk aku yaa..
Like, Vote, Rate and Komen..
Thankyou, with love Gaga.❤️❤️