
Haii selamat siang.
Selamat hari jumat
Selamat baca yaa
🤗🤗🤗
****
Setelah semalam suntuk memikirkan masalah anak-anak mereka lalu ditambah dengan amukan dari kedua istri masing-masing. Bilmar dan Galih begitu pusing dibuatnya. Lagi-lagi mereka harus tidur di sofa. Bilmar dan Galih terus mendapatkan tatapan dingin dan sikap acuh dari Alika dan Nadifa.
Maura dan Gifali mendadak demam dari semalam. Mungkin karena efek kejadian hampir tenggelam kemarin di pantai.
"...Minum obat dulu ya, Nak!
"Kakak, minum obat dulu yuk--"
Alika dan Nadifa masih sibuk merawat anak-anak mereka. Mengkompres dahi dan memakaikan baju hangat, memeluk dan menemaninya di ranjang. Bedanya Nadifa masih harus mengurus ke dua anaknya yang lain, ibu hamil itu terlihat letih dan lemas.
"Mah, nggak ada Kopi?"
"...Sayang, aku lapar!"
Seruan Bilmar dan Galih yang begitu saja tidak di ladeni oleh Alika dan Nadifa. Kedua istrinya terus merajuk.
"Bikinlah sendiri, aku lagi urus Gifali--"
"....Kamu nggak liat aku lagi kompres Maura??"
Hanya jawaban itu yang mereka dengar. Duduk menggelosor di sofa. Kedua lelaki ini hening, mau bagaimana lagi? Suka tidak suka, Galih dan Bilmar harus memutuskan untuk saling meminta maaf.
"Udah jangan ngambek, Mah! Nanti Papa minta maaf deh sama si biawak---"
".....Gila, cemen banget saya bisa kalah duluan sama si kambing!"
Batin mereka menyeruak, dengan hati sedikit dipaksakan, mereka pun berlalu keluar dari paviliun.
Blasss.
Langkah kaki mereka saling bertemu. Masih ada raut mengerut namun seketika itu menghilang, karena mereka saling mentertawakan diri masing-masing.
"Kenapa, Mas? Wajahnya kok kusut gitu?" Galih kembali meledek
"Wajah kamu yang berantakan, Mas--"
"Mas Bilmar belum sarapan ya? Nggak di masakin sama istrinya?" Galih kembali tertawa.
Wajah Bilmar hanya merengut dan memicingkan bibir. "Kok tau?"
"Kita sama, Mas! Saya juga nggak dibuatkan Kopi pagi ini--"
Lalu
Lagi-lagi suara tertawa mereka begitu nyaring terdengar.
"Hahahaha....memang kita teman senasib dalam segala hal! Maafkan saya kemarin, saya salah faham. Harusnya saya yang minta maaf dan berterima kasih karena Gifa sudah menyelamatkan Maura!" Bilmar mengangkat tangannya untuk bersalaman.
"Sama-sama, Mas. Saya juga mau minta maaf, kemarin saya masih kesulut emosi. Saya juga menyesalkan sikap Gifa yang tanpa izin membawa Maura begitu saja keluar paviliun---" Galih pun menyambutnya dengan hangat.
Mereka pun saling merangkul dan bermaafan.
"Kita ke rumah Pak Farhan aja ya, saya udah lapar banget soalnya!"
"Ayo, Mas. Saya juga butuh kopi---"
Mereka pun berlalu, untuk menyusahkan keluar Pak Farhan saat ini. Bilmar dan Galih persis seperti Tom and Jerry, entah bagaimana jika suatu saat nanti mereka bertemu kembali untuk menikahkan anak-anak mereka.
Mungkin saja kan? Jodoh kan tidak ada yang tahu? Serahkan saja pada Semesta❤️
****
Maura masih meringkuk dibalik selimut tebalnya. Mata nya terpejam, terdengar suara rintihan yang keluar dari dua katup bibirnya. Ia mengerang karena menahan panas.
Lalu
Ada hentakan tarikan dari luar selimutnya, lengannya ditusuk-tusuk dengan sebuah jari.
"Maura, ayo bangun--" Ada bisikan di telinga kirinya. "Maura, ini aku Gifa!" suara pelan itu menyeruak masuk sampai ke gendang telinga Maura, seketika membuat ia membuka matanya perlahan.
