Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Kecurigaan Bilmar


Hayy kesayangan aku balik lagi nih, demi kalian semua walau aku lagi ribet dirumah karena masih suasana lebaran. hihihihi...


yuk ah mari baca


🤗🤗


***


Terlihat Bilmar dan Rendi saling bertatapan di ruang kerja saat ini. Jejak-jejak babak belur dan lebam masih bertahta hebat diwajah mereka. "Kamu harus banyak belajar tentang ilmu bela diri dengan saya Ren, supaya nanti kamu bisa menjaga adik saya dengan baik." Bilmar berdecis geli mentertawakan jumlah lebam yang ada di wajah Rendi lebih banyak dari nya, yang mengartikan ia telah memenangkan perkelahian tadi siang.


"Hahaha...saya hanya kasih celah buat Bapak biar bisa menang aja." balas Rendi merendah sambil tertawa pelan.


Bahwa benar adanya, Rendi menutup sedikit emosinya, karena menghargai posisi Bilmar sebagai Presiden Direktur EG dan Kakak dari orang yang ia cintai.


"Saya ikut berbela sungkawa dengan kekalahan kamu tadi siang..ckk!" Bilmar kembali mentertawakan Rendi, bayangkan saja saat ini bibir Rendi terlihat bengkak seperti maling yang habis dipukuli oleh masa.


Rendi hanya bisa menggelengkan kepalanya, merasa kalah dari Bilmar tentu tidak membuat dia geram dan dendam.


"Ada masalah serius? sampai harus bicara disini?" tanyanya menyelidik.


"Saya ingin kamu mencari tahu rekaman cctv yang ada disekitar jalan tempat Alika jatuh!"


Wajah Rendi mulai kaku karena tersirat dalam kepalanya bahwa tatapan Bilmar saat ini tengah mengandung kata curiga.


"Bapak curiga dengan siapa?"


"...Jangan panggil saya Bapak lah, toh juga umur sama wajah masih tuaan kamu Ren." Bilmar tertawa lagi ditengah percakapan penting mereka. "Yah cuman beda berapa bulan, tuaan dari mananya sih." decak Rendi.


Keadaan hening kembali, ada lekukan ditengah dahi Bilmar, mungkin saja lelaki ini enggan menyebut siapa nama yang ingin ia curigai.


"Alika punya musuh, Bil? apa kamu mau aku menindak lanjutinya?"


Bilmar mengembalikan arah bola matanya ke hadapan lelaki ini, lelaki dengan aksi kebodohannya bisa sekejap membuat perubahan dalam hidupnya untuk Alika.


"Saya fikir ini juga musuh kita Ren, bukan hanya Alika saja!"


Kerutan di kening Rendi begitu memuncak hebat, ia terus menatapi wajah Bilmar tanpa usang, apa maksudnya dengan musuh kita?


Disana.


"Kamu mau sesuatu Bin, biar nanti aku telepon ke bawah biar Bik Minah yang ambilkan?" tanya Alika. Karena merasa pertanyaannya hanya seperti angin tanpa ada jawaban, fikir Alika mungkin saja Binar sudah asik tertidur dari tadi.


Ternyata tidak, tolehan Alika kepada adik iparnya ini ternyata menimbulkan raut tanya yang begitu mendalam. Binar yang sudah berbaring disamping dirinya kini membuat kegundahan pertanyaan dibenak nya.


"Kamu kenapa? kok lihatin wajah Kakak kaya gitu?" Alika mendapati Binar yang sudah kepalang basah tengah melihatinya tanpa jeda dan kedipan mata.


Pertanyaan itu tetap membuat Binar tidak bergeming, ia terus menatapi wajah Alika dari samping dalam-dalam. Ia kembali memikirkan ucapan Rendi di mobil pada saat mereka tengah menuju kerumah ini.


"Mirip dari mananya ya?" cicit Binar pelan, tapi jangan lupakan Alika mempunyai kepekaan untuk mendengarnya.


