Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Bilmar Posesif


Haii kesayangan, kaget nggak sih aku kembali lagi, dua kali di hari ini🤭🤭. Soalnya aku lagi libur guyss, jadi bisa kasih kalian bonus Up.


Okey deh


Selamat baca ya


🖤🖤🖤


.


.


.


.


.


.


Krek


Kunci pintu utama diputar cepat oleh Alika untuk memastikan siapa yang tengah datang untuk menemuinya.


Blass


Pintu terbuka lebar.


Terlihat lelaki tegap semampai yang wajahnya setampan aktor thailand tengah berdiri disandaran daun pintu.


"Hey Berlian..." Sapa nya dengan senyum jenaka. "Kangen nih..." Cicitnya lagi, sambil mengerucutkan bibirnya sebagai tanda ingin mencium.


Alika langsung membekap mulut dan wajahnya. Melirik kesana kesini agar ucapan Bilmar tidak diketahui oleh orang rumah.


"Gila kamu tuh!" Alika langsung menarik Bilmar untuk pergi dari sini. Menyeret langkah untuk meninggalkan jejak dengan cepat.


"Al...Al!. Nanti aku mati nih!" Alika tetap membekap wajah Bilmar untuk mengikuti langkahnya menuju pintu gerbang.


Ia pun melepas bekapannya tak kala langkah mereka sudah melewati pintu gerbang.


Para penjaga saling melemparkan pandangan, melihat keanehan yang ada diraut wajah Alika.


"Sus, mau kemana?"


"Bentar ya Pak, saya ada urusan sebentar dengan Om saya--" Alika menoleh ke arah Bilmar dengan senyum sarkas.


"OM??"


Om Bilmar, maksudnya? hahaha.


Delikan tajam yang begitu panas memancar dari dua manik mata Bilmar. Lelaki ini terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya tak kala istrinya begitu tega menyebutnya dengan kata Paman.


Brug.


Pintu mobil tertutup rapat. Alika dan Bilmar sudah duduk termangu didalam.


"Jadi gimana keponakanku? Ada urusan apa dengan Om?" Bilmar menarik sudut bibirnya ke atas, memandang Alika dengan merengut.


"Ya maafin, Bil. Hanya panggilan itu yang tercetak dikening aku---"


"Jadi menurut kamu, aku lebih cocok jadi Om kamu ya?"


"Ssh! Udah ah nggak usah didebatin. Kamu tuh ngapain siang-siang bolong kesini?"


"Mana bolong?" Bilmar menggerakkan dua bola matanya melihat ke atas awan.


"....Hidung kamu tuh yang bolong!"


"Ya kalau rapet, serem kali Al..."


"Aaahhhhhh! Udah deh, Bil. Jangan konyol. Aku tuh lagi kerja sekarang!"


"Kerja apa? Tipuin orang?" Bilmar berdecak.


"Kamu bilang akan kabarin aku, kan? Mana chat kamu? Sampai siang aku tungguin, ngga ada info apa-apa?"


"...Suami mana yang nggak akan cemas mikirin istri lagi nyamar di rumah orang? Emang kamu tuh artis? Hebat akting? Kalau ketahuan lagi nyamar, kamu bisa dipenjara, Al!"


Bilmar memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia ingin memperlihatkan bahwa dirinya tidak suka.


Alika menghela nafasnya perlahan, memejamkan kedua mata untuk berfikir secara baik. Mengingat bahwa ia memang sudah salah karena telah melupakan janjinya kepada Bilmar.


"Ya Allah, iya sayang. Aku lupa! Wajarlah kerja pertama kali, aku nggak mau dicurigain karena terlalu banyak pegang ponsel,"


Alika menarik dagu Bilmar untuk menatap nya kembali.


"Kamu nggak usah khawatirin aku, aku tuh bisa jaga diri, sayang---" Alika memajukan bibirnya untuk mencium Bilmar, namun dengan kecepatan tendangan bola kapten Tsubasa, Bilmar begitu saja menghindar.


"Mana ada sih, keponakan mau ciuman sama Om nya!!" Bilmar berdecak.


"Ih, kamu nih! Awas aja ya, nggak akan aku biarin kamu masuk kedalam gawangnya Sassy--"


"Ya udah!"


"...Yakin?"


"Yakinlah...masih banyak Sassy-sassy yang lainnya!" Jawab Bilmar asal.


Alika melototkan netranya." Ih awas yah kamu! Aku doain biar kena aipe!"


"...Apaan tuh? Merk semprot nyamuk?" Bilmar terus meledek sang istri.


"PAVE!!!"


"Udah deh sayang, kamu nggak usah nyamar-nyamar kayak gini! Aku khawatir beneran!" Bilmar beringsut memeluk dan meletakan kepalanya diperpotongan leher sang istri.


"Kan kita udah sepakat sayang..." Alika kembali mengeluarkan suara terlembutnya. "Kamu juga kan udah setuju! Lagian aku udah kepalang tanggung, Bil! Aku udah tau kalau Gadis ada didalam---"


"Ya udah cepat bawa pulang aja, bilang itu anaknya Binar!"


Alika mencubit perut suaminya. Lelaki itu terlihat meringis. "Kamu fikir segampang itu? Semua itu butuh proses! Aku harus tau dulu celah buat mengambilnya, menguak jati dirinya. Soalnya keponakan kita ini agak susah didekati, Bil!"


Bilmar terus fokus mendengarkan apa yang diucapkan oleh istrinya. "Memang Gadis kenapa, Al?


