
Hayy malemm guyss..akuu balik lagih❤️
Selamat baca🤗
***
"Ren, jangan sekali-kali keceplosan di depan Alika. Saya belum siap untuk itu semua!"
"..Hmm, iyaa maaf Pak. Saya teledor, tapi apa nggak sebaiknya kalau dijelaskan dari sekarang Pak?" tukas Rendi mencoba memberikan saran.
Hanya keheningan yang mencuat dari wajah Bilmar.
"Ah sudah! ayo duduklah. Jelaskan ada malasah apa yang terjadi di EG?"
Rendi tidak langsung menjawab, ia masih terpaku melihati wajah Bilmar dalam-dalam. Rasanya ia memang belum puas.
"Saya bersedia Pak, untuk bertanggung jawab, saya akan memberikan ruang teduh untuknya!" Rendi berusaha meyakinkan Bilmar.
Bilmar menghela nafasnya perlahan, membuangnya kebawah secara teratur.
"Ini nggak semudah yang kamu fikir Ren, sudah lupakan saja. Ayo fokus bekerja, saya membayar kamu bukan hanya untuk membicarakan masalah ini!"
Rendi mengangguk pelan. Bagaimana pun ia harus bisa menerima apa keputusan Bilmar.
Kemudian Rendi mulai memberikan beberapa berkas audit keuangan 7 cabang EG beserta klinik perusahaan.
"Cabang 5 mengeluarkan dana untuk kesehatan para karyawannya tidak sesuai dengan catatan klinik perusahaan Pak, ada kless disini!"
Bilmar mengerut-ngerut kan keningnya sambil terus menatapi setiap laporan yang kini tengah ia periksa. Kedua matanya terus menyusuri setiap lembaran demi lembaran berkas.
Rendi terus melihati kerutan wajah Bilmar yang kadang berangsur hilang lalu muncul kembali dengan pekat.
"Kenapa perbedaan nilai nya jauh ya Ren? saya ngerasa nggak mungkin kalo Alika bohong atau salah sampai sebegininya?"
Rendi diam sebentar, ia sedang mencari alternatif dari solusi yang kini membelenggu mereka.
"Buat saja rapat mendadak Pak, panggil semua penanggung jawabnya. Mereka tidak akan punya waktu untuk berdalih!"
Bilmar menatap kedua mata Rendi dengan kode setuju.
"Besok kamu kondisikan dengan Pak Adit ya Ren, jadi---"
Ucapan Bilmar terhenti, tak kala pintu ruang kerja terbuka dan Alika sedang berjalan menghampiri mereka dengan membawakan dua cangkir teh dan kue beberapa potong di piring.
Rendi dan Bilmar pun mulai mendadak membereskan beberapa berkas dimeja yang bisa dengan mudah dilihat oleh Alika nantinya.
"Loh kok udah selesai?" tanya Alika ketika melihati mereka setengah berberes. Lalu meletakan makanan dan minuman yang ia bawa di meja.
Rendi hanya melongo melihati Alika tanpa rasa percaya dan pandangan aneh itu didapati oleh Bilmar. "Iya sayang, Rendi hanya meminta tanda tangan ku untuk beberapa berkas saja!"
Bilmar saling melemparkan padangan ke arah Rendi.
"Iya benar," Rendi memberikan senyuman samar yang tipis kepada Alika.
"Ya sudah ayo di minum dulu!" Alika masih berdiri tepat didekat kursi kerja Bilmar. Mengalungkan satu tangannya untuk menggapai bahu sang suami.
"Mama, Papa!"
Suara anak bocah yang muncul dari ambang pintu mencari keberadaan orang tuanya. Alika yang mendengarnya pun langsung beringsut untuk berlari menggapai tubuh sang anak.
"Jangan tatapi istriku seperti itu Ren! dia bukan maling!" Bilmar mendekati wajah Rendi sambil berbisik, lalu menyeruputi teh nya dan bangkit menghampiri Alika dan Maura yang tengah asik saling berpeluk.
"Mama rindu banget sama kamu Nak!" Alika memeluk erat tubuh Maura terus menghujani pipi gembil anak itu dengan ciuman.
"Papa!" Maura melepas pelukannya dari Alika untuk menerjang tubuh Bilmar.
"Duh anak Papa." Bilmar pun tak kalah rindu nya ketika memeluki putrinya.
Lalu menggendong Maura dan menggenggam tangan Alika untuk pergi dari ruangan kerja nya lalu menoleh kebelakang "Di lanjut besok aja Ren, saya masih capek sekarang!" tukas Bilmar memberi kode agar Rendi cepat pulang dari rumah.
Rendi mengangguk tanda faham namun senyuman yang ia berikan hanyalah senyuman pias dan itu semua tersirat di kedua mata Alika.
Batin Alika berdecak.
***
"Bagaimana kabarnya Binar Pa?" tanya Bilmar kepada Papa bayu ditaman belakang.
Mereka memutuskan untuk pergi ke taman mencari angin setelah satu jam lalu menikmati makan malam mereka. Memang sedari tadi saat di meja makan Papa Bayu tidak henti memberikan senyuman kebahagiaan untuk putranya karna sudah berhasil menikahi pujaan hati sang cinta abadinya. Bilmar dan Alika saling merangkul dalam pesona pengantin baru kebanyakan.