"Ayo kita main!" Gifali terus menarik-narik selimut Maura. Maura pun bangkit dengan mata sendu, ia menyibak selimutnya untuk duduk ditepi ranjang.
"Apa itu--?" Jari telunjuknya menunjuk ke arah dahi Gifali.
"Kata Mamaku, ini plester untuk penurun demam, seperti yang kamu pakai saat ini!" jawabnya sambil menunjuk plester penurun demam yang menempel di dahi Maura.
"Kamu sakit?"
"Ya--"
"Aku juga sakit, Gifa!"
"Aku juga sakit, Maura--"
"Terus?"
Selak Maura cepat. "...Main!!"
Dengan langkah semangat, Gifali menggandeng tangan Maura untuk di bawanya keluar paviliun. Karena sudah mendapatkan wejangan dari Mama masing-masing bahwa apa yang mereka lakukan kemarin itu adalah sebuah kesalahan, maka Gifa dan Maura sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Maura dan Gifa duduk-duduk disekitaran taman paviliun, sesekali mereka sama-sama tertawa, saling meledek, mengejar kucing dan kelinci.
"Pulang besok, Mba? Bukan karena masalah anak-anak kita kan?" tanya Alika yang begitu saja kaget dengan ucapan Nadifa sambil mencuci sayuran di wastafel.
Nadifa dan Alika kembali memasak bersama untuk makan siang keluarga mereka di paviliun Alika.
"Awalnya aku fikir Mas Galih memang masih marah, tapi tadi pagi memang ada telepon dari kantorny. Kalau ada rapat dengan Presdirnya lusa, dengan terpaksa aku memajukan satu hari kepulangan kita sekeluarga!"
"Sayang sekali ya, Padahal anakku baru saja punya teman seperti anak-anak kalian. Kasian anakku nanti, pasti akan kesepian lagi--" suara Alika terdengar peluh.
"Kalau adiknya sudah lahir pasti tidak akan kesepian lagi." Nadifa tersenyum sambil mengelus-elus perut Alika.
"Lancar persalinannya ya, Mba. Selamat sudah berhasil memiliki empat orang anak!" Alika masih mengaduk-aduk makanan di dalam wajan dengan spatula nya.
"Itu kan yang di lihat banyak orang, Mba! Di balik itu ada segudang perjuangan dan air mata di rumah tangga kami dalam mendapatkan seorang anak!"
"Jangan salah, aku kosong selama 5 tahun pernikahan, loh. Tapi aku dan Mas Galih tidak pernah gentar. Kami selalu saling menerima keadaan masing-masing---" imbuh Nadifa.
"Masya Allah, begitu besar perjuanganmu Mba. Sekarang tinggal memetik hasil buah kesabaran!" Alika takjub
"Aku juga masih belajar untuk selalu bersikap sabar dalam menjalani rumah tangga ini bersama Mas Galih, Mba--"
Alika hanya tersenyum terus fokus mendengarkan beberapa petuah yang dikeluar dari bibir Nadifa.
"Aku salut dengan kamu, Mba!"
"Makasih Mba--"
Di rasa masakan mereka sudah matang. Nadifa dan Alika pun berlalu ke meja makan untuk menata makan siang mereka. Begitu hangatnya kebersamaan mereka. Semoga saja bisa terjalin terus sampai suatu saat nanti.
"Ini buat kamu, Maura!" Gifa mengaitkan seuntaian gelang miliknya ditangan Maura.
"Apa ini?"
"Ini gelang!"
"Kok jelek?"
"Nggak apa-apa, itu kenang-kenangan dari aku!"
"Ya, baiklah Gifa. Terimakasih ya--"
"Kakak, ayo kesini. Kita main lagi!!" Gana dan Gelva memanggil Gifali dan Maura untuk menghampiri mereka yang sedang bermain.
Kedua anak yang sedang sakit itu pun kembali bermain, tidak ada lagi kesalah fahaman di antara orang tua mereka masing-masing. Mungkin setelah ini akan menjadi perpisahan terpanjang dan terlama untuk Maura dan Gifa.
****
.
.
.
.
.
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