
Haii selamat siang.
Aku kembali guyss
Selamat baca ya
🖤🖤🖤🖤
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ayo ikut saya..." Dengan refleks Diego menggandeng tangan Alika untuk mengikuti langkahnya.
Kedua mata Alika terjerembab melihat tangannya digandeng kuat menuju meja makan.
"Tuan..." Serunya. Ia mencoba melepas, tapi Diego tetap memaksa.
Jika Bilmar datang dan melihat, sudah dapat dipastikan Diego akan terkapar tidak berdaya karena serangan tangan Bilmar yang maha dasyat. Jangankan menyentuh istrinya, lelaki lain yang hanya menatap saja, ia tidak suka.
"Ayo duduk, temani saya sarapan dulu..."
Alika terperangah.
"Hem....maaf Tuan, tapi saya sudah makan. Apa saya boleh langsung bertemu dengan----"
"Daddy...."
Ucapan Alika terhenti ketika ada suara anak kecil tengah melangkah tertatih-tatih menghampiri mereka di meja makan.
"Masya Allah!"
Jantung Alika seperti begitu saja mencelos lepas dari tubuhnya. Tak kala ia melihat seorang anak perempuan yang sedang berjalan dalam kondisi memperihatinkan.
"Astagfirullohaladzim..." Ada cairan bening yang muncul dan menggenang di pelupuk matanya.
"Ya Allah, apakah benar kamu Gadis? Keponakan ku? Kenapa keadaanmu seperti ini, Nak?" Hati Alika begitu lirih.
Diego menggendong anak itu ditangan kanannya dan membawa tongkat jalan milik Gadis di tangan kirinya.
"Berliana, perkenalkan ini anakku Marsela---"
Anaknya???
Alika masih terpaku, ia terus melihati anak perempuan itu tak urung-urung.
Mengapa dia menyebut Gadis sebagai anaknya? Oh apakah ia yang telah mengadopsi Gadis dari panti asuhan? Bukan Ny. Gweny?
"Berlian??"
Diego menghentaknya kembali. Alika pun terkesiap, ia menghela nafasnya kasar.
"Oh iya Tuan, maafkan saya! Saya tidak fokus dengan panggilan Tuan, sekali lagi maaf..."
"Kamu kenapa? Kurang sehat?"
Alika menggeleng. "Saya sehat Tuan!"
Tubuh Alika memang sehat. Tetapi batinnya yang merana, melihat sang keponakan tidak bisa berjalan dengan baik tanpa tongkat disisinya.
"Sayang, kenalkan ini Suster Berliana. Suster ini yang akan merawat Oma."
Alika pun mencoba mengelus tubuh anak itu. Tapi sayangnya Gadis mengelak. Ia takut disentuh oleh orang yang tidak dikenal. Kedua tangannya di alungkan di leher Diego dengan erat.
Ia seperti anak yang tengah ketakutan. Ia membuang wajahnya ke arah belakang leher Diego, tidak mau menatap Alika.
"Sela...suster ini baik, Nak---"
Diego merayu sang anak. Ia langsung memutuskan bahwa Alika adalah wanita yang baik. Wanita yang berhasil mencuri hatinya pada pandangan pertama. Tidak bisa dibayangkan jika wanita yang ia anggap baik hanya menyamar untuk merebut kembali Gadis dari tangannya.
Alika hanya memberikan senyuman tipis kepada Diego.
Gadis/ Marsela hanya menggelengkan kepala seraya tidak mau mendengar dan melihat.
"Maaf Berliana, anak ku ini takut dengan Perawat dan Dokter. Ada sedikit trauma, maka dari itu saya susah jika harus membawanya kerumah sakit untuk menjalani terapi pada kakinya."
"Maaf Tuan jika saya lancang untuk menyakan hal ini, memang ada masalah apa dengan kaki anak anda, Tuan?" Tanya Alika.
Diego diam sebentar. Terus mengelus-elus tubuh sang anak. "Ayo duduklah, kita sarapan dulu. Setelah itu akan saya antar ke kamar Ibu saya---"
Diego sepertinya tidak mau membahas masalah ini, ia tidak mau mengulang luka pada hatinya dan juga Gadis. Ada masalah di masa lalu.
