Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Aku rindu kamu


Balik lagi nih❤️


selamat baca 🤗


***


Kring..kringg..


Dering suara telepon klinik berbunyi nyaring.


"Ya hallo?"


"Ya, sayang."


Alika diam sebentar, tidak langsung menjawab. Ia tahu siapakah pemilik suara ini.


"Sayang, kamu baik-baik aja?" tanya Bilmar kembali.


"Ya, aku baik."


Kemudian, hening sebentar. Bilmar tahu kini istrinya tengah merajuk mungkin masih kesal dengan suasana rapat tadi.


"Ayo kita pulang sayang, aku harus tunggu dimana nih?"


"Pulang lah duluan Bil, aku akan sampai malam diklinik, bella tidak masuk!"


Kemudian dua-duanya terdiam, Bilmar tahu ini hanya alasan Alika saja. Mungkin ini adalah suatu bentuk protes dirinya kepada suaminya. Namun Alika tidak bisa sepenuhnya melimpahkan rasa kecewa itu secara sepihak kepada Bilmar, karna sebagai seorang Presdir tentu dia harus bersikap bijak sampai perkara dapat diselesaikan tidak boleh memihak kepada siapapun walau menyangkut dengan orang terdekat sekalipun.


"Ya sudah, aku akan tunggu kamu juga disini sampai malam!"


"Nggak usah Bil, nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri?"


"..Pulang malam nggak baik, nanti kamu kenapa-kenapa dijalan!"


"Aku udah biasa!" nada Alika terasa melengking sedikit.


Terdengar disana Bilmar seperti sedang menghela nafasnya dengan pelan lalu mengeluarkannya ke sembarang arah. Ia masih diam belum bisa menjawab.


Alika berujar lagi. "Aku nanti bisa pulang pakai motor, motorku kan aku tinggal disini dari kemarin, nggak usah tunggu aku ya. Kalau sudah malam, tidur saja duluan!"


"Say----"


Tutt...sambungan telepon seketika diputus oleh Alika, ia belum sempat mendengarkan apa kah suaminya mengijinkan atau tidak. Tapi begitulah Bilmar, rasa sayangnya teramat dalam. Ia hanya bisa menuruti dan mengiyakan kemauan istrinya, Alika ada tipe orang yang sedikit kerasa kepala. Jika semakin disuduti maka ia akan semakin keras membatu.


Akhirnya dengan keterpaksaan, Bilmar pulang sendirian ke rumah, entah alasan apa yang akan ia berikan kepada Maura, jika menanyakan keberadaan Alika, mengapa sang Papa tidak pulang bersama Mamanya?


"Dok, Bell, Sof. Kita lembur sampai malam ya, kita harus mencari data-data pasien yang sudah kita rekap, kenapa bisa ada kesalahan laporan, seperti masalah tadi siang!"


Semuanya mengangguk dan setuju. Betul saja, mereka tidak mau dianggap bersalah atau memanipulasi data angka klaim keuangan. Sudah delapan tahun Alika berbakti di ECO GROUP dan ia tidak pernah melakukan kecacatan sekalipun dalam menjalani karir nya selama disini.


Ia melakukan ini bukan hanya semata-mata untuk membuktikan kepada Bilmar, namun ia harus membersihkan nama pegawai klinik yang lainnya di semua bantaran cabang EG serta mencari tahu siapakah dalang dari semua ini.


***


Kian sore terus bergulir berubah menjadi malam yang pekat. Tidak terasa waktu sudah berjalan sampai pukul 21:00 malam. Setelah mencari-cari bukti dengan para temannya diklinik namun sepertinya keberuntungan belum berpihak kepada mereka, karna ada beberapa catatan dalam buku yang hilang begitu saja. Alika masih curiga dengan Johan yang tidak lain adalah kakak sepupu dari Danu, lelaki yang beberapa tempo lalu pernah mencoba memperkosa dirinya digudang.


Suara motor Alika sudah berdecis pelan mendarat digarasi rumah mewah ini. Melepas helm dan meninggalkannya diatas jok motor. Membereskan rambutnya yang setengah berantakan dan berjalan menuju pintu utama. Ketika ia ingin membuka handle pintu, ada Papa Bayu yang membukanya.


"Pa? belum tidur?"tanya Alika sambil mencium punggung tangan Papa mertuanya.


"Masuklah Nak, Papa ingin berbicara sebentar dengan Alika, apakah bisa?"


Mengingat hari sudah malam, terlihat didalam rumah ini sudah tidak ada aktivitas lagi, semua penghuninya sudah beristirahat dikamar masing-masing.


