Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Tangkap lah dia, cepat!


Hayy kesayangann, aku kembali nih. Episode kedua di hari ini. Part ini agak panjang. Kalian bacanya harus pelan-pelan ya. Minun air dulu biar nggak tersedak pas baca.


Sedih sih, nggak tahu deh aku bisa sejahat ini.


yuk guys mari baca 🥺🥺


***


Beberapa saat kemudian.


Ada beberapa langkah kaki yang telah sampai di ambang pintu kediaman Papa Bayu. Perawakan mereka besar, tinggi dan tegap. Memakai jaket kulit hitam dan terlihat pucuk pistol tersembul disana.


"PERMISI..!"


Terdengar suara lantang dari arah luar pintu. Sontak, membuat keheningan di antara mereka yang masih melepas penat di ruang tamu.


Karena tidak melihat Bik Minah atau Mang Dana yang bergegas keluar untuk menyambangi suara tersebut, Akhirnya membuat Bilmar untuk bangkit mendatangi seruan itu di pintu utama yang masih terbuka lebar.


"Iya Pak?" tanyanya sambil terus melihati dua lelaki ini.


"Selamat malam! Apa benar, rumah ini kediaman Tn. Bilmar Artanegara?"


"Ya betul, Pak. Dengan saya sendiri--"


"Saya ada perintah untuk melakukan penangkapan kepada tersangka penembakan untuk kasus Ny. Alika dan Tn. Rendi!"


Bilmar tertegun, kedua matanya melolong. Ia bingung mengapa kedua polisi ini mendatangi rumahnya.


Memang siapa yang ingin ditangkap?


Bilmar mengambil surat perintah penangkapan yang disodorkan oleh polisi dihadapannya saat ini.


"Menurut informasi, tersangkanya ada di dalam rumah ini!"


"APA..??"


Suara nyaring Bilmar sangat menggema sampai ke dalam. Damm! semua yang berada di ruang tamu pun ikut bangkit untuk menyusul Bilmar ke depan pintu kecuali Alika dan Papa Luky yang masih saling memeluk di atas sofa.


"Ada apa, Kak?


"Kenapa kamu berteriak, Bil?


"Kenapa ada polisi, Nak?"


Binara, Rendi dan Papa Bayu saling bersautan dalam pertanyaan yang ia tumpahkan kepada Bilmar, yang masih mematung sambil memegangi surat yang belum ia buka. Kedua kaki nya lemas. Mulutnya tiba-tiba terkatup.


Binara langsung menutup kedua mulutnya dikala ia baru tersadar, bahwa mereka adalah polisi yang akan menangkap sang Papa.


"Apakah boleh dilakukan sekarang Pak? saya ingin memeriksa didalam!"


Dengan kebisuan Bilmar, ia hanya menganggukan kepala dalam lamunan.


Ia masih tidak sadar!


"Bil ada apa?" tanya Rendi memaksa. Bilmar hanya menatap keluh ke arah Rendi. Kedua mata nya memerah. Air mata menepi begitu saja.


Karena sudah mendapatkan angin segar, Polisi pun melangkah untuk masuk kedalam. Di ikuti oleh langkah Binara yang blingsatan. Papa Bayu pun ikut bersama mereka dengan wajah kebingungan.


Alika pun melepas tubuhnya dari sandaran dada sang Papa. Ketika mendengar ada beberapa langkah yang akan sampai untuk mendekati mereka.


"STOP!!"


Kedua tangan Binara di rentangkan untuk menghalau para polisi mendekati Papa Luky yang masih terduduk lemas di sofa bersama Alika.


"SAYA BILANG STOP!!"


Suara Binara begitu melengking di udara, mendelik tajam ke arah polisi. Seketika kedua polisi itu menghentikan langkah kakinya yang beberapa meter lagi akan sampai untuk merengkuh tubuh Papanya.


"Ada apa, Bin?" tanya Alika menatap punggung sang adik yang sangat marah menatap dua lelaki itu.


"Pak, ada apa ini? Bapak polisi mau menangkap siapa?" tanya Papa Bayu.


"Hah? Polisi--" desah Alika.


Alika mempertegas kedua linea matanya untuk menatap mereka.


Wajah Papa Luky seketika menegang. Keringat dingin terus tercucur. Jantungnya kembali bergemuruh. Hentakan sesak didada terus menerpa.


"Habislah aku saat ini..!"


"Saya membawa surat untuk penangkapan atas kasus penembakan Ny. Alika dan Tn. Rendi, dalam tuntutan Tn. Bilmar Artanegara."


Polisi menjelaskan cukup rinci dan tegas.


Alika bangkit dari duduknya. Lalu berdiri menatap polisi. "Siapa yang bapak maksud?"


"Tersangkanya adalah Tn. Luky Artanegara!"


Darrrrrrr


Seketika guntur dan kilat saling menyatu dalam langit di antara awan yang pekat. Saling bertabrakkan menciptakan suara aungan yang maha dasyat.


"A--PA??"