"Kak Rendi bilang, kalau wajah kita itu mirip Kak, makanya sekarang aku ingin lihat wajah kamu terus, apakah betul aku secantik kamu?" ucap Binar begitu polos.


Alika tertawa, menghela nafas kelegaan. Karena kalau boleh jujur ia masih takut dengan Binar yang masih dalam proses penyembuhan, ia takut Binar bisa kambuh dan dirinya tidak ada kekuatan saat ini.


"Kamu yang lebih cantik Bin, buktinya Kak Bilmar mau kan jadi suami kamu?" gelak tawa Alika mengembang di udara untuk meledek sang adik ipar.


"Iihh Kakak, nggak gitu!" wajah Binar memerah berbinar-binar seperti namanya. Namun yang dirinya senangi bukanlah karena kalimat bahwa Bilmar mau menjadi suaminya, melainkan ia merasa kepercayaan dirinya kembali tumbuh karena ucapan pujian cantik untuknya.


"Tadi siang Kak Bilmar sudah menemui Papamu, Bin--"


"Lalu Kak?" selak Binar cepat.


"..Hmm..." Alika memasang wajah sendu dan sedikit ada rasa kecewa. Membuat Binar yakin bahwa Papa nya memang tidak akan melepaskan Bilmar untuknya. "Nggak disetujui ya, Kak?" Binar pasrah mungkin cerita cinta dia dengan Rendi memang hanya akan menjadi abu kedepannya.


Alika mengangguk mantap seperti tengah berakting mengiyakan jawaban Binar. Lalu Binar yang sedari tadi memiringkan tubuh untuk melihati wajah Kakaknya, kini sudah merubah posisinya menjadi terlentang menatap langit-langit kamar. Ia hembuskan nafas dalam-dalam untuk mencoba memahaminya dulu saat ini. Ia terus membayangkan wajah Rendi yang telah mencium bibirnya di Apartemen sebelum datang kesini. Bagaimana ya? mungkin ucapan itu yang menggema menyeruak didalam batinnya.


Lalu.


"Tapi bohong...hahahaha." tutur Alika.


"Ihh.. Kakak! yang benar dong?" balas Binar, kemudian ia bangkit untuk duduk menyila dihadapan Alika saat ini. Ia menunggu penjelasan secepatnya.


Alika menggenggam tangan Binar dengan erat. "Rencananya kapan kamu ingin menikahi Rendi, Bin?" senyum lebar Alika begitu memukau.


Mendengar ucapan tersebut, Binar sudah faham kalau Papa Luky sudah mengiyakan kemauan Bilmar untuk menceraikannya.


Binar langsung memeluk Alika dengan cepat, Ia tidak tahu harus bereaksi apa saat ini kalau bukan untuk memperlihatkan ekspresi kebahagiaan yang tidak pernah lagi terlihat sejak 4 tahun yang lalu. Ia terus memeluk Alika tanpa sadar Alika sudah merancau kesakitan dari tadi.


"Ayihh...Binar, tanganku sakit!"


"M-maaf Kak, aku lupa saking senangnya sampai kelepasan menyentuh tangan kamu seperti ini."


"I-ya Binar, nggak apa-apa. Hanya ngilu sedikit."


"Aku akan merawatmu, Kak!" ucap Binar dengan mengharu biru.


Alika kembali mensenyumi adik iparnya dengan tatapan bahagia. Bukan hanya semata-mata ia bisa memiliki Bilmar seutuhnya, melainkan Alika bisa membantu Binar untuk sembuh dari penyakitnya. Bisa membuat dirinya mempunyai adik yang bisa diajak curhat atau bisa dimanjakan. Bisa melihat Binar bahagia karena telah menemukan cinta sejatinya, Rendi.


Sepertinya Semesta ingin menguatkan rasa cinta diantara kalian terlebih dahulu. Sebelum papa kalian memisahkan dan menghancurkan kalian seperti masa lalu.


***


Kasih terus semangat kalian buat aku yaa❤️


makasi untuk yang udah ngevote, like dan tinggalin komen..kalian tuuh berarti😘🤗