"Papa hanya ingin meminta satu permohonan kepada kamu Nak,"


"Apa Pa?" Kerutan dikening Alika sudah semakin tampak terlihat, ia menunggu cepat jawaban dari mertuanya ini untuk menghilangkan kegusaran di dalam hati dan kepalanya.


"Jangan pernah tinggalkan anak Papa dan cucu Papa apa pun yang terjadi! Alika adalah sumber kebahagiaan mereka."


Alika makin menjadi-jadi dalam penerkaan yang kini tengah menjulang tinggi didalam jiwa nya. Ia hanya bisa menafsirkan sendiri atas ucapan yang keluar dari mulut lelaki paru baya ini. Tentu ia tidak akan merengek untuk meminta penjelasan lebih detail atas ucapan Papa Bayu barusan. Ia hanya merasa mungkin Papa Bayu berucap seperti ini hanya karna ingin Bilmar selalu bahagia.


Alika tersenyum mantap, ia harus bisa membuat Papa Bayu percaya padanya.


"Iya Pa, sebisa Alika akan selalu berada disisi Bilmar dan Maura,"


"Apapun yang terjadi?" tanya Papa bayu kembali, sontak semakin membuat hati Alika menjadi gundah gulana akan kecurigaan yang makin meruah-ruah.


"Iya Pa, Insya Allah." jawab Alika dengan lancar, membuat Papa Bayu terasa lega dan plong dari beban yang masih menusuk dihatinya.


"Ya sudah, istirahatlah Nak. Suami mu sudah menunggu dikamar!"


Alika mengangguk dan berlalu meninggalkan Papa Bayu yang masih melihatinya dari bekakang.


Krekk


Pintu kamar dibuka, terlihat suasana gelap sudah menyelimuti ruangan. Terlihat Bilmar sudah tertidur di atas ranjang milik mereka dengan selimut menutupi tubuhnya. Alika hanya berdiri ditepi melihati wajah suaminya. Mungkin malam ini ia tidak akan tidur disini, ia akan tidur dan mandi dikamar Maura.


Alika rindu anak itu. Dia merasa bersalah tidak menepati janji untuk tidak akan pulang malam hari ini, nyatanya Alika berdusta. Lalu ia pun mengambil satu bantal guling untuk dibawanya ke kamar Maura.


Sebelum kaki nya kembali melangkah, sudah terlebih dahulu tangan kanannya digenggam oleh Bilmar, sontak membuat ia menoleh cepat ke arah genggaman itu.


Bilmar bangkit dari posisinya dan duduk menyila ditepi ranjang, masih memegangi tangan sang istri.


Dengan sangat lembut ia berucap. "Kamu baru pulang sayang? mau kemana bawa bantal segala?"


Gugur sudah perawakannya sebagai Presdir EG saat ini, Bilmar terlihat seperti anak bayi yang tidak mau tinggal oleh sang Mama.


"Aku mau ke kamar Maura, Bil!" Alika mencoba melepaskan tangan suaminya yang halus dan lembut.


Dan Kemudian bukan hanya tangan tapi seluruh tubuhnya kini dibekukan oleh Bilmar, ia memeluk erat perut Alika ditepi ranjang dan mejatuhkan kepalanya dipertengahan dada wanita ini. Sungguh manjanya saat ini melebihi sang anak mereka.


"Kenapa bawa guling? pasti mau tidur disana ya?" Bilmar mendongakkan wajahnya, ia amat lucu saat ini.


"Kasian Bil, Maura tidur sendirian dikamarnya. Aku nggak tega!" ucap Alika dengan nada datar dan tertohok, ketika Bilmar mulai meraba-raba punggungnya.


"Maura itu udah biasa tidur sendirian dikamarnya, jadi kamu nggak perlu takut sayang." jemari Bilmar sudah bisa melolong kedalam baju seragam Alika. Bergerak cepat kebelakang punggung untuk melepas kaitan Bra nya.


Alika masih terpaku diam, tidak mau bicara dan tidak bisa berkutik. Malah sama nya saja sudah ikut terhasut kedalam permainan tangan Bilmar.


"Bil, aku belum mandi!" ucap Alika masih memejamkan matanya. "Nggak apa-apa, aku lebih suka wangi tubuh aslimu, malam ini aku kangen kamu!" ucap Bilmar lalu merubah lekukan tangannya ke arah bawah dan membuka kait celana.


Segera ditarik tubuh biola Alika agar berpose indah di atas ranjang kepemilikan mereka.


"Bagaimana aku bisa berkata jujur tentang Binar, jika dengan hal sepele seperti tadi siang saja, sudah membuat kamu merajuk dan ingin meninggalkan aku? tidak akan aku biarkan hal itu terjadi.


****


Aku terharuu banget sama komenan positif kalian dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗


Kaya biasa


Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.


thankyou❤️😘😘