
Haiii selamat pagii, hari ini aku akan membawakan dua episode sekaligus.
Selamat baca ya guyss
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Bulan dan Bintang saling bergantian memeluk malam. Malam ini begitu sejuk dan damai. Namun sepertinya kesejukan itu tidak terjadi pada Bilmar.
Akral tubuh lelaki itu terasa memanas. Tanpa sengaja Alika mengigau dengan iringan tertawa kecil dan desahan "Ayo main lagi sayang"
Alika memang sudah pulas dari dua jam yang lalu. Karena ia sudah menjalani rutinitas malamnya untuk membiarkan Bilmar bertemu dengan Sassy.
Bilmar memang belum tidur, biasanya sehabis bercinta ia akan langsung menggelosor lemas terkapar di kasur. Namun malam ini sepertinya berbeda. Ia terus memikirkan rencana besok.
Mendengar Alika mengigau seperti itu, membuat ia melirik dengan tatapan tajam kepada istrinya yang sedang membuat beberapa pulau di bantal. Walau begitu ia tetap terlihat cantik dan ayu. Ia terus menerka-nerka apa yang sedang dimimpikan oleh istrinya.
"..Diego, kah?" Decak nya geram. Ya begitulah Bilmar dia sangat cepat sekali tersulut api cemburu.
Masih dalam posisi memejamkan kedua matanya. Alika terlihat beringsut dari posisinya untuk berbalik memeluk Bilmar. Ada suara geretukan gigi dan gumamam kecil dari istrinya.
"Hemm...." Gumam Alika, lalu ia tersenyum walau masih dalam mata yang terpejam.
"Indah sekali ya mimpi kamu? Apa Diego ada di mimpi kamu?"
Entah demi apapun, ia tetap tidak memutus nama Diego dari dalam fikirannya. Ketakutan pun semakin meningkat dan merajalela. Ia takut di khianati dan di bohongi.
Dan lebih histeris lagi ketika ia mendengar istrinya kembali mengigau. "Iya sayang..."
Kedua bola mata Bilmar terlihat kembali menajam hebat. Benar-benar sampai ke alam mimpi pun Bilmar masih mencurigainya.
"Bangun, Al----Bangun!"
Bilmar dengan tega menggoyang-goyangankan lengan sang istri yang masih memeluk dadanya. Hembusan nafas Alika pun masih terasa di perpotongan dagunya.
Namun karena wanita itu sudah kelelahan berat, ia hanya bergumam tidak jelas. Bukan bangun seperti keinginan suaminya tapi ia malah mempererat pelukannya.
"Aku bersumpah, sampai berani lelaki itu terus mengejar kamu dan kalian bermain dibelakangku. Aku akan membunuhnya!!
Rahang lelaki itu tampak mengeras. Sungguh malam ini adalah malam kesalah fahaman baginya. Rasa cinta mati yang sudah tertanam didalam dasar hati untuk sang istri sudah tidak bisa ditawar lagi porsinya.
****
"Sayang...Kamu sakit?" Tanya Alika di meja makan.
Ia terus menatap wajah Bilmar yang tidak bersemangat. Bahkan lelaki itu tidak sempat sisiran, ia malas untuk berdandan hari ini.
Bilmar tetap memasukan bihun goreng kedalam mulutnya sambil menggelengkan kepala.
"Apa mau dirumah aja? Apa mau aku antar ke Dokter? Atau...mau aku tetap dirumah?" Alika mengakhiri kalimat terakhir dengan nada pelan.
"Aku bisa ijin untuk nggak datang dulu kerumah Diego..." Alika akan tetap mengutamakan keinginan suaminya. Ia tidak mau bertengkar.
Bilmar mendongakkan wajahnya dan memberikan senyuman setipis benang. "Nggak datang kerumahnya dulu, atau ke hati nya?"
Blup.
Lidah Alika tercekat begitu saja dan tanpa menunggu lama, ia pun tertawa terpingkal-pingkal. Ia bangkit untuk berpindah duduk persis disebelah suaminya.
"Jadi Pak Suami lagi ngambek ceritanya?" Alika meraih dagu Bilmar untuk menoleh ke arahnya.
"Aku udah jujur semuanya, udah terbuka tentang apapun. Masih kamu curigain kan? Ya udah gimana enaknya kamu aja sekarang!"
