Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Alika Terguncang


Hayy selamat pagi🖤🖤


Aku balik lagi nih, setia datang buat kalian. Walau Alika masih terpuruk, dia tetap pengen kalian baca terus kisahnya..


Yuk guyss selamat baca


🥺🥺


***


Kini Bilmar dan Papa Bayu sudah duduk semeja di kantor polisi. Papa Luky sudah di masukan ke dalam sel tahanan sementara. Terlihat di antara mereka juga ada Rendi yang masih diam menatap nanar. Ia tidak menyangka jika calon mertuanya akan melakukan hal seperti ini.


Lalu


Dimana Binara?


Bilmar meminta agar Binara enyah dari hadapannya dulu saat ini. Gadis itu pun menurut untuk memilih menemani sang Papa di luar sel jeruji besi sekarang. Binara terus menangis menatap sang Papa yang sudah ada di dalam sel. Kedua mata Papa Luky sudah sangat bengkak karena fikirannya masih terus tertuju kepada putrinya sulungnya, Berliana atau Alika.


Dan bagaimana kah, Alika?


Sosok ini yang paling utama untuk dicari tahu bagaimana keadaannya sekarang. Setelah kejadian penangkapan sang Papa oleh polisi, Alika hanya terus terdiam dan menangis. Berkali-kali tidak sadarkan diri. Ia tidak mampu untuk mengucap satu kata pun walau itu kepada Bilmar. Ia masih shock berat.


Masalah ini tidak semudah membalikan telur di wajan. Alika juga butuh waktu untuk mencerna semua masalah beruntun yang terus terjadi menimpa dirinya.


"Ayo, Bil! Tanda tangan..!!" seru Papa Bayu yang saat ini masih berada disamping sang anak. Ia tahu hati Bilmar masih sakit dan perih. Tapi bagaimana lagi, yang dipenjarakan oleh anaknya adalah Kakaknya, Paman Bilmar sekaligus Besannya sendiri.


Selintas Bilmar memejamkan kedua matanya. Menghela nafas untuk mengisi energi di tubuhnya. Ia pun mengambil pulpen dan menandatangani surat pembebasan dan surat pencabutan tuntutan.


Ketika sudah selesai menandatangani nya, ia menoleh dingin ke arah Papa Bayu yang juga masih menatapnya. Ia segera bangkit dari sana untuk pergi tanpa mengeluarkan kata-kata. Hentakan kaki terdengar dari langkahnya.


Papa Bayu memaksa Bilmar untuk mencabut gugatannya, serta melalukan pembebasan bersyarat untuk sang Kakak. Apa jadi nya nanti jika kejadian ini langsung terekspos ke media. Tentu martabat keluarga Artanegara akan habis tercacah-cacah. Semua lawan yang pernah disakiti oleh Luky Artanegara akan mencemooh dan bertepuk tangan tanda kemenangan.


Bilmar sempat menolak dan bersitegang dengan sang Papa. Namun Papa Bayu mengancam akan bunuh diri, jika Bilmar tidak membebaskan Kakaknya malam ini juga.


"Ren, tolong jaga Kakak saya dan Binar. Atas nama Papa Luky, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada kamu. Semoga kamu bisa mengerti, dan tetap menjalankan pernikahan kalian. Katakan kepada Papa Luky, saya akan mengunjunginya besok. Untuk beberapa saat, kalian jangan dulu kerumah!"


Rendi hanya bisa mengangguk ketika bahu nya dipegang sebagai tanda perpisahan dari Papa Bayu saat ini. Tubuhnya terasa masih bergetar, ada rasa sakit namun sulit untuk dikeluarkan. Semoga ini bukan awal malapetaka untuk pernikahan Binara dan Rendi.


Tak butuh waktu lama.


Polisi dan Rendi mendatangi sel sementara yang saat ini sudah di huni oleh calon Papa Mertuanya.


"Kak, bagaimana? Apakah Kak Bilmar mau mencabut gugatannya?" tanya Binara menyelidik.


Rendi hanya mengangguk dengan tatapan letih. Seketika Polisi membuka pintu sel dan mengeluarkan Papa Luky dari dalam sana.


"Dimana Bilmar dan Bayu? Apakah Alika juga menyusul?" ucapnya penuh harap.


"Setelah selesai mencabut gugatan itu, Bilmar dan Papa Bayu memilih untuk segera pulang, Pah. Alika tidak ikut bersama mereka. Katanya masih shock. Papa Bayu bilang, besok akan menemui Papa di rumah..."


"Ya Allah, Anakku! Papa ingin bertemu dengan Alika, Nak. Papa ingin melihat keadaannya!" Papa Luky kembali menangis, memegang kedua tangan Rendi. Sungguh kasian keadaan lelaki paru baya ini. Ia makin tersiksa.


"Jangan dulu Pah, kondisi nya sedang tidak memungkinkan. Tunggu dulu sampai suasana mereda. Ya, tunggulah sampai Papa Bayu akan mendatangi papa dan menceritakan apa yang terjadi setelah ini dengan Alika, besok di rumah!"


"Apakah Kakakku, akan baik-baik saja, Kak?"


"Insya Allah, pasti. Alika aman ditengah-tengah mereka.."


"Ren, tolong maafkan Papa ya Nak. Papa sangat menyesal, Papa khilaf! Bagaimanapun memang Papa salah, Nak. Rendi mau kan memaafkan Papa?"


Rendi masih terdiam bisu, tak berbohong kalau hati nya juga sedikit kaget dan tertusuk. Namun semua ini sudah terjadi dan Papa Luky sudah menceritakan duduk perkaranya. Ia tidak bisa menghakimi karena beliau adalah calon mertuanya, Papa dari calon istrinya. Yang ia amat cintai dan sayangi.