"Ayo Nak, Daddy suapi ya!" Diego menurunkan Gadis di kursi yang berada disampingnya. Ia terlihat bergeliat dilengan Diego. Kedua matanya terus saja melirik-lirik alika dengan rasa takut-takut.
"Aku tantemu sayang...." Alika menatap Gadis dengan nanar.
"Mengapa kamu jadi susah untuk didekati? Tapi wajarlah namanya juga baru pertama kali bertemu, Tante akan berusaha mendapatkan hatimu, Nak!"
Alika menguatkan dirinya. Ia tidak mau terlihat aneh atau sedih karena terus melihati Gadis. Diego tidak boleh mencurigainya.
"Bagaimana keadaan Ny. Gweny Tuan?"
"Mami saya sudah tidak bisa berjalan lagi. Sehari-harinya hanya bisa beraktivitas dikursi roda. Memang ada Baby Sitter yang menjaga untuk memandikan, menyuapi dan lain-lain."
Diego menjeda ucapannya dan beralih sebentar kepada anaknya yang mencoba meraih sandwich yang ada di meja.
"Ayo habiskan dulu yang ada dimulutmu, nanti Daddy suapi lagi."
Alika menatap bahagia ketika Diego menyayangi Gadis seperti anaknya sendiri.
Tapi Maaf Diego, aku akan tetap mengambilnya dari mu. Gadis milik Binara, anak kandung adikku !
Diego kembali menoleh ke arah Alika dan kembali bertutur.
"Tapi saya juga menginginkan seorang perawat khusus untuk membantu Mami dalam minum obat, mengecek tensinya, suhu dan gula darahnya serta bisa membangkitkan gairah hidupnya kembali. Mungkin dia butuh teman bicara."
"Jujur itu lah kekurangan saya sebagai anak, tidak bisa memberikan waktu penuh untuk Mami."
Alika mengangguk dan tetap tersenyum tipis. "Saya akan mencoba untuk merawat Ny.Gweny dan Marsela----"
"Marsela?" Diego mengulang ucapan Alika.
"Iya Tuan, apakah boleh?"
"Tidak usah Berlian, kamu cukup fokus saja dalam merawat Mami saya. Kalau untuk Marsela, ia sudah punya babysitter sendiri yang merawatnya. Hanya saja memang sudah seminggu ini Mbak nya Sela ijin untuk pulang kampung, tapi saya masih punya beberapa Art dirumah ini untuk menyiapkan segala keperluan Sela. Jadi kamu fokus saja dengan Mami."
"Tidak apa-apa Tuan, saya akan menjaga dan merawatnya jika pekerjaan saya dengan Ny. Gweny sudah beres? Saya pastikan Ny. Gweny akan selalu minum obat tepat waktu!"
Alika memberikan senyum terbaiknya, membuat Diego terus memperhatikannya lebih dalam. Jantung lelaki itu berdegup cepat, ia merasa Alika adalah wanita yang selama ini ia cari-cari untuk menutup segala kesepiannya.
"Dad..?" Panggil Gadis dengan suara yang begitu polos membuat pandangan Diego seketika buyar.
"I---ya sayang, ayo buka lagi mulutmu!" Diego memasukan kembali potongan sandwich ke dalam mulut Gadis.
Semoga saja Alika bisa membawa dengan mudah Gadis dari rumah ini.
****
"Ah sakit! Kamu memang tidak becus, pergi sana! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! PERGI------"
Suara yang terdengar dari dalam kamar Ny. Gweny begitu saja mengagetkan Diego dan Alika yang baru saja sampai didepan pintu kamar orang tua ini.
Krek.
Terlihat seorang Art dengan langkah blingsatan keluar dari dalam dengan nafas tersengal-sengal.
"Maaf Tuan saya permisi dulu--" Ucap Art itu dengan wajah menunduk, wajah dan baju nya terlihat basah. Sepertinya Ia habis di siram air oleh Ny. Gwenny.
Tentu saja kejadian itu membuat Alika meringis. Ia sedikit takut, bagaimana jika Ny. Gweny bersikap hal yang sama kepada dirinya.
"Jangan takut ya, Mamiku orang yang baik kok!" Ucap Diego menyemangati Alika.
Alika mengangguk. "Iya Tuan...."