"...Apa kamu mau aku resign sekarang dari sana, ya udah nggak apa-apa. Kamu tinggal telepon Binar. Bilang kamu nggak ijinkan aku lagi untuk kesana. Masalah selesai, kan?"
Bilmar tetap terpaku, ia hanya bisa mendengarkan sambil terus melihati wajah istrinya tanpa reaksi apa-apa.
"Kamu mimpi apa semalam?"
Bukan menyanggah semua ucapan Alika atau memberi keputusan boleh atau tidak untuk kembali kerumah Diego, Bilmar malah membuat pertanyaan yang aneh kepada Alika.
"Apa sih, aneh kamu tuh! Segala mimpi ditanyain." Alika berdecak.
"Itu penting buat aku, aku mau tau!"
Benar-benar Bilmar, bukan hanya posesif, pencemburu tapi ia juga sudah menjadi budak cinta.
"Kamu mengigau semalam...Membuat aku resah!"
"Hah? Coba ulang, gimana?" Alika gagal faham.
"Semalam kamu mengigau, terus sebut kata sayang...Itu untuk siapa? Diego kah?"
Bilmar sudah tidak bisa menahan lagi. Semua ganjalan itu terus menyerang hatinya.
"Masa sih? Aku sebut nama Diego nggak?"
Bilmar menggeleng.
"Tuh kan, terus kenapa kamu fikirin dia?"
"Soalnya selama kita menikah, kamu nggak pernah mengigau seperti itu, Al----!!"
Wajah Bilmar makin terlihat sedih. Sikap lelaki itu sangat mirip seperti Maura ketika sedang merajuk.
"Aku mimpiin Gadis kayaknya, Bil. Aku jujur gak ingat apapun dengan mimpi itu." Jawab Alika apa adanya.
"Mungkin fikiran sama hati aku, lagi kencang banget mikirin keadaan dia. Aku takut nggak berhasil bawa dia dari sana...Jujur aja, aku takut, Bil. Aku udah salah mempermainkan Diego dan Ny. Gweny!"
Melihat sang istri dilanda gundah gulana, membuat Bilmar ikut terenyuh.
Bisa-bisanya disaat seperti ini, gue tambah membebani fikiran Alika yang sudah semakin penuh.
"Maaf ya sayang..." Ucap lelaki ini.
"Sayang, dengarkan aku ya. Mungkin akan banyak 10 Diego atau 10 wanita yang akan menggoda aku dan kamu! Tapi ingat, kita masih punya Allah sebagai sandaran iman untuk berdoa dan meminta agar rumah tangga kita bisa di jaga!"
Alika menjeda suaranya, ia masih menatap wajah Bilmar yang juga menatap balik kearahnya. Melihat respon Bilmar berangsur-angsur sejuk, ia kembali berucap.
"....Karena aku sendiri nggak bisa memperhatikan selalu gerak-gerik kamu setiap saat, begitu pun kamu ke aku. Hanya doa, kepercayaan dan cinta yang masih ada yang bisa menahan kita dari segala godaan!"
"Aku nggak mau kamu tersiksa dengan rasa cemburu kamu yang tidak beralasan!"
Betul! Cemburu itu sangat menyiksa, apalagi cemburu untuk sesuatu yang tidak berlasan, tidak ada fakta dan tidak ada kejelasan. Hanya membuang-buang waktu, energi dan saling menyakiti.
Dan memang untuk menghadapi lelaki seperti Bilmar, Alika harus tetap dewasa dan tenang. Karena penjelasan yang lembut akan lebih mudah untuk diserap dan dirasakan. Sepertinya desahan pilu Alika mampu membuat lelaki itu tenang. Entah dalam kadar berapa.
"Iya Al, maaf ya..." Bilmar beringsut untuk menangkupkan wajahnya di atas paha istrinya. Alika hanya tersenyum sambil mengelus-elus rambut Bilmar dan merambat ke leher sampai ke punggung suaminya.
"Iya sayang, nggak apa-apa. Aku faham, makasi juga kamu udah mau ngertiin aku untuk tetap menolong Gadis. Kasian keponakan kita sayang..."
Bilmar mendongakkan wajahnya. "Ayo Al, kita berangkat kesana. Aku akan antar kamu!" Bilmar tersenyum kembali.
"Ayo, Bil---"
****
Masih ada part lanjutannya ya guys, semoga cepat lulus review nya.
Like dan Komen jangan lupa ya❤️