"Kakak..?" Binara mengelus bahu Rendi.


"Iya Pah, Rendi sudah memaafkan Papa."


"Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih, Nak." Papa Luky memeluk Rendi dengan erat. Ia pun kembali menangis terisak-isak.


"Tapi--"


"Tapi, apa Pah?"


"Rendi akan tetap menikahi Binar, kan?"


Papa Luky mendadak cemas. Seketika Rendi merubah wajahnya menjadi senyum semangat.


"Jangan khawatir, Pah. Rendi akan tetap menikahi Binar--"


***


Didalam perjalanan, Bilmar dan Papa Bayu saling hening. Mereka berdua duduk berdampingan di jok belakang. Membiarkan Mang Dana untuk mengambil alih mengantar mereka pulang ke rumah.


Papa Bayu sesekali melirik melihati wajah anaknya yang masih emosi karena masalah ini. Demi Alika, hatinya masih sakit sekarang. Sesekali ia menghentakkan kepalan tangan ke atas paha nya. Menahan rasa linu yang tidak bisa ia salurkan. Ia sama sekali tidak percaya jika Papa Luky bisa menjadi musuh dalam selimut. Mau menghancurkan hidupnya.


Apa kurangnya Bilmar selama ini!


Satu jam kemudian, mobil mereka sudah mendarat dengan baik di pekarangan rumah. Setelah turun dari mobil, langkah kakinya cepat terayun untuk masuk ke dalam. Sampai langkah Papa Bayu sedikit tertinggal dibelakang.


Bilmar ingin kembali menemani sang istri yang batin nya masih terguncang.


Lalu


Langkah mereka terhenti ketika melihat Bik Minah menuruni anak tangga dengan sikap cemas dan khawatir. Dengan tergesa-gesa ia menghampiri dua lelaki ini.


"Kenapa, Bik?"


Bik Minah di tugas kan untuk menemani Alika di kamar, selama Bilmar dan Papa Bayu pergi ke kantor polisi.


"Itu den, aduh Ya Allah, Bibik jadi susah begini ngmongnya.."


"Kenapa, Bik?"


"Bicara yang jelas, Minah!"


"Sudah satu jam Non Alika di dalam kamar mandi den, Pak! Hanya terdengar air menyala, tapi nggak ada aktivitas apapun di dalam. Bibik udah coba ketuk-ketuk, tapi nggak ada sahutan suara dari dalam, den. Bibik cemas. Takut Non pingsan atau gimana di dalam.."


"Hah?"


Dengan langkah blingsatan, Bilmar menaiki anak tangga dengan amat maruk. Ia melesat cepat masuk ke dalam kamar lalu mendekati pintu kamar mandi.


"Sayang...ayo keluar. Kamu sudah lama berada didalam!" Bilmar mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Sesekali ia menggerakan handle pintu dengan kasar


"Sayang..buka pintunya!!" Bukan hanya ketukan namun sekarang sudah hentakan keras di daun pintu. Dinding terdengar bergetar.


Suara lembut Bilmar lama-lama semakin tergantikan dengan suara menggelegar penuh kekhawatiran.


"Bagaimana, Bil?" suara pelan mengikuti dari belakang tubuh Bilmar. Papa Bayu ikut mencemaskan keadaan menantunya sekarang.


"ALIKA! AYO BUKA..!!" Hentakan telapak tangan Bilmar dan suaranya yang begitu keras dan menakutkan, tidak membuat Alika beranjak dari dalam kamar mandi.


"SAYANG...BUKA! INI AKU!! BUKA, Al!"


"Alika, buka Nak. Ini Papa, sayang--"


Bilmar dan Bayu bergantian memanggil Alika dengan sekuat tenaga. Bilmar sedari tadi terus mendekatkan telinganya ke daun pintu, ingin mendengar apa yang terjadi didalam. Namun betul tidak ada suara aktivitas apapun. Hanya suara air shower deras mengalir kebawah.


"Pah minggir Pah! Bilmar akan mendobrak nya!"


"Iya, Nak!" jawab Papa Bayu dengan wajah penuh ketegangan.


Bilmar pun mundur mencari ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi. Sampai dobrakan ketiga, pintu akhirnya berhasil dibuka.


Tubuh Bilmar begitu saja terdorong masuk ke dalam kamar mandi.


Lalu


"ALIKA..!!"


"Nak!"


Terdengar suara teriakan saling bersautan dari Papa Bayu dan Bilmar ketika melihat keadaan Alika saat ini.


"ALIKA...!"


Bilmar kembali mengerang dengan suara yang hampir putus. Tenggorokannya begitu sakit pasca kejadian tadi. Di tambah lagi hati dan mata nya saat ini ketika melihat keadaan istrinya, begitu pilu tidak tertahan.


"BANGUN SAYANG..BANGUN!"


Ombak dan Badai saling berdatangan menerpa keluarga Artanegara. Rasa bahagia terus beriringan dengan rasa sakit. Statistik kehidupan manusia memang selalu naik dan turun.


Namun jangan lupakan Allah selalu memberi pelangi dibalik reda nya hujan yang mencekam. Entah bagaimana setelah polemik ini. Dua keluarga ini akan bersatu lagi atau tercerai berai.


Semoga Papa Luky bisa menyadari lebih dalam apa yang telah ia perbuat.


***


Hey teruntuk kalian yang baik hati, beri dukungan vote dong buat Alika heheh. Biar dia cepat bangkit dari keterpurukan.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