Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Kita, Pulang Sekarang!


Haii selamat malam


Aku kembali❤️❤️


Oh iyaa jumat nih, jangan lupa Al-Kahfi ya.


Selamat baca ya guyss


🤗🤗🤗


****


Waktu terus berjalan dengan cepat. Mengubah panas menjadi dingin, pagi menjadi sore dan sore menjadi malam. Membuat bunga-bunga peliharaan Alika sudah mulai tumbuh bermekaran dan si berry yaitu kelinci kepunyaan Maura terlihat makin besar dan dewasa.


Kelinci-kelinci itu sudah mampu beranak-pinak yang akan membuat Bilmar marah-marah setiap malam. Karena Maura akan membawa semua peliharaannya untuk masuk ke dalam rumah.


Tidak terasa sudah empat bulan Alika, Bilmar dan Maura menghabiskan waktu mereka di Pulau Bangsana, tepatnya di Artanegara Resort.


Kandungan Alika saat ini sudah memasuki usia enam bulan. Tubuhnya mungil namun perutnya sudah terlihat sangat buncit. Wajah dan tubuh Alika sudah terlihat lebih mekar dari sebelumnya. Alika hanya akan tertawa ketika suami dan putrinya menggodanya dengan kata gendut.


"Kamu makin cantik sayang, walau tubuhmu semakin montok dan berisi---" Bilmar berdecis geli.


"Biarlah gendut, yang penting anakku sehat!" Ucapan itu yang akan terus ia keluarkan, jika Bilmar tengah menggodanya.


Baginya tidak masalah, ia tidak akan marah seperti wanita hamil kebanyakan yang akan merajuk jika di goda.


"Pelan-pelan, Bil! Aku agak sedikit sesak--"


Alika mengeluh ketika Bilmar mencoba membantu untuk menarik resleting belakang bajunya.


"Baju hamil ini sudah nggak muat ya sayang, kamu harus meminta Binar untuk mengirimkannya lagi!"


"Tapi, baju ini baru saja dikirim oleh adikku dua minggu yang lalu sayang--"


Kragg.


Akhirnya resleting baju itu bisa di naikan sampai ke atas punduk.


"Duh, iya benar sayang. Aku semakin sesak--"


"Lepas aja ya, pakai kaos aku aja. Bagaimana?"


Bilmar khawatir dengan nafas Alika yang terasa tersengal-sengal. Bilmar pun membantu kembali Alika melepaskan pakaiannya.


Ibu hamil itu hanya diam duduk ditepian ranjang menunggu sang suami tengah berdiri menatap lemari untuk memilih baju yang akan ia pakaiakan kepada istrinya.


"Sayang, apa ini nggak salah? Aku seperti tenggelam pakai baju kamu yang kebesaran ini!"


"Yang penting kamu nggak sesak sayang! Udah turuti aja apa kataku, Al!


Satu bulan sekali, Bilmar akan membawa Alika untuk kembali ke kota, mengecek keadaan kandungan istrinya. Mereka harus pulang pergi memakai kapal laut. Walau kadang ombak besar suka menerpa kapal mereka, namun Alika adalah wanita kuat yang tidak akan cepat mengeluh kepada Bilmar.


Biasanya jadwal kontrol ke dokter kandungan akan disesuaikan dengan jadwal Binara. Adik tercintanya pun tengah hamil tiga bulan. Papa Luky dan Papa Bayu pun selalu ikut serta menemani putri-putri mereka ke Rumah Sakit.


Bilmar masih mengelus-elus perut Alika. Ia masih kefikiran soal jenis kelamin anak mereka.


"Aku heran sama anak ini, sampai sekarang, dia masih aja ngerjain kita, selalu main petak umpet, nggak mau ngasih unjuk antena nya sama sekali--"


"Kan kata kamu, Bilka atau Ammar nggak akan menjadi masalah?"


"Iya sih sayang, tapi kan aku penasaran. Ingin tau!" cicitnya manja. "Apapun lah, yang penting kamu dan anak kita selamat!"


"Dan ingat, Al! Kamu jangan lagi berulah macam-macam, aku nggak ingin kejadian kemarin kembali terulang--"


"Iya sayang, aku mengerti!" Alika menangkup wajah Bilmar untuk mengecup bibir tebal kepemilikan suaminya.


"Kayaknya, Maura masih anteng main di rumah Sinta, aku boleh nggak kalau sekarang nengok dia---" cicit Bilmar pelan, mengarahkan kedua matanya ke arah sassy.


