
Semesta tengah mencoba hambanya. Dan saat ini yang tengah dipilih adalah pasangan Bilmar dan Alika. Tuhan ingin memberikan mereka tabungan untuk di Akhirat. Sebagai penebus dosa mereka. Walau jalannya sepahit dan seberat ini.
Melesat lah langkah laki-laki yang sejak tadi ditunggu oleh banyak orang. Arahnya tidak beraturan, air muka di wajahnya sudah banyak. Terus menghujam sampai ke leher dan kemeja kerjanya. Karena tegang, panik dan tidak percaya, Bilmar terus berlari sampai banyak bahu yang ia tabrak. Fikiran nya sudah tidak fokus lagi. Apa yang terjadi? Mengapa bisa dua anak itu meninggalkan dia dan istrinya?
"Dimana, Alika?" Suara bariton Bilmar begitu saja terdengar ketika langkahnya sudah sampai didepan kamar perawatan. Semua menoleh ke arah lelaki yang wajahnya sudah basah karena tangisan air mata.
"Istrimu, ada didalam, Nak. Dia tidak mau diganggu oleh siapapun..." Jawab Papa Bayu. Sedangkan Papa Luky masih menyandar di bahu Binara. Mereka masih menangis.
"Kamu harus tegar, Bil. Bujuk Alika.." Rendi menepuk bahu Bilmar sebelum akhirnya laki-laki itu menerobos masuk kedalam. Terakhir Alika marah-marah dan emosi kepada keluarganya, karena terus saja menyuruh dirinya untuk segera melakukan tindakan operasi.
Wanita hamil itu sempat merengek meminta anak-anak mereka untuk bergerak kembali.
"Bilka, Abrar, ini Mama nak! Ayo bangun yuk, kalian kenapa sih!" Alika terus menghentak-hentak kan kedua kakinya.
"Sayang..." Suara parau itu membuat Alika yang masih berdiri disamping helaian tipis hordeng menoleh kebelakang. Wanita itu pun melangkah cepat untuk memeluk suaminya.
"Ya Allah..." Desah Bilmar dan kedua bahunya terus saja membuncang ketika melihat sikap istrinya seperti ini, bahwa betul kabar yang barusan ia terima adalah benar.
"Bil, ayo kita pulang kerumah..." Jawabnya. Alika menolak untuk operasi. Fikiran wanita ini jadi kalut dan tidak bisa berfikir jernih. Ia tidak rela jika kedua anak itu harus dikeluarkan secepat ini.
"Kamu harus melahirkan sayang. Keadaan kamu sekarang sedang dalam keadaan gawat, Al!"
Alika melepas pelukannya, ia memundurkan langkahnya untuk menjauh dari suaminya. Kepalanya menggeleng dan ia masih berusaha untuk meraba-raba perutnya.
"Tuh lihat, Bil. Perut aku kayak masih ada gerakannya kok---" Bilmar tahu itu hanya alasan Alika. Sejatinya Alika pun takut, ia tahu Bilmar sedang kecewa dan sangat terpukul.
"Bilka dan Abrar udah nggak ada, Al. Mereka harus cepat dilahirkan---"
Ucapan Bilmar begitu saja terhenti ketika mendapatkan delikan tajam dari kedua mata istrinya.
"Enggak! Aku enggak mau melahirkan sekarang!"
"Jangan kayak gini, Al. Jangan buat posisi kamu jadi sulit..."
"Sulit apanya sih? Aku hanya ingin tetap berusaha untuk mempertahankan anak-anak kita, Bil!" Volume suara Alika terdengar meninggi.
Bilmar menundukkan kepalanya kebawah sambil memejamkan kedua matanya. Air mata itu terus menetes keluar. Ia terus mencari sebongkah kekuatan dari hatinya yang saat ini begitu mendidih. Bagai dikucurkan air panas dari ujung kepala sampai ke telapak kakinya. Ia kembali mendongakkan wajah dan menatap istrinya yang masih menangis.