Alika menoleh menatap wajah lelaki paru baya itu yang masih terduduk dengan wajah datar. Alika terus menatap lelaki itu dalam-dalam. Wajahnya mengeras, air mata nya mengenang lebih deras sedari tadi.


Tubuhnya terhempas begitu saja di sofa yang berlawanan dengan sang Papa. Kini telah pupus sudah kasih sayang yang sedari tadi ia rasakan di keluarga ini.


Tangan kanan Alika terus memegangi dadanya, nafas nya tersengal-sengal. Entah berapa tetesan air mata yang turun dari ekor matanya terus turun menuju pipi dan leher.


"Pah, katakan pada semua. Kalau Papa tidak sengaja!" seru Binar yang terus melihati Papa Luky yang juga tengah menangis menatapi wajah Alika dengan jarak dua meter dari nya.


"Jadi kamu sudah tahu masalah ini, Bin?" suara Bilmar kembali terdengar dengan garang.


"Tega-teganya kamu! DASAR PENIPU!!"


Bilmar sudah kehilangan kesadaran, Ia pun mengangkat tangannya untuk menampar Binara. Namun seketika di hentikan cepat oleh Rendi. Tangan Bilmar di tepis kasar lalu terayun ke bawah.


"Bil jangan, Nak! Itu adikmu!" Papa Bayu menahan anaknya.


"Kak? Tolong jelaskan, semua ini tidak benar kan?"ucapan Papa Bayu sudah peluh penuh frustasi kepada Kakaknya.


Papa Luky bergeming, yang saat ini ia fikirkan hanya ingin menerima maaf dari Alika.


"Papaku tidak sengaja, Kak! Ia tidak tahu, jika yang ingin ia bunuh adalah Kak Alika!"


Kedua mata Bilmar makin menggelora. Kasar dan penuh hentakan keras. Ia melotot tajam, bibir nya menganga hebat.


Alika makin terhimpit, dadanya semakin sakit. Ia terus merintih dalam isakkan tangis yang sedari pagi belum surut. Kedua tangannya memegang kepalanya yang semakin berat. Memeras kasar rambutnya.


"Salah saya apa terhadap anda? Mengapa anda sengaja ingin menghancurkan hidup saya??"


Lagi-lagi suara Bilmar sangat nyaring membuat semua telinga begitu sakit mendengarnya.


Bilmar terus memaki dan menunjuk-nunjuk Papa Luky. Langkahnya sedari tadi maju mundur karena dorongan dari Papa Bayu. Sang Papa tidak mau jika Bilmar sampai menyentuh atau memukul Kakaknya.


"Kak, Papa tidak tahu. Jika istrimu adalah Kak Alika, putrinya yang sudah lama hilang!"


Binara terus membela sang Papa. Tubuh Binara tetap dikunci oleh Rendi, agar Bilmar tidak bisa mendekati dan memukulnya.


"SIALAN! KEPARAT!" Bilmar kembali berteriak. "LEPAS PAH!!" Bilmar tetap beringsut untuk menghampiri Papa Luky. Namun Papa Bayu tetap menahan langkah itu sebisanya.


"LELAKI ITU JAHAT, Pah! Sikapnya sungguh, BIADAB!!" Bilmar terus mengumpat dan memaki.


Alika sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi, selain menangis dan merintih, mungkin sebentar lagi ia akan tergeletak tidak sadarkan diri.


"NGGAK BISA, PAH! AKAN KU BUNUH DIA!!"


Kelakar Bilmar makin menjadi-jadi. Dengan energi yang ada, Papa Bayu menampar anak lelaki nya dengan sangat keras.


Pakk.


Tamparan keras di pipi sebelah kanan dan kiri Bilmar.


"Ah!! Kakak...!" Binara teriak histeris, ketika melihat Bilmar di tampar oleh Papa Bayu.


Bilmar menoleh, memegangi pipi dengan tangannya.


"Yang harus Papa tampar itu Kakak Papa sendiri, BUKAN AKU!!"


"Jika saja Alika bukan lah anak kandungnya. Maka ia akan bersorai gembira diatas PENDERITAANKU, PAH!! Karena aku akan kehilangan Istriku, SELAMANYA!!"


"Lalu bagaimana jika pada saat itu, nyawa Alika tidak tertolong? Bagaimana dengan Bilmar, Pah??"


"Dia hampir membuat ku GILA, Pah!"


"Ia tega menyewa pembunuh bayaran untuk membuat Alika, MATI!"


Bilmar berucap kencang kepada Papa Bayu. Tanpa sadar ia menjatuhkan dirinya dilantai. Bilmar menangis terisak-isak. Ia kaget dengan kelakukan asli dari Papa Luky. Telah berani membohongi dirinya mentah-mentah selama ini.


Sosok lelaki yang sangat ia kagumi dan ia kasihi. Telah berjuang memberikan ia hidup dengan nama Artanegara. Kini sudah melempar arang panas ke wajahnya.


