
Haii selamat pagi guys.
Sudah tiga hari aku libur nulis cerita tentang mereka. Sesuai janji, pagi ini aku kembali membawakan kisah mereka.
Yang udah pada rindu
Selamat baca ya guyss
❤️❤️❤️
Tepat empat puluh hari sudah Maldava Ammar di lahirkan ke dunia oleh Alika dengan proses persalinan normal, menahan rasa sakit selama18 jam dan luka jahitan masih terus terbayang dalam benaknya.
Maka dari itu setelah masa nifasnya habis ia meminta Bilmar untuk mengizinkannya menjalankan program KB. Awalnya Bilmar menolak. Ia tidak ingin Alika KB, ia takut jika akan lama lagi punya anak.
Namun Alika meyakinkan kalau ia ingin fokus mengurus Ammar yang masih bayi, Maura yang sudah mulai masuk SD, dan ia yang harus kembali masuk ke EG serta mempunyai keingingan untuk melanjutkan sekolah profesi keperawatannya.
Maka dari itu Bilmar mengizininkan Alika untuk KB dulu sampai 4 tahun usia ammar.
Acara aqiqah Ammar sudah berlalu 2 jam yang lalu di kediaman Papa bayu. Para karyawan EG, para kerabat dan keluarga berdatangan hadir. Mereka semua memakai pakaian serba putih. Acara begitu syahdu dan hikmad.
"Aduh ganteng banget sih kamu sayang--" Bella dan Sofia masih melihati bayi Ammar yang sedang tertidur pulas di bouncher bayi.
"...Kayanya cocok kalau nanti dijodohin sama anak gue, Bell!"
"Ya elah, udah mikirin anak. Cari aja dulu bapaknya.." Sofia mencebik.
"Selamat ya, Al. Kamu dan anak kamu sehat semua." Sambung Dokter Hana.
"Aamiin. Makasi doanya Dok, semoga kalian cepat menyusul ya." balas Alika dengan senyuman hangat.
Di ambang pintur luar terlihat Bilmar yang masih menggendong Maura, Rendi, Papa Luky dan Papa Bayu terlihat masih bersenda gurau untuk mengantar para handai tolan kembali untuk pulang.
Lalu
Ada langkah dari pintu belakang taman, terlihat Binara. Berjalan cepat sambil menangis tersedu-sedu lalu menaiki anak tangga.
Alika terus menyeret kedua bola matanya untuk mengikuti langkah sang adik yang sudah sampai di atas dan berlalu.
"Oh iya sebentar ya, aku titip dulu Ammar--"
Mereka mengangguk bersamaan.
Akhirnya Alika pun menyusul dan mencari keberadaan adiknya yang sedang menangis tersedu-sedu.
Di lihatnya sang adik tengah tidur dengan posisi miring sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
"Adiku...sayang..."
Seketika Binar melepaskan bantal itu dari wajahnya karena mendengar ada suara lembut sang Kakak yang datang menyusulnya ke kamar. Alika duduk ditepi ranjang sambil mengelus-elus punggung sang adik.
"Kakak---"
Binara pun dengan cepat bangkit untuk mengalungkan kedua tangannya di leher Alika. Ia semakin mengeluarkan isak tangis kepada Kakaknya.
Alika sudah hafal dengan sikap Binara yang seperti ini, ia pasti sesak dengan acara aqiqah Ammar. Karena menjadi teringat kembali kepada semua anak-anaknya.
Kandungan pertama anak bersama Rendi yang baru saja gugur dan kehilangan Gadis sampai saat ini. Hanya ada harapan kecil dari nya jika anak perempuannya itu dapat ditemukan kembali.
"Sabar sayang---"Alika terus memeluk tubuh sang adik, untuk menenangkannya agar tidak menangis lagi.
"Hatiku sedih, Kak!"
"Iya Kakak mengerti itu. Kakak berjanji akan menemukan Gadis untuk Binar!"
"Menemukannya dimana, Kak? Sudah 6 tahun, jejak nya pun nggak tau ada dimana--"
"Nanti aku akan bicara berdua dengan Papa. Untuk mencari tahu, dimana kah terakhir ia membuang Gadis."
Binara melepaskan pelukannya, masih dalam bibir bergetar terseguk-seguk serta kedua mata yang sudah membengkak. Ia terus menatap ke arah dalam kedua mata Alika.