"Iya sayang boleh! Sekarang kita mau pakai gaya apa?" Alika menggoda Bilmar.


"Kamu nih ya sengaja menggoda aku! Awas nanti kalau minta udahan---"


"Awww sayang!!"


Seruan Alika yang dibaringkan ke atas ranjang. Lama-lama suara berisik mereka menjadi hening dan nikmat.


Flashback Off.


Terlihat ibu hamil ini tengah menarik-narik kursi meja makan untuk di bawanya ke dalam kamar Maura. Ia letakan kursi itu persis di bawah sudut kamar yang terdapat sarang laba-laba.


Dengan susah payah, ia pun menaiki kursi itu lalu mencoba berdiri tegak menatap langsung sarang laba-laba yang akan ia bersihkan dengan kemoceng.


"Aduh banyak begini, bisa-biasa Anakku sakit karena banyak kuman!" Gumamnya terus membersihkan sudut kamar itu.


Krek


Terlihat di pertengahan kaki kursi itu sedikit retak seperti ingin terbelah. Namun karena Alika sibuk dengan aktivitasnya, ia tidak menyadari jika bangku itu sebentar lagi akan patah.


Lalu


Tanpa menunggu lama, bersamaan dengan kursi yang akan patah ada Bilmar yang cepat meraih tubuh istrinya sehingga tubuh montok itu tidak sampai mendarat ke lantai. Bilmar menyangga tubuh Alika sekuat mungkin.


"Sayang---" desahnya di liputi rasa takut dan kaget. Nafasnya naik turun, ia terlihat sedikit sesak.


"Hanya untuk bersihin kayak gitu apa perlu tunggu orang dulu, sayang?" Ucapnya berusaha untuk tenang, sesekali meraup oksigen di udara, karena nafasnya terasa agak berat.


"Akan fatal, Al! Kalau tadi aku nggak cepat menolong kamu! Bisa bahaya! Bisa-bisa aku akan kehilangan bayi kita!"


"Husss! Ngomong sembarangan! Aku nggak suka kamu ngomong kaya gitu!!" Alika pun mencoba membangkitkan tubuhnya dengan sekuat tenaga.


"Yaudah aku minta maaf ya, udah buat kamu cemas kaya tadi!"


"Iya, benar ya. Kamu tuh wanita sayang, mana lagi hamil, bersikap lah manis. Jangan bersikap kaya samson begitu!" Seketika Bilmar pun tertawa.


"Iihhh, kamuu tuh-----" Alika mencubit perut suaminya tanpa ampun.


Flashback On.


Drrtt..drrtt


Papa incamming call


"Papa?" ucapnya ketika melihat nama itu di layar ponselnya. Bilmar dengan cepat menarik wajahnya yang masih sibuk mengecupi leher Alika sambil memaju-mundurkan tubunya untuk menyerang inti sang istri.


"Ada apa ya sayang?" tanya Alika terus menatap langsung ke wajah Bilmar, yang saat ini masih menindih tubuhnya.


"Angkat lah dulu." Bilmar pun merebahkan kepalanya diceruk leher sang istri. Ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh mertuanya disambungan telepon.


"Hallo, Nak--" suara Papa Luky terdengar cemas.


"Papa kenapa? Kok suaranya kayak habis menangis??"


"Adikmu, Nak!"


"Bil, ayo bangun dulu!" Alika memerintah Bilmar untuk melepas paksa persatuan inti mereka. Lalu ia duduk berselonjor dan menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh mereka.


"Binar kenapa sayang?"


Alika hanya membidikkan bahunya, karena ia belum tahu apa yang tengah terjadi.


"Papa??" Alika kembali memanggil, suaranya Papa nya semakin jauh. Terdengar sama-samar ada suara Binara yang sedang menangis terisak. Lama-lama suara Papa Luky menghilang.


Tut...sambungan telepon pun terputus.


Alika semakin dibuat bingung, cemas dan khawatir.


"Ya Allah, Bil! Adikku kenapa ya?" tanyanya takut.


"Mau pulang sayang?"


"Iya sayang, kita pulang sekarang juga!"


****


.


.


.


.


.


Haii para kesayanganku, makasi seluruh apreciatenya yaa..untuk kisah Gifali dan Maura sudah end ada di novel ku yang berjudul "Gifali dan Maura", disana mereka sudah dewasa y. ada tiga masalah besar yang akan aku ceritakan disana, boleh mampir untuk membacanya ya.


Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Gifali dan Maura


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