Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Sandiwara Alika dan Bilmar


Hayy aku balik lagi⛑️⛑️


selamat baca ya🤗


***


"Nanti selama dirumah jangan nakal ya, Nak. Mama sama Papa berangkat kerja dulu, nanti sore main lagi sama Maura."


Alika masih merayu-rayu Maura yang masih mendekap perutnya diambang pintu. Sang Mama masih mengelus-elus rambut anak yang belum mandi ini. "Tapi pulangnya jangan malem-malem ya Mah, janji?" tanya Maura masih mengunyah makanannya didalam mulut. "Ayo dihabiskan sarapannya dulu sayang, biar Bibik yang suapi. Nanti Mama sama Papa telat." ucap Bilmar meraih tubuh Maura dan menggendongnya sebentar lalu menciumi anak ini.


Papa Bayu yang sedari tadi duduk dikursi ruang tamu, hanya senyum bahagia menikmati pemandangan kebahagiaan anak semata wayangnya yang selama ini sudah banyak tersiksa.


"Saya harus bisa membereskan semua ini secepat mungkin!" batin Papa Bayu bergeming. Ia sepertinya sudah mantap untuk membereskan semua masalahnya untuk kebahagiaan Bilmar.


Alika dan Bilmar berlalu meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor. Jika berangkat ke kantor Bilmar akan mengemudikan mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir.


"Sayang.." panggil Bilmar


"..Hmm..iya sayang?"


Alika masih berdandan untuk merapihkan anak rambutnya dikaca mobil.


"Aku sudah transfer uang ke rekening kamu, untuk kebutuhan kamu, rumah dan Maura. Mulai saat ini kamu yang atur semua. Kalau memang kurang kamu boleh minta lagi sama aku, nggak usah cari-cari sampingan yang lain---"


"Kalimat yang terakhir itu maksudnya gimana?" Alika menoleh cepat ke arah suaminya yang masih fokus menyetir. Bilmar diam sebentar, lalu mencari alasan lain yang masuk akal.


"Hmm..gini. Maksud aku tuh, kamu nggak usah mengandalkan gaji kamu kalau mau beli apa-apa, takutnya kan nggak cukup jadi bisa pakai uang yang dari aku aja!" Bilmar mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman.


Berbeda dengan Alika yang masih menatap lain dengan asumsi kecurigaan kepada suaminya. Ia masih belum bisa mencerna apa maksud dari Bilmar.


Mereka kembali hening selama diperjalanan, Alika hanya duduk menyandar menatap lurus jalanan, sesekali Bilmar mengikuti arah ekor matanya untuk melihati sikap Alika yang menjadi diam. Mungkin saja Alika sedang berfikir dengan pemikirannya sendiri.


"Stop..stop Bil! aku turun disini aja ya!" ucap Alika yang membuat Bilmar jadi menginjak rem mendadak.


"Kenapa memang? kan kita belum sampai?" Bilmar mengerutkan dahinya. Sepertinya lelaki ini lupa akan persyaratan yang telah disepakati oleh mereka berdua sebelum menikah.


"Tuh sebentar lagi juga sampai, aku turun disini dan jalan aja menuju gerbang. Nggak mungkin kan kalau aku harus turun dari mobil kamu setiap hari! nanti semua orang tau Bil, kalau kita sudah nikah!" tukas Alika sambil melepas seat beltnya. Kemudian bergerak sedikit mendekati tubuh suaminya untuk merapihkan letak dasi agar tegak lurus dikerah leher dan mencium punggung tangan Bilmar serta tidak lupa satu kecupan manis mendarat di pipi lelaki ini.


"Pas aku turun, kamu langsung jalan ya!" Alika memberi perintah agar Bilmar menuruti kemauannya.


"Oke!" jawab Bilmar pelan terus melihati istrinya yang turun dari mobil. Lalu ia mengemudikan mobil kembali sambil terus melihati Alika dari spion ke arah belakang.


Bilmar tidak bisa menentang persyaratan pernikahan itu, ia harus bisa mengalah dengan ke egoan Alika sampai dimana semua akan terungkap dengan sendirinya di mata publik dan diwilayah kawasan ECO GROUP.


Alika dan Bilmar memulai kembali aktivitas mereka seperti semula. Bilmar tetap kembali ke dalam posisinya sebagai Presiden Direktur EG dan Alika kembali menjadi perawat di klinik EG seperti biasa. Harusnya wanita ini bisa memanfaatkan fasilitas mewah dan kekayaaan harta suaminya tanpa harus letih ikut bekerja. Karena gaji Alika disini tidak ada seberapa nya dengan uang bulanan yang telah diberikan oleh Bilmar.


Namun Alika merasa, tugas sebagai Perawat adalah suatu profesi mulia yang harus ia emban untuk bisa menolong dan merawat orang banyak sehingga mendapatkan banyak kebaikan dan pahala, serta semata-mata untuk memberikan tanda bakti kepada orang tuanya yang sudah bersusah payah mengeluarkan uang agar putrinya menjadi seseorang perawat, seperti yang mereka cita-cita kan.


Dan kemauan ini, tidak ada pertentangan dari Bilmar maupun Papa Bayu.


Sikap Alika dan Bilmar akan sangat berbeda didepan khalayat ramai sebanyak 180 derajat. Alika tidak lebih hanya sebagai karyawan biasa di EG. Ia harus tetap menundukan kepalanya sama seperti karyawan yang lain ketika melihat Bilmar sedang melakukan monitoring evaluasi ke semua cabang EG.


****


"Lukanya jangan kena air dulu ya, kalau bisa harus tetap kering!" ucap Alika masih di dalam ruang tindakan ketika habis mengobati salah satu karyawan yang habis diperban.