Bilmar memajukan langkah, namun Alika lebih memilih untuk memundurkan langkahnya. Ia terus menghindar jika ingin didekati oleh suaminya.
"Nggak, Bil. Aku yakin, mereka masih hidup didalam perutku. Bilka, Abrar, ayo bangun, Nak!" Alika beralih membawa dua bola matanya untuk menatap perut buncitnya.
Ia tetap berusaha meraba perutnya, mencari sosok tubuh anaknya. Sedikit memberikan cubitan kecil untuk merangsang kedua anaknya. Namun semua itu nihil, Bilka dan Abrar sudah tidak bergerak. Mungkin kedua bayi itu sudah tenggelam lepas didalam air ketuban mereka sejak tadi pagi.
"Sudah cukup aku kehilangan anak, aku nggak mau kehilangan istri juga---!" Lagi dan lagi suara bariton Bilmar begitu saja menggema ruangan perawatan.
Tatapan sudah berubah serius. Ini memang menyakitkan, tapi mereka harus tetap berfikir tenang dan realistis. Jika kedua anak kembar mereka sudah tidak bisa ditolong. Bayi yang berusia delapan bulan satu minggu itu, lebih memilih kembali kepangkuan penciptanya.
****
Sudah sampai malam, tapi Alika tetap tidak mau menjalani operasi. Dokter kandungan sudah dua kali visite untuk memeriksa keadaan dan membujuknya. Wanita itu tetap tidak mau, keputusannya masih bulat. Ia tidak mau melahirkan sekarang. Ia tidak ingin berpisah dengan Bilka dan Abrar. Wanita itu masih meringkuk diranjang, terus saja memanggil-manggil nama anak-anak mereka yang sudah tiada.
Papa Bayu dan Papa Luky sudah berkali-kali bergantian masuk untuk membujuk Alika, namun wanita itu tetap dalam pendiriannya. Ia tidak ingin melahirkan sekarang. Alika masih yakin bahwa anak-anaknya masih hidup hanya saja tekanan nadi mereka melemah.
Binar dan Rendy terpaksa pulang kerumah Bilmar karena harus menjaga Gadis, Maura dan Ammar. Tidak mungkin ketiga anak itu dibawa ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Bilmar dan Alika yang seperti ini.
Lalu dimanakah, Bilmar berada?
Terlihat Dokter menyodorkan berkas persetujuan tindakan medik kepada Bilmar agar segera ditandatangani.
"Tindakan operasi harus dilakukan malam ini juga, Pak. Tensi darah istri anda terus saja naik, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, jika bayi-bayi tersebut tidak dilahirkan saat ini juga. Terlalu berbahaya!"
Dan disinilah Bilmar berada. Ia masih terduduk dalam diam, terus menatap berkas yang ada dihadapannya sekarang. "Setidaknya Bapak harus lebih memaksa Istri, ini juga untuk keselamatan nya---"
Grug.
Saliva begitu saja terdorong jauh kedalam kerongkongannya. Dengan wajah masih setengah menunduk dan terus menatap berkas yang sudah memanggil-manggil dirinya untuk mengisi. Ia angkat jari-jemarinya untuk meraih pulpen yang sudah disiapkan disamping kertas itu.
Mau tidak mau, berat yang semakin berat dan sakit yang semakin menggelegar. Dengan sekuat hatinya, Bilmar memberanikan diri untuk mengisi dan metandatangani berkas tersebut.
"Sabar, Pak. Ikhlaskan, ini yang terbaik dari Tuhan.." Kalimat itu terdengar begitu memilukan di hati Bilmar.
Ia pun hanya bisa menganggukan kepalanya. Sesungguhnya tidak ada jalan lain yang bisa ia tempuh, selain mengikhlaskan sepasang bayi kembar mereka untuk kembali beristirahat dengan tenang didalam tanah. Bukan dibawa ke kamar mereka dirumah yang sudah selesai di renovasi.
"Mah, tolong Bilmar! Aku tidak sanggup, Mah..."
****