Papa Bayu dan semua yang ada, tidak bisa berucap apa-apa. Apa yang diucapkan Bilmar memang benar adanya. Walau tidak sengaja, namun tindakan Papa Luky sudah salah. Menghabisi nyawa orang yang tidak bersalah tentu suatu tindakan yang tidak terpuji.


"Nak..?" Papa Luky bangkit dari sofa untuk menahan tubuh Alika yang mulai tidak sadarkan diri. Ia terus memeluk tubuh putrinya yang sudah tidak berdaya itu.


"Kenapa harus secepat ini, Kenapa !"


"Alika, bangun Nak. Papa minta maaf sayang--" Papa Luky terus memukul-mukul Pipi Alika dengan tekanan kecil. Alika sangat shock dan histeris, aliran darah ke otak nya pun sepertinya terjeda.


Binara pun melepas tangan Rendi lalu berlari menghampiri Kakak nya yang sudah pingsan.


"Kak, bangun Kak! Papa nggak salah, Kak! Ayo bangun Kak, katakan kepada Kak Bilmar, untuk mencabut tuntutannya!" seru Binara menggoyang-goyangkan tubuh Alika agar memberi respon.


Bilmar pun bangkit, terus menatapi istrinya yang sudah pingsan. Langkah kakinya masih saja dihadang oleh Papa Bayu, agar tidak mendekat ke arah mereka.


"TANGKAP Lah apa yang ingin kalian tangkap sekarang!" Bilmar mempersilahkan Polisi untuk melangkah kembali untuk merengkuh lengan Papa Luky.


Dengan cepat Binara kembali menghadang.


"Kak, kamu betul ingin memasukan Papa mertuamu sendiri ke penjara??" delikan mata tajam tercuat dari Binara.


Binara pun berjalan, mendongakkan wajahnya untuk menatap langsung kedua mata Bilmar yang masih menyala-nyala bagai api yang sedang berkobar-kobar.


"Tidak hanya lelaki itu. Tapi kamu juga akan saya jebloskan ke PENJARA! Kamu sudah melindungi PENIPU!"


Binara tidak tahan, ia tetap membela sang Papa. Tak sadar jika ia sudah menampar wajah mantan suaminya.


Pakk.


Lagi-lagi Bilmar mendapatkan tamparan hebat di wajahnya sebanyak dua kali dari Binara dan Papa Bayu dalam kejadian ini.


Kedua mata Rendi melolong, ia menarik paksa tubuh Binar ke dekapannya. Kembali membawa Binar untuk jauh dari Bilmar jikalau takut ia akan derikan tamparan balik.


"TANGKAP LELAKI ITU CEPAT!"


Bilmar mengerang bagai harimau lapar di suaka margasatwa.


Kedua polisi tanpa jeda langsung mencengkram lengan Papa Luky untuk menahan dan memborgol kedua tangannya.


"Maafkan Papa Bilmar.."


"Maafkan Papa Binar...Rendi!"


"Maafkan aku Bayu.."


"Terutama kepada Putriku, Berliana!" Papa Luky mengeluarkan air matanya yang sudah tidak tertahan semenjak tadi.


"Saya sangat menyesal telah melakukan semua ini. Saya sangat menyesal! Tolong titip putri saya, dia harta terbesar di hidup saya.." Papa Luky kembali menoleh melihati Alika yang masih tergoler tidak sadarkan diri di sofa.


"BAWA DIA CEPAT!"


Grek.


Borgol sudah terpasang di pergelangan kedua tangan Papa Luky. Polisi pun membawa Papa Luky untuk beranjak. Ia tatapi wajah Papa Luky dengan tatapan garang.


"Kakak! Aku mohon! Tolong lepaskan Papa ku! Dia tidak bersalah! Dia sakit Kak!"


Binara menjatuhkan dirinya, menyembah sang Kakak tepat di kedua kakinya. Ia terus memohon kebaikan hati Bilmar sedikit saja untuk Papa mereka.


"Ah ! LEPAS!" Bilmar melepaskan kakinya yang tengah di cengkram oleh Binara. Ia beringsut melangkah untuk menggendong tubuh Alika. Membawa istrinya untuk keluar dari mimpi buruk ini.


Bilmar terus melangkah menaiki anak tangga untuk pergi ke dalam kamar.


"BILMAR!" seru Papa Bayu.


"Pah?" Binara merintih memeluk Papa Bayu.


"Papa!!" teriakan binar kembali merekah, dikala Polisi terus membawanya keluar dari rumah.


Ia pun berlari mengejar langkah sang papa yang sudah di apit oleh kawalan polisi.


Memukul-mukul jendela pintu mobil agar menurunkan sang Papa kembali.


Namun semua itu tidak akan mudah. Bagaimana pun Papa Luky harus bisa merasakan rasa sakit yang telah dirasakan oleh Bilmar dan Alika beberapa waktu yang lalu.


***


Kalian kalau mau marah boleh ya..Bilmar emang jahat, Ett..enggak deng, aku yang jahat mah..🥺🥺


Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