"Kondisinya sangat memperihatinkan. Ia susah berjalan kalau nggak pakai tongkat! Kayaknya ada suatu trauma, tapi aku belum tau dengan jelas!"


"Ya Allah, Kok bisa? Maksud kamu dia lumpuh?"


Alika mengangguk.


"Ada juga lelaki yang membahasakan dirinya sebagai Daddy kepada Gadis---"


Bilmar menyelak cepat. "Daddy? Papa kan maksudnya?"


"Hemmm...ehhhh!!"


Bilmar tersadar, ia langsung bangkit dari ceruk leher istrinya. "ADA LELAKI DISANA AL?


Hentakan itu terasa nyaring, membuat Alika seketika meringis karena takut. "I--ya, Bil. Aku juga baru tau, ketika kita pertama kali bertemu."


"Lelaki itu anak nya Ny. Gweny?"


"Hemm..." Alika mengangguk pelan.


"Dia udah punya istri?"


"Dia masih single----"


Lagi-lagi Bilmar menyelak.


"WHAT???" Bilmar membulatkan bola matanya untuk menangkup lurus wajah istrinya yang terlihat takut-takut.


"Tuh kan! Nggak ah BAHAYA! Nanti kalau dia suka sama kamu, gimana Al?


"Kayaknya iya deh, Bil. Dia suka sama aku---" Jawab Alika apa adanya.


Ia sudah berjanji akan selalu menjunjung tinggi setiap kejujuran. Karena satu kebohongan akan menjadi awal untuk kebohongan lainnya.


Niatnya ia ingin menceritakan ini semua didepan Binara dan Bilmar dirumah nanti, Namun Bilmar sudah terlihat tidak sabar.


Jag.


"TUH KAN!!


Hati bilmar makin cenat-cenut. Ia memejamkan kedua matanya sambil menggelengkan kepala.


"NGGAK BISA! Pokoknya nggak bisa!! Nggak bisa dibiarin kayak begini nih! Kamu tuh udah nikah, Al! Istrinya aku, Mamanya Maura dan Ammar--"


"Ya terus? Emangnya kenapa, Bil?"


"Apa? Terus? Kamu mikirin perasaan aku nggak sih? Kalau kamu suka sama dia gimana? Kamu tega biarin aku jadi Duda ke tiga kalinya?"


Bilmar melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya begitu saja di sandaran jok. Menghembuskan nafasnya ke udara.


"Nih dengerin baik-baik! Kalau aku kepincut sama dia, aku selingkuh sama dia, terus aku jalan sama dia dibelakang kamu. Aku nggak jujur sama kamu tentang dia, aku lebih pilih dia dari pada kamu, ya kamu baru boleh marah, Bil! Kamu boleh bunuh aku!"


"Aku harus bisa mengambil simpati orang yang ada didalam sana, agar akses aku untuk mendapatkan Gadis bisa berjalan dengan baik. Lagian Daddy nya Gadis itu kerja dari pagi sampai sore. Aku sama dia nggak akan bertemu, Bil! Percaya deh sama aku---"


"Tapi, Al---" Desah Bilmar.


"Bil, please! Tolong aku sekali ini aja. Papa juga akan bangga sama kamu, kalau kamu dukung aku untuk menemukan kembali cucunya!"


"Ya tapi nggak gini dong caranya! Aku nggak rela ah!! TITIK....!!"


"...Kamu nggak kasian sama Binar? Kamu tau kan Dokter udah vonis Rendi kalau dia nggak bisa lagi kasih keturunan? Ada masalah sama alat reproduksinya. Makanya setelah keguguran Binar nggak bisa hamil lagi, Bil! Kamu mau melihat Binar hidup tanpa ada anak di hari tuanya, Bil?"


Alika terus meyakinkan suaminya. Agar bisa menekan dan mengilangkan ego, ke posesifan dan kecemburuannya.


"Aku udah bahagia hidup sama kamu dan anak-anak kita. Tapi apa kamu mau bahagia sendirian? Kamu nggak sampai hati lihat adik kita sedih seumur hidup? Keponakan kita sudah ada didalam, lalu kamu mau menyerah untuk membiarkan dia bersama orang lain?"


Bilmar tetap diam ia belum bisa menjawab, isi kepalanya terus mencerna ucapan Alika satu persatu. Memang ia terenyuh dengan keadaan Binara. Tapi ia masih tidak rela jika Alika bekerja dirumah lelaki yang menyukainya.


"Gimana sayang? Percaya sama aku ya?"


"Hemmm, Al?"


"I--ya?"


"Kira-kira di rumah Ny. Gweny butuh Perawat laki-laki nggak yah?"


"Ya Allah---Bil!" Alika mendesah panjang. Ia sudah tahu apa maksud dari suaminya ini.


"Aku tuh hanya mau melindungi kamu, Al! Udah itu aja!"


Alika hanya menggelengkan kepalanya dengan penuh frustasi. Susah sekali seorang Bilmar untuk diajak musyawarah. Sungguh lucu kalau Bilmar ikutan menyamar. Entah ia akan menjadi sosok seperti apa nanti


Hahahahaha.


*****


Bulan terbelah dilangit Amerika kali guyss, kalau Diego sampai nikahin Alika, hahaha🤭🤭🤪


Berikan kasih sayang untukku ya dengan cara Like dan Komen🖤


Boleh mampir ke ceritaku yang lain ya, ada kisah Gifali dan Maura disana🖤❤️