Berbeda di meja sana, terlihat Dokter Hana sedang berbicara ditelepon dengan wajah sedikit tegang dan pucat. Ia terus melihati Alika yang masih bersama pasien.


"Oke Pak, Baiklah!" untaian ucapan terkahir dari mulut Dokter Hana sebelum menutup teleponnya.


"Ya sudah, silahkan ke depan ya. Ambil dulu obatnya!" ucap Alika kepada pasien itu.


"Kenapa Dok?" tanya Alika sambil membuka lemari kaca untuk meletakan kembali obat-obatan yang baru ia pakai Lalu beralih ke wastafel untuk mencuci tangan. Alika ingin tahu siapa yang barusan menelpon langsung ke meja Dokter Hana.


"Kayanya ada masalah ni Al--"


Alika langsung mendongakkan kepalanya untuk melihati sosok Dokter Hana dicermin yang ada dihadapannya saat ini. Lalu ia menoleh cepat "Maksudnya gimana Dok?"


"Pak Adit menginfokan kepada seluruh penanggung jawab cabang untuk mengikuti rapat evaluasi dengan Bapak Presdir, Pak Bilmar ada cerita dulu nggak sama kamu sebelumnya, Al?"


Alika melemparkan bola mata nya ke setiap sudut ruangan dan hanya membisu tak bisa berucap, sudah dapat dipastikan dirinya tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.


"Aku nggak tahu Dok. Kalau begitu kita bawa aja semua berkas laporan 3 bulan kebelakang, siapa tau mau diaudit secara mendadak," ucap Alika.


Setelah mendekati jam yang sudah ditentukan oleh Pak Adit, akhirnya mereka semua bergegas untuk berkumpul didalam ruang meeting yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Katherine.


Sekitar sepuluh bangku berjejer melingkar di meja rapat bundar. Masing-masing penanggung jawab cabang EG sudah hadir, termasuk Alika dan Dokter Hana. Mereka masih tampak biasa, bercengkrama beramah tamah dengan pegawai lainnya.


Lalu dari arah belakang datanglah Bilmar, Pak Adit dan Rendi dibelakangnya. Sontak semua yang sudah duduk langsung berdiri memberi sambutan serta menundukkan kepalanya sedikit. Begitu pun Alika kepada Bilmar. Tatapan mereka saling bertemu, namun tidak ada senyum sapa berarti, karena Bilmar sudah berjanji kepada Alika untuk mengikuti apa kemauannya selama di EG.


"Silahkan duduk!" pinta Bilmar kepada semua yang hadir, lelaki ini begitu sangat rupawan, gagah dan perkasa. Bentuk tubuhnya sangat atletis dengan jas yang kini ia pakai. Semua yang hadir tidak akan mengira jika lelaki ini baru saja termiliki oleh Alika Sarasafi, karyawan biasa di ECO GROUP.


Rendi masih menatapi Alika dengan serius, mereka semua ikut untuk bersandiwara mendukung drama yang tengah dimainkan oleh Bilmar dan Alika.


Rapat pun terus berjalan, sepatah dua patah telah terucap dari Bilmar untuk memulai rapat evaluasi ini. Lalu sesi penjelasan serta perdebatan muncul menghiasi meja rapat. Berkali-kali kening Dokter Hana dan Alika berkerut-kerut mendengar penjelasan Pak Johan PJ cabang 5 EG ketika menanggapi kless dengan biaya pengobatan karyawan yang tidak sesuai dengan catatan klinik yang diajukan ke EG pusat.


"Sepertinya pengajuan pergantian biaya pengobatan untuk cabang 5 dari klinik perusahaan tidak relevan bu Alika!" Johan langsung melemparkan sanggahan serta tuduhan kepada wanita ini yang sudah tegang sedari tadi, sesekali ia melirik ke arah Bilmar memasang wajah tidak enak.


"Maaf Pak, tapi kami dari pihak klinik selalu mencatat setiap jumlah pasien, biaya tindakan dan obat perawatan itu semua apa adanya tidak ada yang dilebih-lebihkan atau dikurangi." jawab Alika masih dengan nada sopan namun jiwa dan raga nya bergetar.


"Masya Allah, siapa yang tega memfitnah kami seperti ini?" batin Alika merintih hebat.


"Didepan suami ku lagi!" hati wanita ini terus mengiba. Namun Bilmar tetap berada di posisi pertengahan antara mereka, tidak memihak siapa-siapa, ia harus tetap profesional untuk menyelesaikan masalah dengan bukti yang kuat.


"Mungkin nanti klinik akan dilakukan audit secara tertutup oleh EG pusat. Saya rasa rapat hari ini sampai disini dulu, saya akhiri dan saya tutup!" ucap Bilmar didepan semua yang hadir.


Alika terus menatapi Bilmar dengan wajah serius dan sedikit kecewa, dikedua mata Alika terlihat ada genangan air yang masih jauh untuk turun membasahi pipi. Ia fikir ia akan dibela nyatanya tidak, Bilmar tetap bersikap profesional.


"Ayo Dok, kita kembali!" Alika sekejap menarik tangan Dokter Hana untuk mengikutinya bangkit, ia tidak menatap dulu mata suaminya atau berucap untuk ijin meninggalkan ruang meeting terlebih dahulu.


Bilmar hanya bisa melihati sosok istrinya yang tengah dilanda kecewa. Ia hanya diam tidak bisa melakukan apa-apa.


Mereka pun berlalu dengan rasa kecewa.


***


Hayy kesayangann semua❤️


makasi aku ucapin buat yang udah Like vote Rate dan ninggalin komennya..sungguh kalian adalah inspirasiku...lancar ibadah puasanya yaa❤️❤️