"Harusnya dulu Papa nggak buang anakku, Kak! Aku nggak akan menderita seperti ini!!" Ia memukul-mukul bantal untuk menghilangkan rasa perih yang bergelora dihatinya.
"Bagaimana kalau Tuhan marah padaku, Kak? Aku tidak akan mendapatkan anak lagi? Dan Gadis juga tidak dapat ditemukan? Terus hidup aku bagaimana, Kak??" ucapnya lirih dan suaranya sudah semakin serak karena banyak menangis.
Alika kembali meraih tubuh adiknya, untuk dipeluk.
"....Maafkanlah Papa, Bin. Maafkan segala perbuatannya yang banyak salah. Ini semua sudah terjadi, Binar harus tetap berlapang dada."
"Aku sudah bilang barusan, kalau aku akan berjanji membawa Gadis kembali kepadamu!"
"....Bagaimanapun keadaannya, kita harus tetap berusaha menemukannya!"
"Namun semua usah tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada doa yang mengiringi. Doa adalah tiang kekuatan dalam usaha kita!"
"....Binar harus lebih menyerahkan diri kepada Allah, meminta dan meyakini Allah, jika Binar mampu merawat Gadis kembali."
"Hanya doa ibu, yang dapat menggetarkan batin seorang anak, apalagi Gadis adalah anak kandung kamu, Bin--"
"Kamu akan punya anak lagi, mengandung lagi dan akan hidup bersama Gadis kembali! Aku saja optimis, masa kamu ibu nya tidak percaya?"
"Kamu memanglah ibu bagiku, Kak! Aku tenang kalau sudah sama kamu, begitu baiknya Allah, masih berbaik hati memberikanmu kepada aku dan Papa. Aku mencintaimu, Kak---" Binar semakin memeluk tubuh sang Kakak.
Binara merasa harapannya kembali bernyawa.
"Kakak juga mencintaimu, Binar!"
****
Waktu terus bergulir, tidak terasa malam ini sudah menujukan pukul 22:00 malam. Ada Bilmar yang masih terjaga didepan layar laptopnya di ruang kerja.
Sesekali ia mengucek kedua matanya dan menguap berkali-kali. Selama kelahiran anak keduanya, Bilmar menjadi lebih giat dalam bekerja, ia terus memajukan EG dan menginvetasikan beberapa saham di perusahaan milik orang lain.
Karena malam semakin pekat, ia pun memutuskan untuk menyudahi pekerjaan malam ini. Ia bangkit dari kursinya untuk berlalu dari ruang kerja menuju kamar tidur miliknya.
Krekk
Pintu kamar dibuka, terlihat lampu didalam sudah padam. Seperti biasa pemandangan yang terjadi di atas ranjangnya ada Alika, Ammar dan Maura yang tertidur disana.
Hanya Ammar yang masih bayi dengan posisi tidur rapih dan tegak lurus, beda hal dengan Maura yang posisi tubuhnya sudah lasak kemana-mana, kadang tak heran jika tengah malam Ammar menangis kencang, bukan karena haus melainkan kaki Maura yang hinggap dengan bebas di wajah sang adik.
"Sayang, capek ya--?"
Bilmar mengelus pipi istrinya yang sudah tidur terlelap. Alika hanya mendapatkan bagian sedikit di ranjang, sisanya Ammar dan Maura yang lebih mendominasi.
Selama adiknya lahir, Maura tidak mau lagi tidur sendiri di kamarnya. Ia merasa ingin juga diperhatikan sang Mama. Sampai saat ini terkadang ia masih suka cemburu dengan sang Adik yang lebih sering di timang dan di gendong oleh Mama dan Papa nya.
"Kayak biasa lagi nih, tidur di sini---" desah Bilmar ketika beranjak naik membaringkan tubuhnya di sofa kamar.
Untung saja sofa itu berbahan lembut, maka tubuh Bilmar selama ini bisa diajak bersahabat untuk tidur disana selama 40 hari.
Ia pun mulai memejamkan kedua matanya. Tidak berapa lama, ia menjadi grasak-grusuk. Mencari posisi yang nyaman.
Miring ke kiri atau miring ke kanan dan kembali dengan posisi terlentang. Ia terus menatapi Alika yang berjarak 4 meter darinya. Entah apa yang ia fikirkan sampai merubah rasa kantuknya malam ini.
Lalu, ia pun bertutur dalam keheningan.
"Sassy sudah bisa ditengok belum ya??"
****
.
.
.
.
.
.
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