"Sudah fokus saja dengan rumah tangga mu dulu, untuk masalah Binar biar papa yang urus. Yang jelas dia sehat dan baik-baik saja!"
"Obatnya bagaimana? apakah masih rajin diminum?" Bilmar kembali bertanya.
"Iya Nak, semua aman!" Papa Bayu menepuk pundak Bilmar berusaha meyakinkan putranya. "Ayo naik lah ke kamarmu, istri dan anakmu sedang menunggu. Besok kan kalian harus bekerja!"
"Baik Pah, Bilmar naik dulu. Papa jangan terlalu lama disini, angin malam tidak baik untuk kesehatan Papa!"
Papa Bayu mengangguk dan Bilmar pun berlalu dari hadapannya.
Papa Bayu masih menatap langit menerawang jauh mengira-ngira apa yang akan terjadi setelah ini.
"Maafkan Papa ya Bil!"
***
Bilmar menutup pintu dalam kamar dengan sangat pelan. Lampu memang sudah dimatikan, hanya ada cahaya remang-remang dari lampu tidur kecil di nakas.
Dilihati nya Alika tengah berbaring miring memeluk putri mereka. Maura dan Alika saling berpeluk erat dan manja. Kepala Maura bersandar didada Alika, anak ini begitu pulas sampai suara dengkurannya terdengar pelan.
Posisi Alika saat ini sanggat menggoda Bilmar, ia memakai piyama pendek yang bisa memperlihatkan kemulusan kulit putih kedua paha kepemilikannya. Jika saja tidak ada Maura, pasti Bilmar akan meminta hak nya kembali.
Dikecupi wajah mereka secara bergantian lalu menaikan selimut ditubuh istri dan anaknya. Ia pun berbaring sambil memeluk tubuh Alika dari samping dan meletakan kepalanya diceruk leher sang istri. Tentu aroma nafas Bilmar yang tidak pernah merokok membuat Alika hafal dengan wanginya, seketika mengerjapkan kedua matanya.
"Hmm Bil, ayo tidur!" Alika mengangkat tangannya untuk membelai wajah sang suami yang masih bermanja diceruk lehernya.
"Aku kangen sama kamu!"
Kata kangen yang mencuat dari bibir Bilmar menurut Alika bukanlah suatu gambaran rasa tapi lebih tepatnya untuk meminta Alika memenuhi kewajiban akan hak yang Bilmar miliki.
"Sebentar aja yuk," Bilmar mulai menciumi tengkuk leher sang istri, beberapa kali Alika mengerjipkan bahunya karna terasa jadi merinding.
"Ada Maura Bil, nanti dia bangun terus lihat kita!"
"Lagian kenapa bisa tidur disini? aku kan jadi susah kalo lagi mau kaya sekarang?"
"...Issh. Udah ah tidur!" Alika kembali memejamkan matanya.
"Pindah aja yuk ke sofa, gelap gini nggak akan keliatan sama Maura. Tuh liat dia udah ileran gitu, berarti udah pulas!" Bilmar bangkit mencoba melepaskan tangan Maura dari tubuh sang istri.
Kemudian menggendong tubuh Alika ke sofa, mulailah Bilmar beraksi dengan keperkasaan dan kekuatan yang ia miliki. Ketika ingin menyatukan sumber kenikmatan mereka, Bilmar terdorong jauh ke sandaran sofa karena suara Maura yang tengah mencari Alika. Istrinya refleks ingin bangkit seketika.
Bilmar yang sudah kepalang tanggung untuk siap bertempur menjadi terbelalak penuh keharuan, bayangkan ia akan menahan pusing sampai pagi jika saat ini tidak tersalurkan.
Bilmar mencegat tubuh Alika yang sebentar lagi akan bangkit. "Sebentar lagi sayang, aku udah diujung banget nih. Tuh liat anaknya juga udah tidur lagi, tadi dia cuman ngigau!"
Akhirnya Alika menurut dan mau melanjutkan nya.
Kemudian beberapa saat kemudian, ketika sudah hampir menjelajah inti Alika, lagi-lagi Bilmar terdorong begitu saja dengan kekuatan Alika yang aduhay. Kali ini Maura menangis menyebut-nyebut namanya.
"Ngigau..ngigau! ngigau dari mana sih, tuh liat anaknya bangun dan nangis..uhh!" ucap Alika kesal dengan sikap Bilmar yang masih terus memaksakan, ia pun bangkit dari sofa sambil memakai kembai piyamanya ke posisi semula.
"Iya Nak, ini Mama. Ayo Maura tidur lagi ya sayang!" Alika mengelus-elus tubuh anak itu dan memeluknya kembali.
Tinggalah Bilmar dengan segala kepusingan yang akan melanda jiwanya sampai besok pagi. Entah mungkin malam ini ia akan berlama-lama dikamar mandi.
***
Aku pengen denger komen kalian dong tentang rahasia apa yang ada di benak mereka? hahay, penasaran yah? huhuhu stay tune terus yah❤️❤️
Jangan lupa kasih aku semangat untuk terus Like vote Rate ...bbye😘