
Haiii selamat pagi guys----Aku kembali🤗
Selamat hari jumat, jangan lupa Al-Kahfi
Selamat baca ya
🖤🖤🖤
.
.
.
.
.
.
.
Diego dan Alika tetap melangkah masuk untuk menghampiri Ny. Gweny yang masih menggerutu kesal didepan cermin. Kedua matanya terkesiap ketika melihat anaknya yang tengah datang bersama seorang wanita.
Ia pun menoleh dengan cepat. Mengubah wajah emosinya menjadi wajah bahagia. Ia pun menggerakkan kursi rodanya untuk menghampiri langkah mereka yang sudah terhenti dipertengahan kamar ini.
"Diego, apa ini calon menantu Mami?"
Dua bola mata cokelat milik Ny. Gweny terus memandangi Alika lekat-lekat. Wanita tua ini terus memberikan senyum kepada Alika. Mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Ny. Gweny, Alika pun terperangah. Ia menggeleng cepat.
"Perkenalkan Nyonya, saya Berliana. Suster yang akan merawat Nyonya setiap hari---" Alika memberikan senyum terindahnya.
Ny. Gweny menghela nafasnya dengan frustasi.
"Terus kapan dong Go, kamu nikahnya? Kamu tuh udah mau kepala empat!" Ny Gweny berdecak.
"Masih 34, Mam...." Diego membalas. Ia terlihat jenga, lebih tepatnya ia malu dengan Alika sekarang.
Walau lelaki ini sudah mau memasuki usia kepala empat tapi ia tetap terlihat seperti usia kepala dua bahkan bisa dikatakan wajahnya sangat muda,elegan dan mempesona.
Diego belum menikah rupanya. Lalu apa alasannya untuk mengadopsi Gadis selama ini?
"Berliana yang akan merawat Mami, Mami harus menurut apa perkatannya."
Ny. Gweny memasang wajah manja. "Kayaknya Mami bakal sembuh, kalau liat Diego nikah----Siapapun wanita nya Mami akan setujui. Kamu harus bisa menatap kembali diri kamu, Nak! Lupakan wanita itu---"
"Mam, please!"
Nada Diego terlihat meninggi, ia benar-benar malu jika sang Ibu dengan gampangya membuka perjalanan hidupnya didepan Alika.
Alika yang masih berdiri merasa tidak enak berada diantara mereka yang masih terlihat sedikit tegang.
"Kalau begitu Mami nggak akan minum obat! Tolong usir Suster ini dari rumah!"
Kedua mata Alika terbelalak.
Loh kok jadi aku yang kena imbasnya??
Alika merasa kesal karena sikap Diego yang cepat tersulut emosi, menjadi kan Ny. Gweny tidak mengharapkan kehadirannya.
"Mam please! Aku janji akan nikah secepatnya---"
Diego menoleh ke arah Alika dengan senyuman. Mungkin itu sebagai kode awal agar Alika mengerti bahwa lelaki itu tertarik padanya.
Si bule kenapa sih? Dia nggak tau aja anak aku udah dua! Punya suami juga perangainya melebihi mafia setan---Kalau udah marah, ampun deh! Nggak ketolongan...Duh kok jadi kangen sih sama PAKSU??
"Berliana??" Diego kembali mengoyangkan bahunya. Ia aneh dengan Alika yang sedang senyum-senyum tipis.
"Etss! Siap Tuan!"
"Kamu kenapa sih dari tadi banyak melamunnya?"
Alika menggeleng cepat, ia hanya memberikan senyum terbaiknya.
"Mam, urusan kita nanti aja ya. Sekarang Mami mau tidak mau harus menerima Berliana, dia sekarang jadi perawat Mami.."
Ny. Gweny menyelak cepat. "Tapi kalau saya meminta kamu jadi istri anak saya? Apakah kamu bersedia cantik?" Ny. Gweny meraih tangan Alika untuk ia genggam.
"Mam...." Seru Diego, ia terlihat begitu malu.
"Kamu seperti mirip dengan...emmm??"
Ny. Gweny seraya berfikir, ia tahu wajah Alika mirip seperti orang yang pernah dicintai Diego, sehingga membuat anak lelakinya itu frustasi.
"Mam, please!" Diego berdecak kembali.
"Akan saya fikirkan Nyonya, yang penting sekarang Nyonya mau minum obat, nggak stress, nggak marah-marah dan menurut apa yang akan saya katakan, bagaimana??"
Alika langsung memberikan penawaran kepada Ny. Gweny. Sontak saja mendengar ucapan seperti itu membuat bola mata Diego berbinar.
"Kamu? Mau menikah dengan saya?"
Diego tidak bisa menahan diri. Walau ia tahu ini adalah pandangan pertama dan belum mengenal sama sekali siapa sosok Alika. Ia tetap mantap membuka hatinya kembali. Sungguh hatinya bahagia sekarang.
Ragu-ragu sambil tergugu, Alika pun mengangguk dan memberi senyuman tipis. "Akan saya pertimbangkan Tuan..."
"Tenang sayang, anakku ini baik! Aku juga tidak galak seperti yang kamu fikir, aku tadi hanya kesal dengan art itu karena tangannya terlalu keras ketika menyisir rambutku!" Jawabnya sendu.
Alika tersenyum dan berucap dalam hatinya.
Gimana nggak sakit waktu di sisir! Kalau rambut Ny. Gweny udah kribo banget kayak gini? Kayanya seabad nggak sampoan nih!
Alika menahan gelak tawanya dalam hati. Sungguh lucu melihat tampilan orang tua itu.
"Baiklah saya saja yang akan menyisir rambut Nyonya. Tuan, tinggalkan saja kami berdua. Saya juga mau berbincang dengan Nyonya perihal obat-obatannya..."
"Baiklah, Berliana. Aku juga mau pamit ingin berangkat ke kantor!"
"Mam..Diego berangkat ya..." Diego mencium pipi Maminya.
"Iya, Nak. Hati-hati dijalan ya---"
"Ber..." Ucap Diego pamit kepada Alika. Ia pun mengangguk untuk melepas kepergian Diego.
"Ayo Nyonya, mari saya bantu."
Alika memutarkan kembali kursi roda itu ke depan cermin. Membantu Ny. Gweny untuk berdandan sambil berbincang-bincang.
****
Masih siang sekitar pukul 13:00 Wib. Mobil Bilmar sudah terlihat terparkir disebrang rumah Ny. Gweny.
Lelaki posesif dan pencemburu ini merasa tidak enak hati sedari pagi. Ia terus mencemaskan istrinya. Bagaimana keadaan Alika didalam rumah itu.
Karena merasa teleponnya tidak diangkat-angkat oleh Alika. Ia pun memutuskan untuk langsung mendatangi rumah Ny. Gweny.
Ny. Gweny sedang tidur siang dikamarnya. Alika berhasil melakukan penjajakan kepada wanita itu. Ketika langkah kakinya sudah keluar dari kamar Ny. Gweny ia pun mencoba mencari tahu dimanakah letak kamar keponakannya itu.
Mencoba menuruni anak tangga, menggerakkan bola mata kesana dan kesini untuk mencari kamar anak perempuan yang ingin ia datangi.
"Mungkin ini...?"
Krek
"Hemm, nggak dikunci..."
"...Wah betul." Gumam Alika senang.
Terlihat seorang anak perempuan cantik tengah tidur siang dengan sangat pulas diatas ranjang yang sisi tepinya terkait kain kelambu.
"Wajahnya mirip sekali dengan Binar. Bulu matanya juga lentik sekali, kita pulang yuk sayang---" Dengan refleks Alika mengelus rambut, pipi dan dagu sang keponakan.
"Sus...!" Suara seorang art mengagetkannya di ambang pintu kamar Marsela.
"Ehm ya---" Alika menoleh dan kaget.
"Maaf Sus, ada yang mencari Suster diluar."
Alika mengerutkan keningnya. "Siapa yang mencariku?" Ucapnya pelan dan terus berfikir
Lalu
Jag.
Tanpa menunggu lama, kedua matanya pun terbelalak hebat. Sepertinya instingnya kuat. Ia pun segera bangkit.
"Makasi ya Mbak!"
Alika pun berjalan dengan langkah blingsatan. Ia sudah tahu pasti siapa orang yang kini tengah menunggunya.
"Aduuuhhhhhh!!"
*****
Berikan kasih sayang untukku ya dengan cara Like dan Komenđź–¤
Boleh mampir ke ceritaku yang lain ya, ada kisah Gifali dan Maura disana🖤